Heartless

Heartless
Episode 192



🌻Saat mulutmu tak mampu berbicara mengenai rasa sakit di hatimu maka air matalah yang akan bertindak sebagai jawaban🌻


.


.


.


.


Emilio berdiri di depan pintu ruang kerja sang tuan sambil memejamkan mata. Sudah 10 tahun ia melayani Juan dan tahu betul sifat dan karakter dari sang tuan.


Awalnya Emilio tak menyangka jika sang tuan memiliki kelainan s**s, tapi berjalannya waktu ia akhirnya tahu seperti apa wujud asli dari sang majikan. Hanya dia, tuan besar, dan beberapa anak buah mereka yang tahu kondisi dari Juan.


Teriakan kesakitan gadis berumur 15 tahun dari dalam ruangan sang tuan menandakan gadis itu sudah berubah menjadi wanita. Emilio tak kuasa harus mendengar suara kesakitan dari anak tersebut.


Beruntung ia menyuruh anak buah mereka untuk tidak mendekat ke arah ruang kerja Juan. Di dalam ruang kerja Juan ia sedang menikmati tubuh gadis kecil tersebut.


"Aku berharap semoga tidak ada lagi korban kebejatan tuan Juan" gumam Emilio dengan pelan.


Dia berharap semoga tidak ada lagi anak gadis yang di per***a oleh tuannya. Tak lama hpnya berbunyi tanda panggilan masuk dari tuan besarnya.


^^^"Halo tuan"^^^


"Apa ada korban lagi"


^^^"Iya tuan"^^^


Emilio bisa mendengar jika tuan besarnya yaitu Robert menarik napasnya dengan kasar dari seberang. Ia tahu jika Robert sudah tidak bisa mengontrol kebejatan sang anak lagi.


"Jauhkan dia dari anak gadis disekitarnya kalau perlu beri dia obat tidur dengan dosis yang banyak"


^^^"Baik tuan"^^^


"Apa ada informasi mengenai cucuku"


^^^"Maaf tuan anak buah saya masih mencari informasi lebih dalam mengenai nona Chloe"^^^


"Heemm! Laporkan semua perintah Juan kepadaku dan yang paling penting jaga keselamatan cucuku dari Juan" ucap Robert dengan suara tegas dari seberang.


^^^"Baik tuan"^^^


Robert segera mematikan panggilannya sepihak, Emilio yang masih mendengar suara teriakan dan ******* dari dalam ruang kerja Juan hanya bisa berharap cepat selesai.


Emilio lalu menyuruh anak buahnya untuk terus mencari informasi mengenai cucu perempuan dari Robert. Ia tahu jika nyawa cucu perempuan Robert Nidas terancam karena pamannya tidak menyukai dirinya.


~ Wesly Group ~


Saat ini Xavier tengah membaca berita mengenai kematian Adam Rosemary. Ia tak menyangka jika Adam akan mengakhiri hidupnya secepat ini.


"Itu pilihan bagus karena ia hanya menyusahkan banyak orang saja" ucap Xavier dengan sinis.


Xavier memang berencana untuk menghabisi Adam dan Laura saat itu, tapi beruntung istrinya meminta untuk membebaskan mereka karena tak mau ada nyawa yang hilang.


"Bos" ucap Albert dengan suara dingin.


"Heemmmm"


"Semua persiapan pernikahan bos sudah fix dan tinggal menunggu undangan di sebarkan saja bos"


"Kirim undangan sebagai undangan pesta biasa bukan pesta pernikahanku biar itu menjadi kejutan untuk para tamu" ucap Xavier.


"Apa keluarga Nidas juga diundang bos" ucap Albert.


"Apa aku segitu dekat dengan mereka jadi harus mengundang mereka" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Tidak bos" ucap Albert.


"Heeemmm! Jangan lupa undang sahabat istriku semua dan juga keluarga mereka"


"Baik bos" ucap Albert dengan semangat.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier menatap tajam Albert yang sedang tersenyum lebar. Seketika Albert kaget karena melihat tatapan tajam dari sang bos yang seakan ingin membunuhnya.


"Sepertinya kamu senang sekali" ucap Xavier dengan sinis.


"Tidak bos" ucap Albert kembali ke mode dinginnya.


"Bagaimana dengan perempuan itu"


"Maksudnya bos"


"Apa kamu sudah pikun Albert" ucap Xavier dengan kesal.


"Maaf bos"


"Jadi"


"Aku berencana akan melamarnya secepatnya bos"


"Heemmm! Jangan pernah menyakitinya Albert karena jika sampai istriku tahu kamu tahu akibatnya"


"Never bos"


"Heemmm"


Xavier lalu menyuruh Albert untuk menyiapkan meeting 10 menit lagi. Sekertaris Xavier segera memberi pengumuman kepada semua direksi dan jajaran pemimpin perusahaan untuk datang ke ruang meeting.


Xavier, Albert, dan Thomas masuk ke dalam ruang meeting setelah semuanya sudah hadir. Aura mencekam dan mengintimidasi seketika menyeruak di dalam ruangan tersebut.


"Meeting kita mulai" ucap Albert dengan dingin.


Semua jajaran direksi dan kepala bagian mulai menyampaikan hasil kerja mereka. Xavier mendengar semua penjelasan mereka dan sesekali bertanya mengenai apa yang mereka presentasikan.


"Siapa yang mengisi posisi direktur pemasaran" ucap Xavier dengan dingin.


"Dia adalah manajer bagian pemasaran dulu tuan yaitu Erik Scot tuan" ucap Richard.


"Heemmmm"


"Bagaimana kerja sama dengan perusahaan Syarif"


"Semuanya berjalan dengan lancar tuan bahkan kita mendapatkan keuntungan sebesar 40% tahun ini tuan" ucap Richard.


"Adakan rapat dengan semua kepala cabang besok pagi" ucap Xavier dengan suara tegas.


"Baik tuan"


"Ah! Satu lagi jangan pernah menerima tawaran kerja sama dengan perusahaan Nidas Corp"


"Baik tuan" ucap semua peserta meeting dengan serentak.


Xavier lalu berjalan keluar dengan angkuh diikuti oleh Albert dan Thomas. Seketika semua peserta meeting menarik napasnya dengan lega saat selesai meeting.


"Albert cari tahu data direktur pemasaran yang baru" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Baik bos" ucap Albert dengan dingin.


"Bos sepertinya orang-orang Zen sudah mulai mencari informasi mengenai nyonya" ucap Thomas.


"Tutup semua informasi mengenai istriku jangan biarkan mereka mendapatkan informasi lainnya" ucap Xavier sambil menatap tajam Thomas.


"Oke bos" ucap Thomas dengan gugup.


Xavier lalu masuk ke dalam ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Thomas dan Albert segera mengerjakan semua perintah Xavier tadi.


~ Mansion Xavier ~


Setelah mengetahui kabar kematian mantan daddynya, Chloe merasa sangat kasihan kepada keluarga Rosemary. Ia duduk di ruang baca milik suaminya dengan perasaan kasihan.


Chloe mengingat masa lalunya yang dulu sebelum pindah ke California.


Semoga daddy tenang disisi Tuhan, batin Chloe dengan tulus.


"Arghhhh" ringis Chloe saat merasakan tendangan dari bayinya.


Chloe mengelus perut buncitnya sambil tersenyum. Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh sang mommy bayinya itu seperti tidak mau ia bersedih.


"Apa anak mommy ini ngak mau mommy ingat masa lalu mommy" ucap Chloe dengan lembut.


Tendangan di perutnya seakan menjadi jawaban untuk dirinya. Chloe tertawa saat merasakan tendangan di perutnya, ia lalu mengajak anaknya berbicara sesuai dengan anjuran dokter Susi waktu itu.


"Ah! Gue belum ngajak Xavier buat beli keperluan anak gue nanti" ucap Chloe.


Chloe segera mengambil hpnya dan menghubungi video call kepada Xavier. Tak lama wajah tampang suaminya muncul di layar hp miliknya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


^^^"Sayang"^^^


"Iya baby"


^^^"Apa kamu sedang sibuk"^^^


"Iya sayang tapi untuk istriku aku selalu ada waktu"


^^^"Oh gitu ya sayang"^^^


"Iya sayang apa anak kita menginginkan sesuatu?" tanya Xavier dengan lembut dari seberang.


^^^"Tidak hubby aku hanya ingin tanya kapan kita berbelanja keperluan anak kita dan mendekorasi kamarnya sayang" ucap Chloe dengan berbinar-binar.^^^


"Sepulang kantor nanti kita pergi belanja sayang"


^^^"Betul ya sayang"^^^


"Iya sayang"


^^^"Uhm! Sayang apa aku boleh mendekor kamar anak kita"^^^


"Tapi kita belum tahu jenis kelaminnya sayang"


^^^"Tapi aku pengen sayang" ucap Chloe dengan mata mulai berkaca-kaca.^^^


"Baiklah minta pak Max menemanimu sayang aku akan suruh arsitek ke rumah kita sayang"


^^^"Oke hubby"^^^


"Sayang kamar anak kita tepat disebelah kamar kita saja ya sayang biar gampang kita masuknya"


^^^"Baiklah hubby"^^^


"Ya sudah aku kerja dulu ya sayang jaga dirimu dan anak kita"


^^^"Iya sayang love you"^^^


"Love you too baby"


Chloe segera mematikan panggilannya dan memanggil pak Max. Pak Max yang berdiri di depan pintu perpustakaan Xavier segera masuk saat mendengar panggilan sang nyonya.


"Uhmm! Pak Max temani aku ke kamar di samping kamar aku dan Xavier"


"Baik nyonya"


"Oh ya bentar lagi ada arsitek suruhan suamiku datang suruh dia segera masuk ke kamar di samping kamarku"


"Iya nyonya"


"Pak Max jangan lupa suruh Mike untuk memeriksa identitasnya sebelum di suruh masuk"


"Akan saya sampaikan nyonya" ucap pak Max dengan patuh.


Seperti perintah Chloe dan Xavier saat arsitek suruhannya sampai ia harus di periksa sendiri oleh Mike. Setelah memeriksanya Mike lalu membawa arsitek itu ke dalam kamar di samping kamar utama.


"Halo nyonya perkenalkan saya Aris arsitek yang disuruh oleh tuan Albert"


"Halo pak Aris saya Chloe"


"Iya nyonya" ucap Aris sambil menunduk.


Chloe tahu pasti Mike sudah memberi tahunya mengenai peraturan nomor satu di mansion. Chloe lalu mengajak Aris untuk segera pergi ke kamar untuk sang anak.


"Aku mau suasana kamarnya itu kalem tapi ada aura kuatnya juga, terus tolong buat ranjangnya menyerupai mobil sport ya" ucap Chloe dengan senang.


"Baik nyonya"


"Oh ya nanti kamu pasang juga pintu di samping sana untuk menghubungkan ke kamarku" ucap Chloe sambil menunjuk tembok bagian kanan.


"Apa kamar ini akan dibuat arena mainan juga nyonya"


"Jangan aku tidak mau anakku hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar saja"


"Baik nyonya apa ada warna anjuran dari nyonya untuk kamarnya"


"Taruh warna yang sesuai dengan anak-anak tapi tidak membuat mata sakit dan buat suasana kamarnya agar lebih hidup"


"Baik nyonya saya mengerti"


Chloe lalu menjelaskan apa-apa saja yang harus dikerjakan oleh Aris. Tak sampai disitu ia juga menyuruh Ares untuk membuat taman bermain di belakang mansion.


Setelah semua selesai Aris segera pulang untuk mulai membuat desainnya. Chloe yang merasa lelah menyuruh pak Max membawa makanan ke dalam kamarnya.


Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa besok adalah hari pesta pernikahan mereka. Xavier saat ini sedang berbicara dengan Albert dan lainnya di ruang kerja miliknya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Albert suruh sebagian anak buah kita untuk menyamar menjadi pelayan dan tamu untuk acara besok" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Baik bos tapi apa sebaiknya mereka jadi pengawal saja bos"


"Suruh mereka berbaur karena pasti ada yang ingin mencelakai diriku atau istriku" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Baik bos"


"Thomas kamu awasi cctv dan suruh hacker teammu untuk bersiaga"


"Semuanya sudah stand by bos" ucap Thomas.


"Kevin kamu selalu berada di dekat istriku besok bersama dengan Mike"


"Siap bos" ucap Kevin dan Mike serentak.


"Jangan biarkan satu orang pun datang mengunjungi istriku dengan alasan apapun"


"Baik bos" ucap keduanya serentak.


"Semua sahabat istriku apa sudah tiba"


"Sudah bos saat ini mereka sedang bersama dengan nyonya di ruang keluarga" ucap Albert.


"Heemmmm"


"Bos Zen dan nenek tua itu sudah membuat rencana ingin menculik nyonya besok, karena mereka yakin nyonya pasti akan hadir juga di sana" ucap Thomas sambil menyodorkan iPad kepada Xavier.


Xavier tersenyum sinis melihat rekaman cctv di mansion nenek Esma. Tak lama tawanya menggelegar di dalam ruang kerja miliknya membuat mereka semua yang berada di dalam bergidik ngeri.


"Aku tahu pasti rencana mereka seperti ini" ucap Xavier dengan sinis.


"Apa kita tangkap saja semua anak buahnya bos" ucap Albert.


"Biarkan mereka menikmati kebebasan mereka sampai besok"


"Maksudnya bos?" tanya Kevin dengan penasaran.


"Setelah pesta pernikahanku kita berburu" ucap Xavier dengan tawa sinis.


"Aku tidak sabar lagi bos" ucap Albert dengan tawa penuh arti.


"Aku juga bos" ucap Thomas.


"Jangan lupa membawaku bos" ucap Mike dengan senyum penuh arti.


"Bos aku jaga nyonya saja ya" ucap Kevin sambil cengesan.


Semua mata menatap tajam Kevin dengan senyuman sinis. Mereka tahu jika Kevin paling lemah dalam hal berburu dan lebih suka menunggu saja buruan di tempat istirahat.


"Dasar bocah penakut" ucap Albert dan Thomas serentak.


"Biarin bos aja tidak protes kenapa kalian berdua protes" ucap Kevin dengan sengit.


"Bocah ini sepertinya minta di hajar" ucap Thomas dengan kesal.


"Bos tolong ada kekerasan anak di bawah umur" ucap Kevin berlari menuju ke samping meja kerja Xavier menghindar Thomas.


"Diam!" bentak Xavier dengan suara tinggi.


Seketika semuanya diam tidak berbicara sepatah kata pun mendengar bentakan sang bos. Xavier menatap tajam Kevin dengan tatapan membunuh.


"Jaga istriku jangan ada luka satu pun ditubuhnya" ucap Xavier dengan suara tegas dan tatapan membunuh.


"Baik bos" ucap Kevin dengan gemetar.


Xavier lalu beranjak ke luar untuk pergi ke tempat sang istri. Sebelum itu ia menyuruh Albert dan lainnya untuk melakukan perintahnya saat itu juga.


Di ruang tamu ternyata ada Mira, Julian, dan Jeni yang sedang bercanda dengan Chloe. Mereka semua di undang ke pesta pernikahan Chloe besok bersama dengan keluarga mereka.


"Sayang" ucap Chloe melihat kedatangan suaminya.


"Mr. Wesly" ucap ketiganya dengan serentak sambil membungkuk.


"Heemmmm"


Suasana yang awalnya ceria seketika berubah menjadi dingin karena kehadiran Xavier. Chloe yang tahu sahabatnya merasa gugup berada di dekat suaminya segera mengajak Xavier untuk ke taman kaca.


"Sayang aku pengen ke rumah kaca" ucap Chloe dengan manja.


"Baiklah sayang" ucap Xavier dengan lembut.


Keduanya lalu pergi meninggalkan Mira dan lainnya. Chloe berbalik sambil memberi isyarat kepada Mira untuk melihat hpnya, Mira yang tahu maksud Chloe segera mengambil hpnya.


"Kita disuruh Chloe untuk kembali ke hotel saja karena tahu kalau kita gugup jika ada suaminya" ucap Mira dengan cengesan.


"Ya benar apa kata Chloe" ucap Jeni.


Ketiganya lalu pergi keluar untuk kembali saja ke hotel. Saat di ruang tamu Mira sempat berpapasan dengan Albert yang berjalan dengan cepat melewati mereka.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Mira menatap Albert dengan perasaan rindu dan mata berkaca-kaca. Ia pikir jika disini ia bisa berbicara dengan Albert membahas masalah mereka waktu itu tapi ternyata tidak.


"Apa loe ngak kangen sama gue seperti gue yang kangen banget sama loe" gumam Mira dengan pelan.


"Ayok Mira kenapa loe bengong aja disitu" ucap Jeni menyadarkan Mira dari pikirannya.


Mira segera bergegas naik ke mobil Julian dan pergi ke hotel mereka menginap. Tanpa Mira sadari ternyata Albert melihat Mira dengan tatapan cinta dari dalam mobil, ia ingin memeluk Mira tapi saat ini dirinya sangat sibuk.


"Tunggu aku sayang secepatnya aku akan segera menemuimu" ucap Albert dengan pelan.


~ Arthur Hotel ~


Salah satu hotel milik Xavier yang mengambil nama tengahnya menjadi tempat pesta Xavier. Hotel Arthur sendiri merupakan hotel bintang 7 di dunia dan sangat berkelas.


Sudah begitu banyak pengawalan dan polisi yang berjaga di luar hotel Arthur dan di dalamnya juga. Semua wartawan berbondong-bondong berdiri di depan pintu kedatangan tamu untuk menyaksikan siapa saja tamu dari pesta orang nomor satu di dunia.


Pesta yang diadakan oleh Xavier sendiri masih tertutup rapat mengenai maksud pesta itu. Nenek Xavier yang di undang juga turut hadir disana bersama dengan keluarganya.


"Wah rame sekali" ucap Cika.


"Tutup mulutmu Cika" bentak nenek Esma.


"Iya nek maaf" ucap Cika sambil menunduk.


Zen yang melihat sang istri dibentak hanya diam saja dan bersikap acuh. Ia sangat penasaran seperti apa wajah wanita pujaan Xavier karena hasil penyelidikan anak buahnya selalu buntu.


Semua tamu undangan sudah hadir bahkan para tamu adalah para klien dari Wesly Group dan juga artis ibukota terkenal. Bahkan pemerintah juga turut hadir dalam pesta yang diadakan oleh Xavier.


Stasiun televisi yang merekam jalannya acara juga sangat bersyukur dipilih oleh Wesly Group. Tak lama Xavier muncul dari pintu samping dengan ditemani oleh Albert dan Thomas.


Suara blits menyambut kedatangan tuan pesta dan sekaligus orang paling berpengaruh di dunia. Semua tamu yang ingin menyapa Xavier segera diberi tatapan tajam oleh Albert untuk tidak mendekat.


"Selamat malam para hadirin sekalian dan selamat datang di pesta bosku sekaligus saudaraku yaitu Xavier Arthur Wesly, kita beri tepuk tangan untuk tuan pesta" ucap Kevin sebagai MC dadakan yang ditunjuk oleh Xavier.


Prok.....prok.....prok.......prok.....


Suara riuh tepuk tangan membahana di ballroom hotel Arthur. Xavier sendiri sedari tadi menjadi bintang utama malam ini, nenek Esma dan keluarganya menatap Xavier dengan tatapan benci.


"Pastinya kalian bertanya-tanya sebenarnya pesta malam ini diadakan untuk apa, sedikit bocoran malam ini adalah malam pesta perayaan pernikahan Xavier Arthur Wesly" ucap Kevin dengan penuh senyuman.


Sontak semua tamu hadirin berbisik-bisik dengan rekan mereka tentang apa maksud pesta kali ini dan perkataan Kevin tentang pernikahan. Tak lama lampu padam dan hanya menyala di arah pintu samping.


"Tanpa berlama-lama mari kita sambut Nyonya Chloe Elisabeth Loenardo - Wesly istri dari saudaraku Xavier Arthur Wesly" ucap Kevin dengan suara tegas.


Pintu dibuka dan perlahan-lahan Chloe muncul ditemani oleh Mira dan Jeni di sampingnya. Ia memakai gaun pengantin berwana cream senada dengan jas mahal Xavier.


Semua mata tamu kaget dan terpesona dengan kecantikan dari Chloe yang saat ini bak bidadari. Perut buncitnya tertutup dengan gaun wedding dress yang saat ini ia kenakan.


Wah cantik banget istri Mr.Wesly


Istri Mr.Wesly seperti bidadari


Begitulah ucapan para tamu yang ada disana. Para wartawan sangat senang karena mendapat berita yang sangat menghebohkan saat ini.


Nenek Esma tak kalah terkejut dengan apa yang terjadi saat ini, karena ternyata Xavier sudah menikah dengan Chloe tanpa sepengetahuannya. Malam itu semua dunia maya kaget dengan berita tentang pernikahan orang paling kaya no.1 di dunia.


...❄❄❄❄❄...


To be continue............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀