
π»Orang hanya melihat penampilan luarmu saja tanpa tahu bagaimana kamu memperjuangkan apa yang kamu miliki saat ini dengan susah payah dan kerja kerasπ»
.
.
.
.
Juan terus saja mengumpat dan berteriak dengan kesal di dalam ruang kerja Robert. Dia tak memperdulikan akan keberadaan adik dan sang daddy yang juga berada di sana.
"Sialan kenapa anak perempuan j****g itu harus jadi istri dari si berengsek itu" ucap Juan dengan suara tinggi.
Robert seketika tersentak mendengar perkataan sang anak. Ia tak menyangka jika Juan akan berbicara seperti itu tentang almarhum putrinya.
Plak..........
Bunyi tamparan kuat menggema di dalam ruang kerja Robert, Juan dan Johan seketika kaget melihat sang daddy yang menampar Juan. Entah alasan apa hanya dirinya saja yang tahu.
"Daddy" ucap Johan dengan panik.
"Tutup mulut sialanmu itu Juan!" bentak Robert dengan suara tinggi.
"Daddy nampar aku" ucap Juan dengan mata melotot penuh amarah.
"Tarik kata-katamu tentang Sintia dia adalah adik kandungmu sendiri bukan seorang j****g" teriak Robert dengan emosi.
Juan dan Johan kaget bukan main karena baru kali ini daddy mereka bisa semarah ini. Waktu kepergian Sintia sang daddy tidak semarah ini hanya kali ini saja, dan untuk pertama kali Juan mendapat tamparan dari daddynya.
"Daddy nampar aku karena anak sialan itu" ucap Juan dengan suara tinggi.
"Dia adikmu Juan" ucap Robert dengan emosi tinggi.
"Apa daddy lupa kalau daddy sendiri yang ngusir dia dari mansion bahkan melepaskan nama Nidas dari Sintia" ucap Juan sambil berteriak di depan muka Robert.
Robert tersentak mendengar perkataan Juan dan tidak bisa mengatakan satu kata pun. Apa yang di bilang Juan itu semua benar dan karena hal itulah ia sangat menyesal seumur hidup.
"Sampai kapanpun anak dari Sintia bukan keponakanku dan asal daddy tahu aku berencana membunuh anak itu dengan tanganku sendiri" ucap Juan dengan tatapan membunuh.
"Jangan pernah sentuh Chloe seujung jari pun daddy ingatkan kepadamu Juan" ucap Robert dengan suara tegas.
"Hahahahaha! Apa daddy yakin dia menganggap daddy sebagai kakeknya dan bukan pembunuh kedua orang tuanya" ucap Juan sambil tertawa.
"Kak hentikan ucapan kakak" ucap Johan dengan suara tinggi.
Juan kemudian berlalu keluar setelah melihat sang daddy tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu daddynya sangat menyesal akan perbuatannya dulu yang menyuruh mereka mengejar Sintia hingga ia meninggal saat kecelakaan.
"Daddy salah ini semua salah daddy" ucap Robert dengan suara lemah.
Johan membopong Robert ke sofa karena tak sanggup melihat sang daddy seperti ini. Ia tidak tahu kenapa kakaknya sangat ingin membunuh anak dari adiknya sendiri.
"Daddy tenangkan diri daddy" ucap Johan.
"Johan tolong awasi kakakmu jangan sampai ia mencelakai Chloe dan janinnya" ucap Robert dengan penuh harap.
"Aku janji daddy akan menjaga Chloe biar bagaimana pun ia adalah keponakan aku sendiri dad" ucap Johan dengan tulus.
"Hemmmm"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Johan segera menyuruh asisten daddynya untuk membawa daddynya ke kamar. Ia lalu pergi keluar untuk menemui sang kakak yang saat ini pasti berada di markas mereka.
Tiba di dalam kamar Robert melihat Katy yang duduk di kursi roda dengan tatapan sedih. Sudah 26 tahun istrinya lumpuh sejak putri mereka meninggal.
"Maafkan aku Katy aku bukan kepala keluarga dan daddy yang baik...........hiks hiks hiks" ucap Robert sambil berlutut menangis.
Katy diam tidak mengucapkan satu katapun, tatapannya hanya datar seperti orang yang sudah kehilangan niat untuk hidup. Robert memberikan foto Chloe yang di dapat anak buah mereka kepada sang istri.
Seketika air mata Katy mengalir dengan bebas melihat gadis yang berada di dalam foto tersebut. Ingin mengucapkan sesuatu tapi ia tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Dia cucu kita anak dari Sintia aku sudah menemukannya, dia seperti Sintia wajah mereka benar-benar mirip hiks hiks" ucap Robert sambil menangis.
Katy menarik sudut bibirnya sedikit melihat foto tersebut, tanpa Robert sadar ternyata tangan Katy bergerak pelan dan meraih foto di pangkuannya.
"Dia sudah menikah dan saat ini sedang mengandung 7 bulan, namanya Chloe Elisabeth Leonardo dan aku juga baru tahu ternyata dia adalah istri dari Xavier Arthur Wesly anak dari orang yang pernah aku bunuh kedua orang tuanya hanya karena serakah. Aku ini kakek dan daddy yang jahat kepada anak-anak kita maafkan aku Katy" ucap Robert dengan penuh penyesalan.
Katy menangis mendengar semua perkataan suaminya. Meskipun ia lumpuh tapi ia bisa mendengar semua perkataan suaminya itu.
Kenapa kamu baru sadar sekarang Robert apa yang akan kamu lakukan lagi ke cucuku, batin Katy dengan emosi bercampur rasa sedih.
~ Jakarta, Indonesia ~
Sean yang membaca berita mengenai pernikahan Chloe dan Xavier menjadi sakit hati. Hatinya seperti ditusuk beribu pisau saat ini, bahkan ruang kerjanya saat ini sudah seperti kapal pecah.
Ia tak menyangka akan kehilangan Chloe seutuhnya, air mata Sean mengalir dengan deras mengingat berita yang baru saja ia baca. Semua dunia maya hari ini dipenuhi dengan berita tentang pernikahan mewah Xavier dan Chloe.
"Kenapa loe tega ninggalin gue kayak gini, gua tahu gue salah Chloe" teriak Sean dengan kencang.
Dimas yang berdiri di depan pintu ruang kerja sang tuannya tahu saat ini tuan mudanya sangat tersiksa. Ia tahu seberapa besar cinta Sean kepada Chloe mantan pacarnya yang pernah ia sia-siakan.
Tak lama hpnya berbunyi tanda panggilan masuk dari tuan besarnya. Dimas lalu segera menjawab panggilan dari Riko.
"Bagaimana keadaan Sean" ucap Riko dengan panik.
^^^"Tuan muda menghancurkan semua barang di dalam ruang kerjanya tuan" ucap Dimas.^^^
Dimas bisa mendengar jika Riko menarik napasnya dengan kasar dari seberang.
"Jangan biarkan Sean berkeliaran kemanapun saat ini" ucap Riko dengan suara tegas.
^^^"Baik tuan"^^^
Riko segera mematikan panggilannya sepihak. Tak lama langkah kaki terdengar dari arah lift, ternyata itu adalah sahabat dari tuan mudanya yang datang.
"Gimana keadaan Sean" ucap Resa dengan wajah khawatir.
"Tuan menghancurkan semua barang di dalam dan terus berteriak memanggil nama Chloe tuan"
"Gue tahu pasti bakal jadi gini" ucap Angga sambil memijit keningnya.
Keempatnya segera masuk ke dalam ruangan Sean. Bukan hal biasa lagi pemandangan yang mereka dapatkan di depannya, ini sudah seperti biasa jika berhubungan dengan Chloe.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Resa berjalan ke arah Sean yang saat ini duduk di lantai dengan penampilan berantakan. Ia segera memeluk Sean karena tahu sahabatnya butuh sandaran.
"Gua ada buat loe jangan pernah kayak gini lagi bro" ucap Resa.
"Kenapa dia ninggalin gue Sa gue cinta banget ama dia" ucap Sean dengan frustasi.
"Loe masih punya kita-kita dude" ucap Dito.
"Sakit hati gue, sakit banget dengar dia udah nikah sama orang lain" ucap Sean dengan nada lemah.
Keempatnya tak sanggup melihat penampilan sahabat mereka yang kacau seperti ini. Mereka ingat 5 tahun lalu Sean juga hancur seperti ini saat Chloe ngak ada kabar dan hilang bagai ditelan bumi.
"Bro ingat anak loe yang masih butuh loe kalau loe kayak gini siapa yang ngurusin Ares nanti" ucap Resa.
Sean menatap Resa dengan tatapan sedih saat mendengar nama anaknya di sebut. Ia tahu jika ia lemah seperti ini siapa yang akan ngurusin Ares nantinya.
"Coba loe lupain Chloe dia bukan jodoh loe bro" ucap Rey.
"Heeemmm"
"Ayok loe ikut kita lepas semua sakit hati loe" ucap Angga.
"Kemana jangan yang aneh-aneh bini gue tunggu di rumah" ucap Dito.
"Cih! Dasar suami takut istri loe" ucap Angga.
"Biarin dari pada loe playboy ngak jelas" ucap Dito.
"Sialan loe kampret" ucap Angga dengan kesal.
Mereka tertawa melihat kelakuan Angga dan Dito, Sean tersenyum getir karena masih merasakan sakit di hatinya tapi ia coba untuk menyembunyikan di depan sahabat-sahabatnya.
Mereka lalu pergi ke club papa Sean meski hari masih siang. Mereka memilih untuk melepaskan semua beban pikiran dengan bersenang-senang di club.
Tanpa Sean sedari itu hanya akan membuatnya melupakan sejenak masalahnya bukan selamanya. Riko yang mendapat pesan dari Dimas merasa sedikit lega karena ada sahabat anaknya yang menemani anaknya.
Tanpa Riko sadari ternyata hari ini adalah hari dimana Sean akan berubah menjadi kejam dan tidak berperasaan lagi. Semua rasa sakitnya akan ia lampiaskan lewat kekejamannya.
~ Arthur Hotel ~
Selesai semua acara Xavier membawa Chloe untuk pulang ke mansion. Mira saat ini sedang mencari Albert karena tidak melihat Xavier bersama Albert saat keluar tadi.
"Pasti Albert masih menghendel acara ini ampe selesai" gumam Mira dengan pelan.
Albert yang sibuk mengurus sisa pesta sang bos hanya bisa menahan kesal saja. Pasalnya sedari tadi ada salah satu putri rekan kerjanya terus menempel padanya.
Albert tahu jika perempuan itu adalah Sarah j****g yang pernah melayaninya, Mira yang melihat Albert sedang berbicara dengan rekan kerja mereka memutuskan untuk berdiri agak jauh.
Keluarganya sudah balik ke kamar mereka di lantai 15 lebih dulu, begitu pula dengan Jeni dan keluarganya yang sudah kembali ke kamar mereka.
Tak lama Albert pergi keluar ke arah samping, melihat hal tersebut Mira memutuskan untuk menyusul Albert dan berbicara dengannya.
Belum juga ia sempat memanggil Albert ternyata sudah lebih didahului oleh seorang perempuan. Seketika mata Mira melotot kaget melihat apa yang di lakukan perempuan itu di depannya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Mira tak bisa berkata apa-apa melihat perempuan yang baru saja lewat sampingnya mencium Albert. Albert yang sekilas melihat Mira segera mendorong perempuan itu.
"Sayang kamu tidak kangen sama aku" ucap Sarah dengan sensual.
"Mira" ucap Albert dengan pelan.
"What" ucap Sarah yang bingung dengan ucapan Albert.
Sarah melihat arah pandang Albert dan melihat Mira yang berdiri di depan mereka. Ia mendekat ke arah Mira dan melihat Mira dengan tatapan tidak suka.
"Hey kamu pergi dari sini gangguin aja" ucap Sarah dengan ketus.
"Maaf" ucap Mira dengan suara bergetar.
Ia segera berbalik hendak pergi tapi Albert memegang lengannya agar tak pergi. Sarah yang melihat hal tersebut seketika menjadi emosi.
"Sayang kamu apa-apaan sih kenapa pegang tangan perempuan tidak jelas itu" ucap Sarah dengan kesal.
"Jangan panggil aku sayang karena kamu bukan siapa-siapa aku b***h" ucap Albert dengan suara dingin.
"Tapi aku kan kangen sama kamu baby" ucap Sarah dengan sensual.
"Pergi" ucap Albert dengan tatapan dingin dan membunuh.
Melihat tatapan tersebut Sarah segera pergi karena ia tahu Albert tidak suka main-main dengan kata-katanya. Selepas kepergian Sarah, Mira masih saja belum melihat ke arah Albert.
Suasana diantara keduanya saat ini terasa sunyi. Mira yang sudah tak bisa mengontrol air matanya segera menetralkan rasa sedihnya untuk berbicara dan pergi.
"Lepas" ucap Mira dengan suara bergetar.
Melihat hal tersebut Albert membawa Mira ke arah lift dan menekan tombol 42 menuju kamar yang biasa ia tempati. Sampai di lantai 42 Albert menarik tangan Mira menuju kamar nomor 4276.
Sampai di dalam kamar Albert segera melepas tangannya dan memilih duduk di sofa. Mira sendiri yang sudah mau menangis hanya menunduk saja.
"Maaf aku sudah menganggu waktu tuan tadi" ucap Mira dengan suara lemah.
"Ckk!!"
Mendengar respon Albert membuat ia menerka jika Albert tak suka diganggu. Mira segera berbalik dan ingin pergi tapi suara Albert menghentikannya.
"Mau kemana"
"Bukannya saya hanya menganggu waktu anda tuan jadi lebih baik saya pergi"
"Apa itu cara kamu menjelaskan perihal waktu itu"
Seketika Mira tertawa sinis mendengar ucapan Albert barusan. Entah kenapa hatinya menjadi emosi mendengar ucapan Albert barusan.
"Memangnya apa yang harus saya jelaskan bukannya saya sudah berulang kali menghubungi anda untuk menjelaskan apa yang terjadi bahkan saya mencari bukti lain untuk menjelaskan kepada anda tentang masalah waktu itu, tapi apa anda mau membalas semua pesan dan panggilan saya, satu pun tidak ada. Seharusnya saya yang bertanya apa anda tidak mau menjelaskan kejadian barusan anda berciuman! Hah. Apa waktu itu saya melakukan hal yang seperti anda tuan Albert Kendrick" teriak Mira dengan emosi.
Mira seketika menangis tak bisa mengontrol hatinya lagi. Melihat hal tersebut entah kenapa hati Albert menjadi sakit, ia bangun dan segera memeluk Mira dengan erat.
Mira memberontak di pelukan Albert karena ia merasa jijik, Albert lalu melepaskan pelukannya dan mencium b***r Mira dengan rakus. Mira memukul-mukul pundak Albert karena ia masih ingat tentang ciuman barusan.
Plak...........
Bunyi tamparan seketika bergema di dalam kamar. Albert tak menyangka jika ia akan ditampar oleh Mira saat ini.
"Saya bukan pe****r yang bisa anda cium seenaknya" ucap Mira dengan suara tinggi.
"Siapa bilang kamu pe****rku"
"Pergi dan cium perempuan lain jangan saya bahkan saya jijik dengan ciuman anda barusan" ucap Mira dengan emosi.
Ia lalu mendorong Albert dan berlalu pergi, seketika Mira berteriak karena kaget tubuhnya diangkat oleh Albert.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Akan ku tunjukan bagaimana aku memperlakukan perempuan seperti pe****r" ucap Albert dengan dingin.
Albert lalu mencium b***r Mira dengan kasar dan tidak ada kelembutan sedikit pun. Ia meramas d**a Mira dengan kasar sehingga membuat Mira berteriak kesakitan.
Gaun Mira di bagian depan sudah robek akibat ulah Albert, bahkan leher dan d**anya sudah penuh dengan kissmark berwarna keunguan.
Arrgggghhhhhh........
Teriak Mira dengan kesakitan saat pundaknya digigit sampai berd***h. Albert melepaskan Mira dan masih duduk diatas tubuh Mira, ia melihat Mira dengan tatapan dingin dan sulit diartikan. Albert lalu menghapus air mata Mira yang terus mengalir.
"Apa kamu sudah bisa bedakan mana yang aku perlakukan wanita seperti pe****r dan bukan" ucap Albert dengan suara lembut.
Mira mengangguk kepalanya tanda mengerti, Albert lalu mencium kembali b***r Mira dengan penuh kelembutan dan cinta seperti terakhir kali.
"Maaf aku tidak membalas pesanmu karena aku sibuk mempersiapkan pernikahan bos dan nyonya" ucap Albert dengan lembut.
"Siapa perempuan tadi" ucap Mira dengan suara serak.
"Apa kamu akan menerima masa laluku jika aku memberitahumu" ucap Albert dengan suara dingin.
"Lebih baik jujur dari pada berbohong" ucap Mira dengan tatapan lembut.
Albert bangun dan segera duduk di kasur, Mira yang melihat hal tersebut mengambil kemeja Albert yang disodorkan oleh Albert barusan karena gaunnya sudah tidak bisa dipakai lagi.
"Dia salah satu j***g yang menghangatkan ranjangku" ucap Albert dengan terbuka.
Mira kaget bukan main mendengar perkataan Albert barusan. Ia tahu jika Albert lahir dan besar di negara bebas tidak sepertinya dan pasti hal ini sudah biasa untuknya.
"Ada berapa banyak" ucap Mira dengan tatapan tajam.
"Aku bukan pribadi yang baik dan aku akui sudah banyak aku melakukan hal tersebut dengan banyak perempuan, hanya satu yang kamu tau aku tidak melakukannya lagi saat sudah mencium kamu di pesawat waktu itu" ucap Albert dengan jujur.
Mira memang merasa cemburu tapi ia senang karena ternyata Albert sudah mau jujur. Ia lalu memeluk tubuh Albert dengan erat.
"Jangan lakukan hal itu lagi" ucap Mira dengan lembut.
"Tidak sayang aku berjanji" ucap Albert sambil tersenyum.
"Aku pegang janji kamu"
"Kenapa baru sekarang kamu datang sayang" ucap Albert.
"Yah aku mana punya uang buat nyusul kamu, waktu itu aku sempat pergi ke apartemen kamu dan mencari kamu tapi kata ibu pembersih itu kamu sudah pergi sejam yang lalu"
"Apa" ucap Albert dengan kaget.
"Maafkan aku karena hari itu pasti kamu sakit hati" ucap Mira.
"Ya awalnya iya tapi setelah menonton video yang kamu kirim tidak lagi honey"
"Terima kasih" ucap Mira dengan lembut.
Albert segera mencium b***r Mira dengan lembut, tak lama keduanya di interupsi oleh bunyi hp milik Albert. Albert mengeram dengan kesal melihat nama Thomas yang tertera disana.
^^^"Ada apa" ucap Albert dengan suara kesal.^^^
"Datang ke mansion bos sekarang"
^^^"Any problem"^^^
"Nenek tua itu berencana menculik nyonya besok jadi malam ini kita akan berburu"
^^^"Heemmm! Aku ke sana sekarang"^^^
"Oke dude"
Albert segera mematikan panggilannya karena harus pergi ke mansion sang bos. Mira melihat Albert meminta jawaban.
"Nyonya dalam bahaya jadi malam ini aku akan ke mansion sang bos"
"Apa siapa yang mau berbuat jahat kepada Chloe sayang"
"Kamu tunggu aku disini honey" ucap Albert dengan lembut.
"Tapi"
"Aku tidak menerima penolakan sayang"
"Iya sayang"
Albert mencium Mira dengan lembut dan segera pergi ke mansion sang bos. Mira melihat kepergian sang kekasih dengan perasaan tak karuan dan berharap Albert tidak kenapa-napa.
...βββββ...
To be continue..............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€