Heartless

Heartless
Episode 183



🌻Selama masih ada impian, harapan akan selalu ada dan selama masih ada harapan kebahagian pasti akan kau dapatkan🌻


.


.


.


.


Setelah melihat suaminya sudah lebih baik Chloe tersenyum manis dan tertidur kembali dalam dekapan hangat Xavier. Melihat hal tersebut Xavier mencium kening dan mengecup bibir Chloe.


Xavier mengelus perut buncit Chloe lalu mencium perut Chloe dengan lembut. Saat mencium perut sang istri Xavier tersenyum bahagia merasakan tendangan sang anak dari dalam.


"Isshhh" desis Chloe terganggu.


"Jangan ganggu mommy sayang biarkan mommy istirahat malam ini ya anak daddy" ucap Xavier sambil mengelus perut Chloe.


Xavier tersenyum hangat melihat wanita yang paling dicintainya tertidur kembali.


Sampai mati aku akan melindungi kalian berdua dengan segenap jiwaku baby, batin Xavier.


Xavier lalu memeluk sang istri dan menutup matanya karena lelah. Keduanya terlelap sambil berpelukan hingga pagi hari, dokter Susi yang ingin memeriksa keadaan Chloe ditahan Albert di depan pintu.


"Kembali 1 jam lagi" ucap Albert dengan suara dingin.


"Baik tuan"


Dokter Susi lalu kembali ke ruangannya sebelum itu ia mengkorfirmasi kepada dokter Ratna yang baru keluar dari lift. Albert lalu melihat ke dalam ruang sang bos dan tersenyum tipis.


Tak lama handphonenya berbunyi ada panggilan dari Kevin. Albert segera menjawab panggilan tersebut takutnya ada berita penting.


^^^"Ada apa"^^^


"Kenapa aku sendiri yang pulang kesini" ucap Kevin dengan suara tinggi.


^^^"Aku belum tuli Kevin!" bentak Albert dengan suara tinggi.^^^


"Hehehe! Sorry dude" ucap Kevin sambil cengesan dari seberang.


^^^"Heemmmm"^^^


"Albert kenapa hanya aku yang pulang ke California sendiri"


^^^"Kemarin nyonya di culik"^^^


"Apa" ucap Kevin dengan kaget dari seberang.


^^^"Heeemmmm"^^^


"Bagaimana bisa terjadi dan siapa yang berani menculik nyonya lalu apa nyonya sudah di temukan" ucap Kevin dengan beruntun dari seberang.


^^^"Pasangan suami istri Rosemary"^^^


"Berengsek mau apa lagi mereka harusnya kita bunuh mereka dari dulu"


^^^"Mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka bernapas" ucap Albert sambil terkekeh.^^^


"Aku setuju jika hari ini adalah hari terakhir mereka bernapas, btw bagaimana dengan nyonya"


^^^"Nyonya sudah ditemukan tapi"^^^


"Tapi apa Albert" ucap Kevin dengan penasaran.


^^^"Mereka menyiksa nyonya hingga tubuh nyonya penuh lebam dan luka"^^^


"Apa lalu bagaimana dengan kandungan nyonya"


^^^"Kandungan nyonya baik-baik saja karena selama nyonya dipukul nyonya memeluk perutnya agar tidak di pukul"^^^


"Ah! Syukurlah" ucap Kevin dengan lega.


^^^"Bagaimana keadaan kamu disana"^^^


"Aku sudah lebih mendingan"


^^^"Heeemmmm"^^^


"Cepatlah kembali pulang aku khawatir dengan kalian semua di sana"


^^^"Apa bocah sepertimu rindu kami disini"^^^


"Ckk!! Aku itu khawatir bukan kangen kalian berengsek"


^^^"Hahahaha? Aku anggap yes, you miss us" (iya, kamu kangen sama kami)^^^


Albert seketika mematikan panggilannya sepihak ingin membuat Kevin kesal. Terbukti di California Kevin serasa ingin memukul wajah Albert saat ini juga, ia sangat kesal karena lagi-lagi Albert mematikan panggilannya sepihak.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Puas mengerjai Kevin ia lalu mengambil iPad dan melihat perkembangan perusahaan dan markas. Albert juga tak lupa mengecek semua cctv yang berhasil di hack Thomas kemarin.


Ia tak ingin wajah sang bos sampai diketahui publik kemarin, itu bisa saja membuat musuh bos mengetahui kelemahan terbesar Xavier.


Albert memantau cctv di paviliun mansion melihat keadaan Adam dan Laura. Ia tersenyum sinis melihat kedua orang itu yang saat ini sangat sekarat dan tinggal menunggu kematian mereka saja.


"Kematian yang cepat tidak cocok untuk kalian jadi nikmatilah proses kalian mati" ucap Albert dengan senyuman iblis.


Para pengawal yang mendengar perkataan Albert barusan merinding seketika. Mereka sangat ketakutan melihat senyuman iblis Albert yang seperti siap memangsa buruannya.


Tak lama Albert mendapat pesan dari Xavier untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Albert segera menyuruh pak Max membawakan sarapan ke rumah sakit tak lupa dengan pakaian ganti Xavier.


Dokter Susi dan dokter Ratna lalu masuk ke dalam ruang rawat Chloe untuk memeriksa keadaannya, setelah di panggil lewat tombol darurat.


"Periksa istriku" ucap Xavier dengan suara dingin.


Kedua dokter itu memeriksa keadaan Chloe dengan saksama. Chloe tersenyum kepada kedua dokter yang saat ini sedang memeriksa keadaannya.


"Nyonya baik-baik saja tinggal menunggu pemulihan saja" ucap dokter Ratna.


"Bagaimana kandunganku?" tanya Chloe.


"Kandungan nyonya baik-baik saja dan janin nyonya sangat kuat dan sehat, usahakan jangan stres dan jaga pola makan yang sehat ya nyonya" ucap dokter Susi.


"Baik dok terima kasih" ucap Chloe.


"Iya sama-sama nyonya" ucap dokter Susi.


Keduanya lalu pamit keluar setelah menjalankan tugas masing-masing. Tak lama Albert masuk bersama pak Max membawa sarapan untuk tuan dan nyonyanya.


Chloe yang sudah sangat lapar segera melahap makanan yang dibawa oleh pak Max. Beruntung pagi ini ia tidak pemilih makanan seperti hari lainnya saat ingin makan.


Xavier duduk di samping istrinya mengelap mulut sang istri yang belepotan. Ia juga tak lupa memakan sarapannya karena sebentar lagi ia harus mengurus kedua orang kemarin.


~ Mansion Sean ~


Pagi ini mansion Sean di penuhi dengan tangisan Ares saat bangun pagi tadi. Sudah beberapa kali penghuni mansion berusaha membujuk Ares tapi tidak ada yang berhasil.


Sean yang dibangunkan oleh sang tante lalu berlari keluar dari kamar saat mendengar tangisan sang anak. Sean mencari keberadaan anaknya yang ternyata sedang di gendong oleh Maya di lantai satu.


"Ibu Ares kenapa?" tanya Sean dengan wajah panik.


"Ngak tahu sayang bangun pagi tadi Ares nangis terus ngak mau berhenti" ucap Maya.


"Siniin ke aku bu" ucap Sean.


Sean lalu mengendong Ares dan membujuk sang anak, tak lama Ares terdiam tapi masih saja menangis tidak sekencang tadi. Maya merasa lega melihat sang cucu yang tidak menangis sekencang tadi.


"Siapkan mobil sekarang!" bentak Sean dengan suara tinggi.


Semua yang berada di ruang keluarga bingung dengan apa yang dikatakan oleh Sean. Riko melihat Sean dengan tatapan bingung tapi tidak dipedulikan oleh Sean.


Sean lalu berjalan dengan langkah cepat menuju keluar tak memperdulikan tatapan semua orang. Maya yang merasa ada sesuatu yang tidak beres segera mengejar Sean.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Dimas segera membuka pintu untuk Sean melihat tuannya datang dengan langkah cepat. Ia tahu jika pasti ada sesuatu yang terjadi dengan tuannya dan tuan muda Ares.


"Ke rumah sakit sekarang" ucap Sean dengan suara tinggi.


"Baik tuan" ucap Dimas.


Baru saja mobil akan jalan Maya lalu membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam. Keduanya tidak perduli dengan teriakan Riko yang penasaran dari dalam sana.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tidak ada yang mengeluarkan suara. Maya kaget saat melihat mobil melaju ke arah rumah sakit, perasaannya mulai khawatir apa yang sebenarnya terjadi.


"Sean kenapa kita ke rumah sakit nak" ucap Maya dengan bingung.


"Ada yang salah dengan tubuh Ares bu ngak seperti biasanya" ucap Sean dengan wajah khawatir.


"Apa yang terjadi nak" ucap Maya dengan kebingungan.


"Ngak tahu bu kita periksa dulu Ares" ucap Sean.


~ Rumah Sakit Wesly ~


Ternyata Dimas membawa mereka ke rumah sakit Wesly karena dekat dengan mansion Sean. Sampai di sana Sean segera turun dengan cepat dan berlari masuk ke dalam.


Dimas lalu mengemudikan mobil ke arah parkiran. Baru saja ia keluar tak lama hpnya berbunyi tanda panggilan masuk dari tuan besarnya yaitu Riko.


^^^"Halo tuan"^^^


"Dimana mereka" ucap Riko to the point dari seberang.


^^^"Tuan muda dan nyonya besar ada di rumah sakit tuan" ucap Dimas.^^^


"Apa siapa yang sakit dan rumah sakit mana" ucap Riko dengan panik.


"Heeemmm! Kamu jangan tinggalkan mereka sendiri disana tetap awasi mereka semua"


^^^"Baik tuan"^^^


Riko lalu mematikan panggilannya dan memberitahu semua keluarganya yang penasaran, mereka lalu segera berangkat ke rumah sakit menyusul Maya dan Sean.


Di dalam rumah sakit di bagian khusus anak Sean menidurkan Ares di atas brankar untuk di periksa. Dokter Agus memeriksa kondisi Ares dengan teliti sesekali mengernyitkan keningnya.


Sean yang melihat hal tersebut seketika tahu jika ada yang tidak beres dengan anaknya. Setelah di periksa mereka lalu duduk kembali di tempat yang disiapkan disana.


"Bagaimana keadaan anak saya dok" ucap Sean dengan penasaran.


"Sebelumnya kemarin apa yang dimakan atau diminum oleh anak anda tuan" ucap dokter Agus.


"Saya ngak tahu dok karena kemarin anak saya diculik dan baru dapat semalam tapi semalam anak saya langsung tertidur saat pulang dok"


"Apa ada yang tidak beres dok" ucap Maya dengan khawatir.


"Menurut pemeriksaan tadi sepertinya kemarin anak tuan diberi makan atau minum yang tidak sesuai umurnya dan itu menyebabkan gangguan pernapasan dan kerongkongan dalam tubuh anak anda seperti ada yang menempel. Maka dari itu saya ingin memeriksanya di laboratorium dulu takutnya anak anda ada alergi" ucap dokter Agus.


"Lakukan apapun untuk anak saya dok dan tolong selamatkan anak saya dok" ucap Sean dengan cemas.


"Saya akan berusaha tuan, saya usulkan agar bayi anda di rawat dulu selama kita memeriksa masalahnya"


"Baik dok" ucap keduanya serentak.


Dokter Agus lalu mengambil sampel air liur Ares dan memberikannya ke suster untuk di periksa di laboratorium. Sean dan Maya lalu membawa Ares ke ruangan VIP untuk dirawat.


Tak lama keluarga Rahardian muncul dengan tergesa-gesa setelah mendapat nomor kamar Ares dari Dimas. Pintu dibuka dan masuklah semuanya ke dalam.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Mas..........hiks hiks hiks" ucap Maya sambil menangis.


Riko segera memeluk sang istri karena tahu istrinya pasti saat ini sangat khawatir. Sean melihat keluarganya dengan wajah tidak cerah dan banyak pikiran.


"Apa yang terjadi son" ucap Riko.


"Kita masih nunggu hasil lab Ares pa"


"Memangnya kenapa dengan cicitku Sean" ucap Bima dengan suara tinggi.


"Kata dokter Ares sepertinya keracunan makanan atau minuman yang menyebabkan gangguan pernapasan dan ada sesuatu yang menempel di kerongkongan Ares kek, kita tidak tahu apa Ares ada alergi atau tidak kek jadi masih di periksa dulu di lab" ucap Sean dengan stres.


"Sebenarnya apa yang diberi ja***g itu kepada cucuku" ucap Riko dengan emosi.


"Aku ngak tahu pa hanya Chloe yang tahu pa" ucap Sean dengan sedih.


"Coba kamu hubungi Chloe tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi biar para dokter bisa menganalisis masalah cicitku Sean" ucap Bima dengan raut sedih dan khawatir.


"Iya kek aku usahain" ucap Sean.


Sean lalu keluar berniat menghubungi direktur Rangga untuk menanyakan nomor handphone Chloe.


Semoga gue bisa dapat nomor Chloe, batin Sean.


Saat keluar ia melihat orang yang sangat dikenalinya yaitu Albert orang yang memukul Adam dan Laura semalam. Sean berjalan dengan cepat ingin menanyakan Chloe kepada Albert karena ia tahu pasti Albert tahu di mana Chloe.


"Permisi tuan" panggil Sean dengan suara keras.


Albert terus berjalan tidak memperdulikan panggilan Sean karena menurutnya itu tidak penting. Ia tahu jika Sean memanggil dirinya tapi diabaikan saja karena saat ini ia harus segera ke perusahaan.


Sampai di depan rumah sakit Sean berteriak kesal karena Albert sudah pergi dengan mobilnya. Tak mau membuang waktu ia lalu mengambil hp untuk menghubungi direktur Rangga. Pada dering ketiga direktur Rangga segera menjawab panggilan dari Sean.


"Halo selamat pagi direktur Sean"


^^^"Halo selamat pagi juga direktur Rangga"^^^


"Ada yang bisa saya bantu direktur Sean"


^^^"Ya saya ingin bertanya apa direktur Rangga memiliki nomor hp Chloe"^^^


"Maaf direktur Sean tapi saya tidak memilikinya karena nyonya Chloe selalu berada di dekat tuan Wesly" ucap direktur Rangga dari seberang.


^^^"Oh apa saya bisa meminta nomor hp milik Mr. Wesly"^^^


"Maaf tapi saya tidak bisa memberikannya saya akan memberikan nomor asisten tuan Wesly sekaligus tangan kanannya saja"


^^^"Baiklah direktur Rangga saya tunggu"^^^


"Iya direktur Sean"


Sean segera mematikan panggilannya dan berharap segera mendapatkan nomor telpon asisten Xavier. Tak lama hpnya berbunyi tanda pesan masuk dari direktur Rangga.


Direktur Rangga Liem


"Mr. Albert Kendrick +017xxxxxxx"


Sean tersenyum puas setelah membaca pesan dari direktur Rangga. Tak mau menunggu lama ia segera menelpon tangan kanan Xavier untuk bertanya nomor hp Chloe.


"Halo who is this" (siapa ini) ucap Albert dengan suara dingin.


^^^"Halo apa betul ini dengan tuan Albert Kendrick"^^^


"Yes, who are you?"(iya, siapa kamu?)


^^^"Saya Sean Rahardian"^^^


"Oh"


Sean yang mendengar ucapan Albert yang dingin dan datar, menjadi bingung ingin berkata apa lagi.


^^^"Maaf apa saya bisa bicara dengan Chloe atau mungkin mendapat nomor teleponnya ada hal penting yang ingin saya tanyakan kepadanya"^^^


"Cih! Kenapa anda mencari nyonya saya tuan Rahardian" ucap Albert dengan suara tidak suka.


^^^"Saya ingin menanyakan perihal anak saya karena semalam Chloe yang bersama dengan anak saya mungkin ia tahu apa yang dikonsumsi anak saya karena saat ini anak saya sedang berada di rumah sakit"^^^


"Akan saya tanyakan kepada Mr. Wesly lebih dulu"


^^^"Iya saya tunggu"^^^


"Hemmmm! Dan satu lagi tuan Rahardian bicaralah yang sopan saat menyebut nama nyonya saya dengan panggilan nyonya"


Albert segera mematikan panggilan sepihak dan hal tersebut membuat muka Sean merah padam. Ia sangat kesal dan marah saat disuruh memanggil Chloe dengan sebutan nyonya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Mansion Xavier ~


Setelah mendapat alamat Chloe dari sepupunya Kenan, Steven segera pergi ke alamat mansion Chloe bersama dengan sang istri. Tiba disana keduanya seketika berdecak kagum dengan mansion Chloe.


Steven akui baru kali ini dia melihat mansion yang sangat mewah seperti ini. Tak lama keduanya lalu bertanya kepada satpam apa betul ini mansion Chloe atau bukan.


"Maaf pak tapi apa betul ini mansion Chloe Elisabeth?" tanya Steven sopan.


"Iya betul ada yang bisa saya bantu" ucap sang satpam dengan sopan.


"Kami ingin bertemu dengan Chloe pak bilang saja ini dengan Steven Rosemary" ucap Steven.


"Saya laporkan dulu ya tuan"


"Iya pak"


Sang satpam segera memberitahu kepada anak buah Xavier mengenai kedatangan Steven. Anak buah Xavier segera memberitahu Mike lewat earpiece yang mereka gunakan.


Di dalam mansion Xavier tepatnya di ruang bawah tanah di paviliun mansion, terdengar suara cambukan dan teriakan kesakitan dari sepasang suami istri.


Mike yang mendapat laporan dari anak buahnya di gerbang utama segera membisikan ke Thomas.


"Bos anak kedua bajingan itu ada di depan gerbang ingin bertemu dengan nyonya" ucap Mike.


"Cih! Merepotkan saja" ucap Thomas dengan kesal.


Mike lalu diam tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia tahu jika orang kepercayaan Xavier yaitu Thomas tidak suka dengan kehadiran anak Adam dan Laura.


Di depannya saat ini Xavier sedang melampiaskan emosi yang sudah di tahannya dari semalam. Xavier menampar dan menjambak rambut keduanya dengan sangat kuat.


Ia juga menusuk dan mengoreskan p***u kesayangannya di tubuh keduanya. K**u kaki dan jari Laura sudah tidak ada lagi, bahkan Xavier terus menusuk Laura bergantian dengan Adam sampai dirinya puas.


"Ini akibat sudah mencelakai wanitaku" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Arrghhhhh" teriak Adam kesakitan.


D***h keduanya mengalir di dalam ruangan tersebut, bahkan bau anyir d***h mereka sudah menyeruak di dalam ruangan tersebut dan membuat banyak anak buah xavier muntah.


Sret......sret......sret......sret.....


Bunyi tebasan bergema di dalam sana. Adam dan Laura berteriak kesakitan melihat kedua tangan mereka sudah tidak berada di tempatnya.


Seketika Laura dan Adam pingsan tak kuasa menahan sakit yang diberikan oleh Xavier. Xavier yang melihat keduanya pingsan tersenyum bagai seorang iblis mengerikan.


"Aku akan membuat kalian menderita dan ingin mengakhiri hidup kalian sendiri" ucap Xavier dengan suara dingin dan emosi.


Thomas lalu menyuruh anak buahnya untuk membawa kedua bajingan itu ke kandang kurungan mereka. Thomas lalu berbisik di telinga Xavier mengenai kedatangan anak bajingan itu.


Hahahahaha.......


"Suruh mereka masuk karena aku ingin memberi keduanya kado terindah seumur hidup mereka" ucap Xavier sambil tertawa bagai iblis.


...❄❄❄❄❄...


To be continue...............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀