Heartless

Heartless
Episode 219



🌻Jika suatu saat kamu sudah menggapai impianmu maka bantulah orang yang masih berusaha untuk menggapai impiannya juga🌻


.


.


.


.


Sudah dari subuh Chloe bangun dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Meski di mansion mereka memiliki banyak pelayan dan koki, tapi urusan makan minum dan keperluan keluarganya Chloe akan turun tangan sendiri.


"Pak Max" panggil Chloe sambil memblender beberapa jenis sayuran buat baby Xander.


"Iya nyonya ada yang bisa saya bantu" ucap pak Max dengan sopan.


"Tolong hubungi Kevin dan suruh dia datang ke mansion sebentar jam 07:00 pagi" ucap Chloe.


"Baik nyonya"


Pak Max lalu mengambil handphone miliknya dan menghubungi Kevin. Pada dering ke lima barulah Kevin menjawab panggilannya.


"Halo siapa ini" ucap Kevin dengan suara serak tanpa melihat layar hp.


^^^"Halo selamat pagi tuan Kevin"^^^


"Pak Max" ucap Kevin yang mengenali suara pak Max.


^^^"Iya tuan Kevin"^^^


"Ada apa pak Max telpon aku sepagi ini"


^^^"Maaf menganggu tuan tapi nyonya menyuruh saya untuk memberitahu tuan Kevin untuk datang ke mansion tepat pukul 07:00 pagi" ucap pak Max dengan suara tegas.^^^


"Untuk apa pak Max"


^^^"Saya tidak tahu tuan Kevin kalau begitu terima kasih"^^^


Pak Max segera mematikan panggilannya sepihak. Kevin yang berada di apartemennya menjadi sangat kesal karena panggilannya dimatikan sepihak oleh pak Max.


"Tidak bos dan pelayannya sama saja menyebalkan" ucap Kevin dengan kesal.


Chloe yang sudah selesai menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya segera pergi ke lantai dua. Sepanjang jalan Chloe hanya menampilkan senyum. manis membalas sapaan para pelayan.


Tiba di kamar Chloe tersenyum melihat suaminya yang masih tertidur di bawah selimut. Chloe melihat ternyata sudah pukul 06:15 dan suaminya masih belum bangun juga.


"Hubby wake up" ucap Chloe dengan lembut membangunkan Xavier.


"5 menit lagi baby aku masih ngantuk" ucap Xavier dengan suara serak.


Chloe membenarkan selimut di tubuh suaminya lalu mencium kening Xavier dengan lembut. Ia membiarkan Xavier tidur lebih lama lagi karena semalam suaminya mengerjakan berkas-berkas perusahaan hingga pukul 02:00 dini hari.


Chloe lalu bergegas ke kamar sang anak untuk melihat apa anaknya sudah bangun atau belum. Tiba di dalam kamar Xander baby sitter Xander menunduk memberi hormat kepada Chloe.


"Selamat pagi nyonya" ucap Risya baby sitter Xander.


"Selamat pagi juga apa Xander sudah bangun" ucap Chloe dengan lembut.


"Belum nyonya" ucap Risya.


"Tolong siapkan air mandi Xander biar dia bangun bisa segera mandi" ucap Chloe.


"Baik nyonya" ucap Risya dengan sopan.


Chloe berjalan menuju box anaknya melihat sang buah hati yang masih terlelap. Chloe tersenyum melihat tidur sang anak yang sangat persis seperti suaminya itu.


"Kamu memang sangat mirip dengan daddy sayang" ucap Chloe dengan pelan.


Tak lama baby Xander menggeliat dan membuka matanya perlahan-lahan. Mata biru kecil itu menyesuaikan pandangannya melihat ke arah depan, senyum manis Chloe menyambut pagi sang anak.


"Anak mommy sudah bangun ya" ucap Chloe sambil mengendong baby Xander.


Chloe menepuk bokong baby Xander dengan pelan sambil menggendongnya. Baby Xander sangat nyaman dan suka sekali berada di gendongan sang mommy dan daddy.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Chloe membawa baby Xander menuju ke kamar mereka untuk melihat apakah suaminya sudah bangun atau belum. Sampai disana mata baby Xander berbinar melihat Xavier yang masih tertidur.


"Da da da da da da" celoteh baby Xander.


"Daddy masih tidur sayang jangan gangguin daddy ya" ucap Chloe dengan pelan.


Tak perduli ucapan sang mommy baby Xander terus memberontak ingin ke Xavier. Chloe yang sudah pusing dengan tingkah sang anak memilih menuruti keinginan sang anak.


Xander duduk di punggung Xavier sambil memukul punggung sang daddy. Xavier yang merasa punggungnya di pukul terus menerus memilih untuk melihat.


Senyum manis dari kedua orang yang paling dicintainya langsung menyambut Xavier. Xavier membalikkan badannya dan segera mengendong sang anak dan bermain bersama dengan baby Xander.


"Duduk di sampingku sayang" ucap Xavier dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


Chloe segera naik ke ranjang dan duduk di samping keduanya. Xavier memeluk tubuh Chloe dengan sebelah tangan sambil memangku sang anak.


"Sayang berikan Xander padaku biar aku menyusuinya pagi ini" ucap Chloe dengan lembut.


"Cih! Itu kan punyaku kan sayang" ucap Xavier dengan kesal.


"Hubby" ucap Chloe dengan tatapan tajam.


"Heeemmmm"


Baby Xander lalu di beri asi oleh Chloe, melihat hal tersebut tubuh Xavier menjadi panas dingin karena hasratnya terbangun. Chloe yang tahu hanya menggelengkan kepalanya.


"Sayang" ucap Xavier dengan suara serak.


"Ada anak kita sayang" ucap Chloe.


Xavier mencium leher belakang Chloe sambil memeluknya dari belakang. Chloe menutup mata menahan gairahnya karena saat ini ia masih menyusui anaknya.


"Hubby" ucap Chloe.


"Berikan Xander pada pengasuhnya untuk dimandikan ya sayang"


"Tapi" ucap Chloe yang langsung dipotong Xavier.


"I want you baby" ucap Xavier dengan suara serak.


Chloe hanya mengangguk kepalanya karena ia harus menjalankan kewajibannya sebagai istri. Selesai memberikan asi kepada Xander, Chloe lalu memberikan Xander pada Risya untuk dimandikan.


Baru saja Chloe masuk ke dalam kamar ia sudah di serang Xavier dengan menggebu-gebu. Pagi itu ******* keduanya kembali terdengar beruntung kamar mereka kedap suara.


Selesai dengan ritual paginya Chloe dan Xavier lalu turun ke bawah untuk sarapan. Sampai di meja makan Chloe segera mengambil baby Xander dari Risya untuk memberi anaknya makan.


"Selamat pagi bos dan nyonya" ucap Kevin dan Thomas serentak.


"Heeemmmm"


"Pagi juga Kevin, Thomas ayok sarapan bareng" ajak Chloe.


"Baik nyonya" ucap keduanya serentak.


Mereka berempat mulai sarapan tapi Chloe sedari tadi belum juga sarapan karena mengurus anaknya. Melihat hal tersebut Xavier mengambil piring Chloe dan menyuapi sang istri.


"Kamu harus sarapan sayang" ucap Xavier dengan lembut.


"Iya sayang"


Semua yang berada di sana tersenyum bahagia melihat keharmonisan keluarga itu. Baru kali ini para pelayan melihat pandangan ini saat tuan mereka yang terkenal kejam dan dingin berubah menjadi lembut hanya di depan keluarganya.


Selesai sarapan Chloe dan Xavier segera bersiap untuk pergi ke mansion tua Wesly. Kevin di beri perintah untuk menjaga Xander karena anaknya itu tidak di bawa.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Kevin jika Xander menangis bawa saja dia ke kamarnya untuk melihat koleksi mobil sport mainannya" ucap Chloe.


"Apa cara itu akan berhasil nyonya" ucap Kevin.


"100% berhasil karena Xander sangat mirip dengan daddynya yang menyukai mobil sport" ucap Chloe.


"Oke nyonya" ucap Kevin sambil mengangkat jempolnya.


Chloe lalu berpamitan pada sang anak agar anaknya itu tidak menangis saat di tinggal. Xavier pun tak lupa mencium baby Xander sebelum pergi, keduanya lalu pergi setelah melihat baby Xander tidak menangis.


~ Mansion tua Wesly ~


Suasana duka sangat terasa saat mobil Xavier dan pengawalnya sampai. Banyak rekan kerjanya yang hadir di sana karena mengingat jika nenek Esma adalah nyonya besar Wesly.


Bendera putih berkibar di depan mansion yang menandakan ada kedukaan. Xavier masuk bersama Chloe di ikuti oleh Thomas dan Mike di belakang mereka.


Semua pengawal mereka berjaga di luar di sekitar mansion. Semua tamu yang ada memberi hormat saat Xavier masuk ke dalam bersama Chloe, isak tangis mulai terdengar saat dari pintu masuk mansion.


"Aku turut berduka cita" ucap Xavier dengan suara dingin.


Semua orang tahu jika hubungan keluarga itu tidak harmonis semenjak kematian tuan besar Wesly. Apa lagi melihat nyonya besar Wesly yang dengan tidak tahu malu berselingkuh dari tuan besar Wesly.


"Untuk apa kamu datang kesini" ucap Reynald dengan suara tinggi.


Semua orang memandang Reynald dengan sinis, mereka berpikir jika Reynald adalah orang yang paling bodoh saat ini.


"Ka cukup ini hari berduka kita jangan membuat keributan" ucap Rita dengan suara serak karena terlalu lama menangis.


Reynald mengikuti ucapan adiknya karena biar bagaimana pun saat ini bukan waktu yang tepat berdebat. Chloe dan Xavier maju ke depan mengambil setangkai bunga lalu di taruh di depan peti nenek Esma.


"Semoga anda bisa jalan dengan damai" ucap Chloe dengan pelan.


Xavier menatap nenek Esma dengan tatapan tajam tidak ada kesedihan sedikit pun. Ia mengingat semua perbuatan nenek Esma selama masa hidupnya kepada kedua orang tuanya bahkan kakeknya sendiri.


Semua perbuatanmu di masa lalu kepada orang yang paling kucintai terbayar saat kamu meninggal, semoga tenang di alam sana, batin Xavier.


Chloe dan Xavier lalu menunggu untuk mengikuti pemakaman nenek Esma sejam lagi. Tiba di tempat pemakaman Xavier memakai kaca mata hitamnya dan hanya menampilkan wajah datar saja.


Selama proses pemakaman Chloe merasa tidak tenang. Perasaannya tertuju kepada sang anak yang di tinggal di mansion, Xavier yang melihat istrinya gelisah dari tadi segera bertanya.


"Ada apa baby" bisik Xavier.


"Aku kepikiran Xander sayang perasaan aku tidak tenang" ucap Chloe dengan gelisah.


Xavier lalu memberi isyarat kepada Thomas untuk mengecek cctv. Tak lama Thomas membisikan sesuatu di telinga Xavier yang membuatnya kaget.


Ternyata ikatan batin ibu dan anak sangat kuat, batin Xavier.


"Apa kamu sudah mengecek keadaan Xander hubby?" tanya Chloe dengan perasaan khawatir.


"Anak kita sedari tadi menangis tidak berhenti-henti sayang" ucap Xavier dengan khawatir.


Chloe menutup mulutnya karena kaget, ia segera pergi di ikuti oleh Xavier saat melihat proses pemakaman sudah selesai. Xavier memberi isyarat kepada Mike untuk memberi santunan terakhir kepada keluarga tirinya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Sayang kamu yang bawa mobil saja biar cepat" ucap Chloe.


"Heemmmm"


Xavier lalu naik ke mobil rolls roycenya dan mengendarainya sendiri. Xavier memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi karena khawatir dengan sang anak yang tak mau berhenti menangis di mansion.


Beruntung mobil Thomas dan lainnya bisa mengikuti bos mereka dengan cepat. Jika tidak mereka akan tertinggal jauh di belakang.


~ Mansion Xavier ~


Tiba di mansion Chloe segera membuka pintu mobil dengan cepat dan berlari masuk ke dalam. Xavier tak kalah panik dan berlari mengikuti sang istri, baru saja di ruang tamu mansion ia bisa mendengar tangisan anaknya yang sangat kencang.


"Xander" ucap Chloe dengan napas ngos-ngosan sampai di lantai dua.


Chloe segera mengendong Xander yang sedang menangis di gendongan Kevin. Bayi mungil itu seketika berhenti menangis melihat sang mommy yang sudah datang.


"Tinggalkan aku sendiri" ucap Chloe dengan suara tegas.


Kevin dan lainnya segera pergi saat mendengar ucapan Chloe. Xavier yang baru saja tiba tidak memperdulikan sapaan Kevin karena matanya tertuju pada Chloe dan Xander.


Chloe duduk di sofa sambil memberi anaknya asi karena sedari tadi Xander tidak mau minum susu. Xavier menarik napasnya lega saat melihat anaknya sudah tenang.


"Apa Xander sudah lebih baik sayang" ucap Xavier duduk di samping Chloe.


"Aku sangat khawatir melihat anakku menangis seperti tadi sayang.......hiks hiks" ucap Chloe sambil menangis.


"Shuutt! Lain kali kita akan membawanya jika pergi sayang" ucap Xavier sambil memeluk menenangkan Chloe.


"Iya sayang" ucap Chloe.


Xavier hari itu memilih menghabiskan waktunya di mansion menemani Chloe dan Xander. Mike lalu memberi informasi tentang Reynald yang sangat bahagia saat menerima cek darinya.


"Itu pemberian terakhirku anggap saja sebagai santunan kepada nenek tua itu" ucap Xavier dengan sinis.


"Bos ada panggilan masuk di kantor dari Italia" ucap Thomas saat mendapat laporan dari sekertaris utama.


Xavier menatap Thomas dengan alis terangkat karena ingin penjelasan lebih dari Thomas. Thomas yang paham maksud Xavier memberi isyarat kepada Xavier sambil menunjuk Chloe.


"Temui aku di ruang kerja 5 menit lagi" ucap Xavier dengan datar.


Chloe tahu jika ada informasi penting yang mau disampaikan oleh Thomas saat ini. Ia segera menyuruh Xavier untuk ke ruang kerja menyusul Thomas, toh Xavier akan menceritakannya juga nanti.


Di dalam ruang kerja Xavier aura dingin menyeruak di dalam sana. Thomas berdiri dengan gugup menatap mata tajam itu yang seakan ingin menghujamnya dengan pisau.


"Katakan" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Katy Nidas menelpon ingin bertemu dengan tuan" ucap Thomas dengan gugup.


Prang.......


Thomas kaget mendengar bunyi gelas yang di banting Xavier. Wajah Xavier hanya menampilkan wajah emosi mendengar nama keluarga itu.


"Apa mereka pikir perkataanku waktu itu hanya candaan saja!" bentak Xavier dengan suara tinggi.


"Maaf bos" ucap Thomas memilih meminta maaf takut di pukul.


"Jangan pernah menyebut nama keluarga itu lagi di hadapanku" ucap Xavier dengan suara tinggi.


"Baik bos" ucap Thomas dengan gugup.


"Keluar!" bentak Xavier.


Thomas segera keluar karena tahu saat ini sang bos dalam keadaan emosi. Thomas menarik napasnya lega saat sudah berada di luar dan hal itu tidak luput dari penglihatan Chloe.


Sepertinya laki gue sedang emosi, batin Chloe.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Chloe menyuruh Risya menemani Xander bermain di ruang bermain. Ia ingin melihat keadaan sang suami karena tahu saat ini Xavier sedang dalam keadaan emosi.


Saat masuk ke dalam ruang kerja Xavier ia menggelengkan kepala melihat pecahan gelas di lantai.


Tetap seperti dulu jika sedang emosi, batin Chloe.


Chloe berjalan menghampiri Xavier yang sedang duduk bersandar di kursinya. Ia memijit kening Xavier yang berkerut untuk merilekskan pikiran sang suami.


Xavier membuka matanya saat merasa keningnya dipijit. Senyum hangat Chloe membuat hati Xavier yang panas seperti di siram air dingin detik ini juga.


"Apa yang membuatmu sampai memecahkan gelas sayang" ucap Chloe dengan lembut.


Chloe tahu jika ingin melawan emosi harus berbicara dengan lembut kepada lawanmu. Xavier menarik Chloe mendudukan di pangkuannya dan memeluk Chloe dengan erat.


Chloe mengelus rambut pirang suaminya dengan lembut seakan berbicara semuanya baik-baik saja. Xavier mengangkat kepalanya dan mencium b***r Chloe dengan lembut.


"Jadi apa yang membuat Mr. Wesly menjadi sangat emosi hem" ucap Chloe sambil mengelus rahang Xavier dengan lembut.


Xavier menutup matanya menikmati elusan tangan lentik itu. Ia menarik napasnya dalam karena tidak mau menyembunyikan sesuatu dari sang istri.


"Istri si berengsek Nidas itu ingin bertemu" ucap Xavier dengan dingin.


"Maksud hubby Katy Nidas" ucap Chloe dengan lembut.


"Heemmmm"


Chloe berpikir untuk apa keluarga itu ingin menemui suaminya. Bukankah Xavier sudah menyuruh mereka untuk tidak menampakan wajah mereka di depannya.


"Temui dia sayang" ucap Chloe.


"Tapi" ucap Xavier yang langsung dipotong Xavier.


"Aku memang sangat membenci keluarga itu sayang tapi kita tidak bisa menganggap mereka semua salah, biar bagaimanapun Katy Nidas pasti sangat terpukul dengan perbuatan suami dan anaknya. Jadi temuilah dia dan dengar apa maunya sayang"


"Apa tujuanmu sayang?" ucap Xavier yang tahu maksud Chloe.


Chloe tersenyum bahagia karena ternyata suaminya itu sangat peka. Ia memang mempunyai alasan lain ingin menemui Katy Nidas.


"Aku ingin melihat bagaimana rupa mommyku sayang karena aku tahu wajah mommy sama persis dengan Katy Nidas"


Xavier tersenyum tulus dan mengangguk kepalanya mengerti maksud sang istri. Demi Chloe ia akan menahan egonya untuk bertemu dengan keluarga kandung sang istri.


"Ini terkahir kali sayang" ucap Xavier dengan suara tegas.


"Iya sayang" ucap Chloe sambil tersenyum manis.


...❄❄❄❄❄...


To be continue................


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀