
๐ปOrang yang bekerja dengan tulus ikhlas akan mendapat hasil yang terbaik๐ป
.
.
.
.
Chloe tiba di apartemennya dengan diikuti oleh Xavier. Saat menghidupkan lampu apartemennya Chloe kaget bukan main melihat apartemennya yang seperti kapal pecah.
Chloe menatap tajam Xavier karena tahu pasti hal ini adalah kerjaannya, Xavier sengaja mengalihkan pandangannya tidak mau menatap Chloe yang sedang menatapnya tajam.
Xavier berlalu menuju sofa dan duduk dengan santai disana. Chloe yang sudah sangat kesal dan menahan amarahnya bercakar pinggang di depannya.
"Bisa kamu jelaskan semua ini sayang" ucap Chloe sambil menekan kata-katanya.
"Seperti yang kamu lihat baby" ucap Xavier dengan santai.
"Xavier Arthur Wesly" teriak Chloe dengan suara melengking.
Xavier menatap tajam Chloe tidak suka mendengar perkataan Chloe, bukannya takut Chloe kembali menatap tajam Xavier.
Xavier bangun dan berjalan mendekat Chloe dengan langkah tegap, seketika keberanian Chloe menghilang melihat sorot mata tajam Xavier yang seperti laser.
Punggung Chloe sudah mentok di tembok tidak bisa mundur lagi. Xavier meraih pinggang Chloe dan mendekatkan tubuh mereka berdua.
"Kamu tahu apa akibatnya jika kamu menghilang dari pandangan aku sayang" bisik Xavier dengan suara serak menahan emosi.
Chloe melihat mata Xavier yang tajam yang terdapat emosi didalamnya, Chloe mengelus rahang Xavier dengan lembut berharap emosinya sang pacar mereda dan hal itu berhasil tatapan Xavier tidak seperti tadi.
"Aku tidak suka yang namanya kotor dan berantakan sayang dan kamu tahu hal itu" ucap Chloe dengan lembut sambil memeluk leher Xavier.
Xavier mengangkat tubuh Chloe dan mendudukkannya di atas meja makan. Xavier mengelus rambut panjang Chloe dengan lembut dan sesekali mencium wajah Chloe.
"Aku akan menyuruh orang untuk membersihkannya sayang"
Xavier menenggelamkan kepalanya di leher Chloe dan mengendusnya. Chloe menutup mata merasakan nafas Xavier di lehernya.
Xavier mencium dan mengigit leher Chloe hingga berbekas, ia menahan gairahnya dalam saat mendengar napas Chloe yang melenguh.
"Sayang" ucap Chloe dengan suara serak.
"Heeemmmm"
"Aku pengen mandi tubuh aku lengket banget"
"Sebentar saja baby" ucap Xavier yang mati-matian menahan gairahnya berada dekat dengan Chloe.
20 menit kemudian Xavier melepaskan Chloe untuk mandi, dirinya kemudian menelpon Albert untuk menyuruh orang membersihkan apartemen Chloe.
30 menit kemudian Chloe keluar dengan wajah segar dan tersenyum senang melihat apartemennya yang sudah bersih. Chloe pun beranjak ke dapur dan membuatkan makan malam untuk dirinya dan Xavier.
Xavier yang sedang melihat grafik perkembangan saham di hpnya seketika berhenti karena mencium bau masakan. Xavier berjalan ke arah dapur dan memeluk Chloe dari belakang.
"Sayang lepas dulu aku lagi masak"
"Lanjutin aja sayang" ucap Xavier yang memeluk erat tubuh Chloe.
Chloe menghembuskan napasnya dengan kasar dan kembali melanjutkan kegiatan masaknya.
Meski susah tapi akhirnya masakannya selesai, ia dan Xavier menikmati makanan mereka dengan tenang dan bercerita banyak hingga Chloe tertidur di pelukan sang kekasih.
Xavier membawa Chloe ke kamarnya dan menidurkan Chloe dengan lembut di ranjang tak lupa mencium keningnya. Ia kemudian keluar dan meninggalkan Chloe karena ada beberapa masalah di markas.
...ใ ใ ใ ๐ ๐ ๐ ๐ ใ ใ ใ...
Xavier dan Albert tiba di markasnya dimana disana sudah ada Thomas dan Kevin yang sudah sampai lebih dulu.
"Bos" ucap mereka semua serentak saat melihat Xavier yang datang.
"Heeemmm" deham Xavier sambil memberi isyarat untuk kembali duduk.
Xavier melihat semua anak buahnya yang menunduk takut melihat kemarahan dimatanya. Xavier menatap tajam Albert meminta penjelasan lengkap.
"Anak buah kita diserang oleh sekelompok orang saat sedang mengantar pesanan senjata pemerintah Rusia bos" ucap Albert sambil menunjukan cctv yang berhasil di rekam di lorong jalan menuju dermaga.
"Berapa banyak yang mereka ambil" ucap Xavier dengan suara dingin.
"2 truk bos" ucap Albert.
"Hermmm! Apa kamu sudah tahu siapa dalangnya?" tanya Xavier dengan tatapan membunuh.
"Belum bos Thomas masih mencarinya" jawab Albert dengan gugup.
Xavier melihat rekaman video pembajakan truk miliknya dengan teliti. Seketika Xavier menghentikan video tersebut yang saat itu anak buahnya ditarik keluar dan ditembak mati oleh musuhnya.
"Cari pria umur 30 sampai 37 tahun dengan tato kalajengking di jari tengahnya sebelah kanan" ucap Xavier dengan aura membunuh.
Thomas langsung bermain-main dengan keyboard laptop tak sampai 5 menit ia berhasil mendapatkan info orang yang dikatakan bosnya.
"Steven Adam pria kelahiran 12 Januari 1987 kebangsaan Meksiko memiliki 2 orang anak putra-putri berumur 11 tahun dan 9 tahun. Istrinya sudah meninggal dan dia adalah tangan kanan dari klan Harimau hitam mafia Meksiko" ucap Thomas sambil membaca rincian informasi pria yang dikatakan bosnya.
"Cari video apa saja selama 2 minggu terakhir menyangkutnya" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Baik bos"
Tak sampai 10 menit Thomas sudah berhasil meretas cctv berisi pertemuan dan pembicaraan mereka mengenai pembajakan truk senjata milik Xavier tanpa tahu siapa pemiliknya.
"Sepertinya mereka ingin bermain-main denganku" ucap Xavier sambil tertawa iblis.
Semua anak buahnya merinding mendengar suara Xavier yang seperti iblis. Mereka sangat kasian kepada musuh mereka karena sudah mencari masalah dengan bosnya.
"Albert tangkap tikus-tikus itu dan bawa ke markas" ucap Xavier dengan dingin.
"Thomas perintahkan 1000 anak buahku untuk bersiap menyerang klan harimau besok malam untuk mengambil kembali punyaku" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
Aura mencekam seketika menguar dari tubuh Xavier, anak buahnya menunduk takut melihat kengerian sang bos yang seperti monster. Tanpa orang lain tahu sebenarnya Xavier adalah seorang mafia kejam di dunia.
Orang tuanya dan keluarganya tidak ada yang tahu hal itu, bahkan masalah kedua orang tuanyalah yang menyebabkan dia menjadi kejam seperti ini apalagi saat dirinya ditinggal sang daddy dan mommy yang terbunuh oleh musuhnya.
Xavier berubah menjadi kejam saat berumur 13 tahun dan pada umur 16 tahun ia sudah menjadi mafia terkejam dan terkenal bengis kepada musuh-musuhnya. Tidak ada satu orang pun yang tahu akan hal ini selain anak buahnya yang setia kepadanya.
Xavier melirik jam yang sudah menunjukan pukul 03:00 pagi, ia memilih pulang ke penthouse takut dirinya kebablasan kepada sang kekasih.
Xavier hanya berharap Chloe akan menerimanya jika rahasia mengenai dirinya suatu saat terbongkar. Xavier tidak tahu dengan cara apa jika rahasia terbesarnya diketahui oleh Chloe.
Ia akui dulu ia adalah mafia kejam sampai saat ini tapi kerajaan mafianya berdiri bukan untuk membunuh sembarang orang atau menjual benda terlarang, tapi ia adalah mafia yang memberantas kejahatan dan melindungi kerajaan bisnisnya.
Dirinya memang berjualan senjata tapi itu adalah bisnis legal karena bekerja sama dengan pemerintahan. Bahkan ia berkontribusi besar dalam pemerintahan Amerika dalam perekonomian negara.
...ใ ใ ใ ๐ ๐ ๐ ๐ ใ ใ ใ...
Xavier tiba di apartemennya dan kemudian tertidur pulas, meski dirinya akan selalu terbayang wajah Chloe karena tidak bisa nyenyak ia memaksa menutup mata agar tubuhnya bisa rileks dari semua kegiatannya hari ini.
Keesokan harinya Chloe bangun dan tidak mendapati kehadiran Xavier, Chloe lalu mengambil hp langsung menghubungi sang pacar.
Pada dering kedua Xavier segera menjawab telepon dari kekasihnya.
"Halo" ucap Xavier dengan suara serak.
^^^"Halo sayang"^^^
"Baby are you wake up?"
^^^"Off course baby masa aku bisa nelpon jika masih tidur" ucap Chloe dengan kesal.^^^
Xavier hanya terkekeh dari seberang dan dirinya membayangkan jika saat ini Chloe sedang memajukan bibirnya karena kesal.
^^^"Sayang kenapa semalam kamu tidak tidur disini"^^^
"Apa kamu mulai kangen dengan pelukanku baby" goda Xavier dari seberang.
^^^"Ihh! Kok ngomong kayak gitu sih sayang"^^^
"Hehehehe! Sorry baby aku memilih pulang takut kebablasan tidak kuat menahan godaan sayang"
Seketika muka Chloe menjadi merah padam mendengar perkataan vulgar dari sang kekasih.
^^^"Heeemmmm"^^^
"Sayang sebentar kamu diantar sama sopir aku ya soalnya aku ada meeting pagi ini" ucap Xavier.
^^^"Iya sayang jangan lupa sarapan ya"^^^
^^^"Iya iya sayang dasar posesif"^^^
"Jangan coba-coba melanggar sayang mata-mata aku banyak loh"
^^^"Iya tahu kok sayang"^^^
"Heemmm! Good girl"
^^^"Sayang aku siap-siap dulu ya"^^^
"Iya sayang bye baby love you"
^^^"Love you too"^^^
Panggilan dimatikan dan Chloe langsung masuk ke dalam kamar mandi, saat membuka piyamanya Chloe kaget melihat bekas ciuman di lehernya yang sangat kentara.
"Xavier awas loe ya" teriak Chloe dengan emosi.
Di penthouse Xavier terbatuk-batuk saat meminum air. Dirinya sangat kesal karena pasti ada yang mengumpat dirinya.
...ใ ใ ใ ๐ ๐ ๐ ๐ ใ ใ ใ...
Chloe keluar menuju mobil dengan wajah kesal, ia bahkan mengirim foto bekas ciuman itu kepada Xavier dan hanya dibalas dengan santai.
MyLovelyโค
"Itu tanda cintaku sayang biar semua orang tahu kalau kamu itu milik Xavier Arthur Wesly seorang๐๐"
Membaca pesan tersebut Chloe seakan ingin melempar Xavier dengan sepatu, karena Xavier ia hari ini harus memakai blouse dengan kerak dan memakai foundation yang sangat banyak untuk menutup bekas tersebut.
MyLovelyโค
"Kamu harus ganti foundationku sayang๐ข"
Tak lama pesannya sudah dibaca dan Xavier sedang mengetik balasan untuknya.
"Nanti aku belikan yang baru baby"
^^^"Beneran ya sayang๐๐"^^^
"Iya sayang"
^^^"Tapi harganya sangat mahal loh๐"^^^
"Berapa?"
^^^"50$ baby"^^^
Xavier yang sedang sarapan kaget melihat pesan Chloe yang mengatakan kalau 50$ adalah biaya yang mahal. Ia tersenyum geli mengetahui pacarnya yang sangat polos.
Jangankan 50$, 1 mall pun ia mampu beli bersama pekerjanya. Xavier kemudian menyuruh Albert untuk memberikan black card miliknya kepada sang kekasih.
"Aku sudah menyuruh anak buahku mengantar kartu kredit aku sayang"
^^^"Kamu tidak takut aku bakal habisin uang kamu sayang" balas Chloe dengan cepat.^^^
"Pakai saja bahkan kamu mau membeli mall itu juga bisa๐"
^^^"Cih! Pamer๐ฉ"^^^
"Belanja sepuasmu sayang"
^^^"Makasih sayangโค๐๐"^^^
Tak lama Chloe tiba di persimpangan jalan dan langsung diberikan black card milik Xavier. Chloe langsung memfoto black card tersebut dan mengirimkan ke Xavier.
Xavier hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pacarnya yang sangat polos. Xavier kemudian berangkat ke perusahaan untuk mengerjakan semua pekerjaannya sebelum malam nanti ia akan melakukan pekerjaan besar.
Di perusahaan Smith Chloe bertemu dengan Jeni dan mengajak Jeni untuk berbelanja sebentar sepulang kerja. Tak lupa dirinya juga mengajak Mira untuk bersama-sama.
Waktu berlalu dengan cepat kini tiba saatnya pulang. Chloe keluar dari lift dan menemukan Jeni yang menunggunya di depan pintu masuk lobby.
"Jeni kita langsung aja berangkat ya" ucap Chloe.
"Aku nemenin aja ya Chloe soalnya aku tidak dikasi uang jajan lebih sama mommy dan daddy" ucap Jeni dengan malu.
"Tenang aja aku bayarin kok" ucap Chloe sambil menaik turun alisnya.
"Emang kamu punya uang"
"Punyalah jadi jangan khawatir ya" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Makasih ya Chloe"
"Sama-sama ayuk"
Chloe dan Jeni langsung naik taksi menuju Wesly mall dimana Mira dan Julian sudah berada disana. Tak lama keduanya turun dan melihat Mira dan Julian yang sedang menunggu mereka di depan pintu masuk.
Tak lupa ia juga mengabari Xavier mengenai ia akan berbelanja dengan sahabatnya menggunakan uang sang kekasih.
"Chloe, Jeni aku kangen sama kalian tahu" ucap Mira dengan heboh.
"Baru juga berapa hari ketemuan" ucap Julian.
"Ihhh! Bilang aja kamu syirik karena tidak ikut sama kita" ucap Mira dengan kesal.
"Siapa yang syirik orang itu kegiatan cewek masa aku juga harus hadir" ucap Julian dengan bingung.
"Benar juga ya! Hahahaha" ucap Mira sambil tertawa.
"Udah yuk mending kita masuk aja" ucap Chloe.
Keempatnya langsung masuk dan mulai berbelanja, Mira dan Julian yang mendapat traktiran langsung berbinar bahagia. Keempatnya berbelanja baju, make up, tas, dan makanan ringan yang sangat banyak.
Sudah 3 jam mereka berbelanja dengan harga yang sangat fantastik, saat berjalan mencari makan Chloe melihat aksesoris hp yang sangat bagus.
Ia menyuruh ketiga sahabat dahulu ke tempat makan, Chloe memilih sepasang aksesoris hp berbentuk bulan dan bintang kecil di tengah yang ditempel di belakang hp.
"Gue ngasih satu ke Xavier biar kalau kita dekat bakal nyala deh bulan dan bintangnya" ucap Chloe dengan riang.
Selesai membayar Chloe pun segera menuju tempat makan yang dipilih sahabatnya. Semua kegiatan belanja Chloe hari ini masuk ke dalam notifikasi hp Xavier.
...ใ ใ ใ ๐ ๐ ๐ ๐ ใ ใ ใ...
Xavier hanya tersenyum melihat notifikasi sang pacar dan sahabatnya yang berbelanja, dirinya tidak mempermasalahkan Chloe berbelanja dengan siapa intinya ia harus diberi tahu sebelumnya.
Saat ini Xavier sedang berada di markasnya menunggu Albert yang datang membawa orang yang sudah membajak truk senjatanya. Anak buahnya bersama Thomas juga sudah bergerak ke markas harimau hitam.
Xavier tertawa sinis melihat markas itu yang hanya tinggal nama saja karena dibantai oleh Thomas dan anak buahnya. Thomas tertawa licik melihat pemimpin klan harimau hitam yang tertembak oleh peluru Thomas.
Dirinya hanya memberi perintah untuk tak membunuh pemimpinnya dan itu hanya peringatan saja. Thomas dan anak buahnya hanya luka lecet saja tidak ada yang meninggal.
2 buah truk senjata miliknya sudah dibawa kembali, tapi Xavier meminta mereka untuk mengganti truk sebelum masuk ke markas takut ada alat pelacak di dalam sana.
"Jangan pernah main-main denganku" ucap Xavier dengan senyuman iblis.
Xavier kemudian memakai topengnya menutup sebagian wajahnya saat Albert masuk bersama 8 orang yang sudah membajak truknya.
8 orang tersebut dibuat berlutut di lantai dengan tangan diikat ke belakang. Penutup kepala mereka dilepas dan seketika mata mereka kaget melihat seseorang yang duduk di kursi kebesarannya dengan memakai topeng hitam bercorak emas.
"Black devil dragon" ucap Steven dengan gugup.
"Hahahaha! Ternyata kamu mengenal diriku" ucap Xavier tertawa seperti iblis.
"Ampun tuan ampun kami tidak tahu kalau truk yang kami bajak adalah milik tuan" ucap Steven dengan cepat dan tubuh bergetar.
"Sayangnya aku bukan seorang yang mudah mengampuni" ucap Xavier dengan kekehan.
Xavier memberi isyarat kepada Albert untuk memulai hukuman mereka. Suara teriakan kesakitan bergema di dalam ruangan tersebut, Xavier duduk dan menikmati pertunjukan mereka semua.
"Patahkan kaki dan tangan mereka satu-satu dan buang mereka ke jalanan" bisik Xavier di telinga Albert.
"Baik bos" ucap Albert dengan wajah datar.
Xavier berlalu pergi dan sepanjang jalan keluar ia mendengar teriakan ke 8 orang tersebut dengan kencang.
Itu peringatan buat kalian agar tidak menyentuh barang milikku, batin Xavier sambil tersenyum sinis.
...โโโโโ...
To be continue.............
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak sebanyak-banyaknya ya guysโค๐