Heartless

Heartless
2



"Jadi selanjutnya apa yang mau lo lakuin? Semua sudah ngejauhin lo. Mereka takut terkena imbasnya juga dari perbuatan lo. Udah gue bilang dari awal kalo lo..", seorang wanita cantik menggunakan setelan kerja berwarna hitam memasuki ruangan bar di sebuah rumah.


"Stop! Stop gue bilang. Lo hanya perlu tunggu dan liat apa yang akan terjadi. Gue gak butuh bacot lo. Oke", teriak seorang wanita cantik yang sedang serius meminum segelas anggur di tangannya.


"oke gue bakal gak banyak bicara lagi tapi permintaan gue please satu aja lo dengerin perkataan gue. Kalau lo begini terus lo pasti akan kehilangan segalanya. Inget perjuangan lo buat ngedapatin ini semua apa yang lo lakuin selama ini pada diri lo. Lo nggak bisa seenaknya lepas tanggung jawab dari ini semua. Inget juga ratusan karyawan lo yang menggantungkan hidup pada perusahaan lo. Lo udah bangun perusahaan ini sampai segede ini tapi apa sekarang lo mau nyerah gitu aja? Dir.. bilang lah sama Tuan Alex lo itu kalau perlu rayu dia..."


"Berisik lo.. mending sekarang lo pergi cari cara pertahanin diri lo sendiri. Gue pusing tau gak denger ocehan lo. Mending nggak usah ngurusin hidup gue urusin aja hidup lo sendiri", Dira pergi meninggalkan Meysia yang masih gusar dengan keputusannya. Dira pergi ke kamarnya dan membanting pintunya keras. Tubuhnya bergetar dan ia terduduk menangis pilu tentang apa yang sudah ia perbuat dengan hidupnya.


Ya tuhan kapan aku bahagia?


Nenek apa kau bahagia disana?


Tampak sebuah boneka Teddy Bear merah muda kecil terpajang rapi di atas salah satu nakas samping tempat tidur. Boneka itu berdampingan dengan sekotak pil tidur dan beberapa pil berserakan diatas nakas.


---------------------------------


"Dira, ini boneka buat kamu.. ini oleh-oleh dariku dari liburan kemarin. Sesuai dengan keinginan kamu boneka teddy bear warnanya merah muda", Arjuna memberikan boneka teddy bearnya kepada Dira diikuti oleh sorak sorai teman-teman sekelasnya.


Pagi itu Arjuna menghampiri Dira di kelas saat jam istirahat dan langsung memberikan boneka itu di mejanya. Dengan tersenyum senang Dira menerima boneka itu dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih Juna, ini beneran buat aku?", tanya Dira kecil sebelum menerima boneka itu.


"Iya ini buat Dira, katanya kan kamu nggak punya boneka jadi aku beliin kamu boneka kemarin pas aku liburan ke Malaysia.."


"Woi Jun, Dira aja yang dikasih buat aku mana?", teriak Riko salah satu teman Juna di kels itu.


"Kamu nanti kerumah aku aja Ko.. banyak makanan disana", Jawab Juna.


"Yaelah kasih aku Power Rangers lo kek.. masak Dira doang yang dikasih mainan.."


"Bedalah Ko, Dira itu calon istri aku di masa depan jadi asal dia senang aku juga senang.. Iya kan Dir?", Juna memandangi Dira yang sedang memeluk boneka darinya dengan tersenyum-senyum sendiri menghiraukan sorak sorai menggoda dari teman-temannya.


Dira senang masih ada orang yang memperhatikannya. Dira senang Juna masih inget dengan keinginannya yang ingin punya boneka teddy bear seperti Meysia dan yang lainnya. Dira lalu menyimpan boneka itu kedalam tasnya setelah ibu guru masuk ke kelas.


Aku akan menyimpan boneka ini selamanya Juna. Terima kasih Juna.


--------------------------


Dira tidak mengetahui keberadaan ibu bapaknya dimana bergitupun neneknya neneknya tidak mengetahui dimana anak dan menantuby kini berada. Sudah setahun nenek mengasuh Dira seorang diri. Setahun lalu mereka meminta ijin untuk menitipkan Dira kepada neneknya karena mereka mau menjadi TKW di luar negeri. Mereka hanya meninggalkan beberapa lembar uang jajan Dira, beberapa pakaian dan nomer telfon yang bisa dihubungi nenek jika butun bantuan mereka. Neneknya pun menerima apa yang menjadi keputusan anaknya walaupun berat melepaskan mereka untun bekerja di luar negeri. Teringat banyak berita di tv yang memberitakan banyak nasib para TKW yang berakhir mengenaskan. Nenek pun selelu rutin menghubungi anaknya seminggu sekali melalui saluran telfon rumah tetangganya yang ia pinjem dengn ganti beberapa uang hasil jualan bumbu di pasar.


Namun hubungan antara ibu dan anak itu terputus sejak 4 bulan lalu. Nenek tidak bisa lagi menghubungi nomer telfon yang diberi anaknya. Nomer itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Transferan biaya sekolah Dira pun juga telah dihentikan. Nenek pun hanya pasrah dan berusaha lebih lagi untuk mendapatkan uang tambahan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.


Menjelang 4 tahun sejak kepergian mereka ke luar negeri, seorang tetangganya mengetuk rumah nenek memberitahukan bahwa ada telfon dari Mira anaknya.


Tok Tok Tok


"Nek, apa nenek di rumah?"


"Iya.. sebentar", nenek keluar setelah menghentikan kegiatannya yang sedang memasak makan malam.


"Ada apa Neng Sri.. tumben sore-sore ke rumah nenek"


"Itu nek, ada telfon dari Mira. Katanya penting"


"Oh iya sebentar nenek pamit dulu ke Dira", nenek sudah tidak sabar untuk mendengar kabar anaknya.


"Saya tunggu di rumah ya nek.."


"Iya neng.."