
π»Tidak usah terlalu berharap pada manusia sebab jodoh yang nyata adalah kematianπ»
.
.
.
.
Alan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion milik Sean. Sampai disana ia lalu mengklakson satpam agar membuka pagar, satpam yang melihat Adam yang datang segera membuka gerbang.
Adam memarkirkan mobilnya di depan mansion Sean dan keluar dengan dengan emosi. Alan dan Aldo yang turut ikut juga turun dari mobil mengikuti Adam yang sudah berjalan lebih dulu. Adam mengetuk pintu dengan kuat sambil berteriak memanggil nama Sean.
"Sean keluar kamu" teriak Adam dengan suara tinggi.
"Keluar kamu bajingan"
Bi Lastri yang mendengar suara gedoran pintu segera pergi membuka pintu utama. Bi Lastri sempat kaget melihat Adam Rosemary bersama tuan besar Rosemary di depan pintu mansion.
Belum juga bi Lastri menyapa mereka Adam langsung menyelonong masuk begitu saja. Bi Lastri buru-buru berlari menuju mereka yang sudah masuk ke dalam.
"Dimana tuan berengsekmu itu!" bentak Adam dengan suara tinggi.
"Tuan belum pulang tuan besar Rosemary" ucap bi Lastri.
"Bohong! Cepat kamu panggilkan sialan itu kesini" ucap Adam dengan emosi.
"Adam tenangkan dirimu mungkin saja yang dibilang pembantunya benar" ucap Alan dengan tegas.
"Heemmmm"
"Benar tuan besar Rosemary tuan belum pulang dari kantor" ucap bi Lastri dengan sopan.
Tak lama suara mobil terdengar di depan mansion, lalu diiringi bunyi langkah kaki terdengar menuju ke arah mereka. Sean yang baru pulang dan masuk ke dalam mansion seketika tersenyum sinis.
Ternyata apa yang dibilang kakek tadi benar adanya, batin Sean sambil tersenyum iblis.
Sean menatap ketiga tamu di depannya dengan tatapan tajam. Adam dan lainnya juga tak kalah menatap Sean dengan tajam dan emosi.
"Selamat datang tuan" ucap bi Lastri yang menyambut kedatangan Sean.
Sean mengibaskan tangannya menyuruh bi Lastri untuk pergi. Dia lalu duduk di sofa dengan angkuh tanpa menyuruh tamunya untuk duduk, Alan yang melihat kelakuan mantan cucu mantunya itu merasa sangat emosi karena tak dihargai.
"Jadi ada masalah apa kalian datang ke mansionku malam-malam" ucap Sean dengan sinis.
"Dasar sialan kamukan yang menyuruh orang untuk memperkosa putriku" ucap Adam dengan emosi.
Hehehehe........
Sean terkekeh mendengar pernyataan Adam barusan, ternyata ucapan sang kakek benar kalau mereka itu keluarga licik.
"Apa anda sudah kehilangan otak dan akal anda tuan Adam Rosemary" ucap Sean dengan cemooh.
Melihat hal itu Adam mengepal kedua tangannya dengan kuat, giginya bergeletuk menandakan ia sangat emosi dengan ucapan Sean barusan.
"Aku tahu kamu dalang dibalik apa yang dialami putriku saat ini" teriak Adam dengan suara tinggi.
Hahahahaha..............
"Apa maksud anda aku yang menyuruh orang untuk memperkosa perempuan j***ng itu" ucap Sean dengan tawa mengejek.
"Jaga ucapanmu Sean!" bentak Alan dengan emosi.
"Tutup mulutmu kakek tua! Apa yang aku bilang itu memang sesuai faktanya!" bentak Sean dengan tatapan tajam.
Seketika Alan langsung diam tidak mengatakan satu kata pun. Ketiganya berdiri dengan merinding melihat tatapan tajam Sean yang dipenuhi dengan aura membunuh.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Seharusnya kalian bersyukur aku tidak membunuh ja***g itu saat mengetahui perselingkuhannya hanya memberinya sedikit hadiah perpisahan dan perceraian" ucap Sean dengan santai.
"Apa dengan luka di sekujur tubuhnya itu kamu bilang hadiah" ucap Adam dengan emosi.
"Ya itu lebih baik dari pada dia hanya tinggal nama saja" ucap Sean sambil tersenyum sinis.
Adam maju ingin memukul Sean tapi seketika aksinya gagal karena anak buah Sean sudah meringkusnya. Alan dan Aldo yang ingin menolong Adam langsung dihadang oleh anak buah Sean yang lain.
"Akan ku balas kamu anak sialan" teriak Adam dengan emosi.
"Sebaiknya anda jaga ucapanmu sebelum aku membuat anda kehilangan suaramu itu seumur hidupmu" ucap Sean dengan suara dingin.
"Lihat saja akan ku balas kamu" ucap Adam kembali.
"Aku tunggu dan satu lagi aku sangat berterima kasih kepada orang yang sudah memperkosa j****g itu karena menurutku itu adalah karma untuk j****g seperti dirinya" ucap Sean dengan senyuman sinis.
Adam dan Alan melihat Sean dengan tatapan membunuh dan penuh emosi. Sean lalu menyuruh anak buahnya untuk membawa ketiga orang itu keluar dari mansionnya.
"Dasar sampah menjijikan" gumam Sean dengan suara pelan.
Adam, Alan, dan Aldo di dorong dengan kuat saat sampai di depan mansion. Ketiganya melihat anak buah Sean dengan tatapan marah tapi tidak digubris sama sekali.
"Pergi dari mansion tuan kami dan jangan pernah datang lagi" ucap anak buah Sean dengan suara tinggi.
"Berengsek" ucap Adam dengan emosi.
Ketiganya lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil pergi dari mansion Sean. Sean yang melihat dari lantai dua hanya memandang mobil mereka dengan tatapan datar dan dingin.
Sean lalu menuju kamar sang anak untuk melihatnya. Sampai disana ia tersenyum hangat sambil mengelus kepala Ares, Ares yang terganggu tidurnya memukul tangan Sean yang berada di kepalanya.
"Hehehehe! Ternyata kamu mirip sama papa son" ucap Sean sambil terkekeh.
Sean lalu mencium kening sang anak dan berlalu menuju ke kamarnya. Para pengasuh yang melihat tuannya merasa kasihan kepada keduanya karena tidak ada sosok ibu dalam mansion ini.
~ Bandung, Jawa Barat ~
Mira bangun dan kaget mendapati dirinya yang berada dalam pelukan sang kekasih. Ia melihat Albert yang masih terlelap dengan wajah penuh kekaguman.
Mira mengelus rahang Albert dengan sangat lembut dan sesekali ia terpesona dengan ketampanan Albert.
Kenapa tidur aja loe ganteng banget ya, batin Mira.
Mira lalu perlahan bangun dan melepaskan pelukan tangan Albert di pinggangnya. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Mira kaget melihat penampilannya yang hanya memakai baby doll berwarna biru dengan gambar doraemon. Mira sangat malu melihat penampilannya yang sangat memalukan saat ini.
"Kenapa gue ampe lupa buat ganti baju sih" ucap Mira dengan frustasi.
Mira berpikir jika semalam Albert melihat penampilannya seperti ini, dan pasti ia tertawa dalam hatinya. Mira sangat stres memikirkan apa yang ada di pikiran Albert dari semalam tentang penampilannya.
Selesai membersihkan diri dan kembali memakai baby doll miliknya, Mira segera keluar. Saat keluar ia bernapas lega mendapati Albert yang masih tertidur.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Mira berjalan dengan pelan mengambil sweater dan dompet untuk segera pulang. Saat hampir sampai di depan pintu tiba-tiba suara Albert menginterupsinya.
"Mau kemana" ucap Albert dengan suara serak.
"Uhmm! Aku mau pulang" ucap Mira dengan gugup.
"Siapa yang mengijinkanmu pulang! Hem" ucap Albert sambil bersandar di kepala ranjang.
"Tapi aku harus ke kantor" ucap Mira.
Albert memberi isyarat untuk mendekat ke arahnya. Mira seakan tidak mau ke sana tapi ia takut melihat tatapan tajam mata Albert saat ini.
Mira berteriak kencang saat tubuhnya ditarik Albert dan jatuh di atas pangkuannya. Albert terkekeh melihat reaksi pacarnya yang sangat lucu menurutnya.
"Albert aku duduk saja di samping" ucap Mira sambil berontak.
Albert menutup matanya dan mengeram merasakan jika adik kecilnya bangun saat Mira terus berontak. Mendengar geraman Albert seakan tidak membuat Mira mengerti.
"Honey stop berontak jika tidak ingin kita menghabiskan hari ini diatas ranjang" ucap Albert dengan suara serak menahan nafsunya.
"Maksud kamu" ucap Mira dengan bingung.
"Kamu bisa merasakannya di bawah sayang" bisik Albert.
Seketika wajah Mira merah padam saat mengetahui maksud Albert. Ia seketika sadar dan tidak memberontak lagi karena saat ini ia duduk di atas i**i Albert yang membesar dibawah sana.
"Apa kamu ingin mencobanya sayang" ucap Albert sambil mengigit telinga Mira.
"Tidak" teriak Mira dengan kencang.
Albert tersenyum penuh arti lalu mendekatkan bibirnya di leher Mira. Tubuh Mira seperti disengat saat b***r Albert meng***p dan meng***t lehernya hinga berbekas keunguan.
Suara erangan Mira seketika keluar karena tak bisa menahannya. Albert yang mendengar ******* itu segera mencium b***r Mira dengan rakus. Mira kewalahan membalas ciuman tersebut yang sangat menggebu-gebu.
Albert yang sangat berhasrat lupa dan mer***s b**h d**a Mira dengan kencang. Mira seketika kaget dan tersadar lalu mendorong Albert, Albert langsung menghentikan aksinya jika tidak ia tidak akan berhenti.
Albert masuk ke dalam kamar mandi menguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia melihat ke arah bawahnya dan tersenyum miris karena tak bisa dipuaskan dan harus bermain solo.
"Untung aja kalau ngak bakal dibunuh ayah ni" gumam Mira sambil menetralkan jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Selesai mandi dan keduanya sarapan Albert lalu mengantar Mira pulang. Sampai di depan rumah Mira ia mencium Mira dengan lembut sebelum berpisah.
"Hari ini kamu tidak usah berangkat ke kantor sayang"
"Tapi" ucap Mira yang langsung dipotong Albert.
"Aku sudah meminta ijin untukmu pada direktur perusahaanmu" ucap Albert dengan suara dingin.
Mira hanya mengangguk kepalanya saja tanda mengerti. Albert mengelus pipi Mira dengan lembut dan kembali mempertemukan b***r keduanya lagi.
"Hati-hati sayang" ucap Mira saat sudah keluar.
Mobil lalu melaju meninggalkan Mira yang masih di depan halaman rumahnya. Ia sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama sang kekasih meksi hanya beberapa saat saja.
"Jaga hati dan dirimu disana sayang sama seperti aku" gumam Mira dengan pelan.
~ Mansion Xavier ~
Akibat menangis semalaman mata Chloe paginya menjadi bengkak. Ia sehabis mandi tidak mau berpisah sedikit pun dengan sang suami.
Xavier yang melihat perubahan istrinya hanya tersenyum saja. Ia sangat suka jika Chloe selalu manja kepadanya setiap hari meski ia tahu jika ini bawaan anak mereka.
"Hari ini kita check up kandunganmu sayang" ucap Xavier.
"Di rumah saja ya sayang aku malas buat keluar" ucap Chloe dengan manja.
"Heeemmmm"
Xavier lalu menyuruh Kevin untuk datang bersama dengan dokter Susi ke mansion. Sekalian membawa semua peralatan yang dibutuhkan selama pemeriksaan kandungan sang istri.
Dokter Susi yang awalnya keberatan terpaksa mengikuti perintah Xavier takut dirinya dipecat. Selesai memasang semua peralatan yang dibutuhkan, dokter Susi mulai memeriksa kandungan Chloe.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Kandungan nyonya baik-baik saja dan kuat"
"Iya dok" ucap Chloe.
"Vitaminnya jangan diminum lagi ya nyonya karena kandungan nyonya sangat kuat dan apa anda masih merasakan mual nyonya"
"Tidak lagi dok tapi semenjak usia kandungan aku 5 bulan kaki aku mulai membengkak dok apa itu ngak berbahaya kan dok?" tanya Chloe.
"Tidak nyonya itu wajar dialami oleh ibu hamil karena penambahan darah dan cairan dalam tubuh nyonya" ucap dokter Susi sambil tersenyum.
"Oh iya dok"
"Apa anda mau mengecek juga kelamin bayinya nyonya?" tanya dokter Susi.
"Ngak dok biar itu jadi rahasia sampai lahiran nanti" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Baiklah nyonya ingat jangan terlalu stres dan makan makanan yang sehat dan khusus untuk ibu hamil ya nyonya"
"Baik dok"
Dokter Susi lalu merapikan semua alat-alat medisnya dan pergi dari kamar Chloe. Sedari tadi Xavier hanya berdiri saja mendengar percakapan keduanya lewat bluetooth penerjemah otomatis di telinganya.
"Sayang" ucap Chloe.
Xavier berjalan mendekat ke arah istrinya dan duduk di samping Chloe. Ia mengelus perut buncit Chloe dengan lembut sesekali menciumnya.
"Anak daddy baik-baik di dalam ya" ucap Xavier.
Tak lama ia merasakan tendangan di perut Chloe. Xavier melihat Chloe dengan tatapan bingung, Chloe tertawa melihat wajah sang suami yang sepertinya bingung.
"Baby kita panggil dokter itu lagi untuk memeriksa perutmu" ucap Xavier dengan suara khawatir.
"Sayang aku tidak apa-apa kok"
"Tapi tadi ada yang menendang baby" ucap Xavier dengan suara tinggi.
"Dengar sayang itu hal yang wajar saat bayi kita berinteraksi dengan kita saat diajak bicara" ucap Chloe dengan suara lembut.
Xavier menatap sang istri dengan tatapan tajam belum paham. Chloe lalu mengambil hpnya dan mencarinya di google biar suaminya itu lebih paham.
Xavier membaca artikel tersebut dan seketika dirinya merasa lega. Xavier lalu terus mengajak anaknya untuk berbicara terus-menerus hanya ingin mendapat tendangan berupa balasan.
"It's so amazing baby" (ini sangat menakjubkan sayang)
"Heemmmm"
Xavier lalu mengajak Chloe untuk makan buah lagi agar bayi mereka tumbuh sehat. Saat tengah bersantai di lantai dua tiba-tiba Albert masuk dengan tatapan dingin dan datar seperti biasanya.
Chloe yang melihat kehadiran Albert entah kenapa merasa bersalah dan sedih. Ia tak menyangka anak kecil berumur 6 tahun bisa menjalani hidupnya setelah melihat hal tersebut.
"Albert" ucap Chloe.
"Iya nyonya" ucap Albert dengan suara dingin seperti biasanya.
"Duduklah ada yang ingin aku omongin" ucap Chloe.
Albert melihat ke arah bosnya meminta persetujuan, Xavier mengangguk kepalanya sebagai jawaban untuk duduk di depan mereka.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Albert lalu mengambil posisi duduk di sofa berhadapan dengan kedua bosnya itu. Chloe melihat Albert dengan perasaan sedih dan bercampur rasa bersalah di dalam hatinya.
"Maaf" ucap Chloe dengan tulus.
"Maksud nyonya" ucap Albert dengan kaget.
"Maaf karena keluargaku hidupmu menjadi sangat menderita dan harus kehilangan keluargamu yang tercinta.........hiks hiks hiks" ucap Chloe sambil menangis mengingat cerita Albert semalam.
"Jangan minta maaf nyonya karena itu bukan kesalahan nyonya dan aku tahu nyonya bukanlah orang seperti mereka" ucap Albert.
"Aku tetap minta maaf karena biar bagaimanapun darah mereka masih ada dalam tubuhku" ucap Chloe.
"Aku tahu nyonya tapi tetap nyonya tak bersalah dan tidak ada sangkut pautnya nyonya lagian nyonya Sintia juga tidak menggunakan nama keluarganya lagi malahan nama belakangnya sama seperti milik nyonya" ucap Albert dengan tegas.
Chloe seketika kaget karena baru menyadari jika namanya dan sang mommy ternyata mirip. Air matanya mengalir deras mengingat kehidupan kedua orang tuanya.
"Baby jangan menangis lagi lagian yang dibilang Albert itu benar" ucap Xavier sambil memeluk sang istri.
Albert melihat kesedihan di nyonyanya yang sangat mendalam. Ia sangat tahu jika Chloe merasa bersalah kepada dirinya akibat keluarga dari sang mommy.
"Maaf Albert"
"Iya nyonya tapi maaf aku tidak akan memaafkan keluarga besar nyonya sampai kapanpun dan sebelumnya aku akan membalas dendam keluarga ku kepada mereka"
"Aku tahu Albert dan kamu tenang saja karena menurutku mereka bukan lagi keluargaku melainkan orang tak dikenal" ucap Chloe dengan emosi.
"Iya nyonya"
Hormon tubuhnya berubah dengan cepat efek sedang hamil. Chloe akui dalam hatinya sangat kecewa dan marah kepada keluarga besar mommynya.
Mommy maaf sampai kapan pun aku ngak bisa terima mereka jadi keluargaku, batin Chloe sambil melihat wajah cantik sang mommy di bingkai yang dipajang di lantai dua bersebelahan dengan sang daddy dan kedua mertuanya.
Albert dan Xavier lalu membahas perusahaan mereka dan rencana kepulangan mereka. Chloe yang mendengar pembicaraan mereka hanya diam saja.
Tak lama Thomas muncul dengan raut wajah panik. Xavier yang melihat Thomas datang merasa ada hal besar yang terjadi saat ini.
"Bos" ucap Thomas dengan panik.
"Tenangkan diri kamu sebelum bicara dude" ucap Albert.
Chloe menyuruh pak Max memberikan segelas air kepada Thomas untuk diminum dulu. Thomas mengambil air tersebut dan meminumnya sekali tandas.
Ia lalu melihat 3 orang di depannya dengan wajah panik. Ia tahu berita yang ia bawa akan mengguncang semuanya.
"Ada apa" ucap Albert.
"Kevin kecelakaan barusan"
"Apa" ucap Chloe dan Albert dengan kaget.
"Murni atau karena musuh" ucap Albert.
"Musuh kita bos orang suruhan nenek tua itu" ucap Thomas.
"Ckk! Sialan sepertinya mereka terlalu menganggap remeh aku" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
Chloe bergidik ngeri melihat aura suaminya saat ini.
Kenapa auranya Xavier seperti seekor monster kejam dan tak berperasaan ya, batin Chloe.
"Baby masuk ke kamar" ucap Xavier dengan suara dingin.
"No aku tetap disini aku pengen sama kamu terus hubby" ucap Chloe dengan mata seperti mau menangis.
"Heemmmm"
Xavier lalu menarik Chloe mendekat kearahnya sambil memeluk pinggang sang istri dengan erat. Meski suasananya sangat mencekam tapi Chloe merasa nyaman dan aman.
"Bawa bajingan itu ke belakang mansion" ucap Xavier.
"Maaf bos tapi ia bekerja sama dengan polisi disini dan kita tidak bisa melakukan apa-apa karena ini bukan wilayah kita" ucap Thomas.
"Ckk! Menyebalkan" ucap Xavier dengan amarah.
"Kita tunggu sampai mereka lengah baru kita menculiknya bos" ucap Albert.
"Mereka tidak akan pernah lengah karena tahu kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan politik disini beda dengan di negara kita" ucap Thomas.
"Siapkan semuanya kita harus pulang secepat mungkin karena aku tidak mau ada apa-apa dengan keluargaku disini" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap keduanya serentak.
Xavier tidak mau ambil resiko terlalu lama disini karena tidak bisa mengontrol orang di sini. Ia tidak mau ada hal buruk terjadi kepada istri dan anaknya saat ini.
...βββββ...
To be continue............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€