
π»Cinta itu bukan tentang beri hamba uang tapi beri hamba kasih sayangπ»
.
.
.
.
Pagi itu Steven dan Aldo omnya kesusahan harus mengatasi masalah yang muncul karena ulah Adam. Semua klien menelpon membatalkan semua kontrak kerja sama mereka sepihak.
Bahkan dari semalam daddynya tak pulang dan Steven sudah menyuruh tim IT mereka untuk menghapus foto itu tapi tetap saja gagal. Bahkan hacker sudah ia bayar dengan mahal tapi hasilnya sama.
"Berengsek sebenarnya siapa yang menyebarkan foto daddy" ucap Steven dengan emosi.
Dion dan Aldo hanya diam saja bersama Steven di dalam ruangan Adam. Pagi ini mereka harus datang pagi sekali ke perusahaan menghindari wartawan yang sudah berdiri di depan perusahaan, bahkan saat ini para wartawan masih setia ada di depan perusahaan.
Tak lama pintu dibuka dengan kasar dan masuklah Kenzo ke dalam dengan raut wajah datar dan dingin. Dion dan Steven melihat Kenzo dengan tatapan tajam seperti seorang musuh.
"Dimana tuan Adam?" tanya Kenzo dengan suara dingin.
"Daddy tidak masuk hari ini" ucap Steven dengan lantang.
"Ckk! Dasar sampah menyusahkan saja" decak Kenzo dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh ketiganya.
"Siapa yang kamu bilang sampah bangsat!" bentak Aldo dengan emosi.
"Who are you?" tanya Kenzo dengan tatapan tidak suka.
"Aku adik dari direktur RM Group" jawab Aldo dengan sombong.
"Heh! Keluarga menjijikan" ucap Kenzo sambil tersenyum sinis.
"Kamu" ucap Steven dengan emosi.
Ia ingin memukul Kenzo tapi segera dihentikan oleh Dion. Dion tahu jika Kenzo bukanlah sembarang orang apa lagi dia disini menjabat sebagai wakil direktur dan lagi orang kepercayaan Chloe.
"Tuan muda mohon tenang dulu kita urus saja masalah saat ini jangan membuat lagi masalah" ucap Dion.
"Benar apa kata Dion Steven" ucap Aldo.
Steven melihat Kenzo dengan tatapan membunuh tapi di balas dengan senyuman sinis oleh Kenzo. Ia tersenyum penuh arti melihat Steven yang hanya bisa berdiam diri saja tidak bisa melakukan apa-apa.
"Aku cuma mau bilang besok tepat jam 09:00 pagi ada rapat pemegang saham" ucap Kenzo dengan santai.
"Apa" ucap Aldo dan Steven dengan kaget.
"Tolong siapkan semuanya Dion" ucap Kenzo datar.
"Baik tuan" ucap Dion.
Kenzo kemudian berlalu pergi meninggalkan ketiganya yang syok mendengar kabar dari Kenzo. Mereka tahu akan ada rapat pemegang saham tapi tak menyangka akan secepat ini bahkan mereka masih belum bisa menyelesaikan masalah saat ini.
"Sial" teriak Steven dengan emosi.
"Dion kamu persiapkan semuanya untuk rapat besok dan coba koordinasi dengan para kepala bagian untuk mempertahankan klien perusahaan" ucap Aldo.
"Baik tuan" ucap Dion.
Steven menghubungi sang nenek yang di mansion menanyakan apa daddy sudah pulang, tapi lagi-lagi daddynya belum pulang juga sampai saat ini.
"Daddy kemana sih" gumam Steven dengan emosi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Sean ~
Queen bangun dan melihat sudah jam 06:30 lalu ia bangun dan membersihkan diri. Selesai Queen lalu turun ke bawah dan melihat Sean yang sedang sarapan, ia lalu duduk dan menunggu sarapan.
Sean yang melihat kehadiran Queen hanya diam saja, para pelayan terus menyiapkan sarapan untuk Sean tapi tidak dengan Queen. Queen yang melihat hal tersebut menjadi bingung dan melupakan apa yang waktu itu Sean katakan.
"Kenapa kalian tidak menyiapkan sarapan buat gue!" bentak Queen dengan suara tinggi.
Para pelayan menunduk takut melihat tampang wajah Queen yang sedang emosi, mereka lalu melihat ke arah Sean takut mendapat amukan dari majikannya saat ini.
"Apa loe lupa yang gue ucapkan kemarin" ucap Sean dengan suara dingin.
Queen lalu mengingat kejadian kemarin dan seketika ia kaget.
Ternyata apa yang dia omongin kemarin itu bukan main-main tapi kenyataan, batin Queen.
Sean lalu mengelap mulutnya setelah sarapan, sebelum ia pergi ia mencium baby Ares yang berada di teras samping sedang berjemur.
"Apa loe udah baca berita daddy loe yang tukang selingkuh itu" ucap Sean dengan sinis.
Sean kemudian berlalu keluar menghampiri Dimas yang sudah berdiri di samping mobil. Queen yang bingung dengan omongan Sean segera mengambil hpnya di dalam kamar.
Seketika ia menutup mulut melihat foto sang daddy yang sangat memalukan di dunia maya. Queen menelpon sang mommy tapi tidak diangkat, ia lalu mencoba menghubungi sang nenek.
"Halo princess" ucap Lidia dari seberang.
^^^"Halo nek, apa nenek ada di mansion daddy" ucap Queen dengan cepat.^^^
"Iya nenek ada disini dari semalam"
^^^"Bagaimana keadaan daddy dan mommy nek"^^^
"Kamu datang saja dan lihat keadaan mommy kamu ya sayang"
^^^"Baik nek Queen segera ke sana"^^^
"Iya princess kamu hati-hati"
^^^"Iya nek"^^^
Queen lalu menukar bajunya dan mengambil tas serta kunci mobil, ia lalu bergegas pergi menuju ke mansion sang mommy. Tak lama berselang masuk mobil Maya bersama sang suami ke mansion Sean.
"Sayang sepulang kantor nanti baru aku jemput" ucap Riko sambil mencium kening Maya.
"Iya mas hati-hati ya di jalan" ucap Maya sambil mencium pipi sang suami.
"Heemmm"
Riko berlalu pergi bersama dengan Rio menuju perusahaan RH Company. Melihat mobil sang suami sudah tidak kelihatan ia segera masuk ke dalam.
"Selamat datang nyonya besar" ucap bi Lastri.
"Dimana Ares bi" ucap Maya dengan sopan.
"Tuan muda ada di teras samping sedang berjemur" ucap bi Lastri.
Maya segera berlalu pergi ke teras samping tak lupa mengucapkan terima kasih kepada bi Lastri. Sampai disana ia mengendong dan mencium pipi Ares yang bulat dengan gemas.
Ares tertawa senang melihat sang nenek yang terus mencium pipinya, bayi itu tertawa dengan celoteh bayinya membuat Maya semakin gemas dengan tingkah sang cucu.
~ Rumah Sakit Wesly ~
Saat ini Chloe sedang memakan stroberi sambil menonton tv, Xavier dan 2 orang kepercayaannya sedang memeriksa berkas yang masuk ke email perusahaan dan memantau semua perusahaan cabang dan markas.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Saat menonton Chloe bingung saat melihat logo rumah sakit yang tertempel di dinding rumah sakit.
Itu kan logo perusahaan Xavier, batin Chloe.
"Sayang" panggil Chloe dengan suara agak keras.
Mendengar suara sang istri Xavier segera bangun dan menuju brankar Chloe. Sampai disana Xavier lalu naik keatas brankar dan memeluk tubuh Chloe dengan erat.
"Kenapa baby" ucap Xavier dengan lembut.
"Sayang itu logo perusahaan kamu kan?" tanya Chloe sambil menunjuk logo perusahaan Wesly.
"Heemmm"
"Ihh Sayang orang tanya serius kok malah balas gitu sih" ucap Chloe dengan kesal.
"Itu tidak penting untuk aku sayang" ucap Xavier yang sibuk dengan kegiatannya mencium leher Chloe.
"Sayang" ucap Chloe sambil menahan suara desahannya.
"Heemmm"
"Jawab dulu pertanyaan aku hubby"
"Ckk! Logo itu ada karena ini rumah sakit milikku sayang" ucap Xavier dengan kesal.
"Apa bagaimana bisa?" tanya Chloe dengan kaget.
"Apa yang tidak bisa sih buat Xavier Arthur Wesly" jawab Xavier dengan sombong.
"Ya ya ya kamu itu paling the best deh sayang" ucap Chloe sambil memutar matanya malas.
"Nah itu tahu sayang" ucap Xavier dengan angkuh.
Chloe hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban sang suami. Ia lalu kembali bertanya mengenai rumah sakit ini karena setahunya Wesly hospital hanya berada di California saja.
"Waktu itu rumah sakit ini hampir bangkrut jadi aku beli saja maka jadilah milikku sekarang sayang"
"Kenapa sampai bangkrut sayang"
"Tidak tahu itu bukan urusan aku" ucap Xavier dengan santai.
Chloe hanya mengangguk kepalanya mengerti, ia tahu jika Xavier tidak suka memikirkan hal yang tidak penting menurutnya. Tak lama Xavier bangun dan segera memakai pakaian untuk pergi ke mansion.
"Kamu mau kemana sayang" ucap Chloe.
"Aku ke perusahaan sebentar sayang" ucap Xavier berbohong.
Ia tak mau jika sang istri tahu apa yang akan dikerjakannya saat ini, maka ia memilih untuk berbohong biarlah sepulang dari mansion baru ia bercerita.
"Nanti sebentar lagi ada yang datang menemani istriku disini" ucap Xavier sambil mencium bi**r Chloe.
"Siapa sayang?" tanya Chloe saat ciuman mereka lepas.
"Kamu tunggu saja sayang" ucap Xavier
"Baiklah sayang kamu hati-hati ya" ucap Chloe.
"Iya sayang" ucap Xavier.
Ia lalu pergi diikuti oleh Albert dan Thomas. Selang 5 menit tiba-tiba pintu dibuka dengan keras mengagetkan Chloe yang sedang menonton drama kesukaannya.
"Chloe" teriak suara cempreng milik Mira.
"Mira" ucap Chloe dengan kaget tak menyangka jika sang suami akan memanggil sahabatnya ke sini.
"Loe ngak kenapa-napa kan" ucap Mira dengan panik.
"Wow wow tenang dulu Mir gue baik-baik aja kok" ucap Chloe sambil tersenyum.
"Kata suami loe, loe dikejar musuh orang suruhan mantan keluarga loe" ucap Mira.
"Seperti yang loe dengar" ucap Chloe menarik napasnya dalam.
"Berengsek! Siapa sih mereka apa mereka itu ngak punya hati apa" ucap Mira dengan emosi menggebu-gebu
Chloe hanya tertawa melihat kelakuan sang sahabat yang suka meledak-ledak jika ada sesuatu yang terjadi. Mira sendiri terus berceloteh memaki dan menyumpahi keluarga Rosemary dengan emosi.
"Udah ngomongnya" ucap Chloe sambil menatap Mira.
"Haus gue" ucap Mira sambil mengambil air mineral.
"Gimana ngak haus, loe ngomongnya kayak mak-mak kompleks yang lagi ngegosip sekampung"
"Berengsek loe ngatain gue kayak mak-mak kompleks" ucap Mira dengan kesal.
"Lah orang gue ngomongnya sesuai fakta kok" ucap Chloe dengan tampang polos.
"Ya ya terserah loe aja" ucap Mira mengalah dengan bumil satu ini.
"Heemmmm"
"Gimana sama kandungan loe baik-baik aja kan?" tanya Mira.
"Kandungan gue baik-baik aja dan anak gue juga sehat di dalam" ucap Chloe sambil mengelus perutnya.
"Syukur deh kalau gitu" ucap Mira sambil tersenyum manis.
"Loe ngak ngantor"
"Gue cuti mendadak di izinkan sama suami loe ke atasan gue" ucap Mira.
"Heeeemmmm"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Keduanya lalu mengobrol banyak hal, hari itu Chloe sangat senang karena ada sahabatnya yang menemani dia di rumah sakit sehingga tidak bosan.
~ Mansion Xavier ~
Di waktu yang sama tapi berbeda tempat Xavier, Albert, dan Thomas sudah sampai di mansion milik Xavier. Kedatangannya langsung disambut oleh para pengawal dan juga pak Max yang berdiri di belakang mansion.
Xavier dan lainnya segera berjalan ke paviliun di belakang mansion bagian paling belakang. Sampai disana Xavier lalu membuka pintu dengan sidik jari, pintu terbuka dan masuklah mereka semua ke dalam.
Sepanjang jalan menuju ruang bawah tanah aura Xavier seketika menyeruak keluar dan memenuhi isi ruangan tersebut. Albert dan lainnya menelan saliva dengan kasar merasakan aura sang bos.
"Bawa kedua berengsek itu kesini" ucap Xavier dengan suara tinggi.
Para pengawal segera menyeret tubuh Adam dan Dante yang sudah terkapar lemah. Xavier menatap tajam keduanya dengan tatapan sinis, ia melihat Dante yang pakaiannya sudah rusak dan lobang-lobang.
Xavier tahu jika ini perbuatan anak buahnya karena ia tahu jika anak buahnya pasti membalas kematian teman mereka.
"Hari ini adalah hari neraka untuk kalian berdua" ucap Xavier dengan tatapan tajam bak monster kelaparan.
"Ikat keduanya" ucap Xavier.
"Baik bos"
Adam dan Dante lalu diikat di tiang berbentuk X. Adam melihat wajah Xavier dan seketika ia kaget tidak menyangka jika orang yang menculiknya adalah orang no.1 paling kaya di dunia.
Xavier tersenyum menyeringai ke arah Adam seakan mengejeknya, Xavier berdiri sambil memegang pisau kesayangannya dan memainkan pisau itu di tubuh Dante.
Arghhhh.........
Teriak Dante kesakitan saat pisau itu menancap di bahu kirinya, mendengar teriakan Dante membuat jiwa psycopath Xavier seakan meronta-ronta.
Adam bergidik ngeri melihat Dante yang sudah tidak bisa dikenalinya lagi, semua kulit tubuh Dante sudah terlepas dari tubuhnya. Xavier terus membuat Dante kesakitan hingga akhir hayatnya.
"Ckk! baru aja aku ingin bermain dia sudah mati" ucap Xavier dengan kesal.
Mendengar ucapan Xavier seketika tubuh Adam bergetar ketakutan. Xavier menatap Adam sambil terkekeh seperti seorang iblis.
"Apa salah saya tuan?" tanyy Adam dengan gugup.
"Ini akibat dari orang yang suka menganggu milikku" jawab Xavier dengan tatapan tajam.
"Maksud tuan?" tanya Adam dengan tubuh gemetaran.
"Chloe" desis Xavier dengan gigi gemeletuk emosi.
Adam seketika kaget karena tidak menyangka jika Chloe adalah milik dari Xavier.
Pantes penjagaannya sangat ketat selama ini, batin Adam.
"Albert menurutmu hukuman apa yang cocok untuk orang yang sudah menganggu milikku" ucap Xavier sambil memutari Adam.
"Mati" ucap Albert dengan suara dingin.
"Hehehe! Hei dude orang sepertinya tidak pantas mati karena neraka dan surga pasti menolak kehadirannya" ucap Thomas sambil terkekeh sinis.
"Yeah kamu benar" ucap Albert dengan senyum sinis.
"Ehhmmm! Gimana sebelum dia mati kita buat dia ngeresain dulu penderitaan wanitaku" ucap Xavier sambil tersenyum penuh arti.
"Ide bagus bos" ucap Albert.
"Bawakan obat itu Thomas" ucap Xavier dengan suara tegas.
Thomas lalu menyuruh Mike untuk mengambil obat buatan anak buah Xavier. Sebelum memberikan Adam obat yang didesain khusus di markasnya ia mencambuk tubuh Adam dan mencabut k**u tangan dan kakinya.
Teriakan kesakitan menggelegar di dalam ruangan tersebut, d***h segar sudah mengalir memenuhi ruangan itu dan bau anyir mulai tercium disana. Tak sampai disitu Xavier men****s k***t tangan Adam dan menariknya hingga lepas.
Aarrgghhhh......
"Ampun tuan ampun" teriak Adam sambil meminta ampun.
"Apa kamu pernah berhenti menyiksa wanitaku saat dia meminta ampun" teriak Xavier dengan emosi.
Xavier terus menusuk tubuh Adam dan memberikan kenangan paling menyakitkan untuknya. Puas dengan hasil karyanya Xavier lalu mengambil obat dan menyuntik ke dalam tubuh Adam.
"Silahkan nikmati nerakamu mulai sekarang pak tua" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
Albert dan lainnya bergidik ngeri melihat kengerian bos mereka kali ini, mereka tidak menyangka jika bos mereka selama ini lebih dari seorang monster.
"Obat apa yang diberikan oleh bos?" tanya Ken.
"Obat itu akan membuat si penderita mengalami mimpi penyiksaan setiap malam dan tidak akan pernah tidur, bahkan saat obat itu bekerja orang tersebut akan mimisan dan mengeluarkan darah dari mata dan telinganya" ucap Mike dengan datar.
"Apa ada obat seperti itu" ucap Ken dengan kaget.
"Heemmmmi Itu obat yang biasa diberikan oleh bos ke musuh-musuhnya selama ini"
"Bos sangat mengerikan dan tidak berperasaan"
"Ini belum seberapa kamu akan lihat nanti bagaimana kengerian ketua black devil dragon jika sudah mencapai puncak emosinya" ucap Mike dengan tegas.
Ken menelan salivanya dengan susah mendengar perkataan temannya itu. Dia memang sudah lama berada di sisi Xavier tapi tidak pernah melihat seberapa kengerian bos besar mereka.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah puas bermain dengan Adam ia segera memberikan pisau kesayangannya kepada Albert. Xavier berjalan keluar diikuti oleh Albert dari belakang.
"Kirim bajingan itu ke mansionnya" ucap Thomas kepada Mike.
"Baik bos" ucap Mike.
"Jangan sampai ketahuan" ucap Thomas.
"Oke bos" ucap Mike.
Thomas berlalu mengikuti bosnya dan Albert kembali ke mansion. Sampai di dalam mansion Xavier lalu masuk ke kamar dan membersihkan tubuhnya, dalam kamar mandi ia berdiri di bawah shower dan memikirkan kejadian kemarin dan barusan.
"Apa kamu akan tetap berada di sisiku sayang saat mengetahui jati diriku yang sebenarnya" ucap Xavier dengan perasaan berkecamuk.
Di rumah sakit entah mengapa Chloe merasakan hatinya sangat sedih, ia memikirkan sebenarnya apa yang terjadi sehingga hatinya terasa sangat sedih memikirkan nama Xavier.
Chloe lalu menatap hpnya berharap ada panggilan masuk dari sang suami untuk menghilangkan rasa sedih ini.
Apa yang terjadi sama kamu sayang apa kamu saat ini sedang sedih, batin Chloe.
Perasaan keduanya seperti terhubung satu sama lain, apa yang dirasakan oleh Xavier akan dirasakan juga oleh sang istri. Tak mau ambil pusing ia tetap menampilkan senyum manis di depan Mira agar tidak mencurigakan.
...βββββ...
To be continue...............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€