
π»Tubuhku memang dekat dengan dirimu tapi seakan kita berada di belahan dunia yang berbeda π»
.
.
.
.
Suasana ruang tamu di mansion Xavier yang awalnya tertata rapi dan mewah dengan barang-barang mahal sekejap berubah menjadi kapal pecah.
Karena emosi Xavier melampiaskan kemarahan dan kekesalannya kepada semua barang di mansionnya.
Prang.........prang.......prang.........prang........
Bunyi guci pecah, meja kaca pecah, dan vas bunga yang pecah membahana di dalam mansion.
Semua pelayan tidak di ijinkan untuk masuk ke dalam mansion, di sekitar mansion semua bodyguard milik Xavier berdiri di setiap sudut mansion menjaga tidak ada seorang pun yang bisa masuk.
Albert sang asisten sekaligus tangan kanan, Thomas Parker hacker handal Xavier, Kevin Walts dokter pribadi Xavier, dan beberapa anak buah kepercayaan Xavier yang menjabat sebagai kepala pengawal Xavier berdiri tidak jauh dari tempat Xavier.
Mereka yang sudah terbiasa dengan sifat Xavier jika sedang emosi hanya bisa menutup mata dan telinga menerima semua amukan dari seorang Xavier.
"Arghhhh! Berengsek" teriak Xavier kencang dalam mansion.
Semua anak buahnya yang berjaga diluar bergidik ngeri mendengar teriakan amukan sang bos besar. Albert hanya bisa berdiam diri tidak bisa berbuat apa-apa.
Selama ini tidak ada seorangpun yang bisa meredakan emosi Xavier, bahkan kedua orang tuanya sendiri tidak bisa meredakan amarah sang bos jika sudah dalam mode monster.
Aura membunuh sangat terasa di dalam ruangan tersebut sampai menusuk ke tulang. Kevin yang sebagai dokter pribadi sejak lama pun masih takut jika harus berhadapan dengan Xavier.
"Albert kirim pengawal untuk mematai gadisku!" bentak Xavier dengan suara tinggi.
"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin tapi tetap melakukan perintah bosnya.
"Thomas sejak kapan?" tanya Xavier dengan suara dingin.
"Sejak 4 bulan yang lalu bos" ucap Thomas dengan gugup.
Arrrggghhhh........
Prang............
Bunyi guci pecah bercampur dengan teriakan kekesalan Xavier. Mereka semua yang ada disana mendapat pukulan dari Xavier tidak terkecuali Albert sang sahabat sekaligus tangan kanan.
Mansion itu sudah berubah menjadi lautan da**h karena Xavier yang terus memukul semuanya yang berada di situ tanpa perasaan. Inilah sosok Xavier jika sudah emosi ia akan berubah menjadi seorang monster yang sangat kejam.
6 jam kemudian Xavier naik ke lantai dua dan mengurung diri dalam kamarnya. Disana ia kembali membuat kamarnya seperti kapal pecah, tidak sampai situ Xavier mengambil koleksi minuman alkohol dan meminumnya langsung dari botol.
"Semoga emosi bos bisa cepat reda" ucap Albert sambil bangkit berdiri mengelap da**h di keningnya.
"Apa bos akan selamanya seperti ini.......Uuhuk uhuk" ucap Thomas sampai batuk mengeluarkan da**h.
"Berdoa saja semoga ada yang bisa membuat seorang monster Xavier menjadi manusia biasa" ucap Kevin sambil berlalu menuju dapur.
Semuanya bangun dan membersihkan luka masing-masing di tubuh dan wajah mereka.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Rosemary ~
Hati Chloe saat ini tiba-tiba seakan ada yang meremasnya kuat, Chloe memegang dadanya dan bingung kenapa rasanya sangat sakit sekali.
Perasaan Chloe seketika merasa sedih dan jantungnya berdebar-debar dengan kencang. Chloe memegang liontin kalungnya dan seketika ia ingin menangis.
"Apa yang terjadi sama gue kenapa rasanya sakit sekali dada gue? Dan perasaan apa ini" ucap Chloe sambil meremas dadanya dengan bingung akan perasaannya kali ini.
Tidak mau ambil pusing Chloe menarik napasnya dalam dan menghembuskan perlahan-lahan. 10 menit kemudian Chloe sudah merasa lebih baik.
Tok..........tok...........tok..........
Pintu kamar Chloe diketuk. Chloe pun menjawab dari dalam agar masuk saja.
"Permisi non" ucap salah satu pelayan.
"Iya ada apa?" tanya Chloe dengan lembut.
"Maaf non ada yang nyari di depan"
Chloe pun langsung berdiri dan berlari keluar, ia sudah tahu siapa yang datang. Sampai di ruang tamu senyum Chloe mengembang, ia langsung berlari dan memeluk sahabatnya dengan erat.
"Ya ampun Chloe gue sesak napas ni" ucap Sinta sambil menepuk pundak Chloe.
"Gue thu kangen banget sama loe tahu ngak sih" ucap Chloe kembali lebih mengeratkan pelukannya.
Sinta terus menepuk pundak Chloe karena dirinya sudah sesak napas. Melihat hal itu Chloe pun melepaskan pelukannya.
"Gila ya loe mau bikin gue mati apa" ucap Sinta dengan kesal.
"Hehehehehe! Yaa ngaklah say"
"Sialan loe" ketus Sinta sambil memukul kepala Chloe dengan bantal sofa.
Chloe hanya tertawa mendapat pukulan dari sahabatnya. Puas membuat sahabatnya kesal Chloe pun meminta bi Rani untuk menyiapkan minum buat Sinta.
"Nih martabak manis pesanan loe" ucap Sinta sambil menyodorkan martabak manis.
"Thanks beb"
Chloe menerimanya dengan senang dan langsung melahapnya, Sinta hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya.
"Nyokap bokap loe mana?" tanya Sinta.
"Mereka lagi liburan ke Bandung"
"Lah ngak ikut loe"
"Gue kan baru aja sembuh jadi ngak boleh jalan-jalan"
"Hemmmm"
"Mana catatannya"
"Nih bos" ucap Sinta sambil menyodorkan semua catatannya.
"Makasih ya say loe emang sahabat paling the best deh"
"Kalau gini aja mujinya selangit" ucap Sinta sambil memutar malas matanya.
"Tahu aja loeπππ"
"Btw hubungan loe sama ka Sean gimana"
"Baik-baik aja emang kenapa"
"Ngak nanya aja. Jadi ka Sean bakal kuliah dimana?" tanya Sinta mengorek informasi Sean dari Chloe.
"Katanya sih bakal kuliah di London" ucap Chloe mengingat pembicaraan mereka waktu itu.
"Wah bakal LDR dong loe"
"Mau gimana lagi itu kan keputusan ka Sean sama keluarganya jadi jalani aja deh" ucap Chloe sambil tersenyum.
"Loe ngak takut kalau ka Sean bakal kepincut sama cewek di sana"
"Gue percaya sama ka Sean kok" balas Chloe membungkam Sinta.
Sinta tidak lagi menanyakan perihal tentang Sean lagi karena takut Chloe curiga kepadanya. Tepat jam 20:00 malam Sinta pun pamit pulang karena ia sudah lama diluar.
Chloe mengantar Sinta sampai depan mansion, setelah melihat Sinta sudah pergi Chloe pun bergegas masuk kembali ke mansion.
Chloe langsung masuk ke dalam kamarnya, di dalam kamar tanpa ia sadari air matanya mengalir mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Kamar Chloe dipenuhi dengan isak tangis memilukan, bi Rani yang melewati kamar Chloe menjadi sedih mendengar isak tangis Chloe.
"Non setiap kesabaran akan membuahkan hasil yang terbaik" ucap bi Rani sambil berlalu pergi.
Chloe menangis sambil menyerahkan semua permasalahannya kepada Tuhan.
Kuatkanlah hamba-Mu ini ya Tuhan, batin Chloe sambil berderai air mata.
Tanpa Chloe sadari ada seseorang yang hatinya juga merasa sakit saat ini. Xavier duduk di dalam kamar sambil melihat atap kamarnya dengan perasaan aneh di dadanya, air matanya jatuh tanpa ia sadari.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Matahari menampakkan wajahnya dan menyinari bumi dengan cahayanya. Chloe yang sudah bangun menyapa semua pelayan dan para pekerja di mansion dengan senyuman manis.
Chloe memilih untuk berjalan-jalan di taman belakang sambil melihat bunga di taman yang sedang bermekaran. Tukang kebun yang melihat senyum Chloe pagi ini seakan tersihir untuk tersenyum juga.
Setelah puas berjalan-jalan di taman Chloe pun masuk dan sarapan bersama bi Rani dan para pelayan. Semua pelayan sangat senang melihat senyuman nona mereka yang tidak dilihat selama seminggu ini.
"Enak ngak masakan bibi non?" tanya bi Rani.
"Ini enak banget bi. Bibi itu udah cocok buka restoran deh" ucap Chloe sambil menggoda bi Rani.
"Ah! Non bisa aja"
Bi Rani dan Chloe pun tertawa karena candaan Chloe. Selesai sarapan Chloe mengambil handphonenya dan mengirim pesan kepada Sean.
Pangeran Tampan
"Semangat buat ujiannya kaβΊ"
"Fighting ya kaπͺππ"
Pesan telah terkirim kepada Sean, setelah itu Chloe membuka instagramnya untuk melihat-lihat status terbaru teman-temannya. Saat sedang melihat instastory mata Chloe seakan mau keluar.
Chloe merasa jantungnya berdetak kencang melihat postingan ka Steven dengan hastaq #mylovelyfamilyβ€.
Chloe melihat foto daddy, mommy, ka Steven, dan Queen yang sedang tertawa bahagia.
"Kalian kok bahagia ya disana, apa kalian udah lupa sama Chloe" ucap Chloe dengan sedih.
Air mata Chloe mengalir tanpa bisa ditahan lagi, Chloe sangat sedih melihat foto Steven yang barusan di postingnya. Tidak mau larut dalam kesedihan, Chloe pun bangun dan bersiap-siap pergi ke perguruan Smith.
~ Smith Perguruan ~
Chloe sampai di sana tepat pukul 10:00 pagi, Chloe yang biasanya datang di sore hari bisa bertemu dengan beberapa murid di perguruan tersebut.
Chloe langsung mengganti pakaiannya dengan baju karate miliknya. Sesudah itu ia berlalu menuju tempat latihan. Sampainya disana ternyata om Arka telah berdiri menunggu kehadiran Chloe.
"Selamat pagi nak Chloe"
"Selamat pagi juga coach"
"Siap buat latihan"
"Ready coach" ucap Chloe dengan tegas.
"Oke silahkan mulai dengan pemanasan" ucap Arka dengan suara dinginn tapi tegas.
Chloe mulai pemanasan dengan berlari keliling tempat latihan sebanyak 3x, kemudian ia bergegas melakukan pemanasan lainnya supaya badannya tidak terlalu kaku.
Chloe dilatih oleh om Arka dengan keras seperti bukan pemula, melihat kemampuan Chloe yang semakin meningkat dari hari ke hari om Arka pun tersenyum puas.
3 jam mereka latihan tanpa jeda dan istirahat sedikit pun. Selesai Chloe langsung meminum air mineral yang dibawanya dari mansion sampai habis seperti orang kehausan.
"Nak Chloe om perhatikan semakin hari kamu tambah lincah dan gesit"
"Ini semua berkat ajaran coach"
"Pertahankan itu ya nak dan ingat semua pesan om" ucap Arka dengan tegas.
"Siap coach laksanakan" ucap Chloe sambil berdiri berlaga seperti seorang tentara.
"Ya sudah kamu istirahat ya om mau ke ruangan om dulu"
"Iya coach terima kasih"
Selepas om Arka pergi Chloe pun berlalu menuju lokernya untuk mengambil baju dan peralatan mandinya. Sesudah membersihkan diri di kamar mandi Chloe lalu berjalan keluar untuk pulang.
Brugh..............
Bunyi tabrakan kedua orang yang sangat keras menggema disana, Chloe yang berjalan tidak melihat ke depan menabrak seseorang sampai keduanya jatuh di lantai.
"Maaf maaf ya gue ngak sengaja" ucap Chloe berdiri dengan cepat meminta maaf kepada orang yang ditabraknya.
"Iya ngak apa-apa" ucap Alif dengan jutek karena belum mengangkat kepalanya melihat si penabrak.
"Maaf ya loe ngak apa-apa"
"Iya gue, Chloe" ucap Alif dengan terkejut saat mengangkat kepalanya.
"Alif Malik kan?" tanya Chloe dengan cepat.
"Yups! Benar masih ingat ya nama gue"
"Ya ingatlah..........hehehehe"
"By the way ngapain loe disini"
"Gue ikut latihan karate disini"
"Sama dong gue juga latihan disini tapi muay thai"
"Wah jago dong loe"
"Ah! Biasa aja baru juga berlatih" ucap Alif merendahkan diri.
"Biasanya orang yang bilang biasa aja thu master loh" ucap Chloe dengan wajah polos.
"Hahahahaha! Sok tahu loe" tawa Alif mendengar perkataan Chloe barusan.
"Dibilangin ngak percaya" ucap Chloe dengan cemberut.
"Iya iya deh gue percaya"
"Nah gitu dong" ucap Chloe sambil tersenyum manis.
Alif sempat terpesona dengan senyuman Chloe tapi buru-buru ia menetralkan perasaannya.
"Mau balik atau?" tanya Alif.
"Iya nih kalau loe"
"Sama mau balik juga soalnya baru habis latihan sih"
"Loe ikut jadwal pagi ya"
"Ngak kok cuma hari ini aja soalnya kan ngak sekolah jadi mending ame shift pagi aja"
"Oh gitu ya"
"Kalau loe sendiri gimana"
"Sama kayak jawaban loe tadi"
"Heeemm! Jadi mau bareng ngak" tawar Alif kembali.
"Makasih ya, tapi maaf gue dijemput sama sopir udah otw sih kesini" ucap Chloe menolak tawaran Alif.
"Oh ok deh kalau gitu gue duluan ya"
"Alif bisa ngak gue minta tolong" ucap Chloe sebelum Alif pergi.
"Bisa kalau gue bisa bantu"
"Please jangan beritahu siapa pun kalau gue ikut latihan karate disini" pinta Chloe dengan memohon.
"Emang kenapa kalau orang tahu?" tanya Alif penasaran.
"Gue ngak suka terlalu mengumbar kegiatan gue"
"Oh gitu ya kalau gitu ngak akan gue beritahu siapa pun"
"Makasih ya Alif"
"Iya sama-sama kalau gitu gue balik dulu ya"
"Oke hati-hati ya"
"Oke bye Chloe"
"Bye"
Selepas kepergian Alif ia pun berjalan menuju ke tempat lobby menunggu pak Ujang disana. Tak lama pak Ujang pun sudah sampai dan Chloe langsung masuk ke dalam mobil.
Alif yang masih belum meninggalkan perguruan sempat melihat mobil Chloe melaju di sampingnya. Ia pun senang karena Chloe sudah pulang.
"Ternyata loe itu orangnya asik dan ngak neko-neko ya" ucap Alif membayangkan Chloe yang tadi sempat berbicara dengannya.
Alif tersenyum bahagia seperti mendapat kupon gratis. Tanpa mereka berdua sadari ternyata ada pengawal Xavier yang membuntuti mereka dan mengambil foto mereka dari tadi.
Entah reaksi Xavier akan seperti apa lagi kali ini?
...βββββ...
To be continue.....
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak sebanyak-banyaknya ya guysπβ€