
π»Jangan pernah mengusik singa yang sedang tertidur karena ia akan menerkammu saat ia merasa terusikπ»
.
.
.
.
Melihat Chloe yang tertidur karena efek obat Xavier berjalan keluar dari ruangan rawat Chloe. Di luar ia melihat Albert yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Jaga gadisku jangan biarkan siapa pun masuk selain Kevin" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Baik bos"
"Awasi gadisku laporkan jika ia bangun" ucap Xavier sambil menatap dua orang pengawal di depan pintu kamar Chloe.
Meski ruangan Chloe hanya bisa dibuka oleh sidik jari dan kartu akses tapi Xavier tidak mau sesuatu terjadi. Di lantai itu dipenuhi orang berpakaian hitam sebanyak 20 orang mereka adalah pengawal yang sudah terlatih.
Saat Xavier lewat mereka semua menunduk memberi hormat kepada sang bos besar. Tatapan mata tajam Xavier tertuju ke depan bagai belati.
"Pergi ke markas Albert" ucap Xavier dengan suara baritonenya.
"Baik bos"
Mobil melaju membelah jalanan di California malam itu, di kawal 4 mobil pengawal dari belakang mobil Xavier. Didalam mobil Albert dan sang sopir menelan saliva dengan kasar merasakan aura yang di belakang mereka.
Xavier duduk dengan tenang tapi aura mengintimidasinya membuat suasana dalam mobil seperti berada di hutan kegelapan. Mobil Xavier melaju menuju ke arah hutan lebat dan tidak ada 1 bangunan di sekitar jalan.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah bangunan tinggi dengan pagar besi dialiri aliran listrik di bagian atas setinggi 6 meter. Semua anak buah Xavier berbaris rapi menyambut kedatangan sang bos besar.
"Selamat datang bos" ucap mereka serentak.
Xavier melihat anak buahnya yang berjumlah sekitar 7.000 orang di sana. Xavier berjalan menuju dalam markas dengan langkah panjang dan tidak memperdulikan sapaan anak buahnya.
Aura mencekam seketika terasa di seluruh bangunan itu, semua anak buahnya bergetar ketakutan merasakan aura bos mereka yang sangat mengerikan.
Di dalam markas Xavier menuju satu ruangan paling belakang dengan pencahayaan yang minim. Sepanjang jalan masuk banyak senjata, peluru dari berbagai jenis tersimpan disana.
Saat ia masuk ke dalam ruangan tempat Ayub saat ini Xavier menatapnya dengan tatapan tajam. Ayub yang digantung membentuk huruf X merasa seperti ada tatapan tajam mengarah kepadanya.
"Kamu tahu kalau kamu itu sudah salah memilih target" ucap Xavier dengan suara dingin sambil berjalan mendekat ke arah Ayub.
Plak........
Bunyi tamparan kuat menggema di dalam ruangan itu. Seketika bibir Ayub sobek dan mengeluarkan d***h.
"Itu untuk gadisku karena kamu sudah berani menyentuhnya" teriak Xavier di depan mata Ayub.
"Tuan adalah" ucap Ayub dengan gemetar.
"Ya Chloe adalah kekasihku dan sebenarnya aku masih ingin bermain dengan kamu tapi aku berubah pikiran" ucap Xavier dengan sinis.
"Apa maksud tuan" ucap Ayub dengan ketakutan.
"You know this time in your body have a poison"
"Apa yang kamu masukan ke tubuhku" teriak Ayub dengan kencang.
"Aku sebenarnya masih ingin bermain dengan kamu tapi aku memutuskan untuk mengakhirinya saat ini juga"
"Jangan aku mohon ampun aku salah" teriak Ayub.
"Albert ca**t kukunya dan ku***i dia" ucap Xavier dengan tegas.
Albert memberi perintah kepada anak buahnya untuk melakukan semua yang disuruh Xavier. Teriakan kesakitan bergema di dalam ruangan tersebut, Xavier yang melihat hal itu tertawa senang dan menikmati rasa kesakitan dari mangsanya.
"Ampun! Ampun" pinta Ayub dengan suara lemah.
Tubuhnya sudah penuh dengan da**h bahkan dirinya sudah sekarat dan lemah. Xavier melihat hal itu dan tersenyum bahagia, kemudian Xavier mengambil cambuk dan mencambuk tubuh Ayub.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Crash.........crash...........crash..........
Xavier terus mencambuk Ayub dengan brutal tanpa ada rasa kasihan sama sekali. Saat melihat Ayub yang sudah tidak bernyawa Xavier lalu menghentikan cambukannya.
"Buang dia ke kandang peliharaan aku" titah Xavier sambil mengelap da**h ditangannya.
"Baik bos" ucap anak buahnya.
Mereka langsung membawa tubuh Ayub dalam kantong mayat dan melempar tubuhnya ke kolam peliharaan Xavier. Semua peliharaannya langsung mengigit tubuh yang baru di lemparkan.
Anak buah Xavier melotot melihat peliharaan tuannya yang berjumlah 12 ekor menyantap tubuh Ayub dengan rakus.
"Bos sangat mengerikan ya" ucap anak buah A.
"Jangan sampai kita membuat kesalahan dan menjadi santapan buaya disana" ucap anak buah B yang menunjuk buaya-buaya di depan mereka.
Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti baju Xavier segera bergegas menuju rumah sakit. Beruntung besok hari minggu jadi Chloe tidak harus ke tempat magang dengan kondisi seperti itu.
Sampai disana ia melihat Chloe yang tertidur dengan nyenyak. Xavier duduk di samping Chloe dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu sayang" ucap Xavier dengan sedih.
Tiba-tiba tubuh Chloe kejang karena mengalami mimpi buruk, Xavier naik ke ranjang Chloe dan memeluk Chloe serta menenangkannya.
Seketika tubuh Chloe berhenti bergetar dan nafasnya mulai teratur. Xavier menidurkan tubuhnya sambil memeluk tubuh Chloe dengan erat.
~ Jakarta, Indonesia ~
Saat ini Sean sedang berada di kampus bersama dengan sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba Sinta datang dan mengebrak meja Sean dengan kuat, ia terlihat sangat marah dan emosi saat ini.
"Kenapa loe menghindar dari gue Sean" teriak Sinta di muka Sean.
Semua orang yang berada disana melihat mereka karena mendengar teriakan Sinta. Sean seketika mengeram emosi karena dirinya tidak suka menjadi tontonan.
Sean berdiri dan berbisik di telinga Sinta dengan suara berat menahan emosi.
"Ikut gue sekarang sebelum gue permalukan loe di depan umum"
Resa yang melihat wajah Sean sudah merah menahan emosi seketika membubarkan kerumunan disana. Sean berjalan ke arah parkiran diikuti oleh Sinta.
Saat berjalan ke parkiran Queen yang melihat hal itu sangat emosi dan dirinya melihat mereka dengan tatapan tajam.
"Dasar bi**c" ucap Queen dengan emosi.
Sampai di parkiran Sean langsung masuk ke mobilnya dan diikuti oleh Sinta. Sean mengendarai mobilnya menuju apartemennya dengan kencang.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sampai di basement parkiran Sean menarik tangan Sinta keluar dengan kasar. Sampai di dalam apartemen Sean dirinya langsung mendorong Sinta hingga terjatuh.
"Beraninya loe buat gue malu di depan umum!" bentak Sean sambil menendang Sinta.
"Loe harus tanggung jawab karena udah ngambil keperawanan gue" teriak Sinta dengan kencang.
"Cih! Loe sendiri yang lempar tubuh loe ke gue" ucap Sean sambil meludah di muka Sinta.
Sinta selalu saja memburu Sean untuk terus bersama dengannya meski ia sudah di pukul dan maki berulang kali.
"Gue itu cinta sama loe" ucap Sinta sambil memeluk kaki Sean.
"Cinta ya! Hahahahahahaha" ucap Sean sambil tertawa.
Sean memegang dagu Sinta dan menatapnya dengan tatapan tajam seperti siap membunuh.
"Chloe itu ngak pantas sama loe tapi gue!" bentak Sinta.
Plak.........plak...........
Dua tamparan mendarat di pipi Sinta. Sinta seketika merasa pusing karena tamparan Sean yang sangat kuat di pipinya.
"Jadi menurut loe kalau loe itu lebih pantas" ucap Sean dengan dingin.
"Iya gue yang pantas sama loe"
Seketika tawa Sean pecah mendengar ucapan Sinta, ia melihat Sinta dengan tatapan sinis dan menelitinya dari bawah sampai ke atas.
"Loe itu malahan ngak bisa dibandingkan sama ****** yang layani gue tiap malam" ucap Sean dengan ketus.
"Apa" ucap Sinta dengan kaget.
"He asal loe tahu, loe itu hanya gadis miskin yang kebetulan naik ke ranjang gue jadi jangan besar kepala, dan tubuh loe itu ngak bisa dibandingkan dengan jal**g di luar sana" ucap Sean dengan tatapan sinis.
Mendengar perkataan Sean barusan seketika hati Sinta seperti di tusuk jarum yang sangat banyak. Air matanya seketika mengalir deras mengingat semua perbuatannya.
"Gue ternyata salah udah mencintai orang kayak loe dan gue bersyukur karena Chloe ninggalin loe" teriak Sinta dengan suara tinggi.
Pandangan Sean seketika menghitam dan menatap Sinta dengan tatapan membunuh. Sean kembali memukul Sinta dengan brutal karena emosi.
Sinta meringkuk di lantai dengan tubuh yang lemah. Ia teringat akan senyuman tulus Chloe waktu mereka baru berteman.
"Maafin gue Chloe" gumam Sinta dengan pelan.
Sean menyuruh anak buahnya untuk datang mengurus Sinta di apartemennya. Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menggilir Sinta sampai mereka puas dan membuangnya di hutan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sinta yang digilir oleh anak buah Sean menangis dalam hati karena sudah dilecehkan. Saat dirinya di buang di tengah hutan beruntung ia di temukan oleh seorang kakek pemulung yang tinggal di dekat sana.
Kakek itu membawa Sinta ke rumah sakit saat melihat Sinta masih bernyawa. Sinta berhasil diselamatkan oleh dokter dan orang tuanya menangis histeris melihat keadaan anak perempuan mereka.
~ Wesly hospital ~
Di belahan dunia sebelah tepatnya di California, Los Angeles Chloe bangun dengan tubuh yang sudah lebih baik. Ia melihat tangan kekar yang memeluk pinggangnya dengan erat.
Tiba-tiba pintu rawatnya terbuka dan masuklah Kevin bersama 2 orang suster. Chloe yang tidak bisa bangun hanya bisa pasrah melihat Kevin yang sudah berada didepannya.
Ia sangat malu dan berniat melepaskan diri tapi Xavier tidur dengan pulas dan tidak melepaskan pelukannya sedikit pun.
"Selamat pagi nona Chloe" ucap Kevin dengan senyum manis.
"Pagi dok" ucap Chloe dengan kikuk karena malu.
"Bagaimana perasaan nona Chloe apa ada yang masih sakit?" tanya Kevin.
"Hanya luka di lengan saya yang masih terasa perih dok"
"Baiklah nona Chloe ingat untuk meminum obat dengan teratur ya, sebenarnya saya ingin mengecek tubuh nona Chloe tapi sepertinya tidak bisa sekarang"
"Hehehe! Ia dok" ucap Chloe sambil terkekeh.
"Ya mending jangan buat si singa yang sedang tidur bangun bisa hancur rumah sakit ini nantinya" ucap Kevin sambil tertawa.
"Maksud dokter apa, apa dokter kenal Xavier?" tanya Chloe dengan wajah polos.
"Apa kamu tidak tahu aku" ucap Kevin dengan heran.
"Tidak dok emang dokter siapa?" tanya Chloe kembali dengan wajah bingung.
"Uhmmm! Kenalkan saya dokter Kevin Walts dan saya ini dokter pribadi pria itu sekaligus sahabatnya" ucap Kevin sambil menunjuk Xavier.
"Ohh"
Kevin tergelak lagi melihat respon Chloe yang biasa saja, padahal dirinya sudah berusaha tampil sekeren mungkin di depan Chloe.
Kedua suster yang dibelakangnya seketika tertawa kecil melihat Kevin yang tidak dikenali oleh pasiennya sendiri.
Seketika Kevin berbalik dan menatap tajam mereka berdua dan mereka langsung menunduk takut. Kevin berbalik dan memaksakan senyum di depan Chloe meski dirinya sangat kesal.
"Kalau orang itu bangun nanti tolong sampaikan kalau ini bukan hotel ya" ucap Kevin dengan menekan rasa kesalnya.
"Kenapa tidak dokter aja yang sampaikan" ucap Chloe dengan wajah datar.
Lagi-lagi Kevin dibuat kesal saat mendengar jawaban Chloe yang sangat santai. Kevin hanya tersenyum kikuk dan berpamitan pergi untuk memeriksa pasien yang lain.
Chloe sendiri bingung melihat sikap Kevin, tapi dirinya tidak perduli karena menurutnya tidak penting juga. Di luar ruangan nginap Chloe, Kevin berteriak kesal karena baru kali ini ada orang yang tidak mengenali dirinya.
Para pengawal disana hanya diam dan melihat tingkah Kevin dengan muka bingung. Mereka saling menatap meminta jawaban kenapa dengan dokter pribadi bosnya itu tapi tidak ada yang tahu.
Di dalam ruangan Chloe ia menepuk pipi Xavier dengan lembut agar segera bangun. Usahanya pun berhasil Xavier sudah membuka matanya.
"Good morning sayang" ucap Chloe dengan lembut.
"Morning baby sudah jam berapa?" tanya Xavier dengan suara seraknya.
"Sudah jam 07:00 pagi sayang"
"Ehmmm! Bagaimana keadaan kamu sayang apa masih ada yang sakit"
"Hanya lenganku saja yang masih perih"
"Apa sangat sakit?" tanya Xavier dengan nada khawatir.
"Tidak terlalu sakit sayang" jawab Chloe.
Chloe mengusap pipi sang kekasih dengan lembut. Xavier menutup matanya menikmati sentuhan jari sang kekasih yang membuat dirinya tenang.
Xavier lalu membawa Chloe ke dalam pelukannya dan Chloe pun membalas pelukan kekasihnya itu dengan erat.
"Aku mohon jangan terluka lagi sayang"
"Iya sayang aku akan berhati-hati mulai sekarang"
"Heeeemm."
Sorenya Chloe memaksa untuk pulang karena tidak suka berada di rumah sakit. Xavier pun mengalah dan membawa Chloe pulang tapi ia membawa Chloe pulang ke mansionnya sampai keadaannya pulih.
Chloe hanya bisa mengikuti kemauan Xavier jika tidak dirinya tidak akan bisa keluar dari rumah sakit. Xavier lalu menyuruh Albert untuk mengambil semua baju milik Chloe beserta perlengkapannya.
Chloe pun menjalani hari-harinya seperti biasa, tapi berbeda dengan Chloe yang merasa sangat dicintai saat ini, Sinta malah terpuruk dengan keadaannya pasca keluar dari rumah sakit.
Sinta lebih banyak diam dan mengurung diri di dalam kamar, bahkan setiap malam dirinya akan berteriak di dalam tidurnya.
2 minggu kemudian Sinta di temukan bunuh diri di dalam kamarnya sendiri. Kedua orang tuanya sangat terpukul akan kepergiaan anaknya bahkan kakaknya sendiri meraung-raung menangisi kepergian adik yang paling disayanginya.
Meski ia biasa sering menjahili adiknya tapi ia sangat menyayangi adiknya itu. Setelah pemakaman Sinta ibunya masuk ke dalam kamar anaknya dan menangis dengan tersedu-sedu.
Ibunya membuka lemari pakaian Sinta dan tiba-tiba ada surat yang jatuh ke lantai. Ia mengambil surat itu dan membacanya di depan surat itu ada nama Chloe dan ibu.
Ibunya membuka surat untuk dirinya dan membacanya, seketika ia menangis histeris setelah membaca surat dari putrinya.
"Ibu akan memberikan surat ini seperti yang kamu mau sayang"
...βββββ...
To be continue..............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€