
Hidup hanya sekali dan aku pantang untuk menyia-nyiakannya. Walau rintangan yang kujalani sangat berat untuk kulakukan namun hati ini tak akan gentar. Biarlah Meisya berbalik membenciku karena ulahku yang menghancurkan semuanya. Biarlah Tuan Alex membuangku karena aku telah menghianatinya aku tidak peduli. Aku akan terus maju untuk meraih impianku. Bahagia.
Tapi apakah sebenarnya arti sebuah kebahagiaan itu?
Ketika aku sudah memiliki materi, teman, kacung, properti segalanya tapi aku masih belum merasakan kebahagiaan. Sebenarnya apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan?
Nenek apakah kau disana juga ikut membenciku seperti yang lain?
Nenek apakah jalan yg kuambil ini salah seperti kata Meisya?
Apakah kau akan memaafkan segala perbuatanku ini jika kau masih hidup disisiku?
Tidak masalah semua orang pergi dariku tapi Juna, kau tidak boleh ikut pergi. Kau harus selalu disisiku mencintaiku dengan seluruh hidup dan ragamu.
-------------------------------
"Nek, aku ingin menjadi seorang dokter", kata seorang Dira diusianya yang ke 7 ketika ia sedang menuliskan cita-citanya di sebuah lembaran biodata yang dibagikan oleh gurunya di sekolah.
"Belajar yang giat ya nak, semoga impianmu terkabul. Nenek akan selalu mendoakanmu", jawab neneknya yang sedang memperbaiki seragam Dira karena tadi di sekolah Dira jatuh sehingga bajunya sedikit sobek.
Malam itu adalah seperti malam-malam sebelumnya. Dira mengerjakan pekerjaan rumahnya di kamar dibantu oleh neneknya yang sedikit mengerti tentang membaca dan perhitungan. Neneknya tidak pernah mengenyam pendidikan tapi neneknya cukup pintar untuk membaca dan menghitung uang walaupun uang yang pernah dihitung neneknya cuma recehan. Tapi ia cukup pintar untuk berdagang di pasar.
Keseharian nenek untuk mencari nafkah adalah dengan menjual bumbu dapur berkeliling pasar. Alangkah senangnya jika nenek mempunyai Kios sendiri di pasar sehingga nenek tidak perlu keliling menjajakkan dagangannya. Kaki nenek sering bengkak karena terlalu lama jalan. Dia sudah tidak kuat lagi untuk berjalan jauh.
"Nek nanti kalau aku sudah jadi dokter, aku mau beliin nenek Kios di Pasar agar nenek tidak perlu lagi keliling pasar untuk jual bumbu"
"Wah baik sekali cucu nenek. Nenek akan selalu menantikan hari itu", jawab nenek sembari mengelus kepala Dira kecil untuk menidurkannya di kasur sempit yang sesungguhnya tidak cukup untuk ditiduri mereka berdua.
"Nek, nenek do'ain Dira ya biar besok Dira beneran jadi dokter dan nanti Dira bisa obatin kaki nenek yang sering sakit..", celoteh Dira.
"Iya cucu nenek tersayang.. nenek selalu berdo'a buat Dira. Tapi Dira harus janji sama nenek Dira suatu hari nanti harus tetap jadi anak yang baik yang selalu membantu orang lain ya.. jangan lupa berdo'a dan berusaha ya biar impian Dira dapat terkabul"
"Nenek juga sayang Dira"
Nenek selalu berdoa agar dia diberi usia yang cukup lama sehingga dapat melihat Dira sampai dewasa, mendampinginya sampai dia meraih cita-citanya, dan sampai dia menikah kelak. Walaupun mungkin akan sulit untuk menjadi seorang dokter tapi dia akan berusaha bagaimanapun caranya agar impian cucunya terkabul. Sambil masih mengelus kepala cucunya, nenek tersenyum dan ikut terlelap disampingnya.
Sementara itu sebuah mobil mewah melewati rumah sederhana Dira dan berhenti di sebuah rumah besar khas pedesaan yang berada di seberang rumah Dira. Sepasang suami istri turun dari pintu depan mobil terlebih dahulu lalu membuka pintu mobil belakang dan masing-masih membawa anak mereka. Para asiaten rumah tangga telah sigap membantu mengeluarkan barang-barang tuan mereka dari bagasi mobil.
"Selamat datang kembali tuan dan nyonya, apakah ada yang perlu kami bantu lagi sebelum kami menyiapkan makan malam di ruang makan?", tanya seorang pembantu bernama Bi Wuning setelah majikannya Anton dan Rina meletakkan anak-anak di kamar tidur mereka. "Tidak bi.. Bibi kebawah aja bantu yang lain siapain makan malam. Siapin makan malam buat anak-anak juga ya bi.. mereka belum makan juga"
"Baik nyah..", Bi Wuning pun pergi kebawah menuju ruang makan.
"Mama, Juna udah bangun juna mau makan ma.."
" Meysia juga mau makan", terdengar suara anak-anak yang menandakan bahwa mereka sudah bangun.
"Iya anak-anak segera kebawah ya.. Mama mau ganti baju dulu", Rina menyusul suaminya untuk berganti baju di kamarnya.
Terdengar suara gusar dari kamar Juna yang sedang membongkar kopernya dengan terburu-buru. Setelah lama mencari akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. Sebuah boneka teddy bear kecil berwarna merah muda. Dia tersenyum lebar merasa lega bahwa boneka itu ternyata berada di bagian bawah kopernya setelah ia pikir tertinggal di hotel. Juna pun segera berlari ke bawah melewati ruang makan yang sedang ditata oleh para asisten rumah tangga namun labgkahnya terhenti karena seseorang memegang lengannya.
"Mau kemana kamu Arjuna? malam-malam begini nggak boleh keluar!", larang Anton kepasa anaknya.
"Mau kedepan sebentar Pah.. kerumah Indira sebentar mau ngasih boneka"
"Tidak Arjuna sekali tidak ya tidak! sekarang kamu ke ruang makan dan makan. Mamamu dan adikmu sudah menunggu disana"
"Tapi kan pa.. Juna cuma pengen ngasih boneka ke Indira pa.. Indira pengen banget punya boneka"
"Untuk apa kami kasih sesuatu ke dia, orang dia aja gak pernah kasih kamu apa-apa" terang Anton.
Terlihat jelas kekecawaan di wajah Arjuna. Perkataan Papanya memang benar kalau Dira tidak pernah memberiku apa-apa. Semenjak pertama kali bertemu setahun lalu Dira tak pernah memberiku apapun tapi entah mengapa sepertinya aku akan memberikan segalanya kepadanya tanpa dia minta.