
π»Ijinkan aku mencintaimu meski hanya dalam mimpiku karena bagiku kamu itu seperti nikotin untukkuπ»
.
.
.
.
Saat pintu ruang meeting dibuka pandangan Sean tidak pernah lari dari objek yang ada di hadapannya. Dirinya kaget ada perasaan marah, sedih, rindu, dan perasaan ingin menangis bercampur jadi satu.
Tubuh Sean kaku tidak menyangka gadis yang sangat dicintainya dan dicarinya selama ini berdiri dihadapannya saat ini.
"Chloe" gumam Sean dengan suara pelan.
Suara Rangga yang memperkenalkan Chloe saat ini tidak di dengarnya dan dianggap sebagai angin lalu saja. Mata tajam hitam itu memandang Chloe dengan tajam tidak berkedip sedikit pun.
Sean merasa saat ini dunianya seperti ditunggak balikan, tidak tahu apa yang harus ia buat dan katakan pada gadis yang saat ini berada di depannya terhalang meja meeting.
Apa loe ngak rindu sama gue seperti gue yang merindukan loe selama ini sayang, batin Sean sambil menatap wajah cantik Chloe.
Ia melihat wajah cantik Chloe yang lebih dewasa dari Chloe yang dulu ia kenal. Suaranya lebih berwibawa dan pembawaan dirinya membuat siapa saja akan terpesona.
Chloe yang merasakan tatapan tajam Sean sedari tadi tidak memperdulikannya sama sekali. Bahkan dia sangat benci melihat Sean yang sedang duduk saat ini dia tahu Sean adalah monster yang sangat keji.
Kelakuan Sean masih membekas di otak Chloe apalagi saat mengingat perbuatan Sean kepada Sila semakin membuat Chloe tambah membenci yang namanya Sean Rahardian.
Meeting berlangsung selama 2 jam, direktur Hartono sangat puas dengan penjelasan Chloe yang menjelaskan tentang resort yang akan mereka bangun di Lombok.
Berbeda dengan direktur Hartono, Sean sendiri lebih diam dan asistennya yang lebih banyak berbicara. Chloe tahu saat ini pasti Sean sangat kaget tidak menyangka akan kehadirannya.
"Direktur Hartono saya mau kualitas bahan yang digunakan menggunakan kualitas yang tuan paparkan di presentasi kemarin" ucap Chloe dengan tegas.
"Baik ibu Chloe dan untuk masalah gambar arsiteknya semua diurus oleh direktur Sean serta pemilihan kontraktornya" ucap direktur Hartono.
Sean hanya diam tidak menjawab ucapan direktur Hartono. Suasana dalam ruangan meeting seketika menjadi hening karena menunggu jawaban dari Sean.
Dimas memegang tubuh Sean dan seketika ia tersadar, semua mata memandang dirinya menunggu jawaban darinya.
"Uhmm! Baik perusahaan saya yang akan menanganinya" ucap Sean dengan dingin.
Chloe tersenyum sinis melihat Sean yang seperti tidak profesional. Sean sendiri menetralkan rasa sesak di dadanya dan kembali memusatkan pikirannya kepada meeting meski pikirannya tetap masih di isi oleh begitu banyak pertanyaan tentang Chloe.
"Saya harap direktur Hartono dan direktur Sean bisa bekerja sama dengan baik untuk kesuksesan resort ini" ucap Chloe dengan tegas.
"Akan saya lakukan sebaik mungkin ibu Chloe" ucap direktur Hartono.
"Saya akan memberikan hasil yang terbaik" ucap Sean dengan datar.
"Baiklah kalau begitu meeting cukup sampai disini jika ada yang masih kurang jelas silahkan hubungi sekertaris direktur Rangga" ucap Chloe.
"Apa kami bisa menghubungi ibu Chloe langsung karena disini ibu yang memimpin proyek ini?" tanya direktur Hartono.
"Sepertinya anda belum tahu ya, saya hanya mewakilkan atasan saya saja nanti ada waktu anda sekalian akan bertemu dengan atasan saya beliaulah yang mempunyai ide untuk membangun resort ini untuk istri tercintanya" ucap Chloe sambil menekan kata istri tercinta.
"Ah! Satu kehormatan bisa berpartisipasi dalam proyek penting ini ibu Chloe" ucap direktur Hartono dengan senyum tulus.
"Iya terima kasih direktur Hartono saya permisi dulu" ucap Chloe sambil berdiri.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Chloe berlalu pergi diikuti oleh Thomas dan Kevin. Sean yang melihat Chloe sudah beranjak pergi segera bangun dan mengikuti Chloe dengan cepat meninggalkan ruang meeting tanpa sepatah kata pun.
"Maafkan tuan Sean tuan Hartono karena beliau sedang terburu-buru ada masalah dengan istrinya" ucap Dimas dengan berbohong.
"Oh pantas direktur Sean tidak seperti biasanya" ucap direktur Hartono.
"Iya tuan"
"Sampaikan salam saya kepada direktur Sean dan katakan padanya agar kita bisa mengadakan meeting bersama 2 hari lagi"
"Baik tuan akan saya sampaikan"
"Iya saya permisi"
"Silahkan tuan"
Dimas menghela napasnya dengan kasar karena bosnya yang tidak profesional kali ini. Selama dia menjadi asisten Sean dia tidak pernah melihat Sean yang tidak fokus dalam meeting.
Chloe sudah sampai di lantai 40 saat keluar dari lift, tak lama lift terbuka dan muncullah Sean dari dalam. Chloe tersenyum sinis karena mengetahui jika hal ini akan terjadi.
"Maaf anda tidak di ijinkan berada di sini" ucap Mike menghalangi jalan Sean.
"Minggir!" bentak Sean
Mike mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Sean karena dia tidak tahu bahasa Indonesia. Wanda yang mengerti perkataan Sean segera menghampiri Mike dan Sean.
Chloe sendiri sudah berlalu bersama dengan Thomas dan Kevin menuju ruangan Xavier. Chloe menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesaran milik Xavier.
"Nyonya bagaimana dengan pria itu?" tanya Thomas.
"Menurutmu bagaimana apa kamu mengijinkan dirinya masuk?" tanya balik Chloe.
"Saya masih sayang sama nyawa saya nyonya" jawab Thomas.
"Hahahaha! Tidak usah formal begitu sama aku rileks saja" ucap Chloe.
"Saya tidak berani nyonya"
"Tapi ini perintah Thomas" ucap Chloe dengan nada angkuh seperti Xavier.
"Baik nyonya"
"Brother siapa tuh yang diluar sana?" tanya Kevin dengan penasaran pada Thomas.
"Mantan pacar aku waktu masih SMA" ucap Chloe dengan santai.
"Wow pasti bos saat ini sedang mengamuk disana" ucap Kevin sambil tertawa.
"Maksud kamu?" tanya Chloe dengan bingung.
"Hehehehe! Selama meeting aku video call bareng bos sampai masuk ke dalam ruangan ini" ucap Kevin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa" teriak Chloe dengan kaget.
Chloe tahu pasti saat ini suaminya sedang cemburu dan mengamuk disana. Chloe segera mengambil hpnya dan melakukan panggilan video kepada sang suami.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tatapan tajam bak elang langsung menyambut Chloe saat panggilannya diangkat. Wajah Xavier saat ini tidak ada senyum sedikit pun dan hanya terlihat rahangnya mengeras menahan emosi.
^^^"Sayang" ucap Chloe dengan gugup.^^^
"Heeemmmm"
^^^"Kamu pasti sudah melihat meetingnya kan?" tanya Chloe dengan pelan.^^^
"Heemmm"
^^^"Sayang apa aku ada salah sama kamu" ucap Chloe dengan wajah sedih.^^^
"Haaahhh! Aku tidak suka sayang" ucap Xavier dengan gusar.
^^^"Honey kamu tenang ya kan ada Thomas dan Kevin di samping aku dan tadi aku tidak melakukan apapun hanya membahas apa saja yang akan diperlukan selama proyek tersebut dijalankan"^^^
"Yeah i know"
^^^"Aku mau selesain semuanya dengan caraku sendiri sayang dan tenang saja cinta aku hanya untuk suamiku seorang" ucap Chloe dengan senyum manis.^^^
"Apa berengsek itu masih ada disana"
^^^"Aku tidak tahu baby tapi dia tadi dihalangi oleh Mike diluar"^^^
"Biarkan dia masuk aku ingin lihat apa maunya"
^^^"Apa kamu yakin sayang"^^^
"Aku percaya sama istriku" ucap Xavier dengan tegas.
^^^"Baik sayang"^^^
"Biarkan panggilannya tetap terhubung baby"
^^^"Iya sayang"^^^
Thomas segera keluar memanggil Sean yang masih berada di luar. Sampai di luar ia melihat Mike dan pengawal yang menghalangi jalan Sean untuk masuk.
Suasana sangat tegang diantara kedua belah pihak. Thomas berdeham dan memberikan isyarat kepada Mike untuk membiarkan Sean masuk ke dalam.
Suasana di dalam ruang kerja Xavier saat ini sangat mencekam. Sean melihat dua orang pria tampan dengan tampang bule berdiri di kedua bagian meja yang sedang di tempati oleh Chloe.
"Selamat siang tuan Sean apa ada yang bisa saya bantu" ucap Chloe dengan muka datar dan suara dingin.
Sean yang mendengar suara dingin Chloe seketika terkejut karena Chloe yang saat ini bukanlah Chloe yang dulu polos dan hangat.
"Ada yang mau gue omongin sama loe"
Xavier yang tidak mengerti bahasa Indonesia segera menyuruh Albert untuk menghidupkan mesin penerjemah bahasa otomatis melalui suara.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Saat sudah selesai Xavier kembali menatap Sean dengan tajam lewat layar iPadnya. Chloe tersenyum sinis menatap Sean yang berdiri di depannya.
"Percaya diri sekali anda jika saya ingin berbicara dengan anda" ucap Chloe dengan senyum mengejek.
"Chloe" desis Sean dengan mata tajam.
"Apa kita terlalu dekat sehingga saya harus berbicara dengan anda" ucap Chloe sambil melipat tangannya di dada.
"Gue pengen bicara sama loe berdua saja" ucap Sean dengan kasar.
"Sorry Mr. Rahardian sebaiknya anda jaga ucapan anda sebelum saya mematahkan leher anda disini" ucap Thomas dengan nada tinggi.
"Cih! Kamu pikir kamu siapa" ucap Sean dengan sombong.
"Dia orang kepercayaan gue bahkan dia lebih baik dari seorang penipu dan pengkhianat" ucap Chloe sambil menekan suaranya di akhir kalimat.
Deg..............
Jantung Sean seperti dipukul hamar dengan sangat kuat mendengar perkataan Chloe barusan. Ia tahu kata-kata itu dilontarkan untuknya, Sean menatap Chloe dengan tatapan sedih dan bersalah.
"Gue minta maaf sama loe atas perbuatan gue di masa lalu"
"Maaf loe bilang.......hahahahahaha! Seharusnya loe minta maaf sama orang yang udah loe buat hancur hidupnya!" bentak Chloe dengan emosi.
"Gue akui gue salah tapi asal loe tahu selama ini gue tetap cinta sama loe" ucap Sean dengan suara tinggi.
"Cinta loe gue ngak butuh dan sorry gue bukan Chloe yang dulu lagi yang gampang loe tipu"
"Gue minta maaf sayang gue masih cinta sama loe" ucap Sean dengan nada getir.
"Simpan cinta loe buat istri loe itu" ucap Chloe dengan sinis.
Sean berjalan maju menuju Chloe ingin memeluknya tapi seketika dia ditendang dengan kuat oleh Thomas.
Brugh..........
Sean ambruk di lantai karena tidak bisa menahan tubuhnya.
"Sialan loe bakal gue bunuh loe" teriak Sean menatap tajam Thomas.
Thomas sendiri tidak takut malahan tersenyum sinis melihat Sean yang sudah sangat emosi. Dia lebih takut tatapan Xavier dibandingkan tatapan Sean yang tidak menakutkan sekali pun.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Chloe menonton dengan malas perkelahian antara Thomas dan Sean. Tak lama Mike dan anak buahnya masuk meringkus tubuh Sean untuk membawanya keluar.
"Chloe gue bakalan dapatin loe lagi" teriak Sean saat di tarik keluar.
Chloe menatap tajam Sean dengan tidak suka, ia kemudian duduk kembali ke kursi kebesaran Xavier dan segera mengecek hpnya.
^^^"Sayang" panggil Chloe dengan suara lembut.^^^
"Akan ku bunuh dia saat pulang" ucap Xavier dengan suara dingin dan emosi.
Chloe menelan salivanya dengan kasar melihat wajah sang suami yang menghitam dan sangat emosi. Panggilan pun langsung dimatikan sepihak oleh Xavier.
Chloe berharap suaminya tidak melampiaskan emosinya disana. Chloe tahu jika Albert dan para pengawal akan mendapat amukan dari Xavier saat ini.
~ Tokyo, Jepang ~
Semua barang dalam ruangannya sudah tidak berbentuk lagi. Albert hanya diam di depan pintu mendengar kemarahan sang bos yang saat ini sudah tidak terkontrol lagi.
"Albert bawa tikus korupsi itu ke mansion belakang!" bentak Xavier dengan nada tinggi.
"Baik bos"
Albert segera menyuruh anak buahnya untuk membawa karyawan yang sudah mengelapkan dana perusahaan. Tak lama Albert dan Xavier keluar dari ruangannya menuju ke mansion.
Aura membunuh sangat terasa sepanjang jalan, tidak ada yang berani mengatakan sepatah kata pun. Tiba di mansion, Xavier segera keluar menuju ke belakang mansion.
Sampai di ruangan bawah tanah di belakang mansion Xavier langsung tersenyum iblis melihat orang yang sudah berani menggelapkan uangnya.
"Jadi kamu ingin bermain denganku Mr. Kosaki" ucap Xavier dengan suara dingin.
Mr. Kosaki yang sedang diikat di kursi seketika menjadi gemetar ketakutan. Dia tidak menyangka jika ia akan tertangkap oleh anak buah Xavier saat hendak melarikan diri ke Macau dengan kapal.
Xavier memukul Mr. Kosaki dengan brutal tanpa ampun. Suara erangan kesakitan tidak dipedulikan oleh Xavier karena saat ini sangat kesal dan emosi.
"Dimana uangku?" tanya Xavier dengan tatapan tajam.
"Ampun tuan uangnya sudah habis saya ditipu di meja judi" ucap Mr. Kosaki dengan terbata-bata.
Mendengar hal itu emosi Xavier makin menjadi ia kembali memukul dan mencambuk Mr. Kosaki tanpa berperasaan. Da**h segar keluar bercucuran dari tubuh Mr.Kosaki memenuhi ruangan itu.
"Ku***i dia dan b***r dia hidup-hidup" ucap Xavier dengan aura membunuh.
"Baik bos" ucap Albert.
Albert segera melakukan seperti yang diperintahkan oleh Xavier. Suara kesakitan menggema dalam ruangan tersebut bahkan bau anyir da**h sangat menyengat dalam ruangan itu.
Jasad Mr. Kosaki di b***r hingga menjadi abu dan semua barang pribadinya juga ikut dibakar. Xavier tersenyum iblis melihat hal itu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Jakarta, Indonesia ~
Keluarga Rosemary dan teman-teman Chloe kaget melihat akun instagram Chloe yang sudah aktif kembali. Setelah 5 tahun tidak ada kabar Chloe kembali dengan wajah sangat cantik.
Bahkan Queen yang melihat postingan Chloe berada di ruang kerjanya dengan caption #finally back to my lovely country menjadi emosi. Ia membanting hpnya hingga pecah berkeping-kepang.
"Sialan awas loe ja***g gue bakal bikin loe menderita jika deketin mas Sean" ucap Queen dengan emosi.
Queen yang melihat jam sudah pukul 17:00 segera membersihkan tubuh untuk menanti kepulangan sang suami. Sean yang babak belur mengendarai mobilnya menuju ke markas.
Ia ingin melampiaskan semua kekesalannya kepada orang yang sudah berani masuk ke markas papanya kemarin.
Sampai di sana semua anak buahnya menunduk hormat saat melihat bos mereka datang. Mereka bingung melihat wajah Sean yang penuh memar tapi tidak berani bertanya.
Saat masuk ke dalam ia melewati papanya dengan tidak memandang sedikit pun. Riko dan Rio kaget melihat wajah Sean yang penuh dengan lebam.
"Ada apa dengan anak itu" ucap Riko dengan bingung.
"Saya akan cari tahu tuan"
"Heeemmm"
Riko memilih pergi ke ruangannya sambil melihat cctv di ruang interogasi. Riko tersenyum melihat sang anak yang dengan brutal memberi pelajaran kepada penyusup itu.
Selang 30 menit ia masuk ke dalam ruangan sang papa dengan tubuh penuh d***h. Sean duduk di sofa sambil menutup matanya dengan lengan kirinya.
"Ada apa son?" tanya Riko.
"Penyusup itu suruhan direktur Malik" ucap Sean dengan suara pelan.
"Cih! Tua bangka itu mau main-main denganku" ucap Riko dengan emosi.
"Pa dia sudah kembali" ucap Sean dengan suara lemah.
Riko seketika sudah mengetahui apa maksud dari anaknya. Ia sangat tahu jika keturunan Rahardian akan sangat lemah dengan orang yang dicintainya.
"Apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Riko.
Sean hanya mengangguk kepalanya menjawab pertanyaan sang papa. Seketika air matanya jatuh mengingat perkataan Chloe tadi.
"Dia benci aku pa" ucap Sean dengan suara serak.
Riko berjalan menghampiri anaknya dan menepuk bahunya dengan pelan. Ia tahu apa yang saat ini anaknya rasakan karena dirinya juga pernah merasakan apa yang Sean rasakan saat Maya membenci dirinya.
Papa tahu kalau hal ini akan terjadi tapi saat ini kondisinya sudah berubah karena status kamu sudah menjadi seorang suami son, batin Riko dengan sedih.
...βββββ...
To be continue...................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€