
π»Jangan pernah merasa berkecil hati dengan apa yang kamu punya saat ini karena tanpa kamu sadari ternyata setiap orang memiliki porsi mereka masing-masingπ»
.
.
.
.
Mpok Risma tiba di bandar udara LAX di California tepat pukul 19:00 waktu setempat. Saat keluar dari pintu kedatangan ia langsung disambut oleh anak buah Juan Nidas yang sudah menunggunya.
"Mrs. Risma" ucap anak buah Juan.
"Yeah betul saya sendiri" ucap mpok Risma dengan sombong.
"Silahkan ikut saya"
"Baik"
Mpok Risma mengikuti orang tersebut entah kemana dia akan dibawa. Tak lama mobil berhenti di salah satu gedung apartemen menengah di tengah kota California.
Mpok Risma keluar dan melihat gedung di depannya sambil tersenyum senang.
Aku bakal pamer ke orang kampung nih kapan lagi bisa tinggal di apartemen mewah, batin mpok Risma.
Menurut mpok Risma entah itu apartemen mewah atau tidak yang penting ia berada di luar negeri. Keduanya lalu masuk ke dalam apartemen dan segera menuju ke lantai 4.
Sampai di lantai 4 mpok Risma langsung menerobos masuk ke dalam apartemen setelah pintu dibuka. Anak buah Juan hanya tersenyum mencemooh melihat kelakuan mpok Risma barusan.
"Dasar orang miskin" gumam anak buah Juan.
"Wah gede banget tempatnya" ucap mpok Risma dengan decak kagum.
"Untuk sementara anda akan tinggal disini Mrs. Risma dan mungkin besok baru tuan akan menghubungi anda"
"Baiklah katakan pada tuanmu aku sangat puas dengan tempatnya"
"Akan saya sampaikan dan mohon anda tidak membuat masalah selama disini"
"Ckk!! Aku tahu aku bukan anak kecil" ucap mpok Risma dengan kesal.
"Baiklah Mrs. Risma kalau begitu saya permisi"
"Heeemmmm"
Setelah kepergian anak buah Juan dari apartemennya, mpok Risma segera memfoto apartemennya itu untuk dipamerkan di akun instagram miliknya.
"Pasti orang kampung semua bakal iri sama ane" ucap mpok Risma dengan sombong.
Di parkiran anak buah Juan segera memberi kabar kepada tuannya mengenai mpok Risma. Juan yang berada di mansionnya tertawa sinis saat mendengar informasi anak buahnya.
"Semua manusia sama saja muka uang" ucap Juan dengan sinis.
~ Mansion Xavier ~
Hari berlalu dengan cepat tanpa terasa sudah pagi. Xavier pagi ini bangun lebih awal dan mengajak sang istri untuk berjalan di sekitar taman sesuai anjuran dokter saat terakhir kali mereka mengecek kandungan Chloe.
"Sayang" ucap Chloe sambil mengelus perut buncitnya.
"Heemmmm"
"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita nanti" ucap Chloe dengan lembut.
"Sudah baby bahkan aku menyiapkan dua nama"
"Dua?" tanya Chloe dengan bingung.
"Heemmm! Aatu untuk anak kita jika dia laki-laki dan satunya lagi jika dia perempuan"
"Wah suamiku ternyata daddy yang sempurna" puji Chloe sambil mengangkat jempolnya.
"Aku tau kok sayang" ucap Xavier dengan sombong.
Melihat hal tersebut Chloe memutar malas matanya karena sifat sombong suaminya itu. Chloe lalu meminum jus yang baru saja di bawakan oleh pak Max.
Saat melihat pak Max entah kenapa ia sangat penasaran dengan kehidupan pribadinya. Pak Max yang menyadari tatapan mata sang nyonya hanya tersenyum saja.
...γ γ γ π π π γ γ γ...
"Pak Max aku mau tanya" ucap Chloe dengan suara tegas.
"Iya nyonya silahkan" ucap pak Max dengan sopan.
Xavier hanya diam mendengar pembicaraan keduanya karena menurutnya tidak penting. Berbeda dengan Chloe yang sangat penasaran dengan kehidupan pribadi pelayan di mansion ini.
"Apa pak Max sudah menikah" ucap Chloe dengan cepat.
Pak Max seketika kaget dengan pertanyaan dari Chloe. Karena menurutnya jarang ada majikan yang menanyakan urusan pribadi pelayan mereka.
"Maaf nyonya tapi saya tidak bisa menjawab" ucap pak Max dengan sopan.
"Kenapa" ucap Chloe dengan bingung.
"Uhmm! Itu" ucap pak Max bingung harus bilang apa.
Chloe lalu melihat kearah sang suami dan meminta jawaban atas pertanyaannya. Xavier mengelus puncak kepala Chloe dengan lembut sambil sesekali menciumnya.
"Sayang"
"Itu privasi pak Max sayang kamu tidak usah tanya lagi" ucap Xavier dengan lembut.
"Tapi aku penasaran hubby" ucap Chloe dengan wajah memelas.
"Itu urusan pak Max kalau dia tidak mau jawab ya itu haknya dia sayang" ucap Xavier.
Seketika pak Max kaget dengan ucapan Xavier barusan.
Bukannya ini perintah tuan untuk tidak boleh memberitahukan privasi mereka kepada yang lainnya selama bekerja di mansion, batin pak Max.
"Pak Max" ucap Chloe dengan memelas.
"Jangan tampilkan wajah seperti itu di depan pria lain baby" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Iya sayang" ucap Chloe sambil cekikan.
Dia tahu sang suami sangat cemburuan dan terlalu posesif kepadaya. Tak mau bertanya lagi Chloe mengajak Xavier untuk masuk ke dalam karena ia ingin mandi.
Pak Max lalu menyuruh para koki untuk menyiapkan sarapan buat tuan dan nyonyanya. Selesai mandi keduanya lalu keluar ke ruang makan untuk sarapan.
Berhubung hari ini weekend Chloe memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan sang suami. Xavier pun hanya mengiyakan ucapan sang istri karena ia juga butuh waktu untuk keluarganya.
Tapi rencana mereka tiba-tiba saja gagal setelah kedatangan Albert dan Thomas. Chloe yang tahu apa yang akan terjadi segera pergi ke kamar menaiki lift.
"Tunggu aku di ruang kerja" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Baik bos" ucap keduanya dengan serentak.
Saat masuk ke dalam kamar Xavier melihat istrinya sedang duduk di sofa sambil menonton. Melihat Xavier yang datang Chloe seakan tidak perduli.
"Kamu kenapa sayang" ucap Xavier dengan lembut.
"Katanya hari ini full buat aku hubby" ucap Chloe dengan kesal.
"Maaf sayang kamu kan tahu aku itu pimpinan dari begitu banyak orang yang mengadu nasip di perusahaan kita"
Chloe mendengar perkataan suaminya dan menyesal. Ia tahu bukan hal mudah menjadi seorang pemimpin dari perusahaan besar apa lagi ribuan orang bekerja di perusahaan suaminya.
"Maaf hubby"
"It's okay baby"
"Ya sudah kamu temuin Albert sana mungkin ada hal penting yang mau dia lapor"
"Iya sayang"
"Suruh pak Max antar stroberi ke kamar ya sayang"
"Heemmm"
Xavier beranjak keluar dari kamar dan menyuruh pak Max membawa pesanan sang istri. Saat masuk ke ruang kerjanya Xavier menatap keduanya dengan tatapan tajam.
"Aku harap informasi yang kalian bawa tidak mengecewakan" ucap Xavier dengan suara dingin.
Albert segera menyerahkan iPad kepada Xavier tentang informasi yang baru saja dia dapat. Raut muka Xavier seketika berubah menjadi sangat menyeramkan.
"Kapan"
"Semalam bos"
"Ckk!! Jadi anak pertama si berengsek itu yang menyuruhnya" ucap Xavier dengan sinis.
"Iya bos dan mereka berniat menggunakan mpok Risma untuk mendekati nyonya" ucap Albert dengan datar.
...γ γ γ π π π π γγγ...
Seketika tawa Xavier bergema di dalam ruangan itu, Albert dan Thomas menelan saliva dengan kasar saat mendengar tawa sang bos yang seperti iblis.
"Apa mereka pikir bisa mendekati istriku" ucap Xavier dengan cemooh.
"Aku rasa mereka tidak bisa melewati pengawal kita bos tapi aku ragu dengan nyonya" ucap Albert.
"Apa maksudmu" ucap Xavier sambil menatap tajam Albert.
"Nyonya orang yang mudah memaafkan bos aku takutnya mereka menggunakan kesempatan itu untuk mendekati nyonya bos" ucap Albert.
Xavier memikirkan ucapan Albert dan ia akui perkataan Albert, benar istrinya itu orang yang mudah memaafkan orang takutnya hal itu akan di gunakan oleh mereka.
"Kawal istriku 24 jam dan jangan biarkan mereka bertemu dengan Chloe" ucap Xavier dengan suara tinggi.
"Baik bos" ucap keduanya serentak.
"Suruh Kevin untuk mulai besok di mansion jangan ke rumah sakit lagi" ucap Xavier.
"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin.
"Thomas cari tahu data gadis yang di tolong istriku aku tidak mau mereka mendekatinya dengan maksud lain" ucap Xavier sambil menatap tajam Thomas.
"Oke bos" ucap Thomas.
Keduanya lalu pergi keluar untuk menjalankan perintah Xavier barusan. Xavier sendiri segera pergi ke kamar untuk menemani sang istri.
Sampai disana Xavier melihat sang istri yang sedang berbicara serius dengan pak Max. Keduanya lalu melihat ke arah pintu saat mendengar suara langkah.
"Pergi" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik tuan" ucap pak Max.
Setelah pak Max pergi Xavier menatap sang istri dengan tatapan tajam. Chloe yang melihat hal tersebut tersenyum manis kepada Xavier.
"Jadi" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Aku tanya tentang pribadi pak Max dan jawabannya sungguh mengejutkan sayang" ucap Chloe dengan semangat.
"Heemmmm"
"Jangan bilang kamu sudah tahu sayang" ucap Chloe menatap selidik Xavier.
"Well semua yang bekerja denganku dan paling dekat dengan aku sudah aku ketahui baby" ucap Xavier dengan santai.
"Apa lalu kenapa kamu tidak menceritakannya padaku sayang" ucap Chloe dengan kaget.
"Kan kamu tidak tanya sayang" ucap Xavier dengan santai.
"Oh iya benar juga ya sayang" ucap Chloe sambil cekikan.
"Heemmmm"
Xavier lalu menghabiskan waktu dengan sang istri di dalam kamar. Di luar pak Max memberi perintah kepada para pelayan agar tidak ada yang menganggu keduanya.
~ Mansion tua Wesly ~
Saat ini sedang terjadi keributan hebat di mansion nenek Esma. Sedari pagi Cika terus berteriak dan mengamuk karena masih merasa kehilangan suaminya.
Sintya yang melihat hal tersebut merasa lucu karena ia bingung dengan keluarganya.
Ternyata keluargaku ini penuh dengan drama, batin Sintya dengan sinis.
"Kamu yang sabar sayang ikhlaskan kepergian Zen" ucap Mita.
"Apa yang dibilang mommy benar Cika hidup kamu masih panjang" ucap Arnold sambil mengelus puncak kepala sang adik.
"Tapi aku tidak rela kehilangan suamiku mom" ucap Cika sambil histeris.
"Cika tenangkan dirimu semua sudah terjadi tidak perlu di tangisi lagi!" bentak nenek Esma.
"Nenek tega ngomong kayak gitu sama aku karena bukan nenek yang ngerasain" ucap Cika dengan histeris.
"Seharusnya kamu mikirin bagaimana cara membalas kematian suamimu bukan menangis seperti ini" ucap nenek Esma dengan suara tinggi.
Seketika semuanya diam karena tidak mau mendapat amarah dari nenek Esma. Cika memikirkan perkataan neneknya barusan dan semua yang dibilang nenek Esma itu benar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ya benar kata nenek" ucap Cika yang mulai tenang.
"Gitu dong baru anak daddy" ucap Reynald.
Melihat hal tersebut Sintya hanya tertawa di dalam hatinya. Menurutnya keluarganya hanya menghabiskan waktu dengan hal yang tidak berguna.
"Sampai mati pun kalian tidak akan pernah bisa menang lawan ka Xavier" gumam Sintya dengan pelan.
Sang mommy yang duduk disampingnya hanya melihat anaknya dengan kening berkerut. Pasalnya setelah kematian Zen anaknya itu berubah tidak seperti dulu lagi.
"Sayang coba kamu lihat Sintya" bisik Rita di telinga sang suami.
Bram melihat putrinya dengan kening berkerut, setahunya sang anak sekarang mulai lebih berani mengekspresikan diri di depan umum. Keduanya saling melihat dan mengangkat kepala tanda apa yang mereka pikirkan memang benar.
"Untuk saat ini kita tunda dulu pembalasan kita kepada anak sialan itu" ucap nenek Esma.
"Tapi kenapa mommy" ucap Reynald dengan penasaran.
"Apa kamu tidak lihat berapa kerugian kita waktu lalu dan sampai saat ini kita kehabisan uang untuk membalaskan dendam kita" ucap nenek Esma dengan suara tinggi.
"Oh iya mommy" ucap Reynald.
Nenek Esma dan lainnya memikirkan cara untuk menstabilkan ekonomi mereka dulu sebelum bertindak. Sintya lalu pergi ke lantai dua setelah mereka semua selesai berbincang di ruang keluarga.
~ Sky apartment ~
Di waktu yang sama tapi berbeda tempat lebih tepatnya di apartemen Sky, mpok Risma sedang tiduran di kasur empuknya. Tak lama tidurnya terganggu saat hpnya berbunyi dengan kencang.
"Siapa sih ganggu orang tidur aja" ucap mpok Risma dengan kesal.
Saat mengambil hp tiba-tiba matanya seakan mau lari keluar melihat nama yang tertera disana. Tak mau menunggu lama lagi mpok Risma segera menjawab telponnya.
^^^"Halo tuan" ucap mpok Risma dengan gugup.^^^
"Beraninya kamu baru menjawab panggilanku" bentak Juan dengan suara tinggi dari seberang.
^^^"Maaf tuan saya baru lihat hp"^^^
"Hah! Dasar menyusahkan" ucap Juan dengan bahasa Italia.
Mpok Risma hanya diam mendengar semua umpatan Juan, beruntung ia tidak mengerti bahasa Italia jika tidak sudah dipastikan ia akan sangat marah.
"Kamu awasi anak sialan itu"
^^^"Baik tuan"^^^
"Kalau perlu kamu dekati dia gunakan cara apapun sampai bisa bertemu dengannya"
^^^"Baik tuan akan saya usahakan"^^^
Juan langsung mematikan panggilannya sepihak, hal tersebut sukses membuat mpok Risma emosi. Ia berteriak di dalam apartemen sambil melempar bantal.
Mpok Risma lalu bangun dan membersihkan tubuhnya, selesai ia langsung memikirkan cara bagaimana untuk mendekati Chloe.
Tak lama ia tersenyum penuh arti saat melihat data tentang Xavier dan Chloe.
Beruntung banget nasib anak sialan ini bisa nikah sama orang terkaya di dunia, batin Mpok Risma.
Mpok Risma lalu mengumpulkan semua informasi tentang Chloe, ia juga memikirkan bagaimana cara agar bisa masuk ke mansion Chloe karena pengawalan disana sangat ketat.
"Ah! Aku akan manyamar untuk lamar pekerjaan di mansion anak sialan itu" ucap mpok Risma dengan senang saat melihat berita lowongan pekerjaan di mansion Xavier.
Hari itu juga mpok Risma segera menyiapkan semua kebutuhan yang ia butuhkan. Setelah dirasa cukup ia segera beristirahat untuk besok.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Roma, Italia ~
Robert saat ini tengah berada di ruang kerjanya memikirkan informasi yang baru saja ia dapat dari anak buahnya. Ia lalu memberi perintah kepada tangan kanannya untuk melindungi Chloe.
"Awasi pergerakan perempuan sialan itu jangan sampai menyentuh cucuku" ucap Robert dengan suara tinggi.
"Baik tuan"
"Satu lagi taruh orang kita di sekitar cucuku karena aku tau watak Juan"
"Apa saya sadap hp milik tante sang nona tuan"
"Jangan karena aku tahu Juan sudah memasang alat pelacak di hp perempuan itu" ucap Robert dengan suara tegas.
"Baik tuan"
Robert lalu menyuruh sang tangan kanan untuk pergi, kemudian ia beranjak pergi ke kamar untuk melihat kondisi dari sang istri.
"Apa kabar kamu Katy bagaimana perasaanmu hari ini" ucap Robert sambil duduk di samping istrinya.
Katy hanya memandang ke arah depan tidak melihat ke arah suaminya. Hati Robert sakit melihat sang istri yang tidak merespon setiap perkataannya selama ini.
Ia menunduk sedih melihat keadaannya saat ini. Tanpa Robert sadari ternyata kondisi Katy sudah lebih baik setelah mendengar cucunya dari sang putri masih hidup selama ini.
Maafkan aku Robert ini semua balasan untuk dirimu di masa lalu, batin Katy dengan sedih.
~ Mansion Xavier ~
Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah pagi. Pagi ini pak Max memberitahu kepada Albert jika hari ini dia akan melakukan wawancara untuk pelayan di bagian taman.
"Urus semuanya dengan teliti dan ingat lihat data diri mereka sampai ke akar-akarnya pak Max" ucap Albert dengan suara dingin.
"Baik tuan Albert" ucap pak Max.
Pak Max segera memberi perintah kepada para pengawal untuk menyiapkan paviliun belakang. Albert segera menuju ke meja makan untuk menunggu sang bos dan nyonya.
Selang 10 menit Chloe turun dengan Xavier sambil bergelayut manja di lengan suaminya. Semua pelayan menunduk hormat saat tuan dan nyonya mereka lewat.
"Selamat pagi tuan dan nyonya" ucap pak Max dengan sopan.
"Pagi juga pak Max" ucap Chloe dengan senyum manis.
Xavier seperti biasa hanya menampilkan wajah datar kepada orang lain. Keduanya lalu duduk bersama dengan Albert untuk sarapan, selama sarapan hanya ada keheningan saja.
"Sayang aku berangkat dulu ya" ucap Xavier sambil mencium b***r Chloe.
"Hati-hati hubby" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Baik-baik ya baby di dalam sana" ucap Xavier dengan senyum bahagia.
"Iya daddy cari uang yang banyak ya" ucap Chloe dengan suara anak kecil.
Xavier tertawa mendengar perkataan sang istri, ia lalu pergi bersama dengan Albert dan pengawal menuju ke perusahaan.
Setelah melihat suaminya pergi Chloe kembali melanjutkan sarapannya. Selesai ia lalu pergi ke rumah kaca untuk melihat bunga mawar kesukaannya.
"Ada apa disana" ucap Chloe saat melihat begitu banyak pengawal di paviliun belakang.
"Hari ini ada wawancara untuk pelayan bagian taman kaca nyonya" ucap sang pelayan.
"Siapa yang mewawancarai mereka" ucap Chloe dengan penasaran.
"Pak Max nyonya" ucap sang pelayan.
Chloe merasa jika bisa saja musuh mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk ke mansiion.
Gue harus bicara dengan Xavier sebelum sesuatu terjadi, batin Chloe.
...βββββ...
To be continue............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€