Heartless

Heartless
Episode 195



🌻Setiap orang pernah salah pernah juga membuat orang lain kecewa atau disalah mengerti namun hal itu bukanlah alasan untuk kamu menghukum dirimu🌻


.


.


.


.


Sepulangnya mereka dari hotel Arthur Xavier dan Chloe segera masuk ke kamar mereka. Thomas yang masih harus mengecek semua laporan anak buahnya segera mengambil hpnya untuk mengecek keadaan.


Thomas lalu melihat pesan yang dikirimkan anak buahnya untuk melihat perkembangan mansion nenek Esma. Ia seketika tersenyum sinis melihat video cctv tersebut.


"Kalian sendiri yang sudah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir kalian" ucap Thomas sambil tersenyum penuh arti.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri" ucap Kevin yang baru saja datang.


Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa di ruang keluarga. Thomas tidak perduli dengan pertanyaan Kevin karena ia harus menyuruh Albert segera datang ke mansion, setelah menelpon Albert ia segera berkutat dengan laptop.


"Hey dude apa kamu sudah menjadi duplikat si kulkas itu" ucap Kevin dengan kesal.


"Mungkin dan sepertinya aku harus menyampaikan panggilan barumu kepada Albert" ucap Thomas sambil tersenyum penuh arti.


"Apa jangan coba-coba kamu Tom" ucap Kevin dengan panik.


"Tergantung mood aku" ucap Thomas dengan santai.


Melihat hal tersebut Kevin serasa ingin memukul kepala Thomas, tapi ia tidak punya keberanian karena takut di hukum oleh Thomas. Thomas melirik Kevin dan tersenyum tipis karena sudah membuat Kevin kesal.


Tak lama pak Max menyuruh mereka untuk segera masuk ke ruang kerja sang bos. Albert yang baru sampai di mansion segera masuk ke dalam diikuti Mike yang juga dipanggil.


"Hay dude" ucap Kevin.


"Heemmm" deham Albert dengan datar.


Kevin kesal karena sapaannya hanya dibalas dingin oleh Albert. Tak mau membuat dirinya semakin kesal ia segera berjalan mengikuti ketiganya pergi ke ruang kerja Xavier.


Saat masuk ke dalam ruang kerja Xavier suasana mencekam segera menyambut mereka. Ke empatnya menelan saliva dengan kasar karena tahu jika sang bos saat ini sedang marah.


"Kenapa sampai ada penyusup di pesta tadi?" tanya Xavier dengan tatapan membunuh.


"Maaf bos aku kecolongan memeriksa semuanya" ucap Albert sambil menunduk.


Bugh.......bugh........bugh........bugh......


Empat pukulan tepat di perut keempatnya. Kevin kaget karena tak menyangka Xavier dengan cepat sudah berada di depan mereka dan memukul mereka dengan kuat.


"Aku tidak suka ada kesalahan sedikit pun" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Maafkan kami bos" ucap keempatnya serentak.


"Dimana bajingan yang ingin membunuh istriku" ucap Xavier dengan mata tajam penuh emosi.


"Di markas bos" ucap Albert.


"Beri dia sambutan hangat dariku" ucap Xavier sambil tersenyum bagai iblis.


"Baik bos" ucap Albert.


Albert segera mengirim pesan kepada Sam untuk melakukan semua perintah bosnya. Thomas lalu maju dan memberikan iPad kepada Xavier berisi cctv mansion nenek Esma.


"Berengsek akan ku habisi mereka semua" ucap Xavier dengan nada tinggi.


Aura menghitam dan membunuh sangat terasa di dalam sana. Ia tidak menyangka jika nenek tua itu akan menculik istrinya besok.


Xavier kemudian tertawa seperti iblis saat menemukan ide yang cocok untuk musuh-musuhnya. Albert dan lainnya merinding ketakutan saat mendengar tawa sang bos barusan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Siapkan anak buah kita" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Apa kita akan memburu mereka malam ini bos?" tanya Albert.


"Kita jebak mereka saat permainan mereka besok"


"Bukannya itu beresiko bos" ucap Thomas.


"Apa kamu sudah menjadi bodoh" ucap Xavier dengan tatapan tajam dan ketus.


"Sorry bos" ucap Thomas dengan gugup.


"Kevin besok temani Chloe palsu untuk menjebak mereka" ucap Xavier sambil bersedekap dada.


"Apa kita akan menunggu mangsa di titik itu bos" ucap Albert tersenyum sinis.


"Hemmmm! Kita buru mereka sekaligus seperti predator kelaparan" ucap Xavier dengan seringai.


"Oke bos" ucap keempatnya serentak.


Mereka tahu maksud dari Xavier untuk mengoceh musuh mereka besok sekaligus menangkap mereka satu kali. Xavier tersenyum iblis memikirkan musuh-musuhnya.


"Mike kamu culik si berengsek itu" ucap Xavier dengan dingin.


"Baik bos" ucap Mike dengan suara dingin.


"Thomas buat markas wolf menjadi abu di waktu yang sama"


"Oke bos"


"Jangan lupa beri nenek tua itu sedikit hadiah kecil" ucap Xavier dengan sinis.


"Baik bos" ucap Albert.


Xavier lalu memberi isyarat kepada mereka untuk segera pergi. Ia lalu menutup mata karena lelah memikirkan rencana mereka untuk besok.


Ceklek.......


Tiba-tiba pintu dibuka dan masuklah Chloe dengan pelan. Xavier tahu jika yang masuk adalah sang istri karena hanya dia saja yang berani masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kenapa hubby tidur disini" ucap Chloe sambil memijit kening Xavier.


Ia menutup mata merasakan pijitan sang istri yang sangat enak. Chloe menunggu suaminya menjawab pertanyaan darinya barusan dengan tenang, ia tahu jika saat ini Xavier tengah memikirkan sesuatu.


"Kenapa kamu belum tidur baby" ucap Xavier sambil menarik Chloe ke pangkuannya.


"Aku pengen makan masakan kamu sayang" ucap Chloe dengan penuh harap.


"Tapi aku tidak bisa masak baby" ucap Xavier dengan kening berkerut.


"Tapi aku maunya kamu yang masak sayang" ucap Chloe dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah aku akan membuatnya untuk istriku" ucap Xavier dengan pasrah.


Xavier lalu menyuruh pak Max memanggil para koki ke dapur untuk membantunya. Chloe sendiri memilih duduk di ruang keluarga sambil tiduran di sofa dan menonton tv.


Selang 20 menit Chloe menarik napasnya dalam karena tidak tahan dengan suara sang suami. Sedari tadi hanya ada bentakan dan kata-kata kasar dari Xavier kepada pelayan dan koki, bahkan bunyi benda berjatuhan tambah memperkeruh suasana.


"Emang ada perang apa di dapur" gumam Chloe dengan emosi.


Ia segera beranjak ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. Chloe kaget bukan main melihat dapur mewahnya sudah berubah menjadi kapal pecah, teflon dan piring berhamburan dimana-mana.


Jangan lupa masakan bercecer disana dan bau gosong menyeruak di dalam dapur. Chloe memijit keningnya karena harus menahan emosi melihat semua kekacauan ini.


"Ini pertama dan terakhir gue nyuruh Xavier ke dapur" gumam Chloe dengan pelan.


"Stop hubby" ucap Chloe dengan suara tinggi.


Xavier berbalik saat mendengar suara sang istri yang seperti sedang marah. Ia lalu mencuci tangan dan berjalan ke arah Chloe dengan santai tak bersalah sedikit pun.


"Baby"


"Apa kamu mau mendekorasi ulang dapur kita sayang" ucap Chloe dengan penuh penekanan.


"Kalau kamu mau kita bisa mendekor ulang besok sayang" ucap Xavier sambil terkekeh.


Chloe menutup mata mendengar jawaban sang suami yang sangat santai. Xavier sebenarnya tahu jika Chloe sedang menahan emosinya karena dapur adalah tempat favorit istrinya itu.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Maaf aku tidak bisa membuatkan makanan untukmu sayang" ucap Xavier sambil memeluk Chloe.


"Itu lebih baik sayang dari pada kamu menghancurkan dapur" ucap Chloe sambil menatap tajam sang suami.


"Heemmm"


Mata Chloe seketika membulat melihat teflon kesayangannya. Ia melepas pelukan Xavier dan berjalan ke arah dapur untuk melihat lebih jelas apa itu teflon kesayangannya atau bukan.


"Hubby"


"Heeemmmm"


"Apa yang sudah kamu lakukan dengan teflon kesayanganku sayang" ucap Chloe penuh penekanan.


"Seperti yang kamu lihat sayang itu jadi gosong" ucap Xavier dengan rasa tak bersalah.


"Aku tidak mau tahu pokoknya besok harus sudah ada teflonku yang sama persis disini" ucap Chloe dengan suara tegas.


Xavier mengangkat alisnya sebelah karena bingung dengan perkataan sang istri. Ia tak tahu jika itu adalah teflon kesukaan Chloe yang ada tanda tangan chef terkenal.


Chloe lalu menyuruh pak Max membawakannya sepiring sandwich ke ruang keluarga. Sepeninggal Chloe Xavier masih memandang teflon yang tadi dipegang oleh Chloe.


"Apa bagusnya telfon ini" ucap Xavier dengan kesal.


"Nyonya mendapatkan itu waktu berbelanja di supermarket tuan kebetulan itu ada tanda tangan chef terkenal disitu tuan" ucap pak Max.


"Ckk!!"


Xavier berdecak tak suka mendengar perkataan pak Max barusan. Ia lalu mengirimkan pesan kepada Albert untuk membawakan teflon yang sama persis dengan punya Chloe besok pagi.


Xavier lalu menyusul Choe ke ruang keluarga, meski masih kesal tapi Chloe mendekatkan kepalanya di dada sang suami sambil memakan sandwich.


~ Roma, Italia ~


Johan sudah sampai di markas mereka dan segera masuk ke dalam. Tak menunggu lama ia sudah berada di ruang kerja sang kakak dimana disana juga ada Emilio.


"Selamat datang tuan Johan" ucap Emilio dengan sopan.


"Heeemmmm"


"Ada apa kamu kesini" ucap Juan dengan suara tegas.


"Aku tahu kakak bukan orang yang akan melakukan sesuatu dengan tidak beralasan" ucap Johan.


"Heemmm! Tebakanmu benar" ucap Juan sambil tersenyum sinis.


"Jadi" ucap Johan dengan penasaran.


"Kamu tahu kapan daddy memanggil pengacara pribadi keluarga kita ke mansion" ucap Juan dengan suara dingin.


"Pengacara maksudnya pak Rivano" ucap Johan.


"Heeemmmm"


"Apa maksud kamu kak?" tanya Johan penasaran.


"Daddy sudah merubah wasiatnya dan apa kamu tahu anak ja***g itu sekarang memiliki saham 20% di Nidas Corp" ucap Juan dengan tatapan emosi.


"Apa" teriak Johan dengan kaget.


Johan seketika lemas karena tak menyangka sang daddy akan melakukan hal tersebut. Dia langsung melihat sang kakak dengan tatapan sulit diartikan.


"Berapa saham kakak dan bagaimana bisa Chloe memiliki saham yang banyak disana" ucap Johan dengan bingung.


"Kamu ingat saham milik Sintia yang sudah di balik nama atas nama mommy"


"Ya aku tahu kak tapi bukannya saham Sintia hanya 7% saja" ucap Johan.


"Daddy sudah membalik nama saham itu atas nama anak ****** itu bahkan daddy juga memberi saham miliknya sebesar 13%" ucap Juan dengan emosi.


"Sial" teriak Johan dengan emosi.


Juan tersenyum melihat adiknya yang baru mengetahui hal tersebut. Ia tahu jika sang adik juga tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh daddy mereka.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Jadi apa rencana kakak"


"Bunuh pengganggu kecil itu biar ke depannya tidak ada masalah lagi" ucap Juan dengan suara tegas.


"Itu hal yang sulit ka masalahnya saat ini kita menghadapi musuh terbesar kita" ucap Johan.


"Ya i know tapi sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan dia merampas apa yang sudah menjadi milikku" ucap Juan dengan suara tinggi.


"Aku dukung kakak"


"Heeemmm"


Keduanya lalu sepakat untuk membunuh Chloe bagaimana pun caranya. Tanpa mereka sadari ternyata semua pembicaraan mereka saat ini direkam oleh Emilio karena ia adalah mata-mata dari Robert Nidas.


~ California, Los Angeles ~


Pagi ini Chloe bangun lebih terlambat dari biasanya. Xavier yang sudah lebih dulu bangun dan membersihkan dirinya menatap sang istri dengan khawatir.


Pasalnya semalam Chloe tidak bisa tidur karena pinggangnya sakit. Xavier yang panik segera menelpon Kevin untuk segera datang ke mansion pukul 02:00 dini hari.


Xavier lega saat istrinya diperiksa oleh dokter kandungan dan mengatakan itu hal yang wajar di alami oleh ibu hamil. Xavier ingat perkataan dokter semalam yang menyuruhnya untuk memijit Chloe saat ia merasa ngilu di pinggang.


"Aku sangat mencintaimu sayang" ucap Xavier sambil mencium puncak kepala Chloe.


Chloe yang merasa dicium segera membuka matanya dan melihat sang suami sedang tersenyum. Chloe mengelus pipi Xavier dengan lembut.


"Morning hubby" ucap Chloe dengan suara khas bangun tidur.


"Morning too baby"


Xavier lalu mencium b***r Chloe dengan lembut seperti biasanya. Keduanya lalu bangun dan segera bersiap untuk sarapan di bawah, sampai disana Chloe dan Xavier segera di sambut oleh pak Max dan para pelayan.


"Pagi tuan dan nyonya" ucap pak Max.


"Pagi juga pak Max" ucap Chloe dengan senyum manis.


Xavier hanya mengangguk kepalanya seperti biasa tidak meladeni sapaan dari pak Max. Keduanya lalu sarapan dengan tenang, setelah sarapan Xavier mengandeng tangan Chloe untuk mengantarnya ke depan mansion.


"Kamu di mansion ya sayang jangan kemana-mana" ucap Xavier dengan lembut.


"Iya sayang aku tahu" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Aku pergi dulu sayang" ucap Xavier sambil mencium b***r dan perut Chloe.


Chloe melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian Xavier. Saat mobil Xavier dan para pengawalnya lewat ada 2 mobil yang berdiri di samping mansion mengawasi mereka.


"Albert suruh sahabat istriku dan keluarganya ke mansion menemani Chloe" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Albert.


~ Wesly Group ~


Mobil Xavier akhirnya tiba di perusahaan miliknya, Albert membuka pintu untuk sang bos yang langsung disambut oleh para pengawal. Mereka lalu segera masuk ke dalam perusahaan.


Sampai di ruang kerjanya Thomas sudah menunggu kehadiran dari sang bos. Xavier segera duduk di kursi kebesarannya untuk memulai perburuan mereka hari ini.


"Bagaimana" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Mereka semua sudah bergerak bos dan juga anak buah kita semuanya sudah diposisi mereka masing-masing" ucap Thomas.


"Suruh Kevin memulai permainannya" ucap Xavier sambil tersenyum sinis.


"Oke bos" ucap Albert.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Kevin yang berada di mansion Xavier segera masuk ke dalam mobil yang sudah ada seorang gadis di dalam sana. Gadis itu memiliki ciri-ciri seperti Chloe sehingga di jadikan umpan untuk menangkap musuh mereka semua.


"Bos umpan sudah dimakan" ucap Kevin sambil tersenyum lewat earpiece.


"Bawa mereka ke tempat itu" ucap Xavier dengan suara dingin.


Saat ini mobil Kevin di temani 4 mobil pengawal berada di jalan menuju ke pinggiran kota. Anak buah Zen terus saja mengikuti mobil mereka dan melaporkan semua kepada Zen.


Zen yang saat ini berada di mansion nenek Esma segera pergi ke tempat yang sudah mereka tentukan. Saat mobilnya keluar tanpa ia sadari ternyata Mike dan Ken sedang menantinya di persimpangan jalan.


"Tangkap gadis itu sekarang" ucap Zen kepada anak buahnya.


"Baik bos" ucap anak buahnya dari seberang.


Mobil yang dinaiki Kevin segera dihadang oleh musuh mereka. Kevin memberi perintah kepada pengawal untuk membiarkan mobil itu mendekati mobilnya.


Dua mobil musuh segera memblokir jalan Kevin di depan sehingga mereka tidak bisa melewatinya. Kevin tersenyum sinis melihat ada 12 orang pria berbadan besar menuju ke arah mobil mereka.


"Keluar" ucap musuh mereka sambil menggedor kaca mobil.


Kevin dan sang sopir keluar sambil mengangkat tangan mereka. Seketika terdengar bunyi tembakan.


Dor.......dor.........dor........dor..........


Anak buah Zen menunduk mencari perlindungan tapi naas anak buah Xavier sudah mengepung mereka.


"Bos mission complete" ucap Kevin dari seberang.


Xavier yang mendengar ucapan Kevin tersenyum sinis. Ia lalu memberi isyarat kepada Thomas untuk memporak-poranda markas milik Zen di Italia.


Zen yang berada di dalam mobil seketika kaget melihat panggilan dari anak buahnya di markas.


"Bos"


^^^"Ada apa"^^^


"Gudang obat-obatan kita terbakar habis dan markas kita juga terbakar bos" ucap anak buahnya dengan suara bergetar.


^^^"Apa" teriak Zen dengan kaget.^^^


"Baru saja musuh menyerang markas kita bos dan semua anak buah kita tewas bos"


^^^"Siapa yang sudah menghancurkan markasku! Hah" teriak Zen dengan suara tinggi.^^^


"Saya tidak tahu bos mereka memakai topeng di wajah mereka bos"


^^^"Sialan apa kamu tidak bisa bekerja dengan baik"^^^


Brak.........


Mobil Zen ditabrak dari samping dengan kuat, seketika mobilnya terpental dan terbalik. Zen lalu berusaha keluar dari mobil bersama sang sopir dan tangan kanannya.


Dor...............dor..............


Bunyi 2 tembakan terdengar dengan kencang disana. Zen yang terluka akibat benturan tidak bisa melakukan apa-apa karena rasa pening di kepalanya, Zen melihat ada 2 orang pria datang menghampirinya dengan membawa senjata.


"Siapa kalian" ucap Zen dengan terbata.


"Malaikat mautmu" ucap Mike dengan suara dingin.


Bugh..........


Seketika Zen pingsan karena dipukul oleh Mike dengan pistol di kening. Mike tersenyum sinis dari balik topengnya begitu pula dengan Ken.


"Bawa dia ke mobil" ucap Mike.


Mike lalu mengirim pesan foto Zen kepada Albert untuk memberitahu tugasnya sudah selesai. Albert tersenyum puas melihat pesan dari Mike.


"Zen sudah ditangkap bos" ucap Albert dengan dingin.


"Heemmm! Beri nenek tua itu hadiah kecil" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Albert.


Nenek Esma yang berada di mansionnya seketika pingsan saat mendengar laporan dari asistennya. Ia tak menyangka jika pabrik anggur mereka hangus terbakar tanpa ada sisa apapun.


Xavier hari ini tertawa bagai iblis di ruang kerjanya karena berhasil memburu mangsanya sekaligus.


Welcome to my game, batin Xavier dengan tatpan bagai monster lapar.


...❄❄❄❄❄...


To be continue................


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀