Heartless

Heartless
Episode 77



🌻Bukan menikmati akhirnya tapi prosesnya🌻


.


.


.


.


Berbeda dengan pagi biasanya hari ini entah kenapa Chloe merasa sangat senang dibandingkan hari-hari lainnya. Wajah Chloe bersemu merah mengingat kejadian semalam.


Dimana dirinya tidak menyangka mendapat pengakuan dari orang yang selama ini memporak-porandakan dunianya. Chloe mengingat setiap kata yang di ucapkan Xavier dan hal itu sukses membuatnya senyum-senyum sendiri.


Semalam setelah mengatakan perasaannya dan sekaligus meresmikan hubungan mereka, tiba-tiba Xavier dikagetkan dengan telpon masuk dari Albert mengenai ada masalah di anak perusahaan mereka di Rusia.


Mau tak mau dirinya harus meninggalkan sang kekasih di hari pertama mereka jadian. Awalnya Xavier mengajak Chloe tapi langsung ditolak Chloe karena ia harus berkuliah.


Dengan lesu Xavier meninggalkan Chloe dengan segala macam peraturan yang tidak boleh dilanggar Chloe. Chloe hanya mengiyakan saja agar Xavier segera pergi mengurus masalah perusahaannya.


"Kira-kira Xavier berapa lama ya disana mana gue ngak ada handphone lagi buat komunikasi" ucap Chloe dengan gusar.


Dirinya baru ingat jika selama disini ia tidak memegang hp karena berpikir tidak ada yang akan menghubunginya. Tapi sekarang dirinya sangat menyesal karena tidak bisa menanyai kabar sang kekasih.


"Bodoh banget sih gue! Eeeehh........tapi gue kan juga ngak punya no hpnya Xavier" ucap Chloe sambil menepuk jidatnya.


Tak lama Chloe pun segera bergegas siap ke kampus karena jadwal hari ini ia ada kelas pagi. Selesai bersiap Chloe langsung mengambil 1 lembar roti dan segelas susu coklat untuk sarapan sebelum ke kampus.


~ UCLA ~


Sampai di kampus Chloe langsung bergegas masuk ke kampus, tapi naas saat di tengah perjalanan Chloe bertemu dengan Roseline dan gengnya.


Tak mau mencari masalah Chloe hanya diam saat dirinya dicibir dan di dorong sampai terjatuh. Melihat Roseline dan gengnya sudah pergi Chloe segera berlari dengan cepat menuju kelas.


Beruntung dosen belum masuk sehingga dirinya tidak terlambat, Chloe pun langsung bergegas menuju kursi yang sudah disiapkan oleh Mira.


"Tumben loe telat hari ini" ucap Mira.


"Gue kesiangan" ucap Chloe dengan napas masih ngos-ngosan.


"Kalian ngomong apaan sih aku tidak mengerti" ucap Julian yang tidak mengerti bahasa Indonesia.


"Oh sorry Julian kita ngomong pakai bahasa Indonesia soalnya kita berasal dari Indonesia" ucap Mira menjelaskan.


"Kalian dari Indonesia, aku pikir kalian dari Jepang" ucap Julian dengan heran.


"Hahahahaha! Ada-ada aja kamu Julian mata kita tidak sipit thu kayak orang Jepang" ucap Mira sambil tertawa.


"Iya juga sih tapi kulit kalian putih banget sama kayak orang Jepang" ucap Julian.


"Mungkin karena kita pernah di jajah oleh Jepang" ucap Chloe dengan datar.


"That's right mungkin juga sih" ucap Julian.


Tak lama dosen pun masuk dan memulai perkuliahan mereka. Saat di akhir perkuliahan sang dosen memberi tugas dalam bentuk kelompok dan masing-masing kelompok berjumlah 4 orang.


"Kita sekelompok ya" ucap Julian dengan cepat saat dosen sudah keluar.


"Oke aku setuju gimana Chloe" ucap Mira.


"Aku setuju" ucap Chloe.


"Berarti kurang satu orang dong" ucap Mira.


Tak lama ada seorang gadis berkulit putih dan berambut pirang datang menghampiri mereka bertiga.


"Maaf apa aku boleh gabung sama kelompok kalian?" tanya gadis itu dengan sedikit gugup.


Chloe, Mira, dan Julian langsung melihat ke arah suara gadis yang sedang berdiri di depan mereka. Senyum manis Mira langsung menyambut sang gadis tersebut.


"Boleh kok kebetulan kita kurang satu orang" ucap Chloe tanpa senyum sedikit pun.


Melihat hal itu gadis tersebut sedikit takut dengan tatapan Chloe. Mira yang melihat perubahan wajah gadis tersebut seakan tahu karena memang temannya yang satu ini sifatnya seperti ini.


"Tenang aja jangan gugup kayak gitu Chloe orangnya kayak gitu kok" ucap Mira dengan senyum manis.


"Chloe itu baik kok orangnya jadi santai aja" ucap Julian.


"Oh ya kenalin nama aku Mira" ucap Mira sambil menyodorkan tangannya.


"Salam kenal Mira nama aku Jenifer Brown panggil aja Jeni" ucap Jeni sambil menyambut tangan Mira.


"Nama aku Chloe" ucap Chloe dengan datar.


"Nama aku Julian salam kenal" ucap Julian sambil menyelami Jeni.


"Hay Chloe, Hay Julian selam kenal juga ya" ucap Jeni.


"So kapan kita mau ngerjain tugasnya?" tanya Julian to the point.


"Gimana kalau hari ini aja kebetulan aku hari ini hanya satu mata kuliah aja" ucap Mira memberi pendapat.


"Sama aku juga" ucap Julian, Chloe, dan Jeni serentak.


"Berarti sama dong semuanya" ucap Mira.


"Kalau gitu kerja di cafe depan kampus aja" ucap Chloe.


"Oke yuk berangkat" ajak Julian.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Keempatnya sekarang sudah tiba di cafe depan kampus. Ternyata cafe tersebut sangat ramai dan suasana cafenya sangat nyaman untuk para kalangan anak muda saat ini.


Keempatnya memilih duduk di paling pojok cafe supaya tidak terlalu terganggu dengan suasana cafe yang sangat ramai.


"Baru kali ini aku lihat interior cafe yang sangat menakjubkan" ucap Mira.


"Sama. Desain cafenya bagus banget ya" ucap Chloe yang juga kagum akan desain cafe tersebut.


"Pasti pemiliknya orang yang punya selera seni unik" ucap Jeni.


"Mungkin" ucap Julian santai.


"Kamu udah sering kesini ya?" tanya Mira yang mendengar ucapan Julian santai.


"Sering banget" ucap Julian dengan santai.


"Pantas kamu tidak kayak kita bertiga yang terkagum-kagum" ucap Mira.


Mereka kemudian memesan makan dan minum sambil mengerjakan tugas kuliah mereka. Tak terasa mereka sudah di sana selama 4 jam dan hal itu benar-benar menguras tenaga mereka.


"Capek banget" ucap Chloe.


"Ya sama" ucap ketiga temannya dengan serentak.


"Oh kalian semua asalnya dari mana aja?" tanya Jeni.


"Aku sama Mira Indonesia" ucap Chloe.


"Aku asli sini" ucap Julian.


"Wah Indonesia aku tidak pernah ke sana tapi aku tertarik sama budaya disana dan wisata alamnya" ucap Jeni dengan antusias.


"Kapan-kapan main yuk ke Indonesia" ajak Mira.


"Sip kalau ada liburan ya sekalian ngumpulin duit juga! Hehehehehe" ucap Jeni sambil terkekeh.


"Aku dari Manhattan kebetulan aku dapat beasiswa untuk kuliah di UCLA makanya aku pindah kesini" ucap Jeni.


"Sama dong sama mereka berdua penerima beasiswa juga" ucap Julian sambil menunjuk Mira dan Chloe.


"Oh ya" ucap Jeni dengan kaget.


"Iya benar apa kata Julian" ucap Chloe.


"Berarti disini kamu tinggal di mana?" tanya Julian.


"Aku di asrama kampus" ucap Jeni.


"Oh" ucap mereka dengan serentak.


Mereka berempat kemudian saling bercanda bersama dan tak terasa semakin akrab. Chloe yang sibuk dengan kuliahnya sejenak melupakan akan kekasihnya.


~ Moscow, Rusia ~


Xavier dan Albert bekerja dengan tidak mengenal waktu. Xavier ingin segera menyelesaikan masalah perusahaannya secepat mungkin untuk kembali ke Los Angeles.


Masalah perusahaan kali ini sangat rumit karena ia harus turun tangan sendiri untuk bertemu dengan pemerintah setempat dan pemilik tanah di salah satu desa.


Xavier sedikit kewalahan menangani masalah tanah yang akan dibangun resort termewah disini mengusung tema alam. Proyek ini sebenarnya sudah berjalan tapi terhalang dengan masalah tanah.


Dimana tanah tersebut milik pemerintah tapi tidak disetujui oleh masyarakat disana, mereka menganggap kalau tanah itu milik mereka karena sudah dari dulu mereka tinggal disana.


Tak terasa sudah seminggu Xavier di Moscow. Dan hari ini akhirnya ia berhasil menangani masalah tanah tersebut dan sama-sama menguntungkan untuk ketiga belah pihak.


Xavier memberi perintah kepada direktur cabang perusahaannya untuk segera menjalankan proyek tersebut. Setelah itu Xavier dan Albert langsung bergegas menuju landasan pacu pribadinya untuk kembali ke Los Angeles.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Jakarta, Indonesia ~


Riko menghela napasnya dengan kasar mendengar laporan tangan kanannya mengenai Sean. Anaknya itu sekarang sudah sangat berubah total dari sebelumnya.


Dirinya seakan berubah menjadi seorang monster berdarah dingin dan tak berperasaan. Sean sudah mulai turun tangan membantu papanya dalam bisnis bawah tanah milik mereka.


Sean tak segan-segan menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Riko seakan melihat dirinya saat muda berada dalam diri Sean.


Riko pun mengambil hpnya untuk menghubungi sang papa. Tak lama panggilannya dijawab dari seberang.


"Halo" ucap Bima dengan suara rentan tapi masih tegas.


^^^"Halo pa"^^^


"Ada apa son?" tanya Bima.


^^^"Papa pasti sudah mendengar kabar Sean sekarang"^^^


Hening sejenak lalu terdengar suara tarikan nafas dari seberang.


"Ya papa sudah tahu semuanya" ucap Bima.


^^^"Pa aku merasa Sean seperti diriku waktu itu"^^^


"Papa juga berpikir seperti itu tapi semua sudah terlanjur"


^^^"Pa apa sebaiknya kita mencari gadis pengganti untuk Sean"^^^


"Jangan berpikir sempit seperti itu Riko" bentak Bima dengan cepat.


^^^"Tapi pa aku ngak mau Sean harus mengalami seperti apa yang pernah aku alami" ucap Riko dengan frustasi.^^^


Bima yang mendengar suara anaknya yang sangat frustasi menjadi sedih, dirinya juga pernah mengalami hal yang sama seperti ini waktu menantunya meninggalkan anaknya.


"Riko kamu jelas tahu sifat Sean sama seperti kamu dulu, biarkan dia mencari gadis itu dan kita pantau saja apa yang akan terjadi akhirnya"


^^^"Tapi pa" ucap Riko yang langsung dipotong Bima.^^^


"Cinta itu tidak bisa dipaksakan dan jika mereka jodoh pasti mereka akan bersatu kembali seperti kamu dan Maya" ucap Bima dengan lembut.


^^^"Ya pa Riko akan mengikuti semua perkataan papa" ucap Riko yang mengingat kisah cintanya dengan sang istri.^^^


"Papa tahu Sean pasti akan memilih yang terbaik untuk dirinya"


^^^"Iya pa"^^^


"Heemmmm"


Panggilan pun dimatikan sepihak oleh Bima. Riko menyisir rambutnya ke belakang dan menyandarkan tubuhnya di sofa kebesarannya.


Tak lama Maya pun masuk dan melihat sang suami yang sedang menutup mata dengan sebelah tangannya.


"Mas" panggil Maya dengan lembut.


Riko membuka matanya dan tersenyum hangat melihat senyum wanita yang sangat dicintainya saat ini. Riko langsung menarik Maya untuk duduk di pangkuannya.


"Mas aku berat loh" ucap Maya yang berontak di pangkuan suaminya.


"Ngak sayang tapi jangan berontak kayak gitu sayang" ucap Riko dengan suara serak karena hasratnya terbangun.


Mendengar suara serak suaminya Maya pun berhenti berontak karena sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Riko tersenyum senang melihat kegugupan di wajah cantik istrinya.


Tak menunggu lama akhirnya mereka jatuh dalam gairahnya dalam ruang kerja Riko. Tak ada yang berani mengganggu sang tuan yang sedang bersama dengan sang istri di dalam sana.


~ California, Los Angeles ~


Xavier bersama rombongannya tiba di California tepat pukul 23:00 malam, karena perjalanannya yang memakan waktu selama 11 jam membuat dirinya sangat lelah.


Xavier menyuruh Albert mengantarkannya ke apartemen sang kekasih, ia sudah sangat merindukan kekasihnya itu selama seminggu ini.


Xavier sampai di apartemen Chloe dan melihat sekelilingnya yang sudah gelap. Dirinya langsung menuju ke kamar tidur sang kekasih.


Sampai disana ia melihat sang kekasih yang sudah tertidur pulas. Xavier membuka jas dan kemeja serta celananya, meninggalkan boxer yang hanya menutup area privatnya.


Xavier masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Kemudian ia keluar dengan wajah yang sudah segar, saat itu dirinya langsung kaget melihat Chloe yang berteriak meminta ampun dalam tidurnya.


Xavier langsung bergegas menuju ranjang dan menepuk Chloe agar segera bangun. Teriakan Chloe terus membahana dan air matanya mengalir dengan deras.


Xavier memeluk Chloe agar segera tenang, saat memeluk Chloe Xavier merasa badan Chloe sangat dingin dan keringat bercucuran dari tubuhnya.


"Honey wakeup honey" ucap Xavier dengan lembut.


Tak lama Chloe pun terbangun dengan wajah yang sangat berantakan dan ketakutan. Dirinya melihat Xavier yang tengah memeluknya dengan erat dan hal itu membuat Chloe menangis dengan kencang.


"Xavier.........hiks hiks hiks........aku takut. Aku takut" ucap Chloe dengan isak tangis.


"Kamu aman sayang please don't cry baby" ucap Xavier menenangkan Chloe.


Tak lama Chloe pun tertidur kembali karena mendapat pelukan yang menghangatkan tubuh dan hatinya. Xavier memeluk tubuh Chloe dengan sangat erat.


Rahangnya mengeras mengingat kejadian tadi, dirinya sangat yakin jika selama ini Chloe selalu trauma akan semua perbuatan dari semua keluarga Rosemary.


"Aku akan membalas semua kesedihan gadisku" ucap Xavier dengan tatapan bak monster yang siap membunuh.


"Xavier" ucap Chloe yang mengigau namanya.


Mendengar namanya disebut ia sangat senang dan kembali memeluk Chloe dengan erat. Chloe pun tersenyum dalam tidurnya karena mendapat kehangatan dari orang yang dicintainya.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.........


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀