
π»Cobalah dulu baru cerita, pahamilah dulu baru menjawab, berpikirlah dulu baru berkata, dan dengarlah dulu baru bertindakπ»
.
.
.
.
Johan yang melihat kakaknya sudah lebih tenang, memberanikan diri untuk bicara. Biar bagaimanapun ia tak mau sampai kakaknya dicoret dari daftar ahli waris sang daddy.
"Kak menurut aku sebaiknya kakak turuti keinginan daddy" ucap Johan dengan gugup.
Emilio menggelengkan kepalanya memberitahu untuk tidak mengungkit masalah tadi tapi terlambat. Juan sudah menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin membunuhnya.
"Pergi dari sini jika kamu ingin mengikuti kata-kata daddy" bentak Juan dengan suara tinggi.
"Tapi ka" ucap Johan yang langsung dipotong Juan.
"Sampai kapanpun aku akan tetap menghancurkan keluarga anak sialan itu bahkan jika perlu mayatnya aku buang di depan daddy" ucap Juan dengan serius.
Johan menelan saliva dengan kasar tidak berbicara lagi, ia tahu jika apa yang dibilang oleh Juan tidak bercanda.
Sebaiknya aku amankan saja posisiku saat ini dari pada ikut campur masalah ini, batin Johan.
"Kenapa daddy bisa tahu" ucap Juan dengan tatapan tajam melihat Emilio.
"Kata anak buah tuan tadi tuan besar berada di markas saat mereka membawa paket itu tuan" ucap Emilio dengan suara dingin.
"Berengsek dasar tidak becus" ucap Juan dengan emosi tinggi.
Emilio dan Johan hanya diam mendengar semua umpatan dan makian yang keluar dari mulut Juan. Seketika mereka kaget dengn suara tawa Juan yang seperti orang gila.
"Emilio suruh anak buah kita untuk segera menangkap anak sialan itu saat ada kesempatan" ucap Juan dengan senyum sinis.
"Bukannya kita harus bekerja sama dengan nyonya besar Wesly ka?" tanya Johan.
"Aku sudah tidak perduli dengan mereka lagi biarkan kita jalankan rencana kita sekarang terserah mereka mau ikut atau tidak" ucap Juan dengan suara tegas.
"Oke ka" ucap Johan mengiyakan saja.
"Hubungi nyonya besar Wesly dan sampaikan rencanaku barusan" ucap Juan dengan suara dingin.
"Baik tuan" ucap Emilio.
Emilio segera menghubungi nenek Esma dan pada dering ketiga barulah panggilannya diangkat.
^^^"Selamat malam nyonya Wesly"^^^
"Selamat malam siapa ini" ucap nenek Esma dengan suara tinggi dari seberang.
^^^"Saya Emilio tangan kanan tuan Juan Carlos Nidas nyonya"^^^
"Oh ada apa ya"
^^^"Saya mau mengabarkan jika tuan Nidas akan menjalankan rencana menangkap nona Chloe lebih dulu saat ada kesempatan"^^^
"Bukannya target kita Xavier lebih dulu" ucap nenek Esma dengan bingung.
^^^"Maaf nyonya tapi tuan menyuruh untuk lebih dulu menangkap istrinya agar memancing tuan Wesly menuju ke perangkap kita"^^^
"Heemmm! Rencana bagus katakan pada tuanmu aku ikut"
^^^"Baik nyonya akan saya sampaikan"^^^
"Heeemmmm"
^^^"Selamat malam"^^^
Nenek Esma segera mematikan panggilannya tidak menjawab sapaan Emilio.
Dasar wanita tua sombong, batin Emilio dengan kesal.
"Bagaimana" ucap Juan.
"Nyonya besar Wesly setuju dengan rencana kita tuan" ucap Emilio.
"Good segera kirim anak buah kita" ucap Juan dengan senyum penuh arti.
"Baik tuan" ucap Emilio.
Juan segera menyuruh Emilio untuk keluar tak lupa menyuruhnya memanggil cleaning service kesini. Emilio lalu keluar dan menjalankan perintah sang tuan dan memanggil cleaning service untuk membersihkan kamarnya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di depan pintu apartemen Juan di lantai 50, Emilio segera berjalan ke kamarnya di samping kamar sang tuan. Sampai di dalam kamar ia segera mengirimkan rekaman suara Juan tadi kepada Robert, tak lupa ia juga menghapus semua jejak yang ada jangan sampai ketahuan oleh Juan.
Aku berharap semoga rencana kalian gagal karena kamu tidak pantas lagi mencelakai orang yang tidak bersalah, batin Emilio dengan emosi.
Dia sudah tidak lagi menaruh rasa hormatnya pada sang majikan saat mengetahui penyakit kelainan Juan. Sejahat-jahatnya dirinya Emilio tidak akan menodai anak yang masih dibawah umur dengan kejam.
~ Arthur Hotel ~
Setelah menikmati jamuan makan malam bersama direktur Ali Syarif dan istrinya di Queens restoran, Chloe meminta sang suami agar malam ini mereka menginap di hotel Arthur.
Xavier mengiyakan saja keinginan sang istri karena dirinya sangat mencintai Chloe. Sepanjang jalan Chloe terus berbicara mengenai tamu yang baru saja mereka temui.
"Hubby ternyata istrinya sangat cantik, baik dan anggun ya"
"Istriku lebih cantik" ucap Xavier sambil mengelus kepala Chloe.
"Aku tahu aku memang cantik sayang tapi sekarang kita lagi bicara tentang istri direktur Ali tadi" ucap Chloe dengan kesal.
"Aku tidak suka berbicara tentang perempuan lain selain istriku baby" ucap Xavier dengan lembut.
"Uhh.......so sweetnya suamiku" ucap Chloe dengan senyum manis.
Xavier tersenyum melihat kelakuan sang istri yang menurutnya mengemaskan. Tak lama mobil mereka tiba di hotel Arthur bersama mobil pengawal, manager dan direktur hotel langsung menyambut kedatangan sang bos besar di lobby hotel.
"Selamat malam tuan dan nyonya Wesly" ucap direktur hotel.
"Malam juga" balas Chloe dengan sopan.
Berbeda dengan Xavier yang hanya menampilkan raut wajah datar dan dingin. Ia segera menarik pinggang Chloe masuk ke dalam dengan langkah pelan.
Aura Xavier menyeruak di dalam lobby hotel membuat semua pasang mata disana memandang mereka. Tak jauh dari mereka ternyata Robert Nidas dan pengawalnya juga berada disana.
Robert menatap Chloe dengan wajah sedih, apa lagi saat melihat wajah Chloe yang sangat persis dengan almarhum sang putri yaitu Sintia Elisabeth Nidas.
"Akhirnya daddy bisa melihat wajah anak kamu dari dekat Sintia" gumam Robert dengan pelan.
"Tuan" ucap sang tangan kanan.
"Apa kamarnya sudah siap" ucap Robert dengan suara tegas.
"Sudah tuan tapi"
"Tapi apa"
"Hotel ini milik Xavier Arthur Wesly tuan"
Robert kaget mendengar hal tersebut karena tak menyangka ia menginap di hotel Xavier. Sebenarnya ia tidak mau berurusan lagi dengan Xavier karena ia tahu jika Xavier sangat dendam dengan masa lalu mereka.
Karena dirinya Xavier harus berjuang hidup sendiri tanpa ada sosok kedua orang tua di sisinya. Ia memilih ingin pergi dari sana tapi mengingat Chloe juga berada di hotel ini ia membatalkan niatnya untuk mencari hotel lain.
"Kita menginap disini karena aku masih ingin melihat wajah cucuku sekali lagi" ucap Robert dengan suara bergetar.
"Baik tuan" ucap tangan kanannya.
Robert segera naik ke lift menuju lantai 20 kamarnya. Tanpa mereka sadari ternyata ada sosok yang menatap Robert dengan penuh dendam, ia menahan emosi di dalam hatinya untuk tidak menghabisi Robert saat ini juga.
"Beritahu bos si tua licik itu ada hotel ini" ucap Albert lewat earpiece kepada Thomas.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Albert segera naik dengan lift khusus menuju lantai paling atas kamar sang bos. Sepanjang dalam lift wajahnya hanya mengeras mengingat Robert yang tadi ia lihat.
"Aku akan menghancurkan kamu dan keluargamu seperti kamu menghancurkan keluargaku" ucap Albert dengan emosi.
Di kamar president suit Chloe segera membersihkan tubuhnya karena lengket. Xavier yang ingin ikut mandi bersama sang istri menghentikan niatnya saat membaca pesan dari Thomas.
"Berengsek" ucap Xavier dengan emosi.
Xavier segera masuk ke dalam kamar mandi mencari Chloe karena hanya Chloe yang bisa meredakan amarahnya. Chloe bingung saat melihat wajah sang suami penuh emosi.
"Ada apa hubby" ucap Chloe mengelus rahang Xavier dengan lembut.
Xavier lalu memeluk tubuh Chloe di bawah shower. Tak peduli dirinya masih mengenakan pakaian lengkap saat ini, Chloe tahu jika saat ini suaminya itu sedang menahan amarah dalam hatinya.
"Cerita sama aku sayang apa yang membuatmu emosi" ucap Chloe dengan lembut.
"Si tua licik itu ada di sini sayang" ucap Xavier dengan suara geram.
"Maksudnya sayang?" tanya Chloe dengan bingung.
"Aku akan cerita setelah kita selesai dengan urusan kita sayang" ucap Xavier dengan suara serak.
Chloe hanya patuh dengan keinginan suaminya, karena ia tahu harus melakukan kewajiban seorang istri memuaskan hasrat suaminya itu.
1,5 jam keduanya berada di dalam kamar mandi, selesai dengan urusan mereka Xavier mengendong istrinya dengan hati-hati menuju ranjang. Tak lupa ia mengeringkan rambut sang istri dengan hairdryer.
Setelah selesai keduanya lalu duduk di ranjang sambil bersandar di kepala ranjang. Chloe menaruh kepalanya di dada sang suami sambil menonton televisi.
"Apa kamu bisa cerita sekarang hubby"
"Heemmmm"
"Robert Nidas berada di hotel ini sekarang baby"
Chloe memikirkan nama orang yang baru disebut suaminya dengan kening berkerut. Pasalnya ia tidak begitu familiar dengan nama orang itu tapi hanya marga orang tersebut yang ia tahu.
"Jangan bilang dia itu daddy dari mommy" ucap Chloe dengan kaget.
Xavier mengangguk kepala tanda membenarkan ucapan sang istri. Chloe tak menyangka jika orang yang dibencinya juga ternyata berada di hotel ini.
"Kita pulang saja ke mansion sayang aku takut berada disini dengan orang itu sayang" ucap Chloe dengan wajah khawatir.
"Kamu aman bersamaku sayang pikirkan kandunganmu sayang pasti ia kelelahan seharian ini"
Chloe melihat perut buncitnya dan membenarkan ucapan suaminya. Tapi ia takut jika Robert Nidas datang dan menghancurkan keluarganya seperti kedua orang tuanya dan orang tua sang suami.
"Kamu tenang saja baby kamu aman selagi masih ada aku di dunia ini" ucap Xavier yang tahu kekhawatiran sang istri.
Chloe mengangguk kepalanya sambil tersenyum hangat kepada Xavier. Ia tahu jika dirinya aman saat ini karena ada sang suami yang selalu berada di dekatnya, tak lama Chloe ingat jika disini yang paling menderita karena orang itu adalah Albert.
"Hubby apa Albert tahu jika orang itu berada di hotel ini juga" ucap Chloe dengan penasaran.
"Heemmm! Dia orang pertama yang tahu kehadiran pria tua licik itu disini sayang" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Apa! Lalu bagaimana keadaannya sayang pasti saat ini dia sangat terpukul"
"Aku tahu Albert pria yang kuat sayang jadi jangan cemaskannya" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Dia orang yang paling menderita karena melihat kematian keluarganya dengan matanya sediri, jika aku jadi dia aku tidak akan bisa bertahan hidup lagi sayang........hiks hiks hiks" ucap Chloe dengan air mata.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier memeluk sang istri karena tahu saat ini istrinya sangat terpukul. Chloe adalah tipe orang yang sangat prihatin dengan keadaan orang lain apalagi kasusnya seperti Albert.
"Jangan pernah omong seperti itu baby" ucap Xavier dengan suara lembut.
Chloe mengangkat kepalanya dan menatap Xavier dengan tatapan sendu. Xavier melihat tatapan sang istri hatinya seperti diiris merasakan apa yang dirasakan istrinya saat ini.
"Sayang kamu harus berjanji satu hal sama aku" ucap Chloe dengan air mata mengalir.
"Aku akan melakukannya jika itu untuk kebahagiaanmu sayang" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Jika suatu saat sesuatu terjadi sama aku dan anak kita, maka aku mau kamu menyelamatkan anak kita lebih dari apapun baby"
Deg...........
Seketika hatinya seperti dipukul dengan palu saat mendengar ucapan sang istri. Xavier tidak akan pernah bisa memilih salah satu diantara keduanya karena mereka berdua adalah hidupnya.
"Jangan pernah meminta aku untuk berjanji hal itu sayang karena kalian berdua adalah hidupku" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
Chloe menangis dalam pelukan sang suami, Xavier memeluk sang istri karena tahu Chloe sangat lemah saat ini. Tak lama suara Chloe yang teratur terdengar menandakan dirinya sudah tertidur.
Xavier membaringkan istrinya dengan hati-hati di ranjang. Ia mencium kening dan perut Chloe dengan lembut sambil mengelusnya.
"Sampai kapanpun kamu akan lahir ke dunia dengan selamat begitu pun dengan mommy kamu nak" ucap Xavier lembut.
Ia lalu berjalan ke arah ruang tamu menemui Albert dan Thomas yang sudah berada disana. Aura Xavier yang menyeruak di dalam ruangan tersebut membuat siapa saja ketakutan.
"Apa tujuannya kesini" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Kata anak buah kita Robert Nidas datang ke negera ini menyusul kedua anaknya setelah melihat isi paket yang kita kirim bos" ucap Thomas.
"Heemmm! Perketat semua pengawalan kita aku tidak mau mereka mendekati istriku" ucap Xavier dengan suara dingin
"Baik bos" ucap keduanya serentak.
"Albert hancurkan markas mereka tapi jangan semuanya buat mereka kehabisan barang berharga mereka sedikit demi sedikit" ucap Xavier dengan senyum penuh arti.
"Oke bos malam ini juga aku akan berangkat" ucap Albert sambil tersenyum sinis.
"Heeemmm"
Albert segera pergi tapi saat tiba di pintu suara Xavier menghentikan langkahnya. Ia sangat malu karena pembicaraan pribadinya harus dibahas di sini.
"Setelah istriku melahirkan lamar pacarmu untuk segera menikah" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Wow dude kamu start lebih dulu hah" ucap Thomas menggoda Albert.
"Uhmm! Oke bos" ucap Albert dengan wajah merah padam.
Thomas tertawa melihat wajah Albert yang seperti kepiting rebus karena malu. Xavier lalu menyuruh Thomas untuk mencari rekaman cctv di apartemen tempat Juan Nidas menginap.
Mereka harus mempersiapkan semuanya dengan cepat sebelum musuh mereka menyerang. Xavier tak mau sesuatu yang sangat tidak ia inginkan terjadi kepada keluarganya.
"Aku akan menjaga kalian berdua sampai selamanya sayang" ucap Xavier dengan aura mengintimidasi.
Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah 2 hari lewat dari kejadian di hotel. Albert yang ditugaskan oleh Xavier ke Italia malam ini akan menjalankan misinya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Thomas yang masih terus berkerja keras membobol cctv di kingdom apartemen masih belum membuahkan hasil juga. Ia sangat kesulitan membobol cctv tersebut karena ada seseorang yang selalu memblokirnya.
Tanpa Thomas sadari ternyata itu adalah Valeria, Valeria tersenyum sinis melihat siapa yang berani membobol keamanan gedung apartemen miliknya.
"Ternyata peliharaan Xavier Arthur Wesly" ucap Valeria dengan senyum penuh arti.
"Apa mau mereka Val bukannya kita ngak ada masalah dengan mereka" ucap Bryan dengan suara dingin.
"Sepertinya ada yang sedang mereka cari disini"
"Kita biarkan dia masuk dan lihat apa yang dia cari setelah itu kita hanguskan data yang ia ambil" ucap Bryan dengan serius.
"Ide loe boleh juga" ucap Valeria.
~ Wesly Group ~
Thomas sangat stres karena lagi-lagi hasilnya sama saja tidak bisa, ia sudah mengeluarkan kehebatannya menyeluruh tapi hasilnya tetap sama saja.
"Orang ini sangat hebat jika dia cewek bakalan aku nikahi dia saat ini juga" ucap Thomas dengan tegas.
Tak lama ia kembali mencoba sekali lagi dan hasilnya sungguh memuaskan, ia berhasil masuk dengan mudah. Tidak berlama-lama lagi Thomas segera mencari rekaman cctv kamar apartemen milik Juan.
Setelah di dapat ia langsung membackup data dan keluar kembali. Thomas yang sudah mendapat apa yang ia inginkan tersenyum dengan puas, tapi senyumannya seketika memudar.
"Jangan bilang tadi aku masuk karena di biarkan masuk aja oleh keamanan mereka" ucap Thomas dengan kaget.
Ia kembali berkutat dengan laptop mencoba masuk lagi tapi tidak bisa seperti awal. Thomas membanting berkas di mejanya karena merasa seperti dipermainkan.
"Sial ternyata aku masuk jebakan dia" ucap Thomas dengan kesal.
~ Kingdom Apartment ~
Di penthouse miliknya Valeria dan Bryan kaget ternyata Thomas mencari cctv di kamar Juan Nidas. Keduanya lebih kaget lagi saat mengetahui rencana dan kejadian baru-baru antar Robert dan Juan Nidas.
"Apa kita akan membantunya" ucap Bryan.
"Kita harus membantu Chloe karena Juan Nidas bukan orang yang gampang menyerah"
"Oke Val"
Mereka lalu menyusun rencana untuk menjaga keselamatan Chloe dari jauh tanpa kelihatan. Tak terasa sudah malam hari dan di lantai 50 Juan dan Johan kaget setelah mendengar informasi yang di sampaikan oleh Emilio barusan.
"Apa bagaimana bisa markas kita terbakar" ucap Juan dengan emosi.
"Katanya ada sekelompok orang memakai topeng menyerupai ninja menyerang markas tuan"
"Berapa jumlah mereka" ucap Juan.
"Sangat banyak bos tapi mereka hanya membakar markas kita sebagian saja bos"
"Bagian mana yang mereka bakar" ucap Johan dengan cepat.
"Bagian produksi obat-obatan tuan" ucap Emilio dengan gugup.
Prang..........prang.........
Bunyi benda pecah seketika bergema di dalam sana. Juan sangat emosi mengetahui bisnis haram mereka di bakar oleh sekelompok orang tak dikenal.
"Cari orang-orang itu sampai dapat!" bentak Juan dengan emosi.
"Baik Tuan" ucap Emilio.
"Kak aku pulang lebih dulu lihat markas kita apa kakak juga sekalian" ucap Johan.
"No kamu kembali duluan saja karena pasti daddy membutuhkan salah satu dari kita" ucap Juan dengan tegas.
"Oke ka kalau begitu aku pergi ya ka jangan lupa segera jalankan rencana kita"
"Heemmm"
Johan segera pergi untuk kembali ke Italia, Juan lalu menatap Emilio dengan tatapan tajam. Ia sudah bertekad harus segera menghabisi nyawa Chloe.
"Suruh anak buah kita menyerang besok dan pancing gadis sialan itu keluar" ucap Juan dengan emosi.
"Baik tuan"
Juan sudah tak sabar menunggu hari besok karena ia akan menghabisi Chloe besok.
Tunggu kematianmu besok anak sialan, batin Juan.
...βββββ...
To be continue................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€