
π»Semua seperti mimpi saat ini, diriku masih bernapas tapi tidak dengan jiwaku yang serasa sudah matiπ»
.
.
.
.
Chloe menangis di pelukan Sila, awalnya hanya ada kebencian Sila kepada Chloe tapi sekarang semuanya sudah berubah.
Wina memberikan waktu kepada kedua gadis tersebut untuk berbicara lebih pribadi. Dirinya kina bisa tenang setelah melihat putrinya yang sudah mulai merespon di sekitarnya.
Setelah sejam lebih Chloe mengeluarkan semua isi hatinya lewat tangis, dirinya seakan merasa lebih kuat meski hatinya saat ini hancur berkeping-keping.
"Keluarin aja semuanya gue tahu loe saat ini hancur banget" ucap Sila mengelus pundak Chloe dengan lembut.
"Ka gue ngak tahu harus gimana lagi" ucap Chloe yang kembali terisak.
"Loe harus kuat Chloe gue tahu loe bukan gadis lemah"
"Tapi sakit banget ka.........hiks hiks hiks"
Sila melepaskan pelukannya dan menatap Chloe dengan tatapan lembut.
"Dimana gadis pemberani, keras kepala tapi baik hati dan lembut yang gue kenal" ucap Sila dengan tegas.
"Ka"
"Loe masih punya orang yang sayang sama loe jangan hanya karena hal ini loe hancur dan ngak bisa lanjutin hidup loe"
"Tapi gue ngak kuat ka.......hiks hiks hiks.......sakit banget rasanya ka.........hiks hiks hiks" ucap Chloe dengan histeris.
"Lihat gue Chloe!" bentak Sila.
Chloe melihat mata Sila dengan tatapan kehancuran dan sakit hati. Sila menghapus air mata Chloe lalu menuntunnya untuk duduk di ranjang Sila.
"Gue mau cerita ke loe sesuatu yang ngak pernah gue cerita ke orang lain" ucap Sila sambil menarik napasnya dalam.
"Ka gue pengen mati aja sumpah sakit banget" ucap Chloe dengan wajah sedih.
"Hidup loe masih panjang Chloe ngak kayak gue" ucap Sila dengan suara tinggi.
"Maksud ka Sila?" tanya Chloe dengan bingung.
"Hidup gue udah hancur Chloe...........hiks hiks hiks" ucap Sila sambil berderai air mata.
"Kakak kenapa?" tanya Chloe yang langsung memegang tangan Sila.
"Loe tahu siapa yang ngirim foto Sean sedang ciuman ke loe?" tanya Sila.
"Ngak ka" ucap Chloe sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu gue"
"Jadi...."
"Iya gue yang ngirim foto itu dan gue juga harus alami ini semuanya" ucap Sila sambil memandang ke luar jendela.
"Kak cerita sama gue sebenarnya apa yang terjadi" pinta Chloe dengan penasaran.
"Sean tahu gue yang ngirim foto itu loe dan dia bersama anak buahnya datang ke rumah gue waktu gue sendirian aja" ucap Sila menghela napasnya dalam karena harus mengingat kejadian malam itu.
Chloe melihat Sila dengan tatapan sendu dan menunggu dengan sabar sampai Sila menceritakan semuanya. Saat ini Sila sudah siap untuk menceritakan masalah ini ke Chloe.
"Gue dipukul dan ditendang berulang kali oleh Sean karena udah ngirim foto itu sama loe, bahkan dia juga hapus video itu di hp dan laptop gue dan menghancurkan semuanya..........hiks hiks" ucap Sila sambil menangis.
"Kak.........hiks hiks hiks" ucap Chloe kembali terisak mendengar cerita Sila.
"Loe tahu Chloe bukan hanya di pukul saja karena gue bilang suatu saat dia bakal dapat karma karena semuanya. Sean.........hiks hiks hiks........dia menyuruh 3 orang anak buahnya untuk perkosa gue sampai mereka puas..........hiks hiks" ucap Sila sambil terisak sangat pilu.
Chloe menutup mulutnya tidak menyangka orang yang selama ini dia cintai tega melakukan semua itu kepada perempuan.
"Gue udah ngak suci Chloe..........hiks hiks, gue pengen cerita dan lapor ke keluarga gue.......hiks hiks hiks........tapi gue ngak punya bukti dan gue juga bukan orang kaya seperti dia........hiks hiks"
Tangis Sila terdengar pilu di dalam kamar, Chloe langsung memeluk Sila karena ia yakin Sila saat ini sangat rapuh.
Ka ternyata sikap kamu seperti binatang, kamu bukan manusia tapi monster aku menyesal menyukai dan mencintaimu ka, batin Chloe.
"Gue ngak tahu harus buat apa ke depannya, masa depan gue udah hancur Chloe. Gue berpikir ingin bunuh diri tapi apa gue sanggup melihat air mata dari keluarga gue dan orang yang sayang gue, demi mereka gue akan bertahan dengan semua ini"
Chloe memikirkan semua perkataan Sila dan jika itu dirinya ia tidak akan sanggup. Chloe akhirnya memilih untuk melanjutkan hidupnya meski harus merasakan semua ini.
"Ka gue salut sama loe dan terima kasih karena udah beritahu gue tentang arti hidup" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Jangan karena hal itu loe harus menyiksa diri loe, semuanya masih panjang dan gue yakin loe pasti bisa melewati semua ini" nasihat Sila.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah lebih mendingan Chloe dan Sila saling menguatkan satu sama lain. Melihat sudah terlalu lama dirinya disini Chloe pun permisi untuk pulang. Sebelum pulang Chloe memeluk Sila dan mengucapkan terima kasih karena sudah menceritakan semuanya.
Saat pulang Chloe yang masih sakit hati menangis sepanjang jalan. Saat ia menangis hujan pun turun seakan tahu isi hati Chloe yang sedang patah hati.
~ Mansion Xavier ~
Saat ini Xavier sedang melakukan meeting bersama kliennya di ruang kerjanya. Karena perusahaannya yang berada di California, Los Angeles maka ia harus menghendel semuanya dari Indonesia.
Saat tengah meeting tiba-tiba Albert masuk dengan tergesa-gesa. Xavier yang melihatnya pun bingung, Albert berjalan mendekat Xavier dan membisikan sesuatu.
Seketika raut muka Xavier berubah menjadi cemas dan emosi. Xavier berjalan keluar meninggalkan meeting yang sedang berlangsung tanpa penjelasan apapun.
Albert kemudian melanjutkan meeting bosnya. Xavier sangat mencemaskan Chloe saat ini karena mendapat laporan jika Chloe sedang menangis di bawah hujan.
"Apa yang sebenarnya terjadi!" bentak Xavier pada anak buahnya yang bertugas mengawasi Chloe.
"Maaf bos tadi nona Chloe pergi ke sebuah rumah bersama dengan seorang wanita paruh baya dan keluar dengan keadaan sudah menangis bos"
"Cari data wanita tersebut!" bentak Xavier.
Sepanjang jalan Xavier hanya memikirkan keadaan Chloe saat ini. Ia melihat ke arah jendela dan tambah gusar karena hujan turun dengan sangat deras.
Supir dan pengawal yang ada di dalam hanya diam tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Aura mencekam sangat terasa di dalam mobil, Xavier terus saja memarahi dan membentak Selama di dalam mobil.
Selang 20 menit mereka tiba di taman kota. Tidak menunggu lama Xavier berlari keluar dan mencari keberadaan Chloe, tak lama matanya menemukan sosok yang dicari.
Chloe sedang duduk di bawah pohon menangis dengan kencang sampai bahunya bergetar, ia tidak tahu jika ada yang mendekat ke arahnya. Tiba-tiba tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang.
Chloe yang sedang menangis kaget dan langsung mengangkat kepala melihat siapa yang memeluknya saat ini. Tanpa sadar Chloe menangis kencang di dalam pelukan Xavier setelah mengetahui siapa yang memeluknya.
Bukannya berhenti Chloe tambah kencang menangis. Xavier melihat hal itu dan hatinya sakit melihat gadis kecilnya menangis.
"Hati aku sakit Xavier" ucap Chloe dengan suara parau.
"Jangan menangis lagi aku tidak mau kamu menangis oke" ucap Xavier.
"Dia tega udah nyakitin aku, apa salah aku sampai dia selingkuh dengan sahabat aku sendiri" teriak Chloe dengan kencang.
Seketika rahang Xavier mengeras mendengar penuturan Chloe. Tapi seketika ia tersenyum karena Chloe bisa lepas dari laki-laki yang tidak pantas buatnya.
"Jangan sia-siakan air matamu untuk orang berengsek kayak dia" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Chloe dengan bingung.
"Follow your heart" bisik Xavier di telinga Chloe.
Chloe kembali memeluk Xavier dengan erat dan menumpahkan semua rasa sakit hatinya. Hujan turun dengan deras membasahi sepasang anak manusia yang sedang berpelukan di bawah pohon.
Setelah puas mengeluarkan semua isi hatinya Chloe melepaskan pelukan Xavier dan mengucapkan maaf sekaligus terima kasih. Hujan pun telah berhenti dari 10 menit yang lalu.
Xavier memaksa Chloe untuk pulang bersamanya. Chloe pun mengiyakan saja karena tenaganya sudah terkuras habis hari ini. Xavier yang melihat badan Chloe basah semua memilih membawa Chloe ke apartemennya.
Ternyata apartemen Xavier sama dengan Sean, bedanya hanya lantai kamar Xavier berada paling atas dan khusus untuk dirinya. Karena memang Xavier pemilik apartemen tersebut makanya ia mendapat 1 lantai full.
Setelah menganti pakaian Chloe keluar dan duduk di sofa. Xavier menatap Chloe dengan khawatir, mata sembab, hidung memerah dan mukanya yang pucat.
Xavier memberikan segelas coklat panas dan langsung diminum Chloe. Tubuh Chloe mulai menghangat dan ia memberikan senyuman manisnya pada Xavier karena sudah repot membantunya.
"Terima kasih atas semua bantuanmu"
"Ya sama-sama" ucap Xavier dengan suara dingin.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tepat pukul 17:00 Xavier mengantar Chloe pulang ke mansion. Sampai di mansion Xavier masih memandang Chloe masuk sampai dirinya tidak kelihatan barulah ia pergi.
Di dalam mansion Chloe bertemu dengan bi Rani di ruang tamu. Bi Rani yang melihat wajah Chloe pucat mendadak khawatir.
"Non kenapa?" tanya bi Rani dengan khawatir.
"Aku ngak apa-apa kok bi tadi kehujanan aja bi"
"Ya ampun non kalau non sakit lagi gimana?" ucap bi Rani dengan suara melengking.
"Ngak akan kok bi" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Ya udah non istirahat aja ya jangan kerja biar nanti bibi suruh pelayan mengerjakan semua tugas non"
"Jangan bi nanti mommy tahu marah lagi"
"Nyonya belum pulang dan semuanya juga pada belum balik kok non jadi tenang aja"
"Ya udah kalau begitu makasih ya bi"
"Iya sama-sama non"
Chloe pun berjalan menuju kamarnya dan sampai disana ia langsung beristirahat. Di jam yang sama tapi berbeda tempat seorang pemuda sedang berciuman mesra dengan seorang gadis di apartemennya.
"Sayang" ucap Sinta dengan manja.
"Hemmmm" deham Sean dengan datar.
"Jalan-jalan yuk"
"Gue lagi ngak mood"
"Ya kok gitu sih" ucap Sinta dengan kesal.
"Gue bilang ngak ya ngak!" bentak Sean.
Mendengar bentakan Sean Sinta pun langsung mengambil tasnya dan pergi. Saat di dalam lift Sinta terus memaki Sean sambil berteriak tidak jelas.
"Awas aja kalau gue sampai bocorin semuanya ke Chloe" ucap Sinta dengan emosi.
Tak lama lift pun berbunyi tanda sudah sampai tujuan. Sinta keluar dengan muka merah padam menahan emosi, karena keluar dengan tergesa-gesa ia tidak menyadari jika teman sekelasnya juga berada disana.
"Loh itu bukannya Sinta ya beb" ucap Ana pada Dito sambil menunjuk Sinta.
"Iya benar beb"
"Tapi dia ngapain disini ya?" tanya Ana dengan bingung.
"Mungkin ada temannya kali yang sewa apartemen disini" ucap Dito santai.
"Setahu gue ngak ada deh masa dia punya teman yang lebih kaya dari Chloe sih" ucap Ana sambil mengingat siapa saja teman Sinta.
"Ya ngak tahulah beb, biarin deh itu urusannya dia lagian ngapain sih kepo sama dia ngak penting juga" ucap Dito dengan kesal karena pacarnya kepo dengan urusan orang.
"Iya iya maaf bebebku sayang" ucap Ana dengan manja.
"Yaudah kita ke apartemen Sean udah nunggu dia"
"Oke beb"
Di mansion Xavier ia mencari semua hal yang berkaitan dengan Chloe saat ini. Seketika matanya kaget melihat data hasil penyelidikan dari anak buahnya.
"Cih! Dasar laki-laki berengsek" ucap Xavier dengan emosi.
Xavier membanting semua benda yang berada dalam ruang kerjanya. Albert yang melihat hal itu langsung dengan cepat menyelamatkan laptop Xavier sebelum di banting.
"Fuih......untung cepat kalau tidak bisa kacau semua mana semua data penting ada disini lagi" ucap Albert dengan pelan.
"Buat perusahan orang tua laki-laki itu berantakan" ucap Xavier dengan emosi.
"Baik bos"
"Cih! Mau main-main sama gadisku maka kalian harus membayarnya mahal" ucap Xavier dengan mata tajam melihat foto Sean yang sedang berciuman dengan Sinta di salah satu club malam.
Albert yang melihat senyuman Xavier dan aura membunuh dari bosnya, hanya berdoa untuk orang yang akan mengalami kesusahan mulai saat ini.
...βββββ...
To be continue...........
Buat semua pembaca yang merayakan natal selamat merayakan hari natal yaππ
Semoga tetap sehat selalu ya guys dan jangan lupa vote dan tinggalkan jejak sebanyak-banyaknya yaπβ€