Heartless

Heartless
8. Fake Meeting



Indira sedang membaca berkas laporan dari bagian pemasaran tentang presentasi penjualan poduk lipstik Pesona yang masih belum memenuhi target. Dia mengerutkan dahi melihat laporan itu. Segala hal untuk menaikka brand di masyarakat sudab dilakukan. Iklan sudah diluncurkan di televisi, radio, internet dan penyebaran iklan melalui baliho juga sudah dilakukan. Indira merasa harus ada yang dipanggil untuk pertanggungjawaban dari hasil laporan ini. Apakah memang benar penjualannya hanya mencapai 60% dari target.


Tok tok tok


"maaf bu, mengingatkan rapat dengan Tuan Alex. Sudah waktunya.."


"baiklah. Mari lihat apa yang akan dirapatkan oleh Tuan Alex itu"


Dewi tidak menjawab lagi perkataan bosnya. Jelas sekali kalau mereka sedang bertengkar sampai Tuan Alex mengajak bertemu di jam makan siang seperti ini. Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Sudah seringkali dia menjadi jembatan Tuan Alex untuk merayu bosnya agar mau menemuinya. Orang lain seringkali melihat bahwa dirinya beruntung bisa menjadi seorang asisten merangkap sekretaris pribadi seorang Indira Cahyati tapi baginya tiap hari adalah sebuah ujian.


Gaji yang ia terima memang lumayan. Tapi ia bahkan tidak pernah ia lepas dari kemarahan dan keanehan bosnya itu. Apalagi pacarnya alias bos dari bosnya si Tuan Alex. Dia harus menahan segala ke-absurd-an kisah cinta sepasang orang "kaya" itu. Terkadang karena mereka baru cek cok dapat mempengaruhi segalanya. Pekerjaan di kantor, kondisi hati mereka bahkan kondisi hati dan emosi dirinya sendiri. Jika dia tidak bisa menahan pendapat dan emosinya sendiri maka sudah lama dia kehilangan pekerjaan ini.


"Dewi, apakah kau sudah bilang ke Alex kalau aku memakai mobil sendiri?" Indira muncul didepan pintu ruangannya.


"eh.. eh maaf bu.. kata sekeretaris Tuan Alex tidak ada penolakan. Jadi Pak Yudi sopir Tuan Alex akan tetap menjemput"


Terdengar bunyi telfon genggap Dewi diatas meja. "maaf bu, saya angkat telfon dulu"


Halo


iya iya baik baik


ibu akan segera kebawah


terima kasih


"eh.. Ibu, barusan telfon dari Pak Darman katanya dia sudah di depan loby. Ibu agar segera kebawah karena Tuan Alex sudah menunggu"


"ck. Memang siapa diriku ini yang tidak bisa menolak kehendak Bos Besar itu", Indira masuk keruangan mengambil tas dan langsung pergi menemui Pak Darman untuk memenuhi permintaan Bos Besar.


"Selamat makan siang bu.. semoga berhasil", gumam Dewi sambil tersenyum miris.


Dia bilang dirinya siapa?


apa dia gila sampai lupa ingatan?


ternyata Bos Pesona bisa juga mempertanyakan dirinya siapa haha


bagaimana denganku?


Ck.


-------------------------------------------


"Selamat siang Bu Indira, silahkan masuk," Darman membukakan pintu untuk kekasih bosnya.


"Selamat siang Pak Darman, terima kasih," Indira masuk ke mobil. Mobil pun segera berjalan bergabung dengan kemacetan Kota Jakarta.


"Bagaimana kabar Pak Darman? sekarang supirin Tuan Alex pak?"


"Iya Bu.. Kabar saya alhamdulillah baik. Tuan Besar sudah rehat dari kerja kantor. Mungkin hanya sesekali ke kantor untuk mengecek saja dan Nyonya Besar juga sekarang sudah jarang pergi keluar. Mungkin karena Tuan Besar sekarang lebih banyak dirumah. Jadi sekarang saya lebih banyak kerja dengan Tuan Muda Alex"


"Oh begitu. Saya dengar juga kalau Tuan Besar sudah mau pensiun. Padahal saya kira usianya masih cukup muda"


"Benar sekali Bu.. kata beliau biar anaknya yang mengambil alih. Tuan Muda sudah teruji katanya. Buktinya sekarang perusahaan bahkan bisa dikatakan lebih besar dan lebih stabil daripada dulu waktu dipegang Tuan Besar"


"Kalau Bu Indira sendiri bagaimana kabarnya? apakah semuanya lancar?


"Ah Pak Darman ini jangan panggil saya Ibu dong.. kayak saya ini udah tua saja. Saya ini masih muda Pak.. Panggil saya seperti dulu saja. Dira pak.."


"Saya takut sama Tuan Muda Bu Indira.. bagaimanapun saya hanya seorang supir. Walaupun saya sudah lama kerja dengan keluarga Abraham tapi saya tahu tempat saya Bu.."


Perkataan Darman seketika menyentak Indira. Indira menyadari apa yang dimaksud Darman adalah dirinya. Darman adalah supir keluarga Abraham yang biasanya melayani Tuan Besar dan Indira sangat mengenalnya sebagai senior dahulu. Dia orang yang baik dan sifat kesetiaan yang dimilikinya untuk Keluarga Abraham telah menyebabkan dia menjadi salah satu tangan kanannya. Untuk itu semua musuh Abraham adalah musuhnya juga. Sesetia itulah dia. Entah apa yang sudah keluarga Abraham berikan kepadanya.


"Sudah sampai bu.. silahkan," Indira dikejutkan oleh pintu sampingnya yang tiba-tiba terbuka. Ternyata mereka sudah sampai. Dia tidak menyadarinya.


"Terima kasih Pak," jawab Indira kepada Darman yang telah membukakan pintu untuknya.


Dengan langkah percaya diri seperti yang biasa Indira lakukan, dia melangkah menuju loby hotel dan langsung disambut oleh seorang petugas.


"Selamat Siang Bu Indira.. mari saya tunjukkan keberadan Pak Alex. Pak Alex sudah menunggu di ruang VIP restoran. Silahkan.." orang itu mengantarkan Indira menuju lantai 17 tempat restoran berada.


"Silahkan ibu.. Pak Alex berada di meja sebelah sana"


"Terima kasih," Indira tersenyum kepada petugas yang telah mengantarkannya.


----------------------------------------


"Sayang.. kenapa duduk disitu.. sini duduk disebelahku," Alex menepuk kursi disebelahnya. Dia tidak suka duduk berjauhan dengan Indira karena dia tidak bisa menggenggam tangannya. Dia benci tidak bisa menyentuh Indira jika sedang bersama.


"Kita sedang meeting Alex.. aku dapet info dari sekretarisku kalau kamu mau meeting pekerjaan dengan aku. Sekarang aku sisah disini jadi topik apa yang akan kita bicarakan?" Indira menjawab ketus. Dia masih marah kepada Alex.


"Kamu masih marah sama aku ya.."


"Menurut kamu?"


"Iya iya.. sayang aku gak akan seperti itu lagi.. aku sayang kamu"


"Terus?"


"Aku cinta kamu"


"Terus?"


Alex berdiri dan mendekat kepada Indira lalu berjongkok diaampingnya. Tidak peduli dengan banyak pasang mata di restoran itu yang memperhatikan. Bahkan banyak yang memotret kejadian langka itu. Seorang Konglomerat sedang berlutut di depan seorang wanita. Bisa dijadikan headline berit gosip nih di akun-akun perlambe dan perempongan itu.


Alex mengambil tangan Indira dan menciumnya dengan tulus. Dia tersenyum dan menciumnya berkali-kali.


"Jadi sayang.. maaf?"


"ehmmm"


"Sayang.."


Alex mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak perhiasan kecil ia buka yang ternyata adalah sebuah gelang



Alex langsung memakaikannya ke pergelangan tangan Indira dan mencium pergelangan langan tangan Indira.


"Ini terlihat cantik di tanganmu sayang.."


"Untuk apa kamu membelikanku ini untukku?"


"Karena gelang ini cantik. Gelang cantik khusus untuk wanitaku yang cantik. Biar dia bisa memaafkanku," Alex teesenyum menggoda.


"Alex!"


"Iya sayang.. jadi gimana kamu mau maafin aku kan?" Alex beeanjak berdiri masih menggenggam tangan Indira.


"Oke"


"hah?"


"Oke aku maafin"


"Sip makasih makasih sayangku.." Alex langsung mencium wajah Indira dengan bertubi-tubi.


"Alex! malu diliatin orang.." Indira mendorong Alex dari badannya.


" Hehe gapapa sayang.. orang-orabg juga sudah pada tahu kalau kamu milikku dan aku milikmu," masih tanpa berdosa dan malu Alex memeluk Indira didepan umum.


"Sudahlah sekarang kamu duduk ditempatmu dan ayo kita makan. Kamu belum pesen kan?"


"Oke aku duduk tapi maunya duduk disebelahmu"


Kebiasannya yang manja kembali lagi. Sabar Indira.. sabar..


"Kamu yang pesenin. Aku makan semua yang kamu pesenin buat aku. Tapi jangan yang pedes lagi aku gak suka. Kalau aku diare lagi seperti waktu itu. Kamu harus tanggung jawab"


"Baik Tuan Alex. Hamba lakasanakan"


"Tuh kan kamu begitu"


"Sudah Alex. Kita baru baikan"


"Baik sayang.. asal kamu senang. Aku akan turuti semua perkataanmu"