Heartless

Heartless
Episode 150



🌻Yang akan bertahan hidup bukanlah spesies yang paling kuat atau yang paling pintar tapi dia yang bisa beradaptasi dengan perubahan🌻


.


.


.


.


Riko yang melihat papanya seperti siap menghabisi menantunya saat ini segera membawa Bima pergi dari sana. Inilah yang paling ia takutkan jika sang papa mengetahui perselingkuhan dari cucu mantunya.


"Lepasin papa Riko" bentak Bima dengan emosi.


"Tenangkan diri papa kita sedang berada di depan umum pa" ucap Riko dengan datar.


"Heeemmmm"


Riko lalu mengajak papanya kembali ke hotel untuk membicarakannya di hotel saja. Setibanya di hotel Bima langsung menatap Riko dengan tatapan tajam.


"Kamu sudah mengetahui hal ini kan Riko" ucap Bima dengan suara lantang.


"Heeemmm" ucap Riko mengangguk kepalanya.


"Sejak kapan"


"Saat papa memberitahu ramalan tentang Sean pa. Sejak itu aku menyuruh anak buahku untuk mengikuti Queen 24 jam pa dan hasilnya seperti yang papa lihat tadi"


"Dasar anak tidak tahu diri ternyata anak sama ayahnya sama saja" ucap Bima dengan emosi tinggi.


Riko hanya melihat papanya mengeluarkan semua kekesalannya saat ini, ia tahu kalau sang papa sangat membenci yang namanya perselingkuhan di dalam keluarganya.


"Siapa saja yang mengetahui hal ini" ucap Bima dengan tatapan tajam.


"Aku, Rio, dan anak buahku yang mengawasi Queen pa" ucap Riko dengan wajah datar.


"Heeemmm"


Bima mengangguk kepalanya tanda mengerti, ia tahu jika sang anak pasti mempunyai rencana lain sehingga merahasiakan ini semua.


"Sampai kapan?" tanya Bima dengan tatapan tajam.


"Sampai Ares bisa melepas asi dari ibunya pa" jawab Riko.


"Heeemmm! Baiklah kali ini papa yakin kamu punya alasannya sendiri" ucap Bima.


"Iya pa"


Keduanya lalu bersiap untuk kembali ke Jakarta karena sudah tidak ada lagi urusan disini. Riko lalu mengambil hpnya dan menghubungi Sean.


"Halo pa"


^^^"Halo son kamu ada dimana"^^^


"Aku masih di tempat pesta pa ada yang harus aku selesaikan disini"


^^^"Jangan buat aneh-aneh Sean"^^^


"Aku ingin menyelesaikan masalah aku dengan Chloe pa" ucap Sean dengan suara datar dari seberang.


^^^"Son jangan pernah mencari masalah dengan Mr. Wesly!" bentak Riko.^^^


"Ini masalah aku pa jadi jangan ikut campur" ucap Sean dengan suara tinggi.


Sean langsung mematikan panggilannya sepihak. Riko yang melihat hal tersebut menjadi sangat kesal, ia lalu menyuruh Rio untuk mengirim pengawal mengawasi anaknya jangan sampai berbuat ulah disana.


Setelah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Sean, ia segera pulang ke Jakarta bersama Bima dan asisten mereka berdua. Sean yang masih di tempat acara mengedarkan pandangannya mencari Chloe tapi nihil.


Di dalam sebuah kamar yang sangat mewah dan khusus untuk pemilik resort, sedang terjadi pergulatan panas di atas ranjang. Xavier tidak melepaskan istrinya karena sudah menahan hasratnya sedari tadi.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


2 jam kemudian Chloe dan Xavier akhirnya mendapat pelepasan mereka masing-masing. Chloe yang lelah langsung tertidur pulas dalam dekapan sang suami.


"Maafkan daddy yang akan sering mengunjungimu" ucap Xavier sambil mencium perut rata Chloe.


Ia sangat bahagia karena saat ini dia sudah diberi hadiah terindah dalam hidupnya.


Aku akan menjaga kalian berdua dengan hidupku sendiri baby, batin Xavier.


Di luar suasana pesta masih sangat terasa meski pemilik dari pesta tersebut tidak ada lagi. Mira dan keluarganya serta Jeni dan Julian menghabiskan waktu dengan menikmati pesta tersebut.


Mereka bercanda tawa menikmati waktu malam ini. Tiba-tiba Mira dan lainnya dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang sangat dikenali oleh Mira.


"Mira kamu disini juga ya"


"Oh hai Bastian kamu disini juga ya" ucap Mira yang bertemu rekan kantornya.


"Iya aku datang sama papa aku" ucap Bastian sambil menunjuk seorang pria paruh baya yang dikenali Mira adalah seorang pengusaha juga.


"Oh"


"Kamu sendiri datang sama siapa?" tanya Bastian.


"Aku datang sama keluarga aku juga. Nih kenalin ayah, ibu, dan adik-adikku" ucap Mira sambil memperkenalkan keluarganya.


"Halo malam om dan tante, saya Bastian teman kerja Mira di kantor" ucap Bastian dengan sopan.


"Halo malam juga nak Bastian" ucap ayah Rangga.


Mereka lalu berkenalan dan saling mengobrol satu sama lain. Karena pembawaan Bastian yang friendly ia akhirnya bisa dengan cepat berbaur dengan Mira dan keluarganya serta Jeni dan Julian.


Tanpa Mira sadari ternyata Albert yang berdiri bersama dengan Thomas dan Kevin menangkap pandangan tersebut. Rahang Albert mengeras melihat Mira yang tidak mengindahkan ucapannya.


Thomas yang melihat Albert sedang menahan emosi segera berbalik dan mengikuti arah pandang Albert. Thomas lalu tersenyum penuh arti mengetahui apa yang membuat Albert emosi saat ini.


"Wah mereka serasi ya" ucap Thomas sambil tersenyum penuh arti.


Albert menatap Thomas dengan mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti arah pembicaraan Thomas. Thomas tersenyum sinis melihat Albert yang mencoba menutupi emosinya.


"Aku rasa cowok itu diterima baik deh oleh keluarga sahabat nyonya" bisik Thomas.


Wajah Albert seketika merah padam mendengar perkataan Thomas. Ia langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa Mira ke kamarnya sekarang.


"Kalian berdua urus disini" ucap Albert dengan suara dingin.


Kevin yang melihat perubahan wajah Albert segera berbalik ke Thomas meminta jawaban. Thomas hanya berkata jika saat ini ada masalah di perusahaan agar membuat Kevin tidak bertanya lagi.


Tiba-tiba Mira dan lainnya dikagetkan dengan kedatangan anak buah Albert. Mira merasa jika ada sesuatu yang tidak beres disini.


"Permisi nona tuan Albert menyuruh saya untuk memanggil nona menghadapnya sekarang" ucap anak buah Albert.


Tubuh Mira seketika menegang merasa jika saat ini Albert pasti akan memberinya hukuman. Ia tahu jika ia menolak ikut dia akan mendapat masalah.


"Ayah, ibu, Mira pamit mau ketemu sama tuan Albert dulu"


"Siapa ndok?" tanya ibu Asmi.


"Itu tangan kanan tuan Xavier bu sepertinya ada yang penting" jawab Mira.


"Ya sudah sana hati-hati bentar lagi ibu sama ayah dan adikmu akan balik ke kamar kita" ucap ibu Mira.


"Iya bu"


Mira lalu berlalu pergi dengan anak buah Albert dan tak lupa berpamitan pada Bastian, Julian, dan Jeni. Bastian yang melihat Mira sudah pergi juga pamit kepada orang tua Mira untuk pulang.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Di hotel tempat keluarga Rosemary menginap saat ini mereka sedang membahas tentang Chloe. Mereka sangat kaget karena mengetahui Chloe adalah pemilik resort tersebut.


"Daddy secepatnya kita harus membalas gadis ja***g itu" ucap Steven.


"Sepulang kita dari sini daddy akan segera menghancurkan anak sialan itu" ucap Adam dengan emosi.


"Adam apa kamu tahu siapa orang yang bersama dengan direktur Rangga tadi?" tanya Alan penasaran.


"Dia adalah orang paling kaya no.1 di dunia sekaligus direktur utama dan pemilik dari Wesly Group" ucap Adam.


"Apa" ucap Alan dengan kaget.


Mereka semua yang berada disana juga kaget mengetahui siapa orang yang bersama dengan Chloe tadi. Bahkan mereka tidak menyangka Chloe bisa berkenalan dengan orang paling kaya di dunia ini.


"Jadi orang di belakang Chloe yaitu Mr. Wesly" ucap Laura.


"Heeemmm"


"Pantas saja ja***g itu sangat berbeda sekarang, ternyata ia memiliki pendukung yang sangat kuat di belakangnya" ucap Steven dengan emosi.


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang dad" ucap Laura.


"Aku setuju sama kakek" ucap Steven.


"Jangan lupa kita harus mengambil saham Chloe lebih dulu" ucap Lidia.


"Iya mommy benar, kita ambil dulu saham anak pembunuh itu baru kita bunuh dia" ucap Laura dengan sinis.


"Sepertinya aku tahu apa yang harus kita lakukan" ucap Adam dengan senyum misterius.


Adam lalu mengatakan rencananya kepada keluarganya, semua tersenyum senang mendengar rencana dari Adam dan sudah tidak sabar lagi.


"That is perfect plan daddy" (itu rencana yang sempurna ayah) ucap Steven dengan senang.


"Heeemmmm"


Tanpa mereka sadari ternyata hotel tempat mereka menginap adalah salah satu hotel milik Xavier. Semua pembicaraan mereka sudah di sadap oleh anak buah Xavier sesuai perintah Albert tadi pagi.


~ Loelis Resort ~


Mira diantar oleh anak buah Albert ke salah satu kamar resort yang paling mewah disana dan tidak jauh dari kamar utama milik Xavier dan Chloe. Ia lalu berdiri dengan gugup karena takut apa yang akan Albert lakukan.


Mira lalu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut. Saat masuk ke dalam ia seketika berdiri dengan tegang dan tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Tatapan tajam dari Albert seakan membuatnya seperti sedang ditatap oleh seekor harimau. Albert lalu memberi isyarat kepada Mira untuk mendekat.


Mira berjalan dengan tubuh gemetar menuju Albert. Sampai didepannya ia langsung ditarik dan jatuh di atas pangkuan Albert.


"Sepertinya laranganku tidak kamu hiraukan ya" ucap Albert dengan suara dingin.


"Ak....u" ucap Mira dengan gugup.


Cup..........


Albert langsung mencium Mira dengan kasar tidak ada kelembutan sama sekali. Mira hanya pasrah saja saat mendapat ciuman kasar dari kekasihnya. Melihat napas kekasihnya sudah ngos-ngosan Albert lalu melepaskan ciumannya.


Albert lalu mengigit leher Mira dengan kuat dan meninggalkan jejak disana. Mira berteriak kencang menahan rasa sakit di lehernya.


Aarrgghhhh.......


"Sakit" teriak Mira.


"Itu hukuman untukmu sayang" ucap Albert sambil mencium bekas gigitannya dengan lembut.


"Maaf" ucap Mira.


"Heemmmm"


Albert lalu mengendong Mira ke ranjang dan tidur memeluknya dengan erat. Mira yang baru pertama kali tidur seranjang dengan laki-laki merasa sangat ketakutan.


"Aku tidak akan melakukan seperti yang kamu pikirkan sayang" ucap Albert yang tahu pikiran Mira.


"Tapi" ucap Mira yang langsung dipotong Albert.


"Sebentar saja sayang" ucap Albert dengan suara serak.


Mira lalu membiarkan Albert memeluknya karena tahu Albert tidak akan melanggar omongannya. Keduanya lalu tertidur dengan sangat pulas karena merasa sangat nyaman.


Di kamar lain Sean membanting semua perabotan dalam kamar karena sangat stres memikirkan Chloe. Ia ingin berbicara empat mata dengan Chloe tapi tidak pernah bisa.


"Argghhhh" teriak Sean dengan kencang.


Dimas dan anak buahnya yang berada di luar kamar hanya bisa menutup telinga mendengar teriakan kekesalan sang bos. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ingin mendapat amukan dari sang bos.


Sedangkan Queen yang sudah sadar melihat jam dinding sudah jam 02:00 dini hari. Ia lalu melihat Henki yang tertidur nyenyak disebelahnya dengan tubuh polos.


Queen menatap Henki dengan tatapan benci, ia lalu mengambil bajunya dan memakainya kembali untuk pergi dari kamar tersebut. Queen berjalan dengan tertatih-tatih menuju kamarnya menahan rasa perih di area intimnya.


"Gua bakal bunuh loe Henki" ucap Queen saat tiba di kamarnya dan melihat tubuhnya yang penuh bekas kissmark.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah jam 05:00 pagi. Albert terbangun karena mendengar handphonenya yang berbunyi sedari tadi, ia lalu mengambilnya dan melihat anak buahnya yang menelpon.


^^^"Halo"^^^


"Halo bos"


^^^"Ada apa" ucap Albert dengan datar.^^^


"Bos ada yang membom markas kita di Italia" ucap anak buahnya.


^^^"Apa" ucap Albert dengan kaget.^^^


"Semalam mafia dari klan Red Crap menyerang markas dan membunuh sebagian anak buah kita bos, mereka juga merampas semua senjata dan persediaan kita bos"


^^^"Berengsek berapa banyak anak buah kita yang mati" ucap Albert dengan emosi.^^^


"Separuh anak buah kita mati dan lainnya luka parah bos"


^^^"Bawa mereka ke rumah sakit dan yang meninggal pulangkan ke keluarga mereka dan beri santunan kepada keluarga mereka dengan nominal besar"^^^


"Baik bos"


Albert lalu mematikan panggilannya dan bergegas ingin menghadap bosnya. Ia lalu tersenyum melihat gadisnya yang masih tertidur di sampingnya.


"Morning honey" ucap Albert sambil mengecup bi**r Mira.


Albert lalu bangun dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia menulis pesan dan menyimpan di atas nakas sebelah meja sebelum pergi tak lupa memesan sarapan untuk kekasihnya.


Albert segera menghubungi Thomas dan Kevin untuk segera pergi ke resort milik Xavier. Sampai disana mereka menunggu dengan sabar hingga Xavier bangun sambil mengerjakan berkas perusahaan yang masuk ke email.


Di kamar lain Sean sudah bangun dan segera menyuruh Dimas untuk mempersiapkan kepulangan mereka. Ia dan Queen lalu pulang ke Jakarta karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.


~ Jakarta, Indonesia ~


Sampai di Jakarta Sean menyuruh supir untuk mengantar Queen pulang ke mansion sedangkan ia berangkat ke perusahaan. Ia sangat kesal karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan Chloe.


Setibanya Queen di mansion ia langsung melihat anaknya yang sedang di gendong oleh sang mertua. Maya tersenyum melihat menantunya yang sudah pulang.


"Kamu sudah pulang sayang bagaimana perjalanan ke Lombok" ucap Maya dengan senyum manis.


"Biasa saja bu" ucap Queen dengan wajah datar.


"Ya sudah kamu istirahat sana pasti kamu capek"


"Iya bu" ucap Queen dengan wajah dingin.


Maya yang melihat perubahan menantunya bingung sendiri karena tak tahu apa yang terjadi dengan Queen. Tak mau ambil pusing ia lalu memberikan baby Ares kepada pengasuhnya untuk ditidurkan.


Di dalam kamar Queen menghubungi seseorang untuk membunuh Henki. Ia sudah tidak tahan diperlakukan oleh Henki seperti seorang pel***r saja.


^^^"Kamu bunuh orang itu dan jangan sampai ada kesalahan"^^^


"Baik bos tapi bayarannya"


^^^"Aku akan mengirimkan setengahnya setelah selesai aku akan mengirimkan sisanya"^^^


"Siap bos"


Sudah tiba saatnya untuk menghancurkan musuhku, batin Queen sambil tersenyum seperti iblis.


Di lain tempat Xavier menatap ketiga orang kepercayaannya dengan tatapan tajam dan seakan ingin membunuh mereka semua.


"Kapan"


"Semalam bos" ucap Albert.


"Kamu sudah melakukan apa yang harus kamu perbuat untuk keluarga anak buah kita Albert"


"Semuanya sudah bos" ucap Albert.


"Heemmm"


Xavier tersenyum sinis mengetahui klan mafia Red Crap yang sudah berani mencari masalah dengannya. Ia lalu memberikan isyarat kepada Albert untuk segera menyiapkan anak buahnya untuk menyerang markas mereka.


"Hancurkan mereka semua tanpa tersisa apapun" ucap Xavier dengan suara dingin dan tatapan tajam.


"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin.


Mereka bergidik ngeri melihat tampang bos mereka saat ini yang seperti monster siap memangsa buruannya. Kevin menelan salivanya dengan susah payah karena merasa bosnya sangat menakutkan saat ini.


...❄❄❄❄❄...


To be continue..............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀