Heartless

Heartless
Episode 154



🌻Ketika kamu bisa memaafkan dan tersenyum kepada orang yang telah menyakitimu saat itu juga kamu telah membuktikan kalau kamu lebih baik darinya🌻


.


.


.


.


Kelima orang yang berada di hadapan Sean seketika gemetar ketakutan saat penutup kepala mereka dibuka. Mereka tidak menyangka akan berhadapan dengan calon penerus keluarga Rahardian.


"Tuan apa salah kami" ucap salah satu dari mereka.


"Denis" ucap Sean dengan suara dingin.


Denis maju ke depan sehingga wajahnya bisa dilihat oleh 5 orang yang sangat dikenalinya. Denis lalu tersenyum bahagia melihat keterkejutan kelimanya.


"Selamat malam tuan-tuan" sapa Denis dengan senyum manis.


Melihat sepupunya tersenyum manis kepada musuhnya seketika membuat Sean berdecak kesal. Ia tidak menyangka jika sang adik masih saja tersenyum tanpa beban kepada musuhnya selama ini.


"Kamu apa yang kamu lakukan disini berengsek!" bentak salah satu dari kelima orang itu yang diduga otak semuanya.


"Apa aku tidak boleh berada disini bersama kalian pak Bara" ucap Denis dengan tersenyum sinis.


"Apa mau kamu!" bentak Bara dengan suara tinggi.


"Uhmm! Brother mereka tanya apa mauku jadi bagusnya gimana menurut KAKAK" ucap Denis menekan kalimatnya di akhir.


Kelimanya seketika terkejut mengetahui jika penerus Rahardian adalah kakak dari kepala rumah sakit Rahardian. Selama ini mereka ternyata sudah salah memilih lawan.


"Aku ingin merenovasi ruangan ini dengan warna baru biar lebih indah" ucap Sean sambil tersenyum penuh arti.


"Dimas menurutmu warna apa yang bagus?" tanya Denis.


"Warna merah sepertinya bagus tuan muda Denis biar lebih cerah! Hahahaha" ucap Dimas sambil tertawa.


Denis yang mendengar perkataan Dimas mengangguk kepala tanda setuju. Anak buah Sean yang berada di sana menelan saliva mereka dengan susah karena tahu apa yang akan terjadi selanjutya.


"Kalau begitu ayo kita ambil cat mentahnya" ucap Sean sambil menerima pisau dan tang dari anak buahnya.


Ia tersenyum smirk memindai satu persatu musuh di depannya. Sean lalu men****t j**i kuku tangan Bara terlebih dahulu.


Arghhhhh.............


Teriak Bara karena merasakan sakit luar biasa di kedua tangannya, Sean sendiri tersenyum senang mendengar teriakan Bara saat ini.


"Ini balasan karena sudah menganggu keluarga gue" ucap Sean dengan tatapan tajam.


Seketika ruangan tersebut dipenuhi dengan teriakan kesakitan dari kelima orang tersebut. Da**h yang mengalir deras di lantai ruang interogasi sudah sangat banyak.


Anak buah Sean gemetar melihat kekejaman tuan muda mereka yang seperti monster. Denis dan Dimas yang melihat aksi Sean kali ini menelan saliva dengan susah.


Rio yang melihat aksi tuan mudanya di dalam ruang kontrol markas bergidik ngeri. Saat ini kekejaman Sean tidak seperti biasa, bahkan saat ini ia seperti psychopat berdarah dingin dan tidak mempunyai belas kasihan.


"Sepertinya tuan akan kaget melihat hal ini" ucap Rio.


Setelah melihat Sean sudah selesai dengan aksinya Rio langsung mengambil video rekaman tersebut dan menghapusnya agar tidak meninggalkan jejak apapun disana, Rio lalu mengirim video tersebut ke Riko tuannya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Sean lalu menerima handuk dan air mencuci kedua tangannya setelah puas menyiksa musuh sepupunya. Denis sendiri berdiri dengan gemetar melihat o***n tubuh ma****a yang bercecer disana.


Hooeeekkk............


Ia saketika muntah karena tidak tahan dengan pemandangan tersebut, bahkan bau anyir d***h sangat terasa di dalam ruangan tersebut. Sean dan Dimas yang melihat Denis muntah seketika tertawa mencemooh.


"Cih! Apa segitu aja mental loe" ucap Sean dengan ketus.


"Gue ngak tahan lihat kayak gitu" ucap Denis berlari keluar dari sana.


Sean hanya menggelengkan kepalanya melihat keadaan sepupunya yang sangat tidak tahan dengan pemandangan seperti ini. Ia lalu keluar dan pergi keruangan pribadinya untuk membersihkan tubuhnya.


"Bakar semuanya dan barang pribadi mereka" ucap Dimas kepada anak buah Sean.


"Baik bos" ucap mereka dengan serentak.


Dimas lalu berlalu pergi menyusul Sean ke ruangan pribadinya. Denis yang sudah di luar langsung menerima air minum yang diberikan oleh Rio tangan kanan sang om.


"Apa anda baik-baik saja tuan muda Denis?" tanya Rio.


"Tuan muda loe gila banget sangat mengerikan" jawab Denis bergidik ngeri.


"Tuan muda juga saudara sepupunya tuan muda Sean" ucap Rio sambil terkekeh.


"Heh! Benar kata loe" ucap Denis sambil menepuk keningnya.


Setalah Sean membersihkan tubuhnya mereka lalu masuk ke mobil masing-masing untuk pulang ke tempat mereka. Denis yang tak kuat mengemudi meminta anak buah Sean mengantarnya pulang ke mansion.


~ Mansion Rahardian ~


Riko yang saat ini berada dalam ruang kerjanya memeriksa email yang baru saja masuk, seketika ia melihat hpnya yang berbunyi tanda ada pesan masuk.


Riko membuka hpnya dan mengernyitkan keningnya melihat pesan masuk dari Rio.


Buat apa Rio kirim video malam-malam, batin Riko.


Tak mau penasaran ia lalu memutar video tersebut, seketika Riko kaget melihat video yang berisi aksi anaknya memberi pelajaran kepada musuh mereka.


Riko tak menyangka jika Sean akan berbuat aksi seperti seekor monster yang sedang mencabik-cabik tubuh mangsanya. Ia yang tahu sifat anaknya membulatkan matanya karena aksi anaknya kali ini sangat mengerikan dari biasanya.


Riko lalu menelpon Rio untuk menanyakan perihal tersebut, pada dering kedua Rio langsung menjawab panggilan atasannya itu.


"Halo tuan"


^^^"Kapan kejadiannya" tanya Riko to the point.^^^


"Barusan di markas tuan"


^^^"Apa siapa musuhnya kali ini Rio" ucap Riko dengan suara tinggi.^^^


"Mereka adalah musuh tuan muda Denis yang selama ini menganggu keluarga mereka karena menolak kerja sama dengan mereka tuan"


^^^"Memangnya apa yang mereka tawarkan"^^^


"Mereka ingin melakukan transaksi jual beli organ di rumah sakit Rahardian tuan"


^^^"Berengsek" maki Riko dengan emosi.^^^


Rio yang mendengar kemarahan tuannya hanya diam saja tidak mengucapkan satu kata pun. Ia tahu saat ini tuannya sangat emosi karena tidak tahu jika ada yang menganggu keluarganya.


^^^"Dimana Sean dan Denis" ucap Riko.^^^


"Tuan muda Sean dan Denis sudah kembali ke mansion mereka masing-masing tuan"


^^^"Heemmm! Pastikan tidak ada bukti dari kelima orang tersebut" ucap Riko dengan datar.^^^


"Iya tuan"


Riko lalu mematikan panggilannya sepihak. Ia lalu mengirimkan video tersebut ke sang papa, Riko tahu jika papanya pasti yang menyuruh Sean untuk membantu sepupunya.


"Papa tidak akan membiarkan kamu sampai berubah menjadi monster seutuhnya son" ucap Riko dengan tatapan tajam.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Mansion Xavier ~


Tepat pukul 23:00 Chloe yang sadar tidak bisa tidur lagi, ia sangat merindukan sang suami karena setiap malam Chloe harus dipeluk Xavier baru bisa tidur.


Chloe bangun dan mengambil baju kemeja Xavier yang masih ada bau tubuhnya, ia berharap dengan mencium aroma tubuh Xavier ia bisa tidur.


"Gue rindu sama Xavier" ucap Chloe dengan sedih.


Ia mengambil hpnya dan menghubungi Xavier. Pada panggilan pertama tidak diangkat, Chloe terus mencobanya hingga panggilan ketiga tapi tetap tidak diangkat.


Air mata Chloe seketika jatuh merasa suaminya sudah melupakan dirinya. Selang 5 menit hpnya berbunyi tanda panggilan video dari Xavier.


"Sayang"


Bukannya menjawab tapi Chloe menangis dengan kencang melihat wajah suaminya. Xavier yang melihat istrinya menangis menjadi sangat panik.


"Baby kamu kenapa apa ada yang sakit, apa yang kamu mau sayang" ucap Xavier dengan panik.


^^^"Kamu jahat" ucap Chloe sambil terisak.^^^


"Hah! Apa maksud kamu sayang" ucap Xavier dengan bingung.


^^^"Kenapa tidak menjawab panggilan aku dari tadi......hiks hiks"^^^


"Hey sayang don't cry please aku tidak sanggup melihat air mata kamu jatuh sayang" ucap Xavier dengan panik.


^^^"Kamu tidak sayang sama aku lagikan"^^^


"Sayang cinta aku cuma hanya untukmu dan anakku bahkan jiwa dan tubuh ini hanya milik kamu seorang sayang"


^^^"Yang benar" ucap Chloe dengan senang.^^^


Xavier tersenyum melihat wajah sang istri yang sudah kembali ceria. Ia sangat tahu jika saat ini emosi Chloe berubah-berubah karena hormon kehamilannya.


^^^"Heemm! Sudah tapi tidak seenak bikinan kamu sayang" ucap Chloe dengan manja.^^^


"Tunggu ya sayang secepatnya aku akan segera kembali"


^^^"Jangan lama ya sayang aku tidak bisa tidur tanpa kamu dan anak kamu sangat rindu dengan daddynya"^^^


"Anaknya atau mommynya" ucap Xavier menggoda sang istri.


^^^"Hehehe! Dua-duanya sayang"^^^


"Ya sudah mommy tidur ya jangan sampai bayinya tidur terlalu malam"


^^^"Tapi ditemani ya sama daddy"^^^


"Iya sayang"


Xavier lalu menemani sang istri lewat video call. Saat melihat Chloe telah nyenyak Xavier lalu mematikan panggilan tersebut, ia lalu mengerjakan kembali berkas kerja sama dengan direktur Alif bersama Albert dan Thomas di dalam kamar hotel.


"Albert bawa semua berkas kesini" ucap Xavier dengan datar.


Albert lalu menyerahkan begitu banyak berkas kepada Xavier yang sudah ia teliti. Malam itu ketiganya tidak tidur dan menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa kembali ke Indonesia dengan cepat.


Waktu berlalu dengan cepat tak terasa hari sudah pagi, Xavier merentangkan kedua tangannya dan melihat Albert dan Thomas yang masih tertidur. Ia lalu mengirimkan pesan kepada sang istri.


MyWife❀


"Jangan lupa makan dan minum susu sayang, love you baby"


Xavier lalu menyimpan hpnya dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia lalu tidur sebentar sebelum meeting jam 11:00 nanti.


Chloe yang sedang menonton drama kesukaannya seketika mengalihkan pandangannya saat mendengar ada pesan masuk. Chloe seketika tersenyum membaca pesan suaminya.


MyHubby❀


"Iya sayang kamu juga ingat makan dan jaga hati disana"


Tak lama saat sedang menonton ia melihat ramen korea dan ingin sekali memakannya. Chloe lalu melihat ke arah Kevin dengan mata berbinar-binar, Kevin yang duduk di sofa seberang seketika menelan ludahnya dengan susah.


"Sepertinya aku ada jadwal operasi hari ini" ucap Kevin dengan cepat.


"Kevin aku tahu loh kalau kamu dibebas tugaskan dari rumah sakit selama suamiku pergikan" ucap Chloe sambil tersenyum penuh arti.


Kevin seketika tidak bisa berkutik lagi karena apa yang dikatakan Chloe memang benar. Chloe lalu pergi ke dapur untuk mencari ramen Korea.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 v》...


Pak Max dan para koki lalu menyiapkan ramen Korea dua mangkok besar dengan diberi cabe yang banyak. Kevin lalu disuruh Chloe untuk duduk di meja makan, ia sebenarnya bingung dan juga penasaran apa yang akan diminta sang nyonya kali ini.


Semoga tidak aneh-aneh permintaannya, batin Kevin.


"Nyonya silahkan" ucap pak Max sambil menaruh 2 mangkok ramen porsi besar.


Chloe tersenyum bahagia melihat 2 mangkok ramen porsi besar dengan banyak cabe. Chloe lalu mencium aroma ramen tersebut lalu menyodorkan ke Kevin setelah puas.


"Kamu habiskan semuanya ya Kevin" ucap Chloe dengan santai.


"Apa" ucap Kevin dengan kaget.


"Kamu dengar dengan jelas apa yang aku katakan" ucap Chloe dengan tatapan tajam.


Kevin seketika melihat tatapan tajam Chloe yang seperti bosnya, ia melihat kuah ramen yang berwarna merah menyala merasa tidak sanggup.


Dengan terpaksa akhirnya Kevin memakan ramen Korea sambil ngos-ngosan, bibirnya panas dan bengkak karena ramen yang sangat pedas. Para pelayan yang melihat Kevin dengan wajah merah padam menahan tawa mereka.


Chloe sendiri tersenyum bahagia melihat wajah Kevin yang merah padam. Ia bertepuk tangan saat melihat kedua mangkok ramen sudah ludes, Kevin lalu berlari ke dapur dan mengambil air es dalam kulkas untuk menghilangkan rasa pedas di bibirnya.


"Kevin kamu baik-baik saja kan?" tanya Chloe dengan santai.


"Aku tidak sanggup lagi nyonya" jawab Kevin dengan menahan rasa pedas di bibirnya dan perutnya.


"Oh"


Chloe lalu pergi ke kamar karena merasa mengantuk. Seperginya Chloe dari sana Kevin langsung bergegas ke kolam renang dan menceburkan dirinya ke dalam.


"Sepertinya anak bos sangat dendam denganku" ucap Kevin dengan raut kesal.


~ RM Group ~


Selama beberapa bulan terakhir Adam dan Laura terus berusaha untuk meningkatkan saham perusahaan. Uang yang dipakai oleh Aurel juga sudah diganti kembali hari itu juga.


Kenzo yang menjadi wakil direktur seakan membuat mereka sangat kewalahan karena tindakannya. Ia seakan-akan membuat Adam dan Laura selalu saja kesusahan untuk mendapatkan klien.


"Dad bagaimana dengan klien kita dari Kalimantan" ucap Laura.


"Sampai saat ini belum juga ada balasan dari mereka tentang kerja sama kita" ucap Adam dengan pusing.


"Apa ini semua kerjaannya anak pembunuh itu" ucap Laura.


"Sepertinya sayang" ucap Adam dengan tatapan membunuh.


"Apa belum juga ada kemajuan dari orang yang kamu sewa?" tanya Laura.


"Belum penjagaan anak sialan itu sangat ketat"


"Bagaimana dengan Kenan dan teman sekolahnya dulu"


"Tidak bisa karena ia sangat menutup diri dari mereka semua" ucap Adam dengan tegas.


Laura lalu diam dan berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa menghabisi Chloe dan merebut sahamnya. Tak lama pintu ruangannya dibuka dengan kasar dan masuklah Queen ke dalam dengan wajah emosi.


"Sayang" ucap Laura dengan bingung melihat anaknya yang datang tanpa ada kabar.


"Daddy harus bantu Queen" ucap Queen dengan tatapan tajam.


"Apa yang membuat putri daddy sampai emosi seperti ini" ucap Adam dengan senyum manis memeluk sang anak.


"Semuanya tentang mas Sean daddy" ucap Queen dengan emosi.


"Memangnya apa yang Sean lakukan princess" ucap Laura.


"Mas Sean tidak pernah bisa melupakan anak sialan itu mommy, bahkan dia tidak menganggap Queen sebagai istrinya mom" ucap Queen mengadu kepada Laura.


"Dasar anak pembunuh sialan" ucap Laura dengan emosi.


"Pokoknya daddy harus secepatnya membunuh gadis ja***g itu kalau perlu bakar tubuhnya sampai menjadi abu" ucap Queen dengan wajah sinis.


"Kamu tenang saja sayang secepatnya anak itu hanya tinggal nama saja" ucap Adam dengan tatapan membunuh.


"Iya daddy" ucap Queen sambil tersenyum manis.


Ketiganya lalu membicarakan rencana apa yang akan mereka lakukan saat menculik Chloe.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tanpa ketiganya tahu ternyata Kenzo mendengar semua pembicaraan mereka karena sudah menaruh alat penyadap di dalam ruangan Adam.


~ Mansion Sean ~


Sean yang pulang ke mansion saat jam makan siang sangat senang melihat sang buah hati yang sedang makan. Ia tersenyum bahagia melihat sang buah hati yang makan dengan lahap.


Setelah mencuci tangan dia lalu berjalan menuju ke meja makan. Sampai disana ia mencium pipi sang anak yang berada dalam gendongan sang pengasuh.


"Anak papa makan yang banyak ya" ucap Sean dengan senyum hangat.


"Tuan ada yang ingin saya sampaikan" ucap bi Lastri.


Sean lalu menerima baby Ares dan menyuruh kedua pengasuhnya pergi. Sesaat tinggallah Sean, Dimas dan bi Lastri di ruang makan.


"Katakan" ucap Sean dengan datar.


Bi Lastri lalu menceritakan semua yang ia dengar saat Sean sedang berbicara dengan Bima. Sean yang mendengar cerita bi Lastri seketika mengepal tangannya dengan kuat.


Wajahnya sudah berubah menjadi sangat merah padam karena tak menyangka Queen ingin menghancurkan keluarganya. Sean lalu tersenyum sinis karena merasa Queen sudah berani bermain dengannya.


"Sepertinya gue terlalu santai sama loe selama ini" ucap Sean sambil tersenyum sinis.


Bi Lastri dan Dimas yang melihat senyuman Sean seperti itu hanya diam tidak berani berkata apa-apa. Mereka sudah tahu jika saat nyonya mereka pulang maka ia akan mendapat kejutan dari Sean.


"Dimas blokir semua kartu kredit perempuan sialan itu" ucap Sean dengan dingin.


"Baik tuan" ucap Dimas.


"Perintahkan semua pelayan untuk tidak melayani perempuan sialan itu mulai dari sekarang" titah Sean dengan suara tinggi.


"Baik tuan" ucap bi Lastri dengan gugup.


Baby Ares seketika menangis mendengar suara tinggi sang papa. Sean lalu menepuk anaknya agar tidak lagi menangis dan hal tersebut berhasil.


Sean lalu menyuruh Dimas kembali ke perusahaan karena ia tidak ingin kembali lagi ke perusahaan. Ia akan menunggu kepulangan Queen dan memberi hadiah istimewa kepada Queen.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀