Heartless

Heartless
Episode 170



🌻Biarpun aku miskin dan bodoh tapi aku mempunyai hati yang kaya dan ilmu kesopanan untuk diriku🌻


.


.


.


.


Waktu berjalan begitu cepat tak terasa sudah 2 bulan berlalu dengan cepat sejak perceraian Queen dan masalah keluarganya. Kehancuran dan kebangkrutan keluarga Rosemary seakan menjadi tamparan keras buat kehidupan mereka.


Adam dan Laura yang dulunya sangat harmonis sekarang tidak lagi, setiap hari keduanya hanya bertengkar karena keadaan ekonomi keluarga mereka yang menurun drastis dan tidak mencukupi kebutuhan mereka.


"Aku ngak perduli Adam pokoknya kamu harus cari kerja untuk keluarga kita!" bentak Laura dengan suara tinggi.


"Seharusnya kamu tidak mengusir Steven dari sini dan lihat apa yang telah kamu lakukan" ucap Adam dengan suara tak kalah tinggi.


"Kenapa aku yang disalahkan ini semua karena nafsu bejatmu yang bikin keluarga kita hancur" ucap Laura dengan tatapan tajam.


"Sudah berapa kali aku bilang aku minta maaf atas perbuatanku dulu, apa kamu masih belum puas juga! Hah" ucap Adam dengan nada tinggi.


Queen yang melihat perdebatan kedua orang tuanya seakan sudah biasa. Tak mau ambil pusing ia lalu bangun dan berjalan pergi keluar dari mansion.


"Keluarga yang sangat hancur berantakan" gumam Queen saat sudah berada di depan mansion.


Queen yang lukanya sudah mulai sembuh tapi masih berbekas, membuat ia malu untuk pergi keluar dari area mansion, setiap hari Queen hanya menenangkan diri di depan mansion.


Sejak perceraiannya 2 bulan lalu ia sudah tidak mempunyai uang sepeserpun. Bahkan hidupnya sekarang hanya bergantung pada orang tuanya, mau operasi plastik tapi kendala di keuangan.


"Semua ini karena ja***g itu" ucap Queen dengan tatapan emosi dan penuh dendam.


Queen melihat hpnya yang ada foto pernikahan dia dengan Sean dengan tatapan sedih. Ia akui dia masih sangat mencintai Sean dan sangat rindu kepada sang anak.


"Gimana kabar kamu nak apa kamu merindukan mama seperti mama merindukan kamu" gumam Queen dengan suara parau menahan sedih.


Semenjak perceraiannya Queen tidak pernah mendengar kabar tentang sang anak maupun keluarga mantan suaminya. Mereka semua seakan menutup akses berita dari Queen.


Tak lama Queen mengutak hpnya ingin menghubungi Sean tapi ia masih bimbang. Setelah beberapa saat ia akhirnya menghubungi Sean, pada dering keempat barulah Sean menjawab panggilannya.


"Kenapa" ucap Sean dengan suara dingin dari seberang.


^^^"Halo mas apa aku ganggu kamu"^^^


"Loe udah tahu kenapa masih nanya" ucap Sean dengan ketus.


Mendengar hal tersebut seketika Queen menjadi gugup dan tidak tahu harus berkata apa. Sean yang tidak mendengar suara Queen lagi menjadi kesal dan mematikan panggilannya sepihak.


Queen melihat layar hpnya yang menunjukan panggilan diakhiri dengan tatapan sedih. Ia hanya ingin menanyakan keadaan anaknya tapi merasa takut jika harus berhadapan dengan Sean semenjak kejadian waktu itu.


"Susah banget sih cuma mau ketemu sama anak gue" ucap Queen dengan kesal.


Queen lalu beranjak dan masuk ke dalam mansion meski harus kembali mendengar pertengkaran orang tuanya. Alan dan Lidia yang tinggal bersama dengan Adam dan keluarganya juga merasa sangat terganggu.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Daddy apa kita suruh saja mereka keluar dari mansion ini dan tinggal sendiri" ucap Lidia.


"Daddy tidak tahu mom karena daddy tidak yakin mereka bisa bertahan di luar sana tanpa sepeserpun" ucap Alan sambil berpikir.


"Kita beri saja mereka uang daddy sebenarnya mommy terganggu dengan keributan mereka setiap hari" ucap Lidia mengeluh.


"Nanti akan daddy pikirkan" ucap Alan.


Tanpa keduanya sadari ternyata Laura mendengar percakapan mereka dari cela pintu yang tidak tertutup rapat. Laura mengepal tangannya karena merasa mertuanya seakan ingin membuang ia dan keluarganya.


"Dasar tua bangka sudah tua masih aja mau buang aku dan keluargaku" gumam Laura dengan pelan.


Laura segera keluar dan berlalu pergi dari sana karena sangat emosi. Sampai di dalam kamar ia memberitahu perihal tersebut kepada sang suami, Adam yang mendengar hal tersebut seketika memarahi Laura karena dituduh membawa berita palsu.


Laura seketika menjadi kesal karena dituduh penipu dan bawa berita palsu. Keduanya lalu kembali beradu mulut saat itu juga.


~ Mansion Xavier ~


Usia kandungan Chloe sudah menginjak 6 bulan lebih, dan hari ini ia baru saja selesai melakukan check up rutin bersama dengan sang suami.


Sepulangnya dari rumah sakit entah kenapa Chloe sangat ingin pergi ke rumah tinggal kedua orang tuanya. Chloe melihat Xavier dengan wajah penuh harap ingin memberitahu tapi ia takut tak di ijinkan.


Xavier yang melihat wajah sang istri ingin mengatakan sesuatu segera menyimpan iPad. Ia mengelus puncak kepala Chloe dengan lembut sambil tersenyum hangat.


"Apa ada baby?" tanya Xavier dengan lembut.


"Apa kita bisa ke tempat tinggal orang tuaku sayang?" tanya Chloe dengan wajah sedih.


Seketika gerakan tangan Xavier terhenti mendengar ucapan sang istri. Xavier ingin membawa Chloe ke sana tapi dia masih ragu dan memikirkan kandungan sang istri karena perjalanannya jauh.


Melihat Xavier yang hanya diam menatap dirinya dengan tajam seakan membuat Chloe sudah mengetahui jawabannya. Chloe bangun dan berdiri menuju kamar mereka untuk menetralkan rasa sedih dalam hatinya.


Xavier melihat kepergian sang istri dengan tatapan sulit diartikan. Xavier lalu memberi isyarat kepada Albert untuk mendekat.


"Suruh dokter Susi kesini sekarang" ucap Xavier dengan suara datar dan dingin.


"Baik bos" ucap Albert tak kalah datar.


Albert segera menghubungi dokter Susi untuk segera datang mansion. Selang 15 menit dokter Susi datang bersama dengan Kevin yang kebetulan juga baru sampai di mansion Xavier.


"Hay bos" ucap Kevin dengan riang.


Tak menanggapi sapaan Kevin ia malah menatap tajam dokter Susi seperti seekor singa yang sedang memantau mangsanya. Dokter Susi sendiri menelan salivanya dengan susah melihat tatapan tajam milik Xavier.


"Albert" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Dokter Susi saya ingin bertanya beberapa hal mengenai kehamilan nyonya" ucap Albert setelah melihat isyarat Xavier.


"Oh baik tuan Albert silahkan" ucap dokter Susi.


"Apa saat ini nyonya bisa berpergian jauh?" tanya Albert dengan wajah datar.


"Maaf kalau boleh tahu kemana tujuan nyonya akan pergi tuan?" tanya dokter Susi dengan tubuh gemetaran.


"Bogor" ucap Xavier menjawab pertanyaan dokter Susi.


"Menurut saya bisa tuan karena saat ini kandungan nyonya sudah sangat kuat dan saya sarankan lebih baik nyonya naik pesawat saja ke Bandung baru dengan mobil ke tempat tujuan" ucap dokter Susi.


"Apa tidak berbahaya bagi kandungan nyonya" ucap Albert.


"Tidak tuan" ucap dokter Susi dengan yakin.


"Berapa keyakinan kamu akan hal tersebut" ucap Xavier dengan suara dingin dan datar.


"100% saya yakin tuan" ucap dokter Susi dengan tegas meski tubuhnya gemetaran.


"Hemmmm"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa dokter Susi pergi keluar. Dokter susi yang dibawa oleh anak buah Xavier menjadi kesal karena ia dipanggil hanya untuk bertanya saja.


"Berengsek kenapa tidak telpon saja jika hanya ingin bertanya" gumam dokter Susi dengan suara pelan.


Setelah kepergian dokter Susi dari hadapannya, Xavier lalu menyuruh Albert menyiapkan jet pribadinya karena besok pagi mereka akan berangkat ke Bandung baru ke tempat tinggal orang tua Chloe dulu.


Xavier lalu masuk ke kamar mereka dan mendapati sang istri sedang tidur berbalik ke arah lain. Xavier membuka bajunya dan naik ke ranjang menyusul sang istri, ia memeluk sang istri sambil mengelus perut buncit Chloe.


"Baby aku tahu kamu belum tidur" ucap Xavier sambil mengecup pipi sang istri.


"Aku memang belum tidur sayang" ucap Chloe dengan suara pelan.


"Siapkan dirimu besok kita pergi ke tempat tinggal orang tuamu sayang" ucap Xavier sambil mengecup b***r sang istri.


"Yang benar sayang" ucap Chloe dengan kaget.


"Heermmmm"


Chloe tersenyum bahagia dan langsung memeluk tubuh Xavier dengan sangat erat. Xavier membalas pelukan sang istri dengan erat pula.


"Terima kasih hubby" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Sama-sama sayang tapi apa aku bisa meminta satu permintaan dari kamu sayang" ucap Xavier.


"Apa sayang?" tanya Chloe dengan cepat.


"Aku mau saat pulang dari tempat orang tuamu kita pulang ke Amerika dan melaksanakan pesta pernikahan kita sayang" ucap Xavier dengan tegas.


"Awalnya aku berpikir seperti itu tapi aku berubah pikiran dan mau sebelum kamu melahirkan baby" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Iya sayang aku ikut saja mau kamu baby" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Iya sayang" ucap Xavier sambil tersenyum tipis.


Xavier sangat senang mendengar perkataan istrinya yang mau mengikuti keinginannya. Ia tidak bisa menjaga nyawa istri dan anaknya disini karena semua anak buahnya berada di California.


Chloe dan Xavier lalu tertidur dengan pulas siang itu. Di luar mansion Thomas berdiri dengan kaku karena membawa informasi penting mengenai perusahaan Xavier saat ini.


"Dimana bos" ucap Thomas.


"Di kamar dengan nyonya" ucap Kevin dengan santai.


"Ada apa" ucap Albert dengan suara dingin.


"Lihat cctv ini" ucap Thomas sambil menyodorkan laptopnya ke Albert.


Albert dan kevin menonton cctv yang diberikan oleh Thomas karena penasaran. Seketika rahang Albert mengeras melihat video tersebut yang berisi tentang percakapan dan pertemuan direktur pemasaran Wesly Group dengan nenek Esma.


"Suruh Richard untuk pecat orang itu!" bentak Albert.


"Sebaiknya kita bawa dia ke markas saja" ucap Thomas.


"Aku setuju dengan ide Thomas" ucap Kevin.


"Pecat dia dulu baru kita bawa dia ke markas agar tidak ada yang curiga" ucap Albert dengan sinis.


"That is good idea dude" (itu ide yang bagus kawan) ucap Kevin sambil tertawa puas.


"Thomas kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" ucap Albert dengan suara dingin.


"Aku tahu and let's play the game" ucap Thomas sambil tertawa sinis.


Thomas segera memberi perintah pemecatan direktur pemasaran kepada Richard Kylie sebagai wakil direktur. Di California Richard menjawab panggilan Thomas tepat pukul 03:00 dini hari.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Setelah memberi perintah kepada Richard dan anak buah mereka, ketiganya lalu kembali menyelesaikan segala keperluan bos dan nyonya mereka untuk besok.


~ SR Company ~


Setelah menerima panggilan dari mantan istrinya, ia menjadi sangat kesal dan emosi. Sean membanting barang di dalam ruangannya sampai hancur berantakan tak utuh lagi.


Riko yang berkunjung ke perusahaan anaknya seketika menjadi bingung. Ia melihat Sean dengan tatapan tajam meminta penjelasan tapi di abaikan oleh Sean.


"Apa kamu sudah gila Sean" ucap Riko dengan suara tinggi.


"Jika aku gila aku pasti sudah berada di rumah sakit jiwa pa" ucap Sean sambil tersenyum sinis.


Mendengar hal tersebut Riko lalu diam tidak berkata apa-apa lagi. Riko lalu masuk ke dalam ruangan Sean dan segera duduk di sofa dengan santai, melihat hal tersebut Sean seakan tidak perduli.


"So what happened with you" (jadi apa yang terjadi sama kamu) ucap Riko dengan tatapan tajam.


"Aku hanya kesal saja pa"


Riko menaikan sebelah alisnya merasa bingung dengan jawaban anaknya. Sean yang tau maksud tatapan sang papa segera memberitahu alasan dia menjadi kesal.


"Aku kesal karena ja***g itu menghubungi aku pa" ucap Sean dengan raut wajah tak suka.


"Bukannya ia baru kali ini menghubungimu"


"Itu dia pa Sean tahu maksud dia nelpon Sean pa makanya aku kesal"


"Pasti karena Ares" ucap Riko sambil menebak pemikiran sang anak.


"Iya pa, Sean ngak sudi harus izinkan j****g itu ketemu sama anak Sean pa, entah kenapa aku ngerasa di punya niat jahat pa" ucap Sean sambil berjalan menuju kaca melihat pemandangan luar dari ruangannya.


"Semua itu keputusanmu son karena bagaimana pun Ares adalah anak kamu dan papa yakin kamu pasti memiliki alasan yang kuat di setiap keputusan yang kamu ambil" ucap Riko dengan tegas.


"Iya pa makasih udah dukung Sean"


"Apapun akan papa lakukan untuk kebahagian kamu dan anak kamu tapi jangan meminta papa untuk membawa Chloe ke kamu" ucap Riko sambil memasang wajah tak mau.


"Cih! Padahal baru aja Sean mau minta hal tersebut pa" ucap Sean dengan kesal.


"Kalau hal itu kamu urus saja sendiri karena ini masalah hati dan perasaan bukan masalah sepele son" ucap Riko dengan bijak.


"Iya pa Sean tahu" ucap Sean dengan datar.


"Hemmmmm"


Riko lalu memutuskan untuk makan siang bersama Sean di mansion keluarga mereka. Keduanya lalu pergi ke mansion Rahardian dengan mobil masing-masing.


Sampai di mansion Sean dan papanya segera menikmati makan siang buatan Maya. Ares yang kebetulan berada di mansion keluarganya membuat Sean seakan tidak ingin kembali ke perusahaan.


Hari itu Sean dan anaknya menghabiskan waktu hingga malam di mansion Rahardian. Karena sudah malam Maya melarang keduanya untuk pulang dan menginap disana.


Sean hanya mengangguk setuju dengan usulan dari sang ibu karena memang ia juga sudah letih seharian. Hari berlalu dengan cepat tak terasa sudah pagi hari.


~ Husein Sastranegara Airport ~


Tepat pukul 10:00 pagi Xavier, Chloe, dan rombongan mereka yang semuanya adalah para pengawal sudah sampai di bandara internasional Husein Sastranegara di Bandung.


Para pengawal dan deretan mobil mewah berdiri menyambut kedatangan bos mereka dan istrinya. Chloe tidak kaget lagi melihat begitu banyak pengawal yang ada disana.


"Hubby apa kita akan segera pergi ke Bogor" ucap Chloe.


"Setelah makan baru kita ke sana sayang"


"Berarti kita pakai mobil dong" ucap Chloe dengan wajah imut.


"Hemmmm"


"Tapi nanti aku bakal capek sayang dan pasti badan aku sakit semuanya" ucap Chloe menggerutu.


Xavier melihat istrinya dengan tatapan bingung pasalnya Chloe lebih suka jalan darat karena ingin menikmati pemandangan, tapi sekarang ia malah tidak suka. Merasa ada yang menatapnya Chloe lalu berbalik ke samping.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier tersenyum hangat saat Chloe memandang dirinya. Ia lalu melihat Albert yang dibelakangnya untuk mendekat.


"Siapkan helikopter kita ke Bogor sekarang" ucap Xavier dengan datar dan tegas.


"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin.


Chloe yang mendengar hal tersebut tersenyum bahagia dan segera mencium pipi Xavier. Para pengawal yang sempat melihat hal tersebut seketika menunduk, mereka masih ingat peraturan pertama dari bos mereka.


Setelah menunggu 7 menit 4 helikopter sudah siap untuk membawa Xavier, Chloe, dan rombongannya. Tidak memakan waktu lama rombongan mereka sudah sampai di Bogor.


Mereka mendarat di lapangan umum setelah meminta izin pendaratan. Jajaran mobil mewah jenis pajero sudah menunggu kedatangan Xavier dan Chloe.


"Sayang aku pengen makan soto khas daerah sini" ucap Chloe dengan manja.


"Albert cari hotel di sekitar sini" ucap Xavier sambil mengelus puncak kepala Chloe.


"Baik bos"


Albert lalu menyuruh anak buahnya untuk mencari hotel di dekat sana. Selang 10 menit mobil mereka berhenti di salah satu hotel mewah di daerah Bogor.


"Kita istirahat dulu baru kebsana sayang" ucap Xavier yang melihat tatapan bingung istrinya.


"Iya sayang"


Chloe keluar dengan dipeluk oleh Xavier dengan posesif masuk ke dalam hotel. Semua pengunjung hotel melihat ke arah mereka yang datang dengan pengawalan ketat.


"Sayang jangan lupa sotonya" bisik Chloe di telinga Xavier.


Xavier terkekeh mendengar ucapan sang istri yang menurutnya sangat manja. Ia sangat senang karena sejak kehamilan Chloe ia selalu ingin bermanja-manja dengan dirinya dan sangat suka dengan aroma tubuhnya.


Setelah istirahat selama 2 jam rombongan Xavier kembali melanjutkan perjalanan menuju salah satu desa di daerah Bogor. Selama perjalanan jantung Chloe berdetak dengan cepat karena tak sabar ingin melihat rumah kedua orang tuanya.


Selang 1,5 jam mobil milik Xavier berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua yang tidak terawat lagi. Air mata Chloe seketika jatuh melihat rumah milik kedua orang tuanya.


"Daddy mommy ini Chloe sudah sampai di rumah kalian.........hiks hiks" ucap Chloe dengan isak tangis.


...❄❄❄❄❄...


To be continue...................


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀