Heartless

Heartless
Episode 147



🌻Menjadi dewasa bukan tentang umur dan pekerjaan tetapi bagaimana kamu menyikapi setiap permasalahan dengan hati tenang dan pikiran terbuka🌻


.


.


.


.


Semalam suntuk Bima menghubungi Riko anaknya untuk membahas ramalan yang disampaikan oleh Arka tadi. Riko yang mendengar perkataan papanya menjadi sangat emosi.


"Sial apa kita hancurkan saja keluarga itu pa" ucap Riko dengan frustasi.


"Pikirkan menantumu Riko"


"Anak tidak tahu diri itu buat apa harus dipikirkan, dia sama saja dengan keluarganya" ucap Riko emosi mengingat kelakuan Queen kepada sang istri.


"Apa maksud kamu son?" tanya Bima dengan penasaran.


Riko lalu menceritakan sikap Queen yang kasar dan tidak sopan kepada sang istri saat pulang dari rapat pemegang saham kemarin siang.


Bima yang mendengar cerita anaknya menjadi emosi karena merasa menantunya diperlakukan buruk oleh sang cucu menantu.


"Jadi ini didikan orang tuanya sampai gadis itu berubah menjadi sangat tidak sopan santun!" bentak Bima dengan raut wajah emosi.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya pa" ucap Riko.


"Ya seperti kamu dan Sean" ucap Bima melempar kembali perkataan anaknya ke dirinya.


"Cih! Dia memang keturunan aku jadi wajar sifatnya seperti aku pa" ucap Riko dengan bangga.


"Heemmmm"


"Oh ya pa kata Rio, Sean sedang menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Denis selama 24 jam pa" ucap Riko.


"Ya papa tahu dan Riki sudah menceritakan permasalahannya" ucap Bima dengan tegas.


"Apa aku perlu menghabisi mereka pa"


"Cukup kasi peringatan dan pelajaran saja kalau perlu tekan mereka dengan kelemahan mereka agar tidak melawan lagi" ucap Bima dengan penuh wibawa.


"Baik pa akan aku suruh Rio membantu masalah mereka"


"Heemmmm"


Riko lalu pamit pulang ke mansion karena waktu sudah menunjukan pukul 03:00 dini hari. Sebelum ia sampai di pintu ia berbalik menghadap ke Bima.


"Ada apa son" ucap Bima.


"Besok papa ke mansion Sean saja aku takut wanita itu mencelakai cucuku karena Maya akan menyiapkan keperluanku untuk peresmian resort di Lombok" ucap Riko.


"Apa kamu lupa jika papa juga diundang"


"Kan papa ngak perlu nyiapin keperluan papa jadi pasti besok papa free dong sekalian tunggu aku mencari orang untuk mengawasi keadaan mansion Sean"


"Memangnya Sean tidak pergi" ucap Bima.


"Dia pergi pa dan aku akan menyuruhnya membawa istrinya juga"


"Heemmm! Baiklah" ucap Bima sambil mengangguk kepala.


"Bye pa" ucap Riko.


Bima tersenyum senang melihat Riko yang sudah pergi, meski kejam tapi ia sangat mencintai keluarganya dan juga adik-adiknya.


Semoga kalian semua tetap merasakan kebahagian ini sampai kapanpun, batin Bima.


~ Mansion Xavier ~


Tepat jam 05:30 Kevin sudah berdiri di depan pintu mansion sang bos. Semalam ia tidak tidur karena takut bangun terlambat untuk datang menemui sang bos.


Pak Max lalu membukakan pintu setelah para satpam mengabari kedatangan dokter pribadi tuannya sekaligus orang kepercayaan Xavier. Kevin langsung masuk ke dalam saat pintu dibuka.


"Selamat pagi tuan Kevin" ucap pak Max.


"Pagi pak Max tolong americano hangat dan sandwich ya" ucap Kevin lalu duduk di sofa ruang keluarga.


"Baik tuan Kevin"


Pak Max lalu menyuruh koki membuatkan sandwich untuk Kevin. Tak lama Chloe yang setiap pagi bangun lebih pagi sudah turun ke bawah karena merasa lapar.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Selamat pagi nyonya" ucap para pelayan.


"Heemm! Pagi" ucap Chloe dengan lembut.


Saat berjalan ke dapur Chloe merasa sangat senang karena ia mencium bau parfumnya setiap bertemu dengan para pelayan. Tak lama pak Max datang menyambut sang nyonya di mansion ini.


"Selamat pagi nyonya"


"Pagi pak Max, apa pak Max juga menggunakan parfum yang sama denganku juga" ucap Chloe penasaran.


"Iya nyonya kemarin tuan memerintahkan semua pengawal dan pelayan untuk menggunakan parfum yang sama dengan milik nyonya" ucap pak Max.


"Oh ya, maaf ya pak Max sudah membuat kalian semua menggunakan parfum wanita" ucap Chloe merasa bersalah.


"Tidak apa-apa nyonya selagi itu membuat nyonya tidak muntah lagi" ucap pak Max dengan tulus.


"Heeemmmm! Pak Max tolong suruh koki membuatkan saya sepiring pasta oglio dan salad tapi jangan pakai madu"


"Baik nyonya"


Chloe lalu duduk di meja makan dan membuka instagram sambil menunggu makanan yang dibuat oleh koki. Tak lama Chloe mengangkat kepalanya mendengar langkah kaki menuju kearahnya.


"Selamat pagi nyonya" ucap Kevin dengan senyuman cerah.


Saat Chloe ingin membalas sapaan Kevin seketika hidungnya mencium bau parfum Kevin yang sangat menyengat. Chloe berlari menuju toilet di dekat dapur untuk muntah karena tidak tahan dengan bau parfum Kevin.


Pak Max lalu menyuruh pelayan mengikuti Chloe sedangkan ia berlari menuju ke lantai 2 untuk membangunkan Xavier. Kevin yang melihat semuanya panik berdiri dengan bingung.


Tok.......tok.......tok........tok.........


Pintu kamar Xavier diketuk berulang kali dengan tidak sabar. Xavier yang masih tertidur seketika bangun karena kesal di ganggu pagi-pagi.


Xavier memakai celana panjang lalu membuka pintu dengan suasana hati sangat kesal. Tatapan tajam seketika menyambut pak Max yang berdiri di depan pintu kamar Xavier dengan raut khawatir.


"Ada apa pak Max jika tidak penting kamu tahu akibatnya!" bentak Xavier.


"Maaf tuan itu nyonya muntah di kamar mandi bawah" ucap pak Max dengan gugup.


Mata Xavier seketika terbuka terang mendengar kabar tentang sang istri. Xavier berlari dengan cepat menuju ke ruang makan dengan wajah khawatir.


"Apa yang terjadi! Hah!" bentak Xavier dengan suara tinggi saat sampai di meja makan.


Semua pelayan dan koki menunduk takut melihat kemarahan di wajah sang tuan. Xavier yang mendengar suara muntahan Chloe segera berlari menuju ke kamar mandi di dekat dapur.


Sampai di dalam kamar mandi Xavier memijit tengkuk Chloe dan membersihkan mulut Chloe dari bekas muntahan tanpa merasa jijik. Xavier memeluk tubuh sang istri yang sudah sangat pucat dan lemah.


"Baby apa masih mau muntah" ucap Xavier dengan lembut.


Chloe hanya menggelengkan kepalanya karena masih lemah. Sudah 4 kali ia memuntahkan isi perutnya pagi ini, awalnya tidak tapi saat mencium bau parfum Kevin seketika perutnya bergejolak.


"Sayang suruh Kevin ganti parfumnya aku mual mencium baunya" ucap Chloe dengan lemah.


"Heemmmm"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier lalu mengendong tubuh sang istri menuju meja makan. Sampai di sana ia menatap Kevin dengan tatapan tajam dan membunuh, Xavier mendudukkan Chloe di kursi dan berjalan ke arah Kevin dengan tatapan membunuh.


Bugh...........


Satu pukulan kuat di perut Kevin dari Xavier, Kevin seketika jatuh dilantai karena tidak kuat menahan pukulan sang bos. Chloe yang melihat hal itu seketika berteriak menghentikan suaminya.


"Sayang stop" ucap Chloe dengan suara tinggi.


"Biarkan saja sayang ini karena sudah membuat kamu muntah pagi ini"


"Aku bilang stop hubby" ucap Chloe dengan suara tegas.


Xavier lalu menghentikan kakinya yang sudah mau mendarat di tubuh Kevin. Xavier menyuruh pak Max untuk membawa Kevin keluar dan menjauh dari Chloe.


Xavier tersenyum mendapat polotan tajam dari sang istri. Ia lalu duduk dan mengangkat tubuh Chloe ke atas pangkuannya. Chloe hanya pasrah saja karena memang ia sangat suka mencium bau tubuh sang suami.


"Bawakan sarapan istriku dan juga susunya" ucap Xavier dengan wajah datar.


"Baik tuan" ucap pelayan.


Mereka lalu menghidangkan sarapan untuk sang nyonya seperti pesanan Chloe tadi, Xavier sendiri menyantap toast dan segelas kopi hitam pagi itu sambil sesekali mengelap mulut sang istri yang belepotan.


Di luar mansion, Kevin segera mengganti bajunya dan parfum seperti milik Chloe setelah diberitahu oleh pak Max. Thomas yang datang ke mansion pagi ini seketika tertawa kencang mendengar Kevin yang dipukul.


"Hahahaha! Apa kamu mau jadi samsak bos pagi-pagi"


"Tutup mulutmu sialan" ucap Kevin dengan kesal.


Bukan berhenti Thomas kembali tertawa menggoda Kevin hingga ia puas. Setelah itu keduanya masuk menemui sang bos.


"Pagi bos, nyonya" ucap keduanya serentak.


"Heeemmmmm"


Chloe yang melihat Kevin merasa bersalah karena dirinya ia dipukul oleh sang suami. Kevin yang tau maksud Chloe hanya tersenyum saja.


"Ayo kalian juga sarapan" ucap Chloe dengan lembut.


Keduanya lalu ikut sarapan dengan diam dan sesekali tersenyum miris melihat kemesraan sang bos di depan mereka.


Kasian nasib jombloku, batin Kevin dan Thomas berkecamuk.


Chloe yang merasa kurang satu orang mengedarkan pandangannya mencari ke sekeliling mansion. Xavier yang tahu maksud sang istri segera memberi tahu kemana sang tangan kanan.


"Albert ada urusan kerjaan di Bandung sayang" ucap Xavier.


"Emang kamu ada perusahaan di Bandung sayang?" tanya Chloe dengan polos.


"Heeemmmm"


Xavier lalu menyodorkan susu ibu hamil ke Chloe dan tak lupa vitamin dan obat penguat kandungan. Kandungan Chloe sudah berumur 1 bulan dan masih mengalami morning sicknes.


Thomas yang ingat dengan ucapan Xavier kemarin tentang teman sang nyonya segera bertanya kepada Chloe.


"Nyonya apa teman nona yang waktu itu masih jomblo"


"Yang mana" ucap Chloe dengan bingung.


"Itu nyonya yang ikut bersama kita saat datang ke Indonesia" ucap Thomas dengan antusias.


"Oh Mira maksud kamu" ucap Chloe.


"Iya nyonya betul yang itu"


"Dia masih jomblo emang kenapa?" tanya Chloe penasaran.


"Dia naksir dengan teman nyonya" ucap Kevin dengan asal.


"Hey bocah tutup mulutmu sana" ucap Thomas dengan kesal.


"Yang benar kamu?" tanya Chloe dengan penasaran.


"Bukan begitu nyonya aku itu cuma tanya saja" jawab Thomas bingung ingin menjelaskannya.


Ia lalu menatap Xavier untuk meminta tolong tapi reaksi Xavier hanya tersenyum sinis dan berkata urus saja sendiri lewat tatapan matanya. Thomas yang melihat senyuman sang bos seperti ingin melemparkan sendok ke muka Xavier.


"Suka ya bilang aja apa susahnya coba! Hehehehe" ucap Kevin sambil terkekeh.


Seketika tawa Chloe pecah melihat wajah Thomas yang merah padam. Chloe pikir Thomas malu mengakui perasaannya tapi sebenarnya muka Thomas merah karena menahan emosi kepada Kevin.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Thomas hanya diam saja tidak ingin menjawab takutnya ia keceplosan lagi.


Bakal mati dibunuh Albert jika aku keceplosan ngomong nanti, batin Thomas.


~ Bandung, Jawa Barat ~


Saat ini Albert sudah tiba di salah satu perusahaan besar di Bandung yang bergerak di bidang tekstil. Perusahaan itu adalah salah satu anak perusahaan Shine.


Sang pimpinan yang tahu kedatangan Albert sebagai perwakilan dari perusahaan Shine segera menyambutnya di lobby depan. Bukan tanpa alasan Albert datang ke sana karena ia tahu jika gadis yang sudah diklaimnya sebagai miliknya bekerja disana.


"Selamat datang tuan Albert" ucap sang direktur.


"Heemmmm"


Saat berjalan ke lift Albert menatap tajam kedua orang karyawan disana yang berjalan sambil mengobrol ceria. Tatapan matanya tajam seperti mengikuti kedua orang tersebut yang sudah masuk ke dalam lift.


"Tunggu hukumanmu sayang" gumam Albert dengan wajah dingin.


Albert dan sang direktur lalu naik ke lift khusus petinggi menuju lantai 20 tempat meeting. Setelah selesai membahas semua kerja sama disana ia lalu menyuruh sang direktur memanggil karyawan tadi yang ditemuinya di lift.


"Baik tuan akan saya panggilkan"


"Heemmmm"


Tak lama sang direktur menyuruh sekretarisnya untuk menghubungi Mira yang dikenal sebagai karyawan teladan di perusahaannya di bagian keuangan. Selang 15 menit Mira datang dan disuruh masuk direkturnya ke dalam ruang meeting.


Saat masuk ia melihat ada seorang pria berbadan tegap dan tinggi serta perawakannya yang gagah sedang berdiri membelakanginya. Mira berdeham menetralkan detak jantungnya yang berdetak dengan cepat.


"Selamat siang tuan ada yang bisa saya bantu" ucap Mira dengan sopan.


Albert berbalik dan langsung menatap tajam gadis yang sudah diklaimnya dengan tatapan bak elang. Tubuh Mira seketika kaku melihat siapa orang yang berdiri di depannya saat ini.


Dia adalah orang yang sudah memporak-porandakan hatinya selama beberapa bulan terakhir hingga saat ini. Mira seakan ingin berlari dari sana tapi kedua kakinya seperti dilem tidak bisa bergerak sedikit pun.


"Hukuman apa yang cocok untuk gadis yang tertawa bersama dengan pria lain.....hem" bisik Albert dengan suara dingin.


"T....u.....an" ucap Mira dengan gugup.


Albert memeluk pinggang Mira dengan erat dan mendudukkannya di meja meeting. Ia lalu mencium b***r Mira dengan kasar dan sesekali men****t b***r Mira dengan brutal.


Mira hanya pasrah saja menerima ciuman dari orang yang sudah berhasil mencuri hatinya saat pertama kali bertemu. Melihat napas sang kekasih yang sudah ngos-ngosan Albert segera melepaskan ciumannya.


Albert mengelus bi**r Mira yang bengkak dengan lembut dan menatap tajam mata hitam tersebut dengan tatapan tajam.


"Itu peringatan jika kamu masih berdekatan dengan laki-laki lain" ucap Albert dengan tegas.


"Maaf dia itu cuma temanku" ucap Mira menjelaskan seakan tidak ingin Albert salah paham.


"You know you are mine honey" (kamu tahu kamu itu milikku sayang) ucap Albert dengan tegas.


"Yeah i know" (yeah aku tahu)


"Good girl" (gadis pintar) ucap Albert sambil tersenyum tipis.


Ia kembali mempertemukan b***r keduanya tapi kali ini ia mencium Mira dengan sangat lembut. Mira sampai terbawa oleh suasana dan memeluk leher Albert dengan erat sesekali membalas ciuman Albert.


"Siapkan dirimu sebentar sore dan keluargamu juga sayang" ucap Albert dengan lembut.


"Hah"


"Kamu dengar ucapan aku sayang"


Pipi Mira bersemu merah mendengar panggilan sayang dari Albert. Albert sendiri terkekeh melihat pipi sang kekasih yang diklaimnya dengan secara sepihak menjadi merah padam.


"Memangnya kita mau kemana"


"Peresmian resort baru bos dan resort itu hadiah kejutan untuk nyonya di Lombok" ucap Albert dengan nada dingin.


"Apa Chloe baik-baik saja?" tanya Mira.


"Heemmm! Sejam lagi orang aku akan menjemput kamu dan keluargamu"


"Tapi ini belum jam pulang kantor tuan" ucap Mira protes.


"Cih! Aaku bukan tuanmu" desis Albert dengan tatapan tajam.


"Heemmm! Maaf"


Albert mencium b***r Mira sekali lagi lalu pergi meninggalkan Mira tanpa kata perpisahan. Itulah Albert dia sangat dingin dan kaku untuk mengucapkan kata-kata manis.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Mira lalu menghubungi kedua orang tuanya untuk menyiapkan semua pakaian mereka sekeluarga dan juga kedua adiknya. Ia juga sudah meminta ijin kepada sang atasan untuk pulang lebih awal karena ada urusan mendadak.


Beruntung besok adalah weekend jadi ia tidak perlu mengambil cuti. Saat sampai di rumah ia langsung memberi penjelasan singkat kepada orang tuanya agar tidak penasaran.


Sejam kemudian sopir Albert datang menjemput mereka semua menuju landasan bandara untuk berangkat ke Jakarta. Karena ini adalah kejutan makanya Chloe tidak diberi tahu oleh Mira kalau ia akan berada di Lombok juga.


~ Mansion Sean ~


Sean sedang menyuruh bi Lastri untuk mengepak pakaiannya karena hari ini ia akan bersama Queen terbang lebih dulu ke Lombok. Queen yang awalnya tidak mau ikut harus rela pergi meninggalkan sang anak selama 2 hari.


Bima saat ini sedang bersama dengan sang cicit di teras belakang ditemani kedua pengasuhnya. Baby Ares sendiri tertidur pulas dalam gendongan sang kakek buyut.


Bayi yang baru berusia 1 bulan itu sangat mengemaskan dan tampan. Ia menjadi bayi yang akan di perebutkan oleh keluarga Rahardian jika sedang berkumpul bersama.


"Kek" ucap Sean dengan pelan.


"Cicitku sangat tampan" ucap Bima.


"Yah tampan seperti papanya" ucap Sean dengan sombong.


"Kalian berangkat jam berapa" ucap Bima.


"Jam 5 kek setelah papa sama ibu kemari" ucap Sean sambil mengelus wajah sang anak.


"Heeemmmm"


Sean lalu menyuruh sang pengasuh membawa Ares ke kamarnya untuk ditidurkan. Tapi saat sang pengasuh menerima Ares, bayi tersebut menangis kencang.


Sean lalu bergerak mengambil anaknya dan mengendong Ares sambil menggoyang anaknya dengan lembut. Baby Ares seketika diam dan kembali terlelap di gendongan sang papa.


"Sepertinya dia sangat dekat dengan kamu nanti" ucap Bima.


"Iya kek"


Queen yang melihat kedua orang tersebut tersenyum penuh arti. Ia sangat membenci Sean yang seakan menjauhkan dia dari sang anak, padahal Sean tidak melakukan hal tersebut malahan Queen sendiri yang seakan tidak ingin mengendong anaknya.


"Aku akan membuat kalian semua menjadi miskin dan mengambil anakku" ucap Queen dengan amarah.


Tanpa Queen sadari ternyata bi Lastri mendengar semuanya itu dan ia sangat kaget. Bi Lastri perlahan-lahan menjauh dari sana takut Queen menyadari kehadirannya.


"Ternyata nyonya mempunyai hati yang sangat busuk aku harus melaporkan ke tuan" gumam bi Lastri dengan pelan.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀