Heartless

Heartless
Episode 114



🌻Jika kamu kalah janganlah menyerah dan berputus asa karena kekalahan itu adalah awal dari kemenangan🌻


.


.


.


.


Queen dengan panik melajukan mobilnya ke alamat yang dikirim oleh Henki. Ternyata alamat itu adalah sebuah rumah kecil di kompleks perumahan di pinggir kota.


Nomor rumah yang diberikan oleh Henki ternyata adalah rumah paling terakhir dan sedikit jauh dengan rumah warga sekitar. Queen memarkirkan mobilnya di depan rumah tersebut dan berjalan keluar dengan jantung yang berdetak kencang.


"Rileks Queen loe pasti bisa hadapi semua ini" gumam Queen sambil mengatur detak jantungnya yang berdetak dengan kencang.


Queen sampai di depan pintu dan baru saja ingin mengetuk tapi pintu sudah di buka lebih dahulu dari dalam. Henki tersenyum manis menyambut kedatangan Queen yang saat ini berdiri di depan pintu rumahnya.


"Hay sayang cepat banget nyampenya" ucap Henki sambil cekikan.


Queen tidak membalas ucapan Henki hanya melihat Henki dengan tatapan tajam dan emosi. Henki tidak memperdulikan tatapan Queen dan berjalan masuk ke dalam dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Queen masuk dan menutup pintu dengan sangat keras. Emosinya saat ini sudah tidak bisa di kontrol lagi apalagi saat ini dirinya sedang mengandung otomatis perubahan emosinya berubah dengan cepat.


"Serahin foto itu sekarang" ucap Queen dengan tatapan tajam.


Henki melihat Queen dan tersenyum sinis, Queen sendiri sudah takut melihat senyuman Henki yang seperti seorang pembunuh berdarah dingin.


"Apa yang bakal gue dapat jika gue ngasi foto itu ke loe" ucap Henki dengan seringai jahat di bibirnya.


"Berapa pun yang loe mau gue bakal ngasih" ucap Queen dengan cepat.


"Hahahaha" tawa Henki seketika pecah.


"Kenapa apa ada yang lucu?" tanya Queen dengan bingung.


"Loe itu polos atau pura-pura bodoh sih" jawab Henki dengan tatapan tajam.


"Apa maksud loe?" tanya Queen.


"Loe pikir gue ini kekurangan uang apa malahan uang yang gue miliki udah banyak sayang" desis Henki sambil berdiri memutari Queen.


"Kalau gitu apa yang loe mau?" tanya Queen dengan tidak sabar.


"Gue maunya loe" jawab Henki dengan santai.


"Berengsek loe! Ge udah punya suami dan saat ini tengah hamil bangsat!" teriak Queen dengan emosi.


"I don't care karena saat ini yang gue mau cuma loe dan kayaknya main sama orang hamil lebih nikmat" ucap Henki dengan tatapan nafsu.


"Jangan harap loe bisa dapat tubuh gue!" bentak Queen.


"Terserah loe hanya itu penawaran gue. So take it or leave it" ucap Henki dengan seringai jahat.


Queen bingung memikirkan penawaran Henki dimana ia tidak akan pernah mau menyerahkan tubuhnya kepada orang seperti Henki, tapi di satu sisi ia juga tidak mau Sean sampai tahu jika dialah yang memasukan obat perangsang ke minuman Sean waktu di club.


"Jadi apa pilihanmu sayang" ucap Henki dengan senyuman menggoda.


"Apa yang musti gue lakuin buat loe" ucap Queen dengan emosi.


"Hehehehe! Cukup loe desah nama gue dengan sensual di bawah" bisik Henki sambil mencium telinga Queen.


Tubuhnya seketika menegang mendapat perlakuan seperti itu dari Henki. Rasanya ingin lari tapi tidak bisa karena sudah masuk dalam perangkap Henki.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Henki membawa Queen ke kamarnya dan terjadilah hubungan terlarang itu. Henki melakukan hubungan itu bersama Queen berulang kali, mereka tidak memikirkan jika dalam perutnya ada bayi tidak berdosa dan hanya ingin mendapat pelepasan.


"Ternyata tubuhmu sangat nikmat baby" ucap Henki setelah mendapat pelepasan yang ke 3 kali.


"Loe udah dapat apa yang loe mau dan sekarang cepat berikan foto itu" ucap Queen dengan suara tinggi.


"Tenang baby loe bakal dapat semua yang loe mau kok" ucap Henki sambil kembali mencium bi***r Queen dengan kasar.


Queen hanya pasrah di bawah Henki guna mendapat fotonya tersebut. Tanpa Queen sadari ternyata ini adalah awal dia masuk ke dalam perangkap Henki.


~ California, Los Angeles ~


Sesudah pesta kelulusannya di mansion Chloe duduk bercengkrama bersama dengan sahabatnya. Jeni yang selama ini menghindar dari Julian hanya menjawab pertanyaan Julian dengan singkat.


Julian yang merasa akan perubahan Jeni sedikit kesal karena menurutnya Jeni sudah mengabaikannya. Jika hanya mereka berdua saja Jeni selalu saja ada alasan untuk menghindari darinya.


"Jadi kalian semua rencananya ke depan gimana" ucap Chloe.


"3 hari lagi aku pulang ke Indonesia" ucap Mira.


"Aku lusa balik ke Manhattan dan mungkin mencari kerja di sana" ucap Jeni.


Julian yang mendengar perkataan Jeni entah kenapa tidak mau berpisah dengan dirinya. Julian menatap semua teman-temannya dan berpikir ini waktunya membuka identitas dirinya.


"Aku tetap disini karena aku memang tinggal disini" ucap Julian dengan suara berat.


"Kalau kalian udah berjauhan jangan pernah lupain aku ya" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Tenang aja kan ada hp jadi kita bisa terhubung kapan aja" ucap Mira dengan cengesan.


"Emang rencana kamu apa Chloe?" tanya Jeni.


"Aku ingin balik ke Indo juga sekalian ada beberapa hal yang harus aku selesaikan disana" ucap Chloe.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Mira dengan cepat.


"Masih nunggu jawaban dari suami aku dulu" ucap Chloe sambil menunjuk ke arah Xavier yang tengah berdiri bersama dengan Albert.


Ketiganya hanya mengangguk kepala, Julian yang ingin memberitahu identitasnya merasa ragu karena terlalu banyak orang disana.


Akhirnya ketiganya pun pamit pulang karena hari sudah mulai gelap. Mira yang hendak pulang bersama dengan Julian dan Jeni seketika tidak jadi karena ia diminta Chloe untuk membantunya membuat lulur tradisional.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Jeni dan Julian akhirnya pulang lebih dulu meninggalkan Mira disana. Saat keduanya sudah pergi Mira segera mengajak Chloe untuk menuju dapurnya.


"Ayo kita buat lulur tradisional yang loe mau"


"Ngak ah tadi gue bercanda aja" ucap Chloe dengan santai.


"Maksud loe?" tanya Mira dengan penasaran.


"Gue tadi nyuruh loe jangan ikut mereka soalnya tadi gue liat si Julian kayak mau ngomong sesuatu ke Jeni makanya gue buat agar mereka bisa berbicara berdua" ucap Chloe menjelaskan alasannya.


"Benar juga loe apa lagi selama ini thu Jeni selalu menghindar dari Julian waktu kita tahu identitas Julian" ucap Mira dengan serius.


"Heeemmmm"


"Lah terus gue baliknya gimana dong" ucap Mira dengan kaget.


"Jalan kaki sono" ucap Chloe dengan santai.


"Chloe loe gila ya" teriak Mira dengan kencang.


Xavier yang baru turun dari tangga seketika menatap tajam Mira yang sedang berdiri di depan Chloe dengan muka merah padam. Merasa ada yang menatapnya Mira mengangkat kepala dan seketika kaget melihat tatapan tajam dari Xavier.


Mira berdiri dengan gugup dan seketika amarahnya hilang entah kemana. Chloe yang melihat gelagat aneh dari sahabatnya bingung sendiri.


Ia berbalik melihat ke belakang dan sudah tahu kenapa Mira bisa gugup seperti itu. Tatapan tajam suaminya itu membuat sekitarnya bergidik ngeri dan merasa takut.


"Sayang apa bisa kamu meminta Albert mengantar Mira pulang?" tanya Chloe sambil berjalan menuju arah suaminya dengan senyum manis.


"Heeemmm" deham Xavier dengan datar.


Xavier memberi kode ke Albert untuk mengantar Mira pulang. Albert kemudian berjalan ke depan untuk mengantar Mira.


"Mira loe diantar Albert ya"


"Eneng takut atuh liat mukanya dia kayak kulkas berjalan" ucap Mira dengan wajah pucat.


Hahahahaha...........


Xavier melihat keduanya dengan bingung dan tidak mengerti apa yang mereka katakan. Mira sedikit kesal dengan Chloe yang menertawakan dirinya.


Berengsek loe gue lagi takut malah diketawain sama loe, batin Mira.


"Udah sono loe nyusul si kulkas berjalan sana" ucap Chloe dengan cekikan.


"Sadar atuh neng, eneng teh juga punya kulkas berjalan tuh malahan lebih dari kulkas sono neng" ucap Mira dengan cekikan.


"Gue aduin loe ya" ucap Chloe dengan mata melotot.


"Hahahaha! Santai dong Chloe gue cuman bercanda aja, bye Chloe" ucap Mira sambil berlalu pergi dengan cepat.


"Sialan loe Mira" teriak Chloe dengan kesal.


Xavier memeluk sang istri yang sedang marah tidak perduli dengan apa yang mereka bicarakan. Chloe seketika bergelayut manja di pelukan suaminya.


"Lusa kita berangkat ke Indonesia" bisik Xavier dengan lembut.


"Apa" teriak Chloe dengan kaget.


"Sayang aku itu tidak tuli" ucap Xavier dengan kesal.


"Sorry baby aku tadi hanya refleks saja karena kaget" ucap Chloe sambil mengelus wajah sang suami.


"Heeeemmmm"


"Sayang beneran kan yang tadi kamu bilang"


"Heeemmm"


Chloe langsung memeluk Xavier dengan sangat erat karena bahagia. Dirinya sudah tidak sabar untuk pulang ke Indonesia.


"Indonesia aku datang" gumam Chloe dengan sangat pelan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Di dalam mobil Julian saat ini suasana sangat hening tidak ada satu pun yang mengeluarkan suaranya. Julian melirik ke arah Jeni yang memandang ke arah jendela.


Jeni tahu Julian sedang melirik dirinya tapi dia tidak mau memperdulikannya, ia takut terlalu jatuh dalam perasaannya.


"Apa aku ada salah" ucap Julian yang sudah tidak tahan dengan keheningan.


"Tidak" ucap Jeni dengan singkat.


"Kenapa 2 bulan ini kamu selalu menghindar dari aku?" tanya Julian.


"Perasaanmu saja" ketus Jeni.


"Tidak kamu memang sengaja menghindari aku tidak seperti biasanya, kamu berubah Jeni"


"Tidak aku masih Jeni yang sama" ucap Jeni dengan suara dingin.


"Jeni aku tahu kamu menghindar dari aku selama ini memangnya apa salah aku" ucap Julian dengan suara parau.


"Kamu tidak ada salah" ucap Jeni dengan suara dingin .


Mendengar jawaban Jeni yang dingin dari tadi seketika membuat Julian menjadi emosi. Ia langsung menepikan mobil di bahu jalan dengan cepat.


Julian membuka seatbeltnya dan membuka paksa punya Jeni. Jeni sendiri bingung dengan apa yang dilakukan oleh Julian tapi seketika ia berteriak kencang saat Julian mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuannya.


Arrggghhhh.........


"Apa yang kamu lakukan Julian" teriak Jeni.


"Diam!" bentak Julian.


Jeni seketika diam karena baru pertama kali melihat Julian marah dan membentak dirinya. Julian memeluk pinggang Jeni dengan sangat kuat, Julian memegang wajah Jeni dan menatap mata coklat itu dengan hangat.


"Kenapa kamu buat perasaan aku selama dua bulan ini kacau" ucap Julian dengan lembut.


Jeni kaget mendengar perkataan Julian barusan tapi ia segera tepis jika Julian hanya sedang bercanda.


"Apa salah aku?" tanya Julian lagi dengan suara lembut.


"Tidak ada" ucap Jeni sambil membuang muka ke arah lain.


"Tatap mata aku dan jawab aku Jeni" ucap Julian dengan desis tajam.


Jeni bingung apa yang harus dilakukannya karena jika ia menatap mata Julian otomatis pertahanan yang selama ini ia buat bisa runtuh dengan mudah. Julian tersenyum karena sudah mendapat jawabannya.


Julian memegang dagu Jeni dan membuat mata keduanya saling berhadapan. Julian mendekatkan bi**rnya ke wajah Jeni, hembusan napas Julian bisa ia rasakan di wajahnya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tak lama bi**r Julian sudah mendarat sempurna di bi**r Jeni dengan sempurna. Jeni sendiri kaget dengan apa yang dilakukan oleh Julian karena ini adalah ciuman pertamanya.


Jeni diam tidak melakukan apapun karena tidak tahu harus berbuat apa, Julian yang bermain dengan bi**r miliknya menjadi bingung karena ciumannya tidak direspon.


"Kenapa tidak dibalas ciuman aku" ucap Julian dengan lembut.


"Uhmm! Itu ak...u tidak tahu" ucap Jeni menunduk dengan muka merah padam.


Julian kaget karena ternyata ini ciuman pertama Jeni. Seketika ia senang bukan main ternyata dialah yang mendapat ciuman pertama dari gadis yang disukainya selama ini.


Ya ternyata selama ini Julian mempunyai perasaan lebih dari sahabat kepada Jeni. Julian kemudian mencium Jeni dengan lembut dan karena terbawa suasana Jeni membalas ciuman Julian dengan kaku.


Julian melepaskan ciumannya saat merasa pasokan udara mereka menipis. Ia mengelus bi**r Jeni yang bengkak akibat ulahnya.


"Mulai hari ini kamu jadi pacar aku" ucap Julian dengan tegas.


"Apa" ucap Jeni kaget.


"I love you honey" ucap Julian dengan lembut.


Senyum hangat dan tatapan hangat Julian membuat pertahanan Jeni seketika runtuh. Jantungnya berdetak dengan cepat mengetahui ternyata bukan hanya dirinya yang memiliki perasaan itu tapi Julian juga sama.


"I love you too" ucap Jeni dengan malu-malu.


Julian tersenyum dan memeluk Jeni dengan lembut. Malam ini keduanya sangat senang karena berhasil mengutarakan perasaan mereka selama ini.


Berbeda dengan Julian dan Jeni saat ini, Mira sendiri seperti berada di dalam kulkas karena hanya ada keheningan dalam mobil tersebut.


Buset nih orang dingin banget apa lagi mukanya datar banget kayak tripleks, batin Mira sambil cekikan.


Albert melirik Mira yang cekikan dengan tidak jelas. Dirinya bingung apa yang dipikirkan gadis disampingnya.


"Kenapa?" tanya Albert dengan suara dingin.


"Tidak apa-apa" jawab Mira dengan cepat.


"Aku pikir kamu sudah gila" ucap Albert dengan datar.


Mira seketika terkejut mendengar perkataan Albert yang mengatakan dirinya gila. Albert tersenyum sinis melihat wajah Mira yang menurutnya sangat lucu.


"Apa kamu bilang kulkas berjalan" ucap Mira dengan spontan.


Albert seketika menghentikan mobil mereka di tengah jalan beruntung jalanan sedang sepi. Albert menatap tajam Mira dengan wajah penuh emosi.


"Bersyukurlah karena kamu sahabat nyonya jika tidak saat ini kamu sudah terbujur kaku" ucap Albert sambil memegang dagu Mira dengan kuat.


Tubuh Mira bergetar ketakutan melihat tatapan tajam dari Albert. Nyalinya seketika menciut entah kemana karena mendengar bentakan Albert.


"I'm sorry" ucap Mira dengan gugup.


Albert melepaskan tangannya dari dagu Mira dengan kasar. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kencang menuju apartemen Mira karena sudah sangat emosi.


Mira hanya menutup mata sambil berdoa agar dirinya selamat sampai tujuan. Dia berjanji tidak akan memprovokasi Albert lagi cukup hanya kali ini saja.


"Semoga gue sampai dengan selamat" gumam Mira dengan cemas.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀