
π»Bukan kebahagianlah yang membuat kita bersyukur tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagiaπ»
.
.
.
.
Xavier pulang ke mansion dan mendapati sang istri masih terlelap di atas sofa ruang keluarga. Ia lalu mendekat ke arah Chloe dan duduk di sampingnya, Xavier mengelus pipi Chloe dengan lembut lalu mencium kening dan bibirnya.
Merasa ada yang menyentuh wajahnya Chloe lalu membuka matanya, senyuman hangat dari laki-laki yang paling dicintainya langsung menyambutnya saat ia membuka mata.
"Sayang kamu sudah pulang" ucap Chloe dengan suara serak.
"Heeemmm"
"Aku siapin air buat kamu mandi ya sayang lalu kita makan" ucap Chloe sambil mengelus wajah sang suami.
Xavier tersenyum bahagia mendengar perkataan sang istri, dirinya sangat bahagia karena setiap pulang kantor ada sang istri yang setia menunggunya dan melayani dirinya.
"Baiklah sayang" ucap Xavier dengan senyum penuh makna.
Chloe memicing mata melihat senyuman Xavier yang mengandung makna lain. Xavier segera mengendong Chloe menuju ke kamar mereka, sampai di kamar Xavier membawa Chloe ke kamar mandi untuk mandi bersama.
Chloe hanya pasrah melayani sang suami di dalam kamar mandi yang kembali meminta haknya. 2 jam kemudian keduanya keluar dari kamar mandi.
Chloe keluar dengan lutut bergetar lemas dan bibir memucat sedangkan Xavier keluar dengan senyum bahagia. Xavier mengendong Chloe menuju ke sofa untuk mengeringkan rambut sang istri.
"Lain kali kamu mandi sendiri saja ya sayang" ucap Chloe dengan kesal.
"Tidak baik menolak suami loh sayang" ucap Xavier dengan santai.
Chloe memajukan bibirnya ke depan dengan kesal, melihat hal itu Xavier kembali me****m bibir sang istri berkali-kali. Setelah mandi Xavier menyuruh pak Max untuk membawa makan malam mereka ke kamar.
~ RM Group ~
Meski sudah lewat jam kantor tapi tidak dengan 5 orang berbeda usia di dalam ruangan kerja milik Adam. Tadi Adam menghubungi kedua orang tuanya untuk bertemu membicarakan perihal rapat besok.
"Jadi apa yang bisa daddy bantu" ucap Alan dengan suara tegas.
"Adam pengen besok daddy tetap mendukung Adam dari pemegang saham agar mereka tetap menanamkan saham mereka di perusahaan kita" ucap Adam dengan tegas.
"Saham daddy sama mommy kamu 5% masing-masing jadi totalnya 10% lalu bagaimana dengan Aldo?" tanya Adam.
"Aldo tetap mendukung Adam daddy"
"Baiklah besok daddy sama mommy akan mendukung kamu dan kita harus bisa membuat para pemegang saham tetap menanamkan saham mereka disini" ucap Alan dengan tatapan tajam ke Adam.
"Adam akan melakukan yang terbaik daddy" ucap Adam dengan tegas.
"Heeemmm"
"Ingat jangan ulangi lagi perbuatan kamu nak sayangi istri dan anak-anakmu semua" ucap Lidia.
"Iya mommy maafkan Adam akan kesalahan Adam" ucap Adam dengan tulus.
"Minta maaflah sama istri dan anak-anakmu" ucap Lidia dengan senyum tulus.
"Pasti mommy"
Alan dan Lidia lalu pamit pulang meninggalkan Adam dan keluarganya disana. Tak lama Adam meminta Laura menunggunya di mobil karena ia ingin berbicara dengan putranya empat mata.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Selepas kepergian Laura suasana dalam ruang kerja Adam sangat mencekam. Adam yang biasanya penuh wibawa dan tegas saat ini tidak bisa berkutik di depan putranya.
"Maafkan daddy akan kesalahan daddy"
"Daddy tahu hati aku hancur saat lihat foto dan video daddy saat itu" ucap Steven dengan berapi-api.
"Daddy tahu daddy salah daddy minta maaf sama kamu karena sudah membuat kamu malu" ucap Adam sambil menangis.
Steven kaget melihat daddynya menangis saat ini, ia kaget bukan main karena selama ini Adam adalah sosok tegas dan keras kepada keluarga dan rekan kerjanya. Tapi saat ini Adam terlihat seperti seorang ayah yang rapuh dan lemah.
"Daddy adalah sosok yang sangat aku banggakan di manapun dan daddylah orang yang menjadi panutan aku selama ini" ucap Steven dengan nada lemah.
"Maafkan daddy Steven"
Steven berdiri dan segera memeluk Adam yang masih duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Adam kaget karena tidak menyangka anaknya akan memeluknya sambil menangis dengan kencang.
"Sampai kapanpun daddy adalah sosok yang terbaik dan Steven sudah memaafkan daddy, maaf karena Steven sudah menjadi anak yang tidak berbakti kepada daddy" ucap Steven berderai air mata.
"Ini bukan salah kamu nak ini adalah salah daddy maafkan daddy"
"Iya daddy"
Keduanya saling memeluk dan memaafkan satu sama lain, hari itu keduanya pulang dengan wajah bahagia. Laura yang melihat hal itu tersenyum bahagia karena kedua orang yang dicintainya sudah berbaikan.
~ Mansion Sean ~
Queen yang sedang membalas chat teman-temannya di dalam kamar segera menengok ke arah pintu yang dibuka dari luar.
"Mas" ucap Queen saat Sean membuka pintu kamarnya.
"Besok gue temani loe buat cek kandungan" ucap Sean dengan suara dingin.
"Bukannya besok ada rapat pemegang saham di perusahaan daddy mas" ucap Queen.
"Heeemm! Baiklah sehabis dari sana baru kita ke rumah sakit"
Sebelum Queen menjawab Sean sudah berlalu pergi dari kamarnya, Queen menghela napasnya dalam dan melihat perlakuan Sean yang tidak perduli dengannya hanya memperdulikan akan anaknya.
Tak lama senyum seperti iblis muncul dibibirnya, Queen segera berdiri dan berlalu menuju kamar Sean untuk meminta makanan yang diinginkannya berdalih sedang ngidam.
Tok...........tok........tok.......
Tak lama Sean membuka pintu kamarnya dan menatap tajam Queen yang berdiri disana.
"Kenapa" ucap Sean dengan suara dingin.
"Aku pengen makan ayam bakar di warung dekat sekolah kita mas" ucap Queen dengan mata berbinar-binar.
"Heemmm! Tunggu gue ambil jaket"
"Iya mas"
Queen tersenyum karena berhasil menjalankan rencananya.
Gue bakal deketin loe dengan anak ini dan gue juga yakin loe ngak bakal bisa pergi jauh dari gue selama ada anak ini, batin Queen sambil tersenyum sinis.
Sean dan Queen lalu menuju ke tempat jual ayam bakar dekat sekolah mereka. Warung itu menyediakan berbagai macam pilihan dan rasanya juga sangat enak.
Hari berlalu dengan cepat keesokan harinya suasana di perusahaan RM Group sangat ramai. Tidak seperti biasa hari ini berjejer mobil mewah sudah terparkir di parkiran VIP.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Rangga Liem yang ditugaskan oleh Xavier mewakili Chloe sebagai pemegang saham juga sudah tiba di depan perusahaan RM Group. Ia ditemani oleh asistennya dalam rapat pemegang saham kali ini.
Saat berjalan masuk ke dalam lobby perusahaan tiba-tiba hpnya berbunyi tanda panggilan masuk dari tangan kanan sang bos besar. Rangga langsung menjawab panggilan tersebut.
^^^"Halo selamat pagi tuan" ucap Rangga dengan gugup.^^^
"Apa rapatnya sudah dimulai?" tanya Albert.
^^^"Belum tuan"^^^
"Pastikan semua pemegang saham tetap menanam saham mereka di perusahaan RM Group"
^^^"Baik tuan"^^^
"Jangan lupa untuk merahasiakan nama nyonya sebagai pemegang saham yang asli" ucap Albert dengan suara dingin dari seberang.
^^^"Siap tuan akan saya pastikan"^^^
"Heemmmm"
Albert segera mematikan panggilannya sepihak. Direktur Rangga membuang napasnya lega setelah berbicara dengan Albert yang sangat dingin dan irit bicara.
~ Shine Company ~
Setelah berbicara dengan direktur Rangga, Albert segera melaporkan semuanya kepada Xavier. Xavier mendengar dengan saksama semua laporan dari Albert.
"Biarkan mereka menikmati masa kejayaan sesaat sebelum jatuh sampai tak bisa bangun" ucap Xavier dengan senyum iblis.
Albert dan Thomas hanya meliriknya dan menunggu permainan yang akan dilakukan oleh sang bos. Xavier lalu melihat cctv mansion dari hpnya untuk mengawasi sang istri.
Ia tersenyum melihat Chloe yang sedang melihat tanaman mawar di taman belakang. Xavier lalu kembali mengerjakan semua laporan email yang masuk dalam laptopnya.
~ Mansion Xavier ~
Puas melihat bunga kesukaannya di taman belakang Chloe segera masuk ke dalam mansion. Sampai di dalam ia bingung ingin melakukan apa.
Tak lama Chloe menyuruh pak Max untuk mengambil mic karena ia ingin karaoke. Chloe menyuruh semua pelayan di mansion menghentikan pekerjaan mereka untuk karaoke bersama dengannya.
"Tapi nyonya" ucap pak Max yang langsung dipotong oleh Chloe.
"Ini perintah pak Max jadi jangan membantah" ucap Chloe dengan mata tajam.
"Baik nyonya" ucap pak Max pasrah.
Chloe lalu memutar lagu kesukaannya untuk bernyanyi dan bergoyang bersama dengan para pelayan. Lagu demi lagu mereka menyanyikan dengan semangat dan gembira.
Karena keasyikan menyanyi Chloe tak sadar jika hpnya berbunyi sedari dari tadi. Xavier lalu menelpon pak Max untuk menyuruh Chloe menjawab panggilannya.
^^^"Halo tuan" ucap pak Max lewat video call.^^^
"Dimana istriku?" tanya Xavier dengan wajah datar.
^^^"Nyonya sedang karaoke bersama dengan para pelayan tuan" ucap pak Max.^^^
"Apa" ucap Xavier dengan kaget.
Pak Max segera mengarahkan kamera menuju ke arah Chloe yang sedang bernyanyi dan bergoyang bersama para pelayan. Xavier melihat kelakuan istrinya dan tersenyum karena tak menyangka istrinya akan melakukan hal seperti itu.
"Biarkan mereka menikmati hari libur mereka hari ini" ucap Xavier.
^^^"Baik tuan"^^^
"Pastikan tidak ada pelayan atau pengawal pria di dalam sana" ucap Xavier dengan tegas.
^^^"Baik tuan" ucap pak Max.^^^
Xavier lalu mematikan panggilannya dan tersenyum bahagia melihat sang istri yang sedang menikmati hari ini di mansion bersama para pelayan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ RM Group ~
Di dalam ruang meeting semua para pemegang saham sudah berada disana. Queen dan keluarganya juga sudah hadir tinggal menunggu kehadiran Riko Rahardian saja.
Adam melihat satu persatu wajah pemegang saham dan tak lama dirinya kaget melihat direktur Rangga. Adam melirik ke arah sang istri memberi isyarat sambil menunjuk ke direktur Rangga.
Laura melihat ke arah yang ditunjukkan oleh sang suami dan seketika ia mengerutkan kening tak tahu akan hal itu.
"Apa yang terjadi mom kenapa direktur Rangga bisa memiliki saham di perusahaan kita" bisik Adam di telinga Laura.
"Aku juga tidak tahu dad nanti kita suruh Dion untuk mencari tahu saja" bisik Laura.
"Iya sayang" ucap Adam.
Tak lama pintu dibuka dan masuklah Riko bersama Rio sang asisten ke dalam ruangan meeting. Semua orang di dalam sana segera bangun dan memberi hormat menyambut kedatangan Riko.
"Baik karena semuanya sudah hadir maka meeting ini saya buka" ucap Dion selaku asisten Adam.
"Pak Adam bagaimana bisa saham perusahaan bisa merosok begini" ucap pemegang saham A.
"Yang pastinya karena skandal dari direktur kita sendiri" ucap pemegang saham B dengan sinis.
Bisik-bisik pemegang saham satu sama lain sudah terdengar, semua pemegang saham berbondong-bondong ingin menarik kembali saham mereka di RM Group.
"Para hadirin sekalian saya mohon tenang" ucap Adam dengan suara tinggi.
Seketika ruangan meeting hening tidak ada yang berbicara sedikit pun. Semua mata langsung tertuju kepada Adam yang duduk di paling depan disana.
"Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian baru-baru dan semuanya pasti sudah melihat konferensi saya bersama istri saya kemarin" ucap Adam dengan lantang.
"Ya kami tahu tapi kenapa saham kita bisa anjlok seperti ini" ucap direktur Rangga.
"Maaf sebelumnya saham kita menurun itu karena kebanyakan klien kita memutuskan kontrak kerja sama kita sepihak dan perusahaan mengalami kerugian besar tapi itu sudah diatasi dan saat ini kami sedang menjalankan rencana kerja sama dengan klien kita yang lain" ucap Adam.
"Lalu apa kami yang harus menanggung semua resikonya" ucap pemegang saham A.
"Semuanya akan kembali ke sedia kala kami hanya butuh dukungan dan kepercayaan dari semua yang hadir disini" ucap Adam.
"Bagaimana jika kita ambil suara untuk menentukan pendapat kita semua" ucap pemegang saham B.
"Saya memberikan suara saya kepada direktur Adam untuk menunjukkan kemampuannya sekali lagi membangun kembali perusahaan RM Group" ucap direktur Rangga sambil tersenyum.
Semua para pemegang saham saling berbisik-bisik satu sama lain karena mereka tahu siapa direktur Rangga dan bagaimana perusahaannya bisa jaya sampai saat ini.
"Saya setuju dengan direktur Rangga" ucap Riko dengan datar.
Tak lama semua pemegang saham berbondong-bondong memberikan kesempatan kepada Adam untuk kembali membuat perusahaan RM Group bangkit jaya lagi. Akhirnya mereka semua tetap menanamkan saham di perusahaan Rosemary.
Adam dan lainnya tersenyum lega karena semua pemegang saham tidak mencabut sahamnya. Selesai mendapat kesepakatan semua pemegang saham lalu keluar meninggalkan ruang meeting.
Saat direktur Rangga keluar ia sempat berjabat tangan dengan Adam sambil berbincang-bincang bersama dengan mereka.
"Terimakasih atas dukungan dari direktur Rangga" ucap Adam dengan penuh wibawa.
"Sama-sama direktur Adam menurut saya perusahaan ini masih harus terus beroperasi lebih lagi" ucap direktur Rangga dengan senyuman di bibirnya.
"Iya direktur Rangga sekali lagi terima kasih" ucap Adam.
"Iya direktur Adam kalau begitu saya pamit undur diri" ucap direktur Rangga dan berlalu pergi.
Adam dan Laura melihat direktur Rangga dengan penuh tanda tanya. Keduanya saling melirik dan mengangguk kepala dengan pemikiran yang sama.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sampai di dalam ruangannya Adam dan Laura segera memanggil Dion ke dalam. Dion segera masuk dan memberi hormat kepada tuan dan nyonyanya.
"Selamat siang tuan apa ada yang bisa saya bantu" ucap Dion.
"Dion bagaimana mungkin direktur Rangga bisa menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan aku?" tanya Adam dengan tatapan tajam.
"Maaf tuan menurut data yang saya pegang direktur Rangga datang mewakili pemegang saham yang berinisial CW dan orang ini sudah membeli saham dari investor kita asal Italia sebesar 15% tuan"
"Apa sejak kapan" ucap Laura dengan kaget.
"Sejak 2 bulan yang lalu nyonya" ucap Dion.
"Siapa sebenarnya pemilik saham tersebut?" tanya Adam penasaran.
"Maaf tuan saya tidak tahu" ucap Dion.
"Ya sudah kamu boleh keluar" ucap Adam dengan tegas.
"Baik tuan permisi" ucap Dion.
Setelah Dion berlalu keduanya langsung sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mereka menebak siapa sebenarnya pemilik dari inisial CW itu.
"Sayang apa kamu memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Laura.
"Iya sayang aku bingung siapa sebenarnya pemilik saham itu dan kenapa harus direktur Rangga yang mewakilinya" ucap Adam dengan bingung.
"Yang pasti orang itu bukan sembarang karena dia sudah berkenalan dengan direktur Rangga seorang pengusaha sukses saat ini" ucap Laura dengan tatapan tajam.
"Kamu benar sayang secepatnya kita harus mengetahui siapa sebenarnya orang yang berinisial CW itu" ucap Adam dengan mata berkilat tajam.
Laura hanya mengangguk kepalanya tanda mengerti. Setelah pulang dari perusahaan daddynya, Queen segera menuju ke rumah sakit untuk melakukan check up rutin pada kandungannya yang sudah berumur 5 bulan lebih.
Sean sendiri sudah sampai di rs tempat dokter kandungan yang biasa mereka datangi. Sean melihat mobil Queen yang belum sampai memilih menunggunya di dalam mobil.
"Dimas persiapkan semua kebutuhanku untuk besok" ucap Sean dengan datar.
"Baik tuan" ucap Dimas.
"Berapa lama kita disana"
"Sesuai jadwal kita akan disana selama 5 hari bos"
"Heemmm"
Tak lama mobil Queen sudah sampai dan keduanya segera masuk ke dalam untuk mengecek janin yang berada dalam kandungan Queen. Setelah selesai mengecek kandungan Sean segera pulang kembali ke kantor dan menyuruh Queen untuk mempersiapkan pakaiannya.
"Memangnya mau kemana mas?" tanya Queen.
"Gue ada dinas di Lombok selama 5 hari dan loe nginap di mansion orang tua gue" ucap Sean dengan suara dingin.
"Biar aku di mansion aja mas kan ada bi Lastri"
"Itu perintah ibu" ucap Sean dengan tegas.
"Oh baik mas"
Sean kemudian berlalu meninggalkan Queen di parkiran rumah sakit sendiri bersama sang sopir. Queen segera masuk ke mobil dan menyuruh sopir untuk pulang ke mansion.
Saat tiba di lampu merah Sean kaget melihat mobil mewah di sampingnya yang sedang membuka jendela kacanya, Sean tertegun melihat wajah cantik itu yang sedang tersenyum manis sambil memberikan uang kepada anak pengamen itu.
"Chloe" ucap Sean dengan suara penuh kerinduan.
...βββββ...
To be continue.................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€