
π»Seperti matahari dan cakrawala, bulan dan bintang, begitu pula aku dan dirimuπ»
.
.
.
.
Mendengar namanya disebut Xavier bangun dan berjalan ke atas podium dengan penuh wibawa. Aura kepemimpinan dan ketegasan dalam dirinya seakan menyeruak keluar dalam auditorium.
Sampai di atas podium Xavier melihat beribu mahasiswa yang sudah memenuhi tempat tersebut. Wajahnya hanya menampilkan ekspresi datar dan dingin.
Meski menunjukan wajah dingin dihadapan publik tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya dan popularitasnya di kalangan kaum hawa. Suara riuh membahana seakan menyambut kehadirannya.
"Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya" ucap Xavier dengan suara tegas dan baritonenya.
Xavier menjeda ucapannya dan kemudian melanjutkan kembali. Saat Xavier menyampaikan materi Chloe yang melihat dirinya dari lantai dua sangat merindukannya.
Tanpa diketahui oleh siapa pun Chloe mengelap air matanya yang terus mengalir dari tadi. Xavier masih terus memberikan penjelasan mengenai dunia bisnis saat ini.
Saat dia mengangkat kepala melihat ke arah lantai dua tiba-tiba jantungnya seketika berdetak dengan cepat. Raut wajahnya menampilkan rasa kaget bercampur senang karena berhasil menemukan gadis kecilnya.
Albert yang menyadari ada kejanggalan seketika mengikuti arah pandang bosnya. Tiba-tiba ia pun kaget melihat kehadiran gadis yang selama ini dicari oleh bosnya.
Albert melirik kearah Xavier yang juga melirik kearahnya sekaligus memberinya isyarat. Albert yang sudah mengerti apa yang harus ia lakukan seketika berjalan keluar meninggalkan auditorium tersebut.
Xavier kembali melanjutkan memberikan penjelasan mengenai dunia bisnis setelah berhasil mengontrol dirinya. 20 menit berlangsung Xavier sudah menyelesaikan materinya dan memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk bertanya.
"Ya saya memberikan kesempatan kepada 3 penanya untuk bertanya kepada Mr.Wesly" ucap sang moderator.
Riuh para mahasiswa terdengar jelas dan banyak sekali yang mengangkat tangannya untuk bertanya. Bahkan Mira dan Julian pun ikut mengangkat tangan mereka.
Tapi tidak dengan Chloe karena saat ini dirinya memikirkan tentang jati diri Xavier yang sebenarnya. Tiba-tiba Chloe mengingat percakapannya dengan ibu cleaning service di apartemen Xavier waktu itu.
Jadi apa yang dikatakan ibu itu benar kalau Xavier adalah pemilik Puri Orchid *Apartment dan selama ini aki yang bodoh karena sudah menganggap Xavier sebagai pekerja kantoran biasa, batin Chloe*.
Chloe melihat Xavier dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dirinya seakan merasa kecil jika bertemu dengan Xavier karena perbedaan mereka yang sangat jauh sekali.
"Apa gue pantas untuk menyapa seorang yang sangat terkenal kayak loe" gumam Chloe dengan pelan.
Selama sesi tanya jawab berlangsung Albert yang bertugas mencari tahu semua informasi tentang Chloe di ruang informasi akhirnya tersenyum senang.
Ternyata gadis yang selama ini sudah menjungkir balikan dunia bosnya ini sangat dekat dengan mereka. Tak mau berlama-lama Albert pun kembali ke ruang auditorium karena sudah mengetahui data dan alamat tempat tinggal Chloe.
Saat di perjalanan Albert meminta anak buahnya untuk menyelidiki apartemen Chloe dan juga kunci yang digunakannya. Apapun akan ia lakukan demi kebahagian bosnya.
Acara sesi tanya jawab pun sudah selesai dan acara seminarnya pun berakhir dengan lancar. Meski hanya beberapa menit saja acaranya tapi semua mahasiswa sangat senang karena mendapat ilmu yang sangat berharga dari seorang Xavier.
Xavier ingin menghampiri Chloe saat ini juga tapi ia ditahan oleh sang asisten. Xavier melirik Albert dengan tatapan tajam dan membunuh tapi Albert mencoba memberikannya pengertian.
Akhirnya Xavier menyetujui usulan Albert dan tidak jadi menemui Chloe. Chloe yang tidak bisa berpikir dengan jernih hanya memandang lurus ke depan.
"Mira gue balik duluan ya ada sesuatu yang mau gue kerjain" ucap Chloe dengan terburu-buru.
"Oh ok hati-hati dijalan ya" ucap Mira.
Chloe langsung berlari pulang ke apartemennya karena dirinya sudah tidak sanggup untuk disini lagi. Hatinya sangat rindu kepada Xavier tapi ia seakan tidak bisa menghampiri Xavier karena merasa malu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Chloe sampai di apartemennya dan langsung menumpahkan semua isi hatinya. Entah kenapa hatinya sangat sakit melihat Xavier hanya dari jauh, dirinya seakan ingin memeluk dan meminta maaf kepada Xavier tapi ia merasa malu.
Chloe duduk di lantai dan terus menangis di depan jendela apartemennya. Tanpa Chloe sadari ternyata ada seseorang yang membuka pintu apartemen Chloe dan masuk kedalam.
Orang itu masuk dengan langkah pelan kedalam apartemen Chloe. Seketika langkahnya terhenti mendengar suara tangisan yang amat menyesakkan hatinya.
Xavier berdiri di dekat sofa dan melihat Chloe dengan perasaan sedih, senang dan emosi bercampur satu. Ya orang yang masuk kedalam apartemen Chloe adalah Xavier.
Xavier berjalan dengan cepat kearah Chloe dan seketika langsung memeluk tubuh Chloe dengan erat. Chloe yang kaget pun mengangkat kepalanya melihat siapa yang memeluk dirinya saat ini.
Air mata Chloe mengalir dengan deras setelah melihat Xavier di depannya. Xavier terus memeluk Chloe dengan erat seakan tidak mau melepasnya.
"Kenapa di setiap awal pertemuan kita kamu harus menangis?" tanya Xavier dengan suara serak baritonenya.
"Xa...v....ier" ucap Chloe dengan terbata karena menangis.
"I miss you so much" ucap Xavier dengan lembut.
Chloe kembali terisak dalam dekapan hangat Xavier. Dirinya seperti menemukan tempat ternyaman selama ini. Xavier yang melihat gadisnya masih menangis hanya memeluk dan menenangkan Chloe.
Xavier sangat bersyukur karena sudah menemukan Chloe. Selama setahun lebih ia sangat frustasi akan keberadaan Chloe tapi sekarang ia telah menemukannya.
Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi baby, batin Xavier.
Entah sudah berapa lama Xavier dan Chloe berpelukan di lantai. Karena lelah menangis Chloe pun tertidur dalam dekapan Xavier.
Melihat hal itu Xavier tersenyum bahagia, ia kemudian mengangkat Chloe menuju kamarnya dan menidurkan Chloe dengan pelan.
Saat akan bangun Chloe yang merasa nyaman dengan pelukan Xavier terus memeluk Xavier dan tidak melepaskannya. Xavier hanya tersenyum melihat tingkah gadisnya.
Dirinya kemudian membaringkan dirinya di samping Chloe dan memeluk Chloe dengan erat. Biarlah ketika ia bangun baru dia menanyakan semua pertanyaan yang ada dibenaknya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di jam yang sama tapi berbeda tempat Mira dan Julian masih di area kampus membahas tugas mata kuliah mereka untuk esok hari.
"Mira gimana kalau kita ngerjain tugas ini barengan di perpustakaan sekarang"
"Benar juga ya mumpung ada waktu kosong nih" ucap Mira setelah memikirkan ajakan Julian.
"Yaudah ayo" ajak Julian.
"Yuk"
Mereka berdua berjalan ke perpustakaan sambil berbincang-bincang mengenai banyak hal. Entah kenapa baru kali ini Julian merasa nyaman berbicara dengan seseorang yang sudah ia anggap teman.
Saat tiba di perpus mereka berdua kemudian mengerjakan tugas kuliah besok dengan kompak. Mira yang sama-sama pintar dengan Julian berhasil menyelesaikan tugas itu dengan mudah dan cepat.
"Wah ternyata belajar sama kamu asyik juga ya" ucap Mira dengan senyum manis.
"Makasih tapi kamu juga asyik kok" ucap Julian dengan lembut.
"Kapan-kapan ngerjainnya barengan ya" ucap Mira dengan cekikan.
"Oke kalau gitu aku duluan ya"
"Mau aku anterin?" tanya Julian.
"Ngak usah dekat kok apartemennya" tolak Mira dengan lembut.
"Yaudah kalau gitu ingat hati-hati ya" ucap Julian.
"Siap bos" ucap Mira sambil berlagak hormat.
Melihat tingkah Mira seketika Julian tertawa. Dirinya sangat senang karena sudah bisa menemukan teman yang cocok dengan kepribadiannya.
Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah pukul 18:00 sore. Chloe yang baru bangun pun melihat sekeliling kamarnya dan bingung bagaimana ia bisa sampai di dalam kamar.
Tiba-tiba ingatannya berputar mengingat kejadian dimana ia menangis dengan histeris di depan Xavier. Muka Chloe seketika berubah menjadi merah padam karena malu.
Tak lama pintu kamarnya dibuka dan masuklah orang yang menjadi pusat dari pikirannya. Chloe yang masih malu hanya menundukkan kepalanya ke bawah.
Xavier berjalan dan duduk di samping Chloe dan menatapnya dengan tajam. Merasa ada yang menatapnya Chloe pun mengangkat kepalanya.
Tatapan mereka berdua pun bertemu, seakan terhipnotis dengan mata biru Xavier membuat Chloe seakan menjadi nyaman dan hangat.
"Bersihkan dirimu dan keluar untuk makan malam" ucap Xavier dengan tegas.
"Apa sudah malam" ucap Chloe dengan kaget.
Ia mengedarkan pandangan keluar dan menatap suasana diluar yang sudah gelap. Tak mau membuang waktu Chloe langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Xavier pun menunggu Chloe di ruang TV sambil mendengar penjelasan dari Albert.
"Jadi sudah dari kapan Chloe disini"
"Nona Chloe sudah berada disini selama sebulan tuan dan ternyata nona Chloe adalah seorang penerima beasiswa di UCLA bos"
"Beli apartemen ini dan buat atas namaku" ucap Xavier.
"Baik bos"
"Jangan lupa suruh anak buah yang di Indonesia menyelidiki semua kejadian 1 tahun lalu sampai ke akar-akarnya"
"Baik bos tapi bos bagaimana dengan perusahaan di Indonesia"
"Kamu percayakan kepada orang yang paling kamu percayai untuk memantaunya dan jangan sampai ada masalah sedikit pun" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Baik bos"
Albert pun meninggalkan Xavier disana setelah berbincang dengan Xavier. Tak lama Chloe keluar dengan piyamanya yang sangat tipis.
Melihat hal itu Xavier mendekat kearah Chloe dan menariknya menuju meja makan. Mereka berdua kemudian makan dalam keheningan.
Setelah menikmati makan malam Xavier menarik Chloe kembali menuju ruang TV. Sampai disana dirinya duduk berhadapan dengan Chloe, tatapan mata Xavier seakan meminta penjelasan dari dirinya.
"Bisa kamu ceritakan kemana kamu selama setahun ini" ucap Xavier dengan intonasi agak tinggi.
Chloe menarik napasnya dalam karena harus mengingat kejadian itu lagi. Dirinya berpikir untuk menceritakan semuanya sebelum dia menyesal seperti waktu itu.
"Sebelumnya aku minta maaf karena kejadian di restoran waktu itu" ucap Chloe dengan gugup.
"Lalu" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Aku tahu aku salah sudah tidak mempercayaimu dan mendengar penjelasan kamu waktu itu. Aku sangat menyesal" ucap Chloe dengan tulus.
"Jadi itu alasan kamu datang ke apartemen aku?" tanya Xavier dengan cepat.
Chloe mengangguk kepalanya sebagai jawaban, dirinya sebenarnya ingin memberitahukan perasaannya tapi ia takut dan malu.
Xavier sebenarnya agak kecewa dengan jawaban Chloe karena dia sangat ingin Chloe menjelaskan tentang perasaannya. Tapi apalah Chloe tidak menjelaskan sedikit pun.
"Lalu bisa kamu ceritakan selama ini kamu dimana"
Chloe menatap Xavier dengan mata berkaca-kaca. Chloe pun menarik napasnya dalam dan menceritakan semuanya dari perlakuan sang mommy dan semuanya semenjak kedatangan Queen sampai dirinya difitnah oleh Queen.
Bahkan Chloe menceritakan semua yang ia alami dari pukulan yang di dapatnya berupa pukulan fisik dan batin, Chloe menceritakan semuanya dengan air mata yang mengalir deras entah sudah berapa banyak.
Xavier yang mendengar hal itu seakan jantungnya ditusuk seribu jarum dan hatinya sangat sakit ketika mendengar gadisnya di pukul sampai terluka parah.
Xavier menahan emosinya dan seketika matanya berkilat tajam memikirkan keluarga Rosemary dan semua orang yang sudah menyakiti dirinya.
Xavier bangun dan berjalan menuju tempat Chloe, ia menarik Chloe ke dalam pelukannya dan menenangkan Chloe.
Dirinya tak kuat melihat air mata Chloe yang jatuh dari tadi. Xavier hanya bisa menenangkan Chloe saat ini dan berjanji akan membalas semua perbuatan orang yang sudah menyakitinya.
"Mulai detik ini jangan pernah tinggalkan aku lagi" ucap Xavier dengan suara berat.
"Aku minta maaf untuk semuanya Xavier"
"Shuuttt! Jangan minta maaf karena kamu tidak salah" ucap Xavier dengan lembut.
Chloe hanya mengangguk kepalanya dan memeluk dirinya dengan erat. Dirinya seakan tidak ingin melepaskan pelukan hangat dari tubuh Xavier.
"I miss you so much baby" ucap Xavier dengan suara lembut.
"I miss you too Xavier" ucap Chloe dengan senyum manis.
Melihat senyum Chloe hati Xavier yang tadinya panas seakan disiram air dingin dan kembali tenang. Dirinya seperti menemukan air kehidupannya kembali.
"Jangan pernah pergi dariku lagi baby"
"Never"
"Mulai detik ini kamu jadi pacar aku dan tidak ada penolakan" ucap Xavier dengan tegas.
Mendengar hal tersebut Chloe menjadi kaget dan melepaskan pelukan Xavier. Ia tidak mau jatuh lagi kedalam lubang yang sama untuk kedua kali.
Seakan tahu dengan isi pikiran Chloe, Xavier pun kembali menarik Chloe dan membisikan sesuatu ke telinga Chloe yang membuat dirinya kaget luar biasa.
"I LOVE YOU Chloe from the begining we meet" ucap Xavier dengan lembut dan hanya pada Chloe saja dirinya berubah menjadi lembut.
...βββββ...
To be continue.......
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak sebanyak-banyaknya ya guysπβ€