Heartless

Heartless
Episode 201



🌻Tidak semua penjelasan berujung paham, tidak semua kepastian berujung pengharapan dan tidak semua tanya ada jawabannya🌻


.


.


.


.


Chloe melihat suasana semakin ramai di paviliun belakang tapi beruntung para pengawal sudah mengaturnya jadi tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Meskipun begitu Chloe merasa tidak aman seperti ada yang sedang memandangnya.


"Panggil Mike kesini" ucap Chloe dengan suara tegas.


"Baik nyonya" ucap sang pelayan.


Ia lalu memberitahu para pelayan yang lain untuk memanggil Mike. Tak lama Mike muncul dari arah samping, ia menunduk saat berada di depan Chloe.


"Anda mencari saya nyonya" ucap Mike dengan suara dingin.


"Mike kamu awasi semua pelamar yang sedang di wawancarai pak Max saat ini" ucap Chloe dengan suara tegas.


"Baik nyonya"


"Oh jangan lupa menyelidiki semua latar belakang mereka ya Mike"


"Baik nyonya akan saya laksanakan"


"Heeemmmm"


Mike segera pergi ke arah paviliun belakang, melihat hal tersebut Chloe lalu menyuruh para pelayan untuk tidak mengganggunya karena ia ingin menghabiskan waktunya sendiri di taman kaca.


"Mending gue telpon Xavier aja" gumam Chloe.


Chloe segera menelpon Xavier dan pada dering ketiga barulah Xavier menjawab panggilannya.


"Halo baby"


^^^"Sayang apa kamu sudah sampai"^^^


"Heemmm! Baru saja sayang"


^^^"Oh baguslah sayang ada yang pengen aku omongin sayang"^^^


"Apa itu sayang"


^^^"Apa kamu tahu hari ini ada wawancara untuk lowongan pelayan di mansion kita sayang"^^^


"Heeemmmm"


^^^"Aku thu ngerasa sepertinya musuh-musuh keluarga kita akan menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke mansion kita hubby" ucap Chloe dengan khawatir.^^^


"I know baby, tapi kamu tenang saja semua pelayan akan di periksa latar belakangnya dengan teliti dan tidak sembarang orang bisa masuk"


^^^"Tapi kamu harus selalu waspada hubby aku tidak mau ada sesuatu yang berbahaya di mansion kita"^^^


"Serahkan semuanya padaku sayang jangan mikirin hal ini ya sayang jaga kesehatanmu dan kandunganmu sayang"


^^^"Iya hubby"^^^


"I love you baby"


^^^"I love you too hubby"^^^


Xavier segera mematikan panggilannya, mendengar ucapan sang suami barusan ia merasa agak sedikit lebih lega.


Untung suami gue orangnya peka dan cepat menangani sesuatu, batin Chloe.


~ Wesly Group ~


Di lantai 98 Xavier duduk di kursi kebesarannya dengan aura mengintimidasi. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada ucapan sang istri yang merasa tidak aman jika ada pelayan baru karena masalah silih berganti beberapa waktu lalu.


"Albert"


"Aku sudah menyuruh pak Max dan Mike mewawancarai semuanya dengan teliti dan ketat bos" ucap Albert yang tahu maksud sang bos.


"Thomas"


"Semua data diri pelamar sudah aku dapatkan bos" ucap Thomas.


Thomas lalu memberikan iPad kepada Xavier mengenai data diri pelamar. Xavier melihat informasi itu dengan kening berkerut pasalnya dari semua informasi pelamar ada beberapa yang merupakan anak orang kaya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Xavier dengan suara dingin.


"Sepertinya kali ini pelamar pelayan mansion bukan hanya berasal dari kalangan bawah saja tapi kalangan atas juga bos" ucap Thomas menjelaskan informasi tersebut.


Xavier mengangkat alisnya sebelah karena bingung dengan kelakuan orang-orang itu. Pasalnya mereka orang kaya kenapa harus repot melamar sebagai pelayan di mansion miliknya.


"Gaji untuk pelayan kita 3x lipat gaji karyawan di perusahaan besar bos" ucap Albert yang tahu isi pikiran sang bos


"Ckk!! menyebalkan" ucap Xavier dengan sinis.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier terus membaca informasi para pelamar dengan teliti dan saksama. Seketika keningnya berkerut bingung pasalnya ada seorang pelamar yang berumur 41 tahun disana.


"Elisabeth Manov" ucap Xavier dengan suara dingin.


Albert dan Thomas yang mendengar ucapan sang bos hanya menatap Xavier dengan bingung. Pasalnya mereka tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan barusan oleh sang bos.


"Albert apa kamu pernah mendengar marga Manov" ucap Xavier dengan tatapan sulit diartikan.


Albert mengingat marga tersebut entah dimana ia pernah mendengar marga itu. Ketiganya berpikir dengan keras dimana mereka pernah mendengar marga tersebut.


"Bos bukannya nama belakang itu persis dengan penelpon nyonya besar waktu dulu yang memberi kabar palsu tentang kecelakaan tuan besar" ucap Thomas yang mengingat salah satu nama penelpon dari cerita keluarga sang bos.


Xavier memikirkan tentang kejadian waktu itu dan menghubungkan dengan marga tersebut. Senyum bagai iblis seketika muncul di bibir Xavier, akhirnya ia tahu siapa musuh yang ingin menerobos masuk ke mansionnya.


"Cari data pribadi wanita ini sekarang" ucap Xavier dengan aura dingin.


Thomas segera berlalu menuju sofa dan mulai mengerjakan perintah Xavier. Tak lama Albert dan Xavier segera keluar untuk melakukan meeting di lantai 97 dengan klien dari Jepang.


Di dalam ruang meeting Xavier terus memikirkan siapa sebenarnya wanita itu dan apa dia ada hubungan dengan keluarga Nidas atau tidak. Meski pikirannya di lain tempat tapi Xavier tetap profesional saat melakukan meeting.


"Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar Mr. Wesly" ucap Mr. Okinawa sambil mengulurkan tangannya.


"Iya Mr. Okinawa" ucap Xavier sambil menjabat tangan Mr. Okinawa.


"Kalau begitu kami permisi Mr. Wesly"


"Heemmmm"


Rombongan Mr. Okinawa segera berlalu pergi dari perusahaan wesly. Xavier lalu naik ke lift untuk menuju ke ruangannya karena sudah tak sabar ingin mendengar informasi dari Thomas.


Saat masuk ke dalam aura mencekam seketika menyeruak dalam ruangan tersebut. Thomas yang tahu maksud sang bos segera berdiri menuju ke meja kerja Xavier.


"Bos kamu harus lihat informasi ini" ucap Thomas sambil menyerahkan iPad.


Xavier menerima iPad tersebut dan seketika matanya menatap tajam foto orang yang di dalam sana. Ia tak menyangka jika perempuan paruh baya ini adalah tante angkat sang istri.


"Apa mereka pikir aku bisa dikelabui" ucap Xavier dengan sinis.


"Apa kita habisi saja wanita itu bos" ucap Albert.


"Buat dia jadi pelayan dan kita bisa mencari tahu apa rencana mereka" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Tapi itu akan berbahaya bagi nyonya bos kita tidak bisa membiarkan musuh berada dekat dengan kita bos" ucap Albert.


"Terkadang kita harus memancing mangsa kita untuk masuk ke wilayah kita barulah kita menerkamnya saat ia berpikir dirinya sudah lolos" ucap Xavier sambil tersenyum penuh arti.


"Ah jadi kita sedang memberi mangsa kita umpan bos" ucap Thomas sambil tertawa.


"Heemmmm"


Xavier tersenyum penuh arti memikirkan musuh-musuhnya yang berpikir dia bodoh. Ia akan memberi mereka kesempatan untuk berpikir kalau mereka sudah berhasil tapi ternyata itu adalah jebakan untuk mereka sendiri.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Suruh Kevin menemani istriku 24 jam full saat aku tidak ada"


"Baik bos" ucap Albert.


"Suruh Mike untuk meloloskan wanita itu" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Oke bos"


Albert dan Thomas segera keluar dari ruang kerja Xavier. Xavier lalu melihat cctv di mansion mencari keberadaan sang istri, ia tersenyum melihat sang istri yang sedang melihat koleksi mobil mainan di dalam kamar sang anak.


"Sepertinya anak kita mempunyai hobby yang sama denganku baby" ucap Xavier dengan senyum tulus.


~ Indonesia, Jakarta ~


Saat ini Sean sedang berkumpul bersama keluarga besar Rahardian. Hari ini adalah hari ulang tahun sang kakek dan sedang diadakan di salah satu hotel mereka di kawasan Jakarta Pusat.


Sedari tadi sang kakek terus tersenyum menyambut tamu yang datang silih berganti. Mulai dari rekan kerja mereka sampai pemerintah setempat.


"Selamat ulang tahun tuan besar Rahardian" ucap tuan Sanjaya.


"Terima kasih tuan Sanjaya sudah menyempatkan waktu datang kesini" ucap Bima dengan suara tegas.


"Kami yang seharusnya berterima kasih karena sudah mengundang kami ke acara ulang tahun anda tuan besar Rahardian" ucap tuan Sanjaya sambil tertawa.


"Hahahaha! Anda bisa saja tuan Sanjaya" ucap Bima sambil tertawa.


Bima lalu melihat kearah Steven dan Aurel yang ia tahu ia adalah anak pertama Adam Rosemary. Steven lalu menjabat tangan Bima dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bima.


"Silahkan dinikmati pestanya" ucap Bima dengan suara tegas.


"Iya tuan besar Rahardian" ucap Rian Sanjaya.


"Sayang aku pergi ke Sean dulu ada yang pengen aku bicarakan sama dia" ucap Steven dengan lembut.


"Tapi mas aku ngak mau kamu kenapa-napa" ucap Aurel dengan khawatir.


"Udah kamu tenang aja aku cuma mau bicara aja kok" ucap Steven.


"Baiklah mas" ucap Aurel dengan pasrah.


Steven lalu pergi ke arah Sean yang sedang duduk bersama dengan keluarga besarnya. Sampai di samping Sean ia tersenyum tulus tapi dibalas tatapan dingin oleh Sean.


"Selamat malam maaf menganggu apa aku bisa bicara denganmu Sean" ucap Steven dengan sopan.


"Ckk!! Merepotkan" gumam Sean yang masih bisa didengar oleh Steven.


Steven menahan kesalnya karena dirinya tahu siapa Sean sebenarnya. Maya yang melihat hal tersebut segera mengambil Ares dan menggendongnya, ia menyuruh keduanya untuk berbicara di area yang lebih sepi.


Sean bangun dan berjalan menuju arah samping ballroom hotel. Sampai disana ia menatap Steven dengan tatapan tajam meminta penjelasan mengenai maksudnya.


"Gue mau bicara sama loe"


"Heemmmm"


"Ijinkan Queen untuk bertemu dengan Ares meski satu kali saja" pinta Steven dengan tulus.


"Hah! Apa j****g itu yang ngirim loe kesini" ucap Sean dengan suara dingin.


"Bukan ini keinginan gue sendiri karena gue ngak sanggup lihat adik gue nangis tiap hari karena rindu anaknya"


Hahahahaha.........


Seketika tawa Sean pecah mendengar ucapan Steven barusan. Ia tidak menyangka wanita yang melahirkan anaknya itu mulai merindukan anaknya setelah perlakuannya dulu.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Cih! Apa j****g itu sudah mulai sadar dan ingat anaknya" ucap Sean dengan sinis.


"Gue tahu Queen salah selama ini tapi gue mohon satu kali aja ijinkan dia ketemu sama Ares" ucap Steven dengan memohon.


"Sampai kapanpun gue ngak sudi anak gue ketemu sama perempuan j****g itu" ucap Sean dengan tatapan tajam.


"Please Sean kali ini aja gue mohon sama loe"


"Sekali gue bilang ngak tetap ngak!" bentak Sean dengan suara tinggi.


Steven langsung diam tidak meminta lagi, karena ia tahu Sean tidak akan pernah mengijinkannya. Sebelum Sean pergi dirinya kembali meminta satu hal lagi.


"Kalau emang kayak gitu ijinkan gue yang ketemu keponakan gue dan gue hanya minta satu saja fotonya tiap kali gue ketemu sama keponakan gue untuk gue kasi ke adik gue" ucap Steven dengan suara tegas.


"Only 15 minutes you can meet with my son" (15 menit aja kamu bisa bertemu dengan putraku) ucap Sean dengan datar.


"Oke thanks a lot" ucap Steven dengan senang.


Sean tidak membalas ucapannya dan segera pergi dari sana.


Ngak apa-apa cuma bisa ketemu 15 menit doang dari pada tidak sama sekali, batin Steven dengan senang.


Steven lalu kembali ke tempatnya dengan senyum puas. Melihat hal tersebut Aurel yakin suaminya pasti berhasil membujuk Sean.


"Gimama mas?" tanya Aurel penasaran.


"Dia nginjinin tapi hanya aku sayang Queen ngak boleh" ucap Steven.


"Ngak apa-apa mas yang penting kamu bisa bertemu dengan Ares dan bisa memberikan informasi kepada Queen nanti" ucap Aurel dengan senyum manis.


"Iya sayang"


Steven merasa senang dengan apa yang barusan terjadi. Semenjak keluarganya bangkrut ia sudah mengubur dalam-dalam dendamnya karena menurutnya itu sia-sia saja.


Steven mengingat pertemuannya dengan sang mommy beberapa hari yang lalu. Laura sekarang sudah mulai tidak bisa di kendalikan lagi, bahkan ia sekarang sudah menjadi orang gila.


Steven berharap keluarganya bisa kembali utuh seperti dulu lagi, meski tanpa sang daddy disisi mereka. Ia berjanji akan merawat keluarganya sampai maut memisahkan mereka.


Di depan Sean sedang menemui sang kakek bersama dengan sang anak. Ares sedari tadi terus memegang dasi Sean tidak mau melepasnya.


"Cicitku" ucap Bima dengan senyum bahagia.


"Selamat ulang tahun kek semoga tetap bertahan lama di bumi" ucap Sean dengan datar.


"Dasar cucu sialan" ucap Bima dengan emosi.


"Loh emang benar kan kek kalau kakek umur panjang artinya kakek bakal lama hidup di bumi kan" ucap Sean dengan santai.


Bima menatap wajah cucunya dengan kesal beruntung tidak ada rekan kerja mereka disana. Bima ingin mengambil Ares dari Sean tapi bayi kecil itu tidak mau berpisah dengan sang papa.


"Ares kamu jangan terlalu dekat sama papa kamu nanti sifat kamu sama kayak papa kamu" ucap Bima dengan kesal.


"Pasti sifatnya akan sama kayak aku kek kan aku papanya bukan kakek" ucap Sean dengan senyuman mencemooh.


"Dasar cucu kurang ajar kamu Sean" ucap Bima dengan kesal.


Bukannya marah malah Sean tersenyum mencemooh kearah sang kakek. Riko lalu datang menghampiri keduanya karena ia tahu sang papa dan sang anak akan mulai saling mengolok jika sedang bersama.


"Papa ingat ini di depan umum nanti para tamu tahu lagi kelakuan asli papa" ucap Riko dengan santai.


"Anak sama papa sama aja" ucap Bima dengan kesal.


Riko hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang papa. Ia menatap Sean ingin mengendong Ares tapi bayi itu tidak mau berpindah dari gendongan sang papa.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah 2 minggu setelah penerimaan pelayan. Mpok Risma yang diterima bekerja disana segera menghubungi Juan memberikan informasi.


Tanpa ia tahu jika semua yang dilakukannya sudah diketahui oleh Xavier dan lainnya. Xavier selalu memantau kapan mereka akan mulai aksi mereka dan rencana jahat mereka.


Mpok Risma menatap Chloe dari arah taman kaca dengan perasaan gusar. Pasalnya ia selalu tidak mempunyai waktu untuk bisa bertemu dengan Chloe apa lagi mendekatinya.


"Sepertinya aku harus merubah rencanaku" ucap mpok Risma dengan pelan.


Ia lalu melihat keadaan mansion dan mulai membuat rencana baru. Ia yakin jika rencananya kali ini akan berhasil karena ia sudah menghafal kebiasaan Chloe setiap hari yang akan selalu datang ke taman kaca.


Setelah menunggu lama akhirnya Chloe muncul ditemani pelayan dan pak Max di belakangnya. Mpok Risma sudah tahu jika sang nyonya ke rumah kaca berarti ia akan menghabiskan waktu sendiri saja disana.


Chloe yang sudah berada di taman kaca melihat bunga mawar kesukaannya. Tak lama kening Chloe mengerut melihat bunga tulip berwarna biru di bagian paling ujung.


"Wah indah banget siapa yang tanam ini ya" ucap Chloe dengan senang.


Chloe lalu memanggil pak Max untuk segera datang. Pak Max yang berdiri tak jauh dari arah Chloe segera menghadap ke Chloe.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya"


"Siapa yang merawat bunga disini pak Max" ucap Chloe dengan cepat.


"Itu pelayan yang bertugas di rumah kaca nyonya apa ada yang tidak disukai nyonya" ucap pak Max dengan sopan.


"Panggil dia kesini"


"Baik nyonya"


Pak Max segera menyuruh pelayan untuk memanggil orang yang bertugas di rumah kaca. Ternyata itu adalah mpok Risma yang bertugas di rumah kaca, ia lalu menghadap Chloe dengan mununduk.


"Nyonya ini pelayan yang bertanggung jawab dirumah kaca" ucap pak Max sambil menunjuk mpok Risma.


Chloe melihat mpok Risma dengan tatapan tajam, entah kenapa ia seperti pernah melihat wanita ini tapi dimana. Mpok Risma ternyata memakai wig sebahu berwarna pirang dan memakai softlens berwarna coklat.


"Kamu yang bertugas disini" ucap Chloe dengan suara tegas.


"Iya nyonya" ucap mpok Risma.


"Siapa nama kamu?" tanya Chloe.


"Maaf nyonya" ucap mpok Risma sengaja kaget supaya terlihat seperti bingung kenapa sang majikan menanyakan namanya.


"Aku tanya nama kamu siapa" ucap Chloe dengan suara tegas.


"Nama saya Elisabeth Manov nyonya" ucap mpok Risma.


"Wah nama kita sama ya" ucap Chloe dengan riang.


"Iya nyonya"


"Apa kamu yang menanam bunga tulip itu" ucap Chloe sambil menunjuk ke arah bunga tulip.


"Iya betul nyonya maafkan saya karena sudah menaman bunga lain" ucap mpok Risma berlagak panik.


"Oh tidak apa-apa kok malahan aku senang karena bunga yang kamu tanam itu sangat indah dan cantik"


"Ah! Syukurlah kalau nyonya suka"


"Nanti kamu tanam lebih banyak lagi ya kalau perlu cari yang warnanya berbeda" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Baik nyonya akan saya lakukan" ucap mpok Risma.


Mpok Risma tertawa bahagia dalam hati karena lagi-lagi rencananya berhasil. Ia sudah memikirkan cara untuk mencelakai Chloe nanti.


"Ternyata kamu itu sangat naif dan gampang ditipu sama kayak ibu sialan kamu itu" gumam mpok Risma dengan pelan.


Tanpa mpok Risma sadar ternyata pak Max berhasil merekam ucapan mpok Risma barusan. Ia sudah tahu mengenai jati diri mpok Risma yang asli dan akan segera memberi tahu kepada sang tuan.


Jangan pikir kamu bisa mencelakai nyonya kami, batin pak Max dengan emosi.


...❄❄❄❄❄...


To be continue................


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀