Heartless

Heartless
Episode 173



🌻Memilih seseorang bukan karena dia mempunyai segalanya tapi karena kamulah segalanya untuk dia🌻


.


.


.


.


Laura dan Adam mulai membereskan semua pakaian dan barang mereka. Keduanya sangat sibuk mengepak barang-barang mereka sampai lupa menanyakan kabar dari Queen.


Sial kenapa aku harus jadi miskin sih, mana rumahnya aku belum tahu lagi semoga besar seperti mansion, batin Laura dengan kesal.


Dari mana aku harus mendapat uang untuk beli rumah dan makanan kami nanti, batin Adam dengan frustasi.


Suasana dalam kamar sangat hening tidak ada suara apapun selain bunyi barang bawaan mereka. Selesai mengepak semua barang mereka keduanya lalu mengeluarkan barang yang akan mereka bawa.


"Dimana kalian akan tinggal kak?" tanya Aldo di ruang keluarga.


"Aku belum tahu" jawab Adam.


"Kalian tinggal saja di rumah kami yang di daerah Kuningan kebetulan tidak ada yang menempatinya" usul istri Aldo.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Laura.


"Ngak apa-apa ka, kan kita saudara jadi harus saling membantu ka" jawab istri Aldo.


"Baiklah terima kasih atas bantuannya" ucap Adam dengan senang.


"Sama-sama kak" ucap Aldo.


Lidia lalu datang menghampiri Adam dan Laura lalu memeluk keduanya. Meski tadi ia sempat emosi tapi biar bagaimanapun Adam tetap anak pertamanya yang ia sayangi.


"Maafkan aku mommy tadi udah bicara kasar sama mommy" ucap Adam dalam pelukan Lidia.


"Iya mommy udah maafin Adam kok" ucap Lidia dengan tulus.


"Makasih mommy" ucap Adam.


Lidia lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum hangat kepada keduanya. Alan yang melihat mereka hanya diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Ini ada uang buat kalian untuk sehari-hari" ucap Lidia sambil menyodorkan amplop ke Adam.


"Terima kasih mommy" ucap keduanya dengan serentak.


"Iya sama-sama"


Meski masih kesal dan emosi kepada sang daddy, Adam tetap memeluk Alan dan mengucap perpisahan. Keduanya lalu segera keluar setelah satpam memasukan barang mereka di dalam mobil.


"Jangan lupa hubungi mommy jika sudah sampai" ucap Lidia di depan mansion.


"Iya mommy" ucap Adam.


Adam lalu melajukan mobilnya meninggalkan mansion orang tuanya. Lidia yang merasa ada yang kurang segera berbalik bertanya kepada sang suami.


"Dimana Queen daddy?" tanya Lidia.


"Daddy ngak tahu" jawab Alan dengan santai.


"Kenapa nek?" tanya Tasya.


"Apa kamu tadi lihat kakak sepupumu Queen?" tanya Lidia.


"Ngak nek dari tadi datang Tasya nyariin kak Queen tapi ngak ketemu" jawab Tasya.


"Yang benar kamu" ucap Lidia.


"Iya nek" ucap Tasya.


"Mungkin Queen lagi keluar dan belum pulang mommy" ucap Aldo.


"Setahu mommy dari kemarin malam Queen ngak kelihatan tuh" ucap Lidia.


Lidia lalu masuk ke dalam kamar dan mengambil hpnya untuk menghubungi Adam. Pada dering ketiga barulah Adam menjawab panggilannya.


^^^"Halo Adam"^^^


"Halo mommy"


^^^"Adam apa kamu tahu Queen kemana?" tanya Lidia to the point.^^^


"Ngak tahu mom emang kenapa"


^^^"Kamu gimana sih masa sebagai daddynya ngak tahu kemana putri kamu!" bentak Lidia dengan suara tinggi.^^^


"Ya Adam ngak tahu mom kan dari kemarin dia ada thu di mansion dan hari ini Adam sama Laura sibuk mengepak barang kami mommy" ucap Adam membela diri.


^^^"Ya sudah jika sudah ada kabar dari Queen segera hubungi mommy"^^^


"Iya mommy"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Lidia lalu mematikan panggilannya, semua yang menunggu jawaban dari Lidia hanya mendapat gelengan kepala dari Lidia.


"Adam ngak tahu Queen kemana" ucap Lidia.


"Aldo panggil pelayan kesini" ucap Alan dengan tegas.


"Iya daddy" ucap Aldo.


Aldo lalu memanggil seorang pelayan yang kebetulan dekat dengan ruang keluarga. Pelayan itu maju dan menunduk menghadap Alan dengan gugup.


"Iya tuan ada yang bisa saya bantu" ucap sang pelayan.


"Kamu tau dimana Queen" ucap Alan dengan suara tegas.


"Nona muda sedari kemarin keluar belum kembali sampai sekarang tuan" ucap sang pelayan.


"Apa" ucap Lidia dengan kaget.


"Kamu boleh pergi" ucap Alan sambil mengibas tangannya.


"Daddy kemana sih Queen kenapa sampai sekarang belum pulang" ucap Lidia dengan khawatir.


"Bentar nek coba aku hubungi kak Queen" ucap Tasya.


Tasya lalu mengambil hpnya dan menghubungi Queen. Berkali-kali ia mencoba menelpon tapi tak dijawab oleh Queen.


"Ngak dijawab nek" ucap Tasya.


"Aldo coba kamu suruh orang kamu untuk mencari Queen" ucap Lidia.


"Iya mommy" ucap Aldo.


Aldo lalu menghubungi kenalannya yang bekerja sebagai detektif. Selang 2 jam kemudian barulah ia mendapat kabar dari kenalannya.


"Mommy katanya kemarin Queen ke mansion tuan Bima Rahardian lalu diusir oleh para pengawal karena buat keributan, setelah itu Queen pergi ngak tahu kemana mom" ucap Aldo.


"Buat apa Queen ke mansion Bima" ucap Alan dengan bingung.


"Ngak tahu daddy tapi katanya kemarin ada kumpul keluarga besar Rahardian disana" ucap Aldo.


"Mungkin kak Queen mau ketemu sama Ares makanya ke sana kek" ucap Tasya.


"Tapi kenapa dia diusir" ucap Lidia dengan penasaran.


"Ngak tahu mommy" ucap Aldo.


Mereka lalu berpikir kemana Queen pergi hingga sampai sekarang belum pulang. Di dalam mobil Adam dan Laura juga bingung kemana anak mereka pergi.


"Kamu ngak tahu kemana si Queen" ucap Adam dengan datar.


"Ngak tahu orang kita sibuk mengepak barang jadi ngak sempat lihat si Queen" ucap Laura.


"Coba kamu telpon Queen"


Laura lalu mengambil hpnya dan menghubungi sang anak tapi tidak diangkat. Berkali-kali ia mencoba tapi tetap saja panggilannya tidak diangkat.


"Ngak diangkat" ucap Laura.


"Mungkin nanti dia ke mansion mommy pasti mommy beritahu dia tentang kepergian kita"


"Heeemmm"


Tak lama mobil mereka sampai di daerah Kuningan. Keduanya lalu mencari alamat rumah yang diberikan oleh Aldo tadi, saat mobil masuk ke sebuah kompleks perumahaan raut wajah Laura sudah tidak enak dilihat.


Tak lama mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis seperti kontrakan bercat putih. Rahang Laura seperti mau jatuh saat melihat rumah yang akan mereka tempati.


"Adam ini bukan rumah yang diberikan oleh Aldo kan" ucap Laura.


"Menurut alamatnya sih rumah itu jadi pasti itu rumahnya"


"Pokoknya aku ngak mau tinggal disini!" bentak Laura dengan suara tinggi.


"Terserah kamu kalau tidak mau tidur aja di jalanan sana" ucap Adam dengan emosi.


Adam lalu keluar dan membanting pintu mobil dengan kuat. Laura seketika kaget di dalam mobil, ia lalu ikut keluar menuju rumah yang akan mereka tempati dengan raut wajah kesal.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Lebih bagusan rumah mama sama papa dibandingkan ini" gumam Laura dengan pelan.


Adam tidak perduli dengan komentar dan tanggapan istrinya, menurutnya masih bersyukur ada tempat tinggal dari pada tidak sama sekali.


~ Mansion Xavier ~


Di ruang kerja miliknya Xavier membanting iPad yang baru saja diberikan oleh Albert. Ia sangat kesal saat mengetahui jika mertuanya adalah keturunan dari musuhnya selama ini.


"Kenapa putri bungsu mereka bisa berada di Indonesia" ucap Xavier dengan tatapan dingin.


"Cih! Ternyata mereka tidak pernah berubah sama sekali" ucap Xavier dengan senyuman iblis.


"Bos apa kita habisi saja keluarga itu" ucap Albert dengan wajah emosi.


"Kita bicarakan hal ini dengan istriku dulu biar bagaimana pun ia harus mendengar cerita tentang masa lalu kelam sang ibu" ucap Xavier sambil mengurut keningnya.


"Bos aku tahu bos sudah mengetahui masa lalu aku" ucap Albert dengan wajah dingin dan penuh dendam.


"Ya aku tahu dan aku akan menceritakan semuanya pada istriku"


"Bagaimana dengan identitas bos" ucap Kevin yang sedari tadi diam.


"Huh! Itu yang jadi pikiranku saat ini" ucap Xavier dengan wajah bingung.


Ketiganya melihat Xavier dengan kasian karena mereka tahu saat ini sang bos sangat frustasi. Bagaimana jika Chloe memilih pergi saat mengetahui identitas asli dari bos mereka.


"Semoga nyonya bisa mengerti dan menerima bos" ucap Albert dengan dingin.


"Heemmmm"


Xavier lalu menyuruh ketiganya untuk keluar meninggalkan dia sendiri. Saat keluar mereka bertemu dengan Chloe yang baru saja keluar dari kamar.


"Dimana suamiku?" tanya Chloe.


"Bos ada di ruang kerjanya nyonya" jawab Albert.


"Apa masalah perusahaan sudah diatasi Albert" ucap Chloe dengan penasaran.


"Sudah nyonya" ucap Albert dengan datar.


"Uhmm! Kevin"


"Ya nyonya" ucap Kevin yang seakan tahu sebentar lagi ada hal aneh yang akan terjadi.


"Aku mau kamu beliin bakso di tempat waktu itu kita makan ya, sekarang" ucap Chloe dengan wajah berbinar-binar.


"Oke siap nyonya" ucap Kevin dengan senyum manis.


"Gpl ya Kevin" ucap Chloe sambil berlalu pergi.


Saat Chloe sudah pergi ke ruang kerja sang suami, Kevin masih berdiri memikirkan maksud ucapan sang nyonya yang terakhir.


"Albert apa itu gpl" ucap Kevin dengan bingung.


Albert melihat Kevin dengan alis sebelah terangkat karena berpikir jika Kevin sudah tahu arti kata itu. Sebelum Albert menjawab langsung dipotong oleh Thomas.


"Gpl itu artinya get pink long jadi kamu ke sana itu harus pakai apapun yang berbaur pink dengan lengan panjang" ucap Thomas menahan tawanya.


Albert yang mendengar perkataan Thomas berusaha menahan tawanya. Kevin seketika kaget saat tahu maksud arti kata tersebut, ia sangat kesal kenapa harus dia yang selalu dibully oleh anak si bos.


"Ah! Aku tidak mau dan tidak akan pernah" ucap Kevin menolaknya.


"Kamu mau dihukum bos karena tak menuruti keinginan nyonya saat ngidam" ucap Albert.


"Kata kamu ibu hamil yang sedang ngidam harus dituruti kemauannya atau jangan-jangan itu semua hanya tipu muslihatmu saja kan" ucap Thomas dengan tatapan tajam.


"Tidak apa yang aku bilang itu semua benar kok" ucap Kevin membantah.


"Kalau begitu cepat nyonya tidak suka menunggu lama" ucap Thomas.


"Heemmm! Baiklah" ucap Kevin dengan pasrah.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Saat Kevin sudah pergi seketika tawa Albert dan Thomas pecah, tawa keduanya sampai menggema di mansion saat melihat Kevin memakai baju berlengan panjang dan celana panjang berwarna pink.


Semua pengawal dan pelayan yang melihat penampilan Kevin seketika tertawa lucu. Kevin berjalan dengan langkah tegap meski dalam hatinya sedang memaki anak si bos.


"Kalian berdua kenapa" ucap Chloe dengan bingung.


Pasalnya saat Chloe dan Xavier keluar dari ruang kerjanya, mereka mendapati Albert dan Thomas sedang tertawa kencang bahkan para pelayan juga sama.


"Bos look at the window" (lihat lewat jendela) ucap Thomas sambil memegang perutnya.


Chloe yang penasaran segera melihat ke luar jendela, seketika tawanya pecah melihat Kevin yang berjalan menuju mobil dengan pakaian serba pink.


Xavier sendiri mengernyitkan keningnya melihat penampilan Kevin. Ia lalu menatap tajam keduanya yang masih tertawa.


"Kita kerjain si bocah itu bos" ucap Thomas.


"Maksudnya?" tanya Chloe dengan penasaran.


"Tadi kan nyonya minta dibelikan bakso di tempat yang nyonya makan bersama dengan Kevin bos terus nyonya bilang gpl jadi kita kerjai aja bos" ucap Thomas.


Xavier lalu menatap tajam Chloe meminta penjelasan mengenai kapan dia makan berdua saja dengan Kevin. Chloe yang tahu maksud sang suami langsung memberitahunya.


"Itu tempat waktu aku makan di dekat sekolah aku sayang saat kamu tugas ke Jepang" ucap Chloe dengan lembut.


"Heemmmm"


"Jadi kalian bilang apa ke Kevin" ucap Chloe.


"Aku bilang gpl itu artinya get pink long nyonya jadi harus memakai pakaian yang berwarna pink dan panjang" ucap Thomas sambil cekikan.


Hahahaha.........


Tawa Chloe seketika pecah tak menyangka ternyata Kevin itu sangat mudah dibohongi. Xavier yang melihat tawa sang istri entah kenapa merasa ragu untuk memberitahu jati dirinya yang sebenarnya.


"Aku takut kamu akan meninggalkanku saat tahu jati diri aku sayang" gumam Xavier dengan raut wajah khawatir.


Ketiganya tertawa terbahak-bahak tanpa tahu jika raut wajah Xavier datar dan tidak bisa dijelaskan. Chloe yang merasa sedang dipandang menoleh ke samping.


Chloe bingung dengan tatapan suaminya yang seperti sedang berpikir keras. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Xavier dan masuk ke dalam pelukan sang suami.


Xavier mengelus puncak kepala sang istri sambil sesekali menciumnya. Albert dan Thomas segera pergi dari sana tidak ingin menganggu keduanya.


"Pak max" ucap Albert.


"Iya tuan Albert" ucap pak Max dengan sopan.


"Segera bawakan pesanan nyonya saat Kevin datang" ucap Albert dengan suara dingin.


"Baik tuan Albert"


Albert dan Thomas segera berlalu pergi menuju ke perusahaan untuk mengikuti meeting mengantikan sang bos. Tak lama Kevin pulang dengan wajah sungut dan kesal.


"Dimana nyonya" ucap Kevin pada salah satu pelayan.


"Nyonya ada di lantai dua tuan Kevin" ucap pelayan.


Kevin lalu menyuruh pak Max menyiapkan bakso pesanan Chloe. Selesai ia segera naik ke lantai 2 bersama dengan pak Max yang membawa nampan untuk sang nyonya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Bos" ucap Kevin.


Chloe yang mendengar suara Kevin segera berbalik dan seketika tawanya pecah. Kevin yang tahu apa yang menjadi pemicu tawa sang nyonya hanya diam saja.


"Kamu sangat cocok dengan warna pink Kevin! Hehehehe" ucap Chloe sambil terkekeh.


"Terima kasih atas pujiannya nyonya" ucap Kevin dengan muka cemberut.


Melihat hal tersebut Chloe hanya tertawa saja dan segera menerima pesanannya, Xavier tersenyum hangat saat melihat sang istri yang makan dengan lahap.


Saat mengangkat kepalanya ia menatap Kevin dan tersenyum mencemooh. Melihat senyuman itu seakan membuat Kevin menjadi sangat kesal.


"Cih! Ternyata kamu itu gampang ditipu" ucap Xavier dengan sinis.


"Maksudnya bos?" tanya Kevin dengan bingung.


"Kamu itu ditipu sama Thomas tadi" jawab Chloe.


Kevin masih belum mengerti maksud dari Xavier dan Chloe. Ia berpikir keras apa yang dikatakan oleh Thomas dan hanya arti ucapan sang nyonya.


"Jangan bilang gpl itu bukan get pink long" ucap Kevin dengan mata melotot.


"Dasar bocah ingusan" cibir Xavier dengan senyum mengejek.


"Gpl itu artinya ngak pakai lama" ucap Chloe.


"Apa" teriak Kevin dengan kaget.


Chloe dan pak Max tertawa melihat reaksi Kevin barusan. Muka Kevin menjadi merah padam tanda ia sangat kesal, ia lalu berlari turun ke bawah mencari Thomas dan Albert.


Sampai dibawah ia bertanya kepada Mike dan segera berlalu menuju ke Shine Company. Sepanjang jalan hanya sumpah serapah dan kata-kata umpatan yang keluar dari mulutnya.


"Awas kalian berdua" ucap Kevin dengan jengkel.


~ Shine Company ~


Sampai di lobby perusahaan Kevin segera turun dan masuk ke dalam perusahaan dengan cepat. Karena emosi Kevin lupa jika saat ini ia masih mengenakan pakaian serba pink.


Sepanjang jalan naik ke lantai 39 semua tatapan karyawan tertawa melihat penampilan Kevin. Sampai di lantai 39 ia segera menuju ke ruang rapat.


Brak...........


Kevin membuka pintu dengan kasar dan kuat mengagetkan semua yang ada di dalamnya. Thomas tertawa kencang saat melihat kedatangan Kevin.


"Berengsek kamu Thomas" teriak Kevin dengan kesal.


Seketika ruangan meeting dipenuhi dengan tawa dan suara Kevin yang mengeluarkan emosinya. Thomas dan Albert hanya tertawa melihat Kevin yang saat ini sedang mengoceh seperti orang berpidato.


Berbeda dengan suasana di Shine Company saat ini dalam kamar Chloe dan Xavier sedang terjadi ketegangan. Chloe melihat suaminya dengan tatapan sulit diartikan.


...❄❄❄❄❄...


To be continue...............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀