
π»Air matalah yang akan bicara disaat mulut tak mampu untuk berbicaraπ»
.
.
.
.
Xavier mengerjakan pekerjaannya yang sangat banyak dengan fokus sampai tak mengetahui jika sang istri sudah bangun. Chloe memegang dan memijit bahu Xavier dengan lembut, Xavier lalu menegakkan badannya agar lebih rileks.
"Kamu sudah bangun baby" ucap Xavier sambil menikmati pijitan dari Chloe.
"Kalau aku belum bangun yang pijit kamu siapa dong sayang" ucap Chloe dengan kesal.
"Hehehehe! Ya istrikulah sayang" ucap Xavier sambil terkekeh.
"Heeemmmm"
Xavier menikmati pijatan lembut dari Chloe yang membuat otot tubuhnya lebih rileks. Xavier lalu menyuruh Chloe berhenti dan mempersiapkan diri untuk pulang.
"Albert siapkan mobil" ucap Xavier.
"Siap bos" ucap Albert dengan suara dingin.
Albert segera menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan mobil di depan lobby. Xavier dan Chloe bersama rombongannya segera berjalan keluar dari ruangan Xavier.
Sang sekertaris segera bangun dan menunduk memberi hormat kepada Xavier dan lainnya. Chloe berjalan di belakang Xavier karena tidak mau ada yang curiga akan statusnya, kemudian mereka semua masuk ke dalam lift.
"Baby kenapa kamu jalan di belakang aku sih" ucap Xavier dengan kesal.
"Kan aku asisten kamu sayang jadi harus berdiri di belakang kamu apa kata orang nanti"
"Tidak usah memikirkan perkataan orang lain" ucap Xavier dengan suara tinggi.
"Terserah" ucap Chloe dengan malas.
"Keluar" ucap Xavier dengan suara dingin.
Albert segera menekan tombol berhenti agar lift berhenti, Albert dan yang lainnya segera keluar di lantai 21. Xavier memberi isyarat kepada Thomas dengan lirikan mata menuju cctv dalam lift khusus untuk dirinya.
Thomas segera menelpon pihak keamanan untuk mematikan cctv lift khusus Xavier. Chloe yang melihat semuanya sudah keluar meninggalkan dirinya bersama Xavier menelan saliva dengan kasar menjadi takut.
Tatapan mata Xavier yang tajam seperti elang terus menatap Chloe di samping. Chloe menunduk tidak berani menatap mata sang suami karena ia yakin saat ini tatapan itu sangat menakutkan.
"Baby" panggil Xavier dengan suara dingin.
Tubuh Chloe seakan tidak bisa digerakkan karena aura di dalam lift saat ini sangat mencekam. Xavier melangkah mendekati Chloe dengan satu langkah saja sudah berdiri menjulang tinggi di hadapan Chloe.
Xavier mengangkat dagu Chloe agar keduanya saling menatap. Chloe menelan salivanya dengan kasar melihat mata biru tajam seperti elang yang sedang mengawasi mangsanya.
"Kamu tahu apa kesalahanmu baby" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Ma..a...f saya..ng" ucap Chloe dengan gugup.
"Aku tidak suka kamu berdekatan dengan laki-laki lain meskipun itu Albert sendiri baby dan mulai sekarang jalan di samping aku karena kamu itu istriku bukan karyawan aku" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Iya sayang"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier mendorong tubuh Chloe ke dinding lift dan langsung mencium b***r Chloe dengan kasar meluapkan emosinya saat ini. Chloe pasrah saja menerima ciuman kasar dari sang suami karena ia tahu saat ini Xavier sedang menahan emosinya.
Xavier mencium leher Chloe sambil menggigitnya sedikit kuat meninggalkan jejak keunguan disana.
Arrrghhhh......
"Sakit sayang" teriak Chloe sambil meremas bahu Xavier.
"Itu hukuman buat kamu baby" ucap Xavier dengan suara serak.
"I'm sorry hubby" (aku minta maaf sayang) ucap Chloe sambil menahan sakit di lehernya.
"Heeemmm! Baby i want you right now" (aku menginginkanmu sekarang sayang) ucap Xavier dengan suara serak menahan hasratnya.
"What! No baby ini masih di perusahaan" (apa, tidak sayang) ucap Chloe dengan kaget.
"But i want you now baby" (tapi aku mau kamu sekarang sayang) ucap Xavier dengan geram menahan hasratnya yang sudah naik.
Xavier menekan tombol lift kembali naik ke atas lantai 40 menuju ruangannya. Saat lift terbuka Xavier segera menarik tangan Chloe dengan cepat masuk ke ruangannya.
Chloe bersyukur karena sang sekertaris tidak ada lagi di meja kerjanya. Sampai di dalam kamar Xavier segera membuka pakaian Chloe dengan sekali tarikan.
Chloe hanya pasrah dan menikmati permainan sang suami yang sudah tidak sabar lagi. ******* keduanya memenuhi kamar itu saat matahari mulai terbenam di luar sana.
Albert dan Thomas beserta pengawal yang lain menunggu Xavier dan Chloe di lobby perusahaan. Albert sedari tadi hanya sibuk dengan iPad ditangannya mengecek email yang masuk dari perusahaan pusat dan perusahaan cabang.
"Sebenarnya apa yang bos lakukan di atas sana" ucap Thomas dengan penasaran.
"Heeemmmm" deham Albert dingin.
"Apa mereka sedang melakukan sesuatu yang enak saat ini" ucap Thomas sambil cekikan.
"Biasanya orang yang terlalu banyak bertanya mati lebih cepat" ucap Albert dengan suara dingin.
Thomas melihat Albert dengan tatapan kesal tapi tidak di pedulikannya sama sekali.
Cih dasar kutub es sialan, batin Thomas sambil mengutuk.
"Jangan mengutuk orang dalam hati" ucap Albert dengan wajah datar.
Thomas seketika terkejut akan ucapan Albert dan menatapnya dengan selidik.
Apa dia bisa membaca pikiran makanya di tahu apa yang aku pikirkan, batin Thomas melongo.
"For your information aku tidak bisa membaca pikiran tapi semua itu tertera jelas di mukamu" (Informasi buat kamu) ucap Albert sambil tersenyum mencemooh.
"Berengsek" umpat Thomas dengan kesal.
Albert hanya tertawa sinis melihat wajah kesal Thomas saat ini. Ia sangat senang karena sudah bisa membuat wajah tampan itu menjadi kusut seperti baju.
Di lantai 40 Xavier melepaskan Chloe setelah ia dan Chloe mendapat pelepasan. 2 jam mereka melakukannya tanpa henti dan hal itu sukses membuat Chloe langsung lemas setelah permainan panas keduanya.
Xavier mencium kening Chloe dengan lembut dan segera mengambil hpnya di dalam saku celana di lantai. Xavier kemudian menelpon Albert yang saat ini berada di lobby perusahaan.
"Halo bos"
^^^"Suruh pak Max bawakan bajuku dan Chloe kesini" ucap Xavier dengan nada perintah.^^^
"Baik bos"
^^^"Bawakan baju tidur dan setelan kerja Chloe"^^^
Xavier langsung mematikan panggilannya sepihak tanpa menunggu balasan dari Albert. Xavier kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum tidur.
Chloe yang mendengar suara gemericik air langsung terbangun karena ia tidak bisa tidur jika belum membersihkan tubuhnya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di lobby perusahaan Albert segera menelpon pak Max untuk membawakan baju tidur Xavier dan Chloe bersama setelan kerja Chloe.
Thomas yang mendengar pembicaraan Albert mengerutkan dahinya dengan bingung.
"Bos nginap disini?" tanya Thomas.
"Heeemmmm" balas Albert dengan deham.
"Nih orang dingin banget kayak kulkas malas aku bicara sama kamu" ucap Thomas dengan kesal.
Albert hanya melirik Thomas dan tersenyum sinis lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Melihat hal itu Thomas sangat emosi dan langsung pergi meninggalkan Albert menuju apartemennya di puri orchid apartment.
Tak lama pak Max muncul dengan membawa 2 paper bag besar berisi pesanannya.
"Tuan ini pesanannya" ucap pak Max sambil memberikan paper bag.
"Pulang ke mansion" ucap Albert sambil menerima paper bag tersebut.
"Baik tuan"
"Oh pak Max bagaimana dengan Kevin?" tanya Albert.
Hahahaha............
Tawa Albert pecah saat mendengar perkataan pak Max ia sudah bisa menebak bagaimana raut kesal Kevin saat itu.
"Suruh dia untuk bekerja di mansion bilang itu perintah dari bos"
"Baik tuan"
Albert segera berlalu menuju lift dengan masih terkekeh mengingat Kevin. Sampai di lantai 40 Albert segera masuk ke dalam dan menyimpan paper bag di atas meja.
Ia segera keluar karena tahu saat ini Xavier tidak ingin diganggu apa lagi sedang bersama dengan sang istri. Albert segera keluar dan menutup pintu ruang kerja Xavier dan bergegas pulang.
Tak lupa Albert menyuruh pengawal untuk berdiri di depan pintu ruang kerja Xavier dan jangan biarkan ada satu orang pun yang masuk. Ia kemudian memesan makan malam untuk Xavier dan Chloe sebelum pulang.
Tak terasa hari berlalu dengan cepat, Chloe mulai terbiasa dengan pekerjaannya meski kerjaannya lebih banyak untuk sang suami. Meski begitu Chloe menikmatinya dengan senang.
Sean dan perusahaan Hartono yang terpilih sebagai tender perusahaan Shine segera di undang Rangga Liem untuk menikmati jamuan makan malam sebagai simbolis kerja sama ketiga perusahaan.
"Direktur Rangga terima kasih karena telah memilih perusahaan kami" ucap direktur Hartono dengan senyum lebar.
"Sama-sama direktur Hartono itu memang pantas untuk tuan karena sudah memberikan penawaran dan proposal yang bagus untuk pembangunan resort kali ini" ucap Rangga dengan senyum di bibirnya.
"Wah anda terlalu memuji direktur Rangga" ucap direktur Hartono.
"Direktur Sean terima kasih sudah menghadiri undangan saya" ucap Rangga.
"Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa hadir disini direktur Rangga" ucap Sean dengan datar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Ketiganya langsung menikmati jamuan makan malam yang sudah di persiapkan oleh pihak restoran di ruang VIP. Tak jauh dari mereka ternyata saat ini Chloe sedang bersama dengan Xavier sedang menikmati makan malam di lantai paling atas restoran tersebut.
"Sayang kenapa hanya ada kita berdua saja?" tanya Chloe sambil menengok ke samping kiri dan kanan.
"Aku menyewa satu lantai sayang"
"Buat apa sayang buang-buang uang saja" ucap Chloe dengan mata tajam.
"Aku tidak suka keramaian baby dan aku ingin menghabiskan kencan bersama dengan istriku tanpa gangguan apapun" ucap Xavier dengan tegas.
"Heeemmmm"
Pelayan segera menyiapkan steak dan anggur untuk keduanya. Chloe yang tidak bisa minum minuman beralkohol, segera Xavier memesankan jus guava untuknya sesuai kesukaannya.
Keduanya menikmati makan malam dengan diam. Setelah mencicipi hidangan utama mata Chloe seketika berbinar-binar melihat chocolate cake lembut di depannya.
Xavier yang melihat hal tersebut tersenyum bahagia karena merasa istrinya seperti anak kecil saja. Selesai makan Xavier mengajak Chloe untuk berdansa dan menikmati malam kencan keduanya.
Chloe tersenyum bahagia dalam pelukan Xavier karena malam ini dirinya sangat bahagia.
"I love you baby till end of my life" (aku mencintaimu sampai akhir hayat aku sayang) ucap Xavier dengan senyum menawan.
"I love you too my hubby" (aku juga mencintaimu sayang) ucap Chloe sambil tersenyum manis.
Xavier lalu mencium bi**r Chloe dengan lembut, Chloe juga membalas ciuman lembut dari sang suami. Keduanya hanyut dalam ciuman mesra dalam ruangan tersebut beruntung hanya pemain musik saja yang berada di sana.
Selesai makan malam Chloe keluar dengan Xavier dari lift sambil tangan Xavier memeluk erat pinggangnya menunjukan kepemilikan atas tubuh Chloe.
Sean yang juga barusan keluar dari restoran bersama Dimas segera berlalu menuju pintu keluar. Saat dekat pintu keluar ia melihat banyak pengawal berbaju hitam yang berdiri di dekat sebuah mobil rolls royce terbaru di dekat 2 orang pria tinggi dan 1 orang wanita.
Sepertinya mereka orang asing dilihat dari perawakan mereka yang terlihat sangat lebar bahunya dan postur tubuh mereka yang sangat tinggi, batin Dimas.
Sean berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan apapun di sekitarnya dan entah kenapa dirinya tertarik untuk melihat ke arah samping. Jantung Sean berdetak dengan cepat menangkap wajah perempuan yang baru saja masuk kedalam mobil tersebut.
"Chloe" ucap Sean dengan pelan.
Sean ingin melihat apa betul itu adalah Chloe tapi mobil itu sudah berlalu pergi bersama 4 mobil hitam di belakang mereka.
Apa itu loe sayang jika itu loe pasti orang-orang gue sudah mengabari tentang loe dan gue pasti sudah mengetahui hal tersebut, batin Sean.
Dimas yang melihat tuannya hanya berdiri saja memberanikan diri untuk memanggil Sean.
"Tuan" ucap Dimas.
Seketika Sean langsung tersadar dari pikirannya dan melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah berada di depannya. Sean lalu masuk ke dalam mobil bersama dengan Dimas.
"Ke markas" ucap Sean dengan suara dingin.
"Uhmm! Maaf tuan tapi tadi nyonya menelpon saya untuk memberitahu jika nyonya ingin makan sate kambing" ucap Dimas dengan suara pelan.
"Ya loe suruh pengawal buat beli susah amat!" bentak Sean dengan suara tinggi.
"Maaf tuan tapi kata nyonya harus tuan sendiri yang beli dan menyuapi nyonya" ucap Dimas dengan gemetaran takut melihat wajah sang tuannya.
Sean menarik dasinya dengan kasar karena memikirkan ucapan dari Dimas. Seketika ia teringat percakapannya dengan Resa jika tidak memenuhi keinginan sang anak pasti anaknya akan ileran saat lahir.
"Amit-amit anak gue ileran" gumam Sean dengan pelan.
Dimas dan sopir hanya diam mendengar gumaman Sean dibelakang tidak berani berkata apapun.
"Cari tukang sate" ucap Sean dengan datar.
"Baik tuan"
Dimas dan sopir segera mencari tukang sate kambing dan tak jauh dari mereka ada tukang sate di depan. Sean menyuruh Dimas membeli 2 porsi sate beruntung tidak terlalu rame jadi pesanan Dimas langsung dibuat.
Sean pulang ke mansion sambil membawa sate pesanan Queen di tangannya.
"Dimana dia?" tanya Sean.
"Nyonya ada di kamar tuan" ucap bi Lastri pelayan di mansion Sean.
"Bawa ke kamarnya" ucap Sean sambil memberikan plastik berisi sate.
Bi Lastri segera menyiapkan sate tersebut dan membawa ke kamar Queen. Sampai di kamar Queen, bi Lastri mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung masuk saat mendengar suara masuk dari dalam.
"Ada apa?" tanya Queen dengan angkuh.
"Maaf nyonya, ini tadi tuan nyuruh saya membawakan ini buat nyonya" ucap bi Lastri sambil menaruh sate di atas meja depan sofa.
"Dimana mas Sean?" tanya Queen dengan cepat.
"Tuan berada di kamarnya nyonya"
Seketika raut muka Queen menjadi sedih karena ia tidak disuapi oleh Sean. Sean tiba-tiba masuk ke dalam kamar Queen dengan hanya memakai celana dan baju rumahan.
"Kamu bisa pergi" ucap Sean dengan dingin.
"Baik tuan permisi" ucap bi Lastri.
Sean segera duduk di sofa bersebelahan dengan Queen dan langsung mengambil sate lalu menyuapkan ke mulut Queen. Queen membuka mulutnya dengan senang karena akhirnya permintaannya di penuhi.
"Kalau loe pengen sesuatu dari gue langsung kabari ke gue" ucap Sean dengan wajah datar.
"Iya mas" ucap Queen.
"Heeemmmm"
Selesai menyuapi Queen dirinya langsung menyuruh pelayan untuk mengambil bekas piring sate keluar. Saat ingin keluar baju Sean di tarik dari belakang.
"Mas aku pengen tidur sambil dielus sama kamu" ucap Queen dengan mata berkaca-kaca.
"Naiklah ke ranjang" ucap Sean datar.
Sean dan Queen berbaring di ranjang sambil tangan Sean mengelus perut buncitnya. Queen menutup mata dan tersenyum bahagia.
Akhirnya rencana gue berhasil ternyata apa yang gue baca tadi ngak sia-sia ya beruntung banget gue sedang hamil, batin Queen tersenyum licik.
Sean mengelus perut Queen tapi pikirannya terus saja terbayang wajah perempuan tadi di restoran yang sangat mirip dengan Chloe.
Sial seharusnya gue lihat wajahnya full bukan hanya sampingnya doang kan gue jadi penasaran sekarang, batin Sean mengutuk kebodohannya sendiri.
...βββββ...
To be continue.................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€