Heartless

Heartless
5. Aku Indira



"Mah Pah, aku mau es krim yang rasa cokelat sekarang mah.."


"Iya sayang sebentar ya.. ini mamah mau nganter adik kamu pipis dulu. Kamu main sama Papa duli bentar ya. Habis ini mama beliin eskrim"


"Mama.. kakak mau nya sekarang.." pecahlah tangisan anak itu.


"Kenapa sayang kok nangis", seorang lelaki menghampiri dan mulai menenangkan anak itu.


"Papa.. Kiran mau es krim tapi mama malah pergi sama adik.." adu anak itu.


"Sayang, jaga Kiran dulu ya aku mau anter Dilan pipis dulu", pamit Mama kepada Papa.


"Kiran, Mamamu mau nganter adik kamu pipis dulu. Nanti pasti dibeliin es krim sama Mama. Atau mau beli sama Papa sekarang?" Tawar lelaki itu kepada anaknya.


"Ayo Papa", anak itu pun tersenyum senang dan mereka pergi untuk membeli es krim.


Mereka adalah salah satu keluarga yang sedang Indira pandangi dari tempatnya duduknya dari jendela kaca depannya. Sungguh senangnya mempunyai keluarga lengkap. Ada ayah ada ibu. Suatu hal yang tidak pernah aku miliki. Mungkin pernah kumiliki mungkin tidak karena aku bahkan tidak pernah ingat bagaimana rasanya memiliki keluarga lengkap.


Untuk apa punya ayah punya ibu kalau mereka tidak peduli padaku bahkan meinggalkanku. Apa kabar ibu? Apakah ibu tau kalau nenek sudah tidak ada? Apa ibu bahkan pernah memikirkanku?


"Nona, Tuan Alex sudah menunggu nona di kantor", sebuah suara membangunkan Indira dari lamunannya.


"Oke aku akan segera pulang", Indira beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan beberapa lembar uang di meja.


Hari itu sungguh cerah. Taman yang Indira lewati sangat ramai dikunjungi oleh banyak keluarga yang sengaja berpiknik. Mereka menggelar tikar dan makan bersama-sama. Terlihat canda dan tawa melingkupi taman itu. Banyak anak-anak yang sedang bermain di sekitar taman dengan gembira.


Indira memang sering pergi ke taman itu setiap hari minggu hanya untuk sekedar duduk di restoran yang sama dan menikmati segelas milk shake cokelat. Indira perlu melepaskan penat dari segala tekanan hidup yang dia hadapi selama ini. Dia hanya ingin sendiri untuk menghibur diri.


Indira masuk ke mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Alfred supir sekaligus bodyguard nya. "Silahkan nona", kata Alfred mempersilahkan Indira masuk. "Terima kasih Alfred"


Mobil itu pun pergi meninggalkan taman menuju tempat tujuan selanjutnya.


--------------------------------


Sepatu hak tinggi menghentak lantai ruangan besar itu. Seseorag memalingkan diri dari layar laptop nya dan menoleh ke sumber suara. Tampak senyuman lebar menyambut kedatangan wanita itu.


Tanganya dia lebarkan dan wanita itu berjalan menujunya dan segera menyamput uluran tangan itu. Wanita itupun memeluk lelaki itu dan duduk di pangkuannya.


"Hai.. kamu sibuk?" Tanya wanita itu


" Hm.. aku merindukanmu"


"Aku juga tapi.. Tuanku aku datang kesini untuk membahas pekerjaan", wanita itu menjauhkan diri dengan tiba-tiba.


"Indira.. itu bisa nanti. Masih banyak waktu. Ayolah..", lelaki itu mengadu manja kepada Indira.


"Nanti Tuan Alex, ada waktunya.. sekarang aku tidak mau mengambil resiko saham Pesona turun hanya karena ulah artis bodoh itu", jelas Indira tegas menjauhkan diri dari Alex dan duduk di kursi depan meja Alex.


"Sudah ku katakan dari awal jangan bekerja sama dengan artis bodoh itu tapi kamu tak menghiraukanku. Dia memang punya followers banyak di akun instagramnya tapi mulutnya seperti tak pernah mengenyan bangku sekolah. Tapi kamu tenang saja, dia sudah menandatangani kontrak di awal perjanjian. Jika dalam waktu seminggu dia tidak bisa dan mampu memperbaiki keadaan maka dia harus bersedia mengganti semua kerugian"


"Sudahlah biar Ardi yang mengurus ini. Dia pengacara hebat. Perusahaanmu terlalu kuat dan tidak akan mudah hancur hanya karena artis tidak profesional itu"


"Oke aku percaya padamu. Tolong bantu aku singkirkan Sania Marwa. Aku sangat menyesal mengabaikan peringatanmu waktu itu"


"Apapun untukmu Indiraku. Jadi apa aku bisa memelukmu sekarang?"


"Apapun untukmu Tuan Alex", Indira mengampiri Alex lagi untuk duduk dipangkuannya dan memeluknya. Bisa ia rasakan Alex menyurukkan wajahnya ke lehernya. Ia pun menyambutnya dengan sebuah kecupan hangat di pipi Alex.


Indira tau segalanya menjadi lebih mudah jika dia bersikap baik di depan orang yang sedang dipeluknya. Alex orang terpandang. Dia merupakan orang yang berpengaruh di negara ini bahkan di Asia. Walaupun usianya baru menginjak 27 tahun tapi kecerdasannya di dunia bisnis sudah terbukti. Dia berhasil mengembangkan usaha keluarganya yang sudah besar menjadi lebih besar dan kuat diluar ekspektasi para pengamat dunia bisnis diluar sana.


Bisnis keluarga Abrahan di tangan Alex berkembang ke berbagai lini usaha. Bahkan kini keluarga Abraham bisa dikatakan Konglomerat baru di Asia. Indira yakin jika dia bisa menaklukkan seorang Alex, maka segala yang ia inginkan akan segera berada ditangannya.


Siapa yang menyangka seorang yang sebatang kara dan miskin seperti dirinya bisa berada di situasi ini. Seorang gadis miskin yang dibuang oleh orang tuanya mampu untuk memiliki sebuah perusahaan kosmetik yang cukup besar di Indonesia. Semua orang pasti heran jika mengetahui latar belakangku.


Namun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya sekarang seorang Alex sedang berada dipelukanku. Dunia sudah ku genggam. Tidak ada lagi yang bisa meremehkanku. Gadis miskin yang selalu meratapi kesendirian itu sudah tidak ada. Aku Indira Cahyati pemilik PT. Pesona Indah mampu untuk meraih kebahagiaan dengan segala harta benda yang kumiliki.


Alex melepaskan pelukan mereka. Dia tersenyum lebar sambil menyelipkan helaian rambut Dira ke belakang telinganya.


"Jadi apakah kamu kesini hanya karena mau membicarakan masalah ini saja?"


"Oh jangan lupakan fakta kalau kamu yang mengundangku kesini Tuanku"


"Please jangan panggil aku dengan sebutan itu sayang.. Aku ini pacarmu bukan majikanmu lagi"


"Tapi aku suka, selamanya kau adalah Tuanku"


Tampak perubahan wajah Alex menjadi keras. Tatapannya menggelap dan Indira yakin bahwa Alex sedang marah. Cengkeraman Alex mengencang di pinggang Indira, dia merasa harus mengatasi situasi ini segera jika dia tidak mau menjadi panjang urusan menenangkannya.


Alex adalah sosok dengan perawakan tinggi dan dikaruniai wajah yang rupawan. Dengan seorang Ayah dari Itali dan ibu dari Indonesia, dia mendapatkan darah campuran yang berdampak pada kulitnya yang begitu eksotis. Badannya kekar karena dia sering berolahraga dan itu adalah salah satu hal yang aku suka darinya. Aku suka menyentuh badannya. Aku kagum padanya, sesibuk apapun dirinya tapi dia tetap mampu untuk menjaga badan. Satu hal yang aku tidak suka dari dirinya adalah temperamenya yang buruk dan sikapnya yang suka semena-mena kepada orang yang tidak selevel dengan dirinya.


"Itu adalah panggilan kesayanganku untukmu", bisik Indira di telinga Alex.


"Panggilan sayang banyak kenapa harus itu?"


"Karena.. aku suka", senyum Indira menghiraukan tatapan tajam Alex kepadanya. Alex tiba-tiba mendorongnya sehingga dia sekarang mengambil posisi berdiri berhadapan dengan nya. Untung aku tidak jatuh. Sedikit menyelamatkan harga diriku didepanya.


"Ayo makan siang", ajak Alex.


"Aku sudah makan"


"Temani aku makan"


"Tidak. Aku harus kembali ke Pesona sekarang"


"Ck", tanpa menghiraukan protes Indira, Alex menggenggam telapak tangannya lalu menyeretnya ke pintu ruangan untuk dibawanya ke restoran.


Sungguh Alex pemaksa dan aku tidak suka itu!