
Kelulusan SMP sudah didepan mata. Dira bersama neneknya berangkat untuk menghadiri acara wisuda di sekolah. Berbekal pakaian kebaya yang dipinjem neneknya dari Teteh Sri tetangganya, Dira dengan percaya diri menggandeng nenek nya masuk ke aula sekolah dimana acara wisudanya akan berlangsung. Ia mengarahkan neneknya untuk duduk di kursi yang telah disediakan sekolah untuk para wali murid. Ia berpamitan kepada neneknya karena akan mempersiapkan diri untuk berpidato kelulusan.
Terbersit kebangggaan yang sangat membuncah di dada, nenek bertepuk tangan dengan keras usai mendengar pidato kelulusan dari cucunya. Dira mendapatkan nilai terbaik sehingga ia terpilih sebagai perwakilan murid untuk memeberikan pidato kelulusan. Dengan terharu, nenek memeluk cucunya dan berkali-kali mengucapkan rasa terima kasih kepadanya.
"Terima kasih sayangku, kamu telah berhasil menjaga amanah nenek untuk sekolah dengan baik.. nenek tidak berharap kamu jadi yang terbaik tapi nenek sangat bersyukur kamu bisa jadi yang terbaik", puji nenek tiada henti sambil terus mengusap punggung Dira. Tak kuasa setetes air mata jatuh dari matanya mengingat apa yang telah dihadapi cucunya selama ini.
"Terima kasih nek.. aku sayang nenek. Selemanya. Kelulusan ini untuk Nenek yang selalu mendukungku. Ayo nek, kita pulang. Aku mau mentraktir nenek makan enak. Baru dapet hadiah dari Kepala Sekolah nek..", ajak Dira dengan riang sembari mengiringi nenek keluar sekolah dengan perlahan mengingat kaki neneknya yang sudah tak kuat lagi berjalan jauh.
"Dira.. selamat ya", terdengar banyak seruan selamat dari teman-teman yang dilewatinya sepanjang jalan menuju gerbang sekolah yang di balas Dira dengan senyuman terima kasihnya.
"Dir.. tunggu..", tampak Meysia berlari menuju tempatnya.
"Hai nak Meysia, selamat atas kelulisannya ya..", nenek memberikan ucapan selamat kepada Dira yang tengah menyesuaikan nafasnya karena sebelumnya berlari mengejar Dira.
"Terima kasih nek. Nenek apa kabar? Udah lama gak berkunjung ke tempat nenek"
"Baik Dira, Alhamdulillah nenek baik. Kami mau makan apa nak Meysia mau ikut?"
"Tidak nek.. kami sekeluarga juga mau makan setelah ini. Terima kasih atas tawarannya. Cuma mau ngasih ini buat Dira", Meysia memberikan sebuket bunga kepada Dira yang diterima Dira dengan pelukan dan ucapan terima kasih kepada sahabatnya. Padahal Dira tidam memberikan apapun kepada Meysia.
"Indira..", tampak dari kejauhan Arjuna berlari menghanpirinya.
"Indira, ayo kita foto berdua dulu", arjuna menyodorkan kamera nya kepada Meysia agar mau mengambil foto mereka berdua. Meysia menghela nafas. Dasar Abang masih usaha terus!
"Eh ada nenek.. hehe nek mau foto sama Indira nek.. sama nenek juga deh ya", Arjuna terkekeh baru menyadari kehadiran nenek disamping Dira.
"Oh iya boleh nak Juna, Nenek juga seneng kok kalau di foto. Nanti bisa nenek pajang di ruang tamu ada foto kelulusan cucu nenek"
Arjuna menempatkan Indira di tengah-tengah antara neneknya dan dirinya. Lalu sesi fotopun berganti Meysia yang berdiri disamping Dira.
"Nek, aku dapat tawaran beasiswa lagi dari Kepala Sekolah nek karena aku dapetin nilai terbaik"
"Bagus dong itu sayang.. nenek sangat bangga sama Dira"
"Aku bahagia nek..", Dira memeluk nenek sekali lagi.
"Kamu pantas bahagia nak.."
Mereka pun memakan makanan yang telah dipesan Dira dengan lahap. Tampak sekali kebahagiaan keduanya dari canda tawa yang mereka lontarkan sehingga sesekali banyak pengunjung yang menengok ke arah mereka.
"Juna, tumben malam- malam gini rapi amat. Mau kemana?"
"Jirrr Dira belum jadi pacar lo ya.. dia belum say yes sama lo"
"Iya Mey tau gue. Calon pacar gue. Liat aja nanti dia bakal jadi calon istri gue bahkan"
"Jangan ngimpi deh lo emang Dira mau sama lo"
"Sirik aja sih lo..", Arjuna tak menghiraukan lagi Meysia. Dia terus keluar rumah menuju rumah Dira membawa sebuket bunga dan sebuah hadiah yang sudah susah payah dia bungkus rapi dengan kertas kado. Namun yang didapatinya rumah itu gelap dan kosong. Berkali-kali dia mengetuk pintu dan mengucapkam salam tapi tidak ada yang menyahut panggilan itu.
Nampaknya rumah ini memang kosong. Padahal acara wisuda sudah selesai tadi siang. Kemana mereka? Katanya tadi cuma makan siang bareng. Tapi kok belum kembali sampai sekarang. Udah deh gue tunggu aja disini.
Arjuna memutuskan menunggu Dira didepan rumahnya. Sampai beberapa waktu kemudian sebuah mobil bak terbuka mangangkut banyak kursi plastik berhenti di depan rumah itu.
"Eh ada nak Arjuna, ngapain malam-malam disini?", Pak RT turun dari mobil dan menghampiri Arjuna.
"Nunggu Dira om. Dira sama Nenek ndak ada dirumah om. Ini kursi-kursinya kok diturunin disini kan ndak ada hajatan di rumah ini om"
"Oh ini om baru dapat kabar dari rumah sakit bahwa nenek Dira meninggal karena kecelakaan tadi siang. Makanya ini om sedang memepersiapkan perlengkapan untuk.."
"Tunggu om, apakah om sudah memastikan kabar itu?"
"Iya om sudah ke rumh sakit san itu benar adanya. Om benar-benar turut berduka cita. Kasihan sekali Dira"
Tak ada kata-kata lagi yang bisa diucapkan Arjuna. Mendadak hatinya perih setelah mendengar kabar yang paling dia takutkan itu. Oh Dira.. kemalangan apa lagi yang menghampirimu..
Nenek aku akan selalu mengenangmu
Nenek aku sayang padamu
Nenek jangan pikirin Dira. Hidup yang tenang disana ya nek..
Nenek jangan tinggalin aku..
Dira sama siapa kalau nenek pergi..
Tangis Dira meraung di pemakaman nenek pagi itu. Alampun seolah tak mengerti perasaan Dira yang sedang bersedih. Hujan lebat mengiringi pemakaman nenek. Para pelayat yang tidak membawa payung pun buru-buru untuk pulang takut kebasahan. Walaupun Meysia dan Arjuna selalu mendampingi dan berusaha menenangkannya namun Dira masih terus menangis sepanjang pemakaman nenek tanpa mempedulikan tubuhnya yang basah kuyup dan kotor karena limpur.
Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan pemakaman itu dari jauh. Memakai pakaian serba hitam dan payung hitam, pria itu bersembunyi di bawah pohon rindang di kejauhan. Sebuah mobil mewah hitam yang dijaga oleh seorang laki-laki menunggunya.
Setelah lelaki itu merasa cukup melihat, ia kembali ke mobilnya dan menyuruh lelaki yang menunggu mobil itu menjalankan mobilnya. Hari yang mendung untuk suasana yang mendung. Semoga anak itu bisa bertahan.