
π»Semua orang bisa bilang cinta bisa bikin kita nyaman tapi tidak semua orang mampu memberi kepastianπ»
.
.
.
.
Xavier tertawa kencang melihat suasana mansion nenek tua itu yang saat ini sedang panik. Bagaimana tidak semua rencana mereka hari ini gagal total dan kebun anggur mereka juga habis terbakar.
"Semuanya sudah di markas bos" ucap Albert dengan suara dingin.
"Heeemmmm"
Xavier lalu menyuruh Albert untuk meninggalkannya sendiri. Ia melihat informasi yang baru saja masuk ke emailnya tentang keluarga kandung sang istri.
"Aku akan membalas dendam keluarga kita mommy, daddy" ucap Xavier dengan gigi gemeletuk.
Ia sangat ingat tentang kecelakaan orang tuanya waktu itu meski berbeda tahun. Mommynya di perkosa hingga tewas dan daddynya harus meregang nyawa karena sabotase dari nenek Esma dan keluarga Nidas.
"Nyawa diganti dengan nyawa" ucap Xavier dengan aura membunuh.
Siapa saja yang masuk ke ruangan Xavier saat ini akan merinding ketakutan. Aura mencekam dan membunuh sangat terasa di dalam ruangan tersebut, bahkan seperti tidak ada kehidupan disana.
"Siapkan mobil kita ke markas" ucap Xavier dengan suara dingin lewat di interkom.
Albert yang mendengar suara sang bos barusan jadi merinding, entah apa yang baru saja terjadi pada bosnya hanya sang bos yang tahu. Albert menyuruh anak buah mereka untuk menyiapkan mobil juga memberitahu Thomas tentang hal ini.
"Kita ke markas sekarang" ucap Albert dengan suara dingin.
"Okay let's go aku sudah tidak sabar" ucap Thomas dengan antusias.
Keduanya lalu pergi ke ruangan Xavier untuk menunggu kedatangan sang bos, sebelum itu Albert sudah menyuruh sekertaris direktur untuk menghendel semua pekerjaan dan jika ada meeting penting di wakilkan oleh Richard.
Xavier keluar dengan tatapan tajam dan datar tidak ada senyum sedikit pun. Semua pengawal dan karyawan menunduk hormat saat Xavier berjalan melewati mereka.
Albert dan Thomas saling melirik meminta jawaban kenapa wajah bos mereka seperti monster berdarah ingin. Thomas hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari tatapan mata Albert.
Albert melihat hpnya dan ia bingung melihat informasi yang baru saja dikirimkan oleh anak buahnya. Albert membaca informasi tersebut di dalam mobil dan seketika ia paham apa yang menjadi penyebab bosnya seperti ini.
Sepertinya mereka sudah membangunkan monster yang sedang tertidur, batin Albert dengan kesal.
Albert tahu bagaimana menderitanya ia dan sang bos saat menyebut nama keluarga itu. Kematian adik dan orang tuanya akan selalu ia ingat sampai mati bahkan kematian untuk orang-orang itu menurutnya tidak pantas.
"Akan ku hancurkan kalian semua" gumam Albert dengan pelan.
Xavier yang duduk di kursi belakang memandang keluar jendela entah apa yang dipikirkannya saat ini. Perasaan marah, sedih, dendam, sakit hati semuanya bercampur jadi satu.
Tepat hari ini kalian genap meninggalkan aku selama 14 tahun mommy daddy, batin Xavier dengan rasa sakit terlalu dalam di hatinya.
Tidak ada yang tahu jika hari ini adalah hari peringatan kematian sang mommy dan daddy, keduanya meninggal di waktu yang sama tapi berbeda tahun.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Saat tiba di markas Xavier keluar dengan aura membunuh dan tatapan bagai monster. Semua anak buahnya menunduk takut merasakan aura dari sang bos.
"Bawa mereka semua ke ruangan belakang" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Albert tak kalah dingin.
Albert segera memberi isyarat kepada Sam untuk membawa semua bajingan itu ke ruang belakang. Sam segera memberi perintah kepada anak buahnya lewat halkie talkie.
Xavier menerima topeng dari Albert dan segera memakainya, ia tidak ingin musuhnya melihat wajah aslinya saat ini karena belum waktunya ia menunjukan identitas dirinya.
Tiba di ruang belakang Xavier duduk di kursi kebesarannya dengan angkuh. Ia melihat Zen dan anak buahnya yang sudah babak belur karena sebelum datang anak buah Xavier sudah memberi mereka pemanasan.
"Well well look at this who is that?" (wah wah lihat siapa ini) ucap Xavier dengan suara baritonenya.
"Who are you *******" (siapa kamu berengsek) ucap Zen dengan sinis.
Bukannya menjawab Xavier malah tertawa kencang seperti iblis, tawanya menggema di dalam ruangan tersebut karena tak menyangka orang di depannya akan berani berbicara dengan sinis kepadanya.
"Aku rasa kamu tahu akan lambang itu" ucap Albert dengan sinis sambil menunjuk lambang kebesaran mereka di tembok.
Jantung Zen seketika berdetak dengan cepat, ia tak menyangka jika ia saat ini berada di markas mafia paling kejam di dunia yaitu devil dragon.
"De....vil dr.....agon" ucap Zen dengan terbata.
"Ckk!! Tadi aja ngomongnya sinis sekarang seperti anjing ketakutan" ucap Thomas dengan kesal.
"Albert" ucap Xavier sambil memberi isyarat.
"Oke bos"
Albert lalu memberi perintah kepada anak buah mereka untuk mengikat mereka di tiang. Thomas yang melihat hal tersebut tertawa puas dan ikut ambil bagian di depan.
"Bos apa aku bisa memilih yang ini" ucap Thomas sambil menunjuk Zen.
"Heemmm! Remember his soul is mine" (ingat jiwanya milikku) ucap Xavier dengan suara dingin.
"Oke bos" ucap Thomas.
Seketika ruangan itu dipenuhi dengan suara teriakan kesakitan. Anak buah Xavier menc****k Zen dan anak buahnya dengan kejam tidak ada belas kasihan.
D***h segar sudah memenuhi ruangan tersebut tapi tidak dipedulikan oleh mereka. Bahkan anak buah Zen sebagian besar sudah merenggang nyawa karena kehabisan d***h, Thomas yang bermain-main dengan Zen terus mengukir karya di tubuh Zen dengan pi**u miliknya.
"Wah ini mahakarya paling indah" ucap Thomas.
Arrrgghhhh..........
Teriak Zen kencang saat tubuhnya disiram air lemon. Luka yang masih merah menjadi lebih merah lagi karena air siraman lemon itu, bahkan lukanya sampai melepuh karena kandungan asam dari lemon.
"Apa salah aku" ucap Zen dengan suara lemah.
"Salahmu karena sudah berani mengusik milikku" ucap Xavier dengan suara dingin.
Dor......dor......dor......dor.......dor......
Tembakan Xavier menggema di dalam ruangan tersebut. Ia sudah tidak sudi mendengar teriakan kesakitan mereka, rasanya sudah cukup ia memberi mereka kesakitan sebelum mengakhiri hidupnya.
"Kirim kepalanya ke nenek tua itu" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Albert.
"Suruh anak buah kita semuanya ke tempat latihan, hari ini aku akan mengetes kemampuan mereka selama ini" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Siap bos" ucap Albert.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Semua anak buah Xavier gemetar ketakutan karena bos besar mereka akan turun tangan langsung melihat latihan mereka selama ini. Albert memikirkan apa perkataan bosnya dan sepertinya hal ini pernah terjadi.
"****" ucap Albert dengan suara tinggi.
"Kamu kenapa dude" ucap Thomas dengan bingung.
"Hari ini akan menjadi hari kiamat untuk kita semua" ucap Albert.
"Apa maksud kamu?" tanya Thomas dengan wajah bingung.
"Hari ini adalah tanggal kematian tuan dan nyonya besar" ucap Albert dengan suara gugup.
"Apa" ucap Thomas dengan kaget.
Tubuhnya seketika lemah karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Semoga aku selamat hari ini, batin Thomas dengan penuh harap.
Mike dan Sam yang berdiri dekat Albert juga menjadi gugup, mereka tahu seberapa besar perubahan bosnya saat tiba hari ini. Mike melihat Sam di sampingnya dan berbicara lewat tatapan mata.
Hari kiamat untuk kita semua, batin Mike dan Sam serentak.
~ Mansion Xavier ~
Berbeda dengan di markas Xavier saat ini di mansion dipenuhi dengan gelak tawa. Chloe sangat senang akan kedatangan dari sahabatnya dan keluarga mereka, Mira dan keluarganya serta Jeni dan keluarganya diundang Xavier untuk menemani sang istri.
"Jadi Jeni dulunya gadis tomboi ya tante" ucap Chloe dengan tawa.
"Benar Chloe, tante waktu itu pusing hadapin si Jeni" ucap mommy Jeni.
"Sialan kamu" ucap Jeni dengan kesal.
Semuanya tertawa melihat wajah Jeni yang kesal sambil malu. Tak lama kedua orang tuanya Jeni dan dirinya pamit pulang karena akan pulang ke Manhattan.
"Terima kasih atas undangannya ya Chloe" ucap Jeni.
"Sama-sama nanti datang lagi ya" ucap Chloe sambil tersenyum manis.
"Siap bumil" ucap Jeni dengan cekikan.
Chloe menyuruh pak Max untuk mengantar kepergian Jeni dan orang tuanya. Chloe tersenyum melihat keluarga Mira yang saat ini sedang memandang foto pernikahannya.
"Nak Chloe cantik sekali di foto itu" ucap ibu Asmi.
"Ah! Bibi bisa aja" ucap Chloe sambil cekikan.
"Loh neng ibu thu ngomong sesuai faktaloh emang si eneng thu gelis pisan" ucap ibu Asmi sambil tersenyum.
"Iya deh bi makasih ya atas pujiannya bi" ucap Chloe.
Chloe lalu mengajak mereka unuk berkeliling melihat mansionnya. Saat melihat isi mansion Chloe keluarga Mira dibuat takjub dengan interior dan barang yang ada disana.
"Indah banget ka" ucap Rudi dengan decak kagum.
Chloe hanya tersenyum mendengar perkataan Rudi barusan. Seketika jantung Chloe seperti di remas dengan kuat, Chloe berdiri sambil menetralkan rasa sakit di jantungnya.
"Loe kenapa Chloe" ucap Mira yang melihat wajah Chloe pucat.
"Uhmm! Ngak apa-apa kok, gue rasa lelah aja mungkin karena lama berdiri" ucap Chloe.
"Ya ampun loe mending istirahat aja deh gue ngak mau loe kenapa-napa" ucap Mira dengan khawatir.
"Iya neng apa yang di bilang Mira benar mungkin karena eneng teh lagi hamil besar jadi mudah capek" ucap ibu Asmi dengan lembut.
"Iya bi tapi gimana dengan bibi sekalian" ucap Chloe dengan raut wajah tak enak.
"Jangan mikirin kita deh, sekarang yang penting kesehatan loe lebih penting" ucap Mira dengan cepat.
"Pak Max tolong temani Mira dan keluarganya saya ingin ke kamar dulu" ucap Chloe dengan lemah.
"Biar saya antar nyonya ke kamar nanti ada pelayan yang menemani nona Mira dan keluarganya" ucap Pak Max dengan khawatir.
"Heemmmm"
Chloe dan pak Max segera naik ke lift untuk menuju ke lantai dua. Mereka tidak mau ambil resiko lewat tangga karena saat ini Chloe dalam keadaan tidak sehat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah mengantar Chloe hingga ke kamar pak Max segera turun ke bawah. Pak Max segera menuju ke arah Mira dan keluarganya yang berada di ruang tengah.
"Pak Max tolong sampaikan ke Chloe kalau saya dan orang tua saya pamit pulang dulu" ucap Mira dengan sopan.
"Baik nona akan saya sampaikan" ucap pak Max.
"Kalau begitu kami pergi dulu ya pak Max"
"Iya nona hati-hati"
"Iya pak Max"
Mira dan keluarganya lalu diantar oleh anak buah Xavier kembali ke hotel Arthur. Besok mereka akan pulang ke Indonesia jadi Mira berencana untuk mengenalkan Albert kepada kedua orang tuanya. Di dalam kamar jantung Chloe seperti diremas kuat dan entah kenapa ia merasakan sakit di hatinya.
Apa yang sebenarnya terjadi kenapa perasaan gue ngak tenang gini, batin Chloe.
Chloe lalu mengambil hpnya dan menghubungi sang suami. Entah kenapa ia kepikiran dengan Xavier dan perasaannya tak tenang sedari tadi.
Berkali-kali Chloe menghubungi suaminya tetapi Xavier tak kunjung juga mengangkat. Seketika ia menjadi kesal dan membanting hpnya hingga hancur di lantai.
Entah kenapa emosinya naik saat tak mendapat apa yang ia mau. Chloe memijit keningnya dan menormalkan napasnya yang naik turun.
"Sial" teriak Chloe dengan emosi.
Chloe lalu berjalan menuju ranjang karena tidak mau terlalu emosi, ia mengelus perutnya yang buncit untuk menenangkan rasa emosinya saat ini.
"Maafin mommy ya sayang pasti kamu kaget tiba-tiba mommy emosi" ucap Chloe dengan lembut.
Tak lama ia tertidur karena merasa lelah hari ini, tanpa Chloe sedari ternyata sedari tadi Xavier mencoba menghubunginya tapi nomornya sudah tidak aktif lagi.
~ Mansion tua Wesly ~
Nenek Esma sadar sambil memegang kepalanya yang sakit. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat kalau saat ini ia berada di dalam kamarnya sendiri.
"Mommy sudah sadar" ucap Rita yang baru saja masuk ke dalam.
"Apa yang terjadi?" tanya nenek Esma.
"Tadi mommy pingsan saat asisten mommy datang" ucap Rita.
Nenek Esma mengingat kejadian tadi sebelum ia pingsan. Seketika ia menatap tajam Rita dan membuat Rita bingung akan tatapan sang mommy.
"Bagaimana perkebunan kita" ucap nenek Esma dengan suara bergetar.
"Maksud mommy apa memangnya ada apa dengan perkebunan kita mom" ucap Rita dengan bingung.
"Dasar bodoh kemana saja kamu hah apa kamu tidak tahu masalah saat ini Rita" teriak nenek Esma dengan emosi.
Rita kaget mendengar teriakan sang mommy barusan, ia benar-benar tidak tahu apa maksud dari sang mommy. Tak lama pintu terbuka dan masuklah Richard bersama lainnya.
"Mommy kenapa teriak apa ada yang sakit?" tanya Richard dengan khawatir.
"Bagaimana dengan perkebunan kita apa itu benar Richard" ucap nenek Esma dengan suara tinggi.
"Benar mommy seperti yang mommy pikirkan" ucap Richard dengan suara pelan.
"Berengsek apa yang sebenarnya terjadi" ucap nenek Esma dengan emosi.
"Katanya ada yang membakar perkebunan kita dan gudangnya mommy" ucap Richard.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Seketika nenek Esma bangun dan membanting semua benda di dalam sana. Semua hanya diam tidak menghalangi nenek Esma karena tahu jika nenek Esma sedang emosi maka tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Lalu kenapa kalian masih disini cepat urus masalah ini!" bentak nenek Esma dengan suara tinggi.
"Ya semuanya sudah ludes terbakar apa yang harus dilakukan mommy" ucap Richard dengan santai.
"Dasar anak tidak tahu di untung cepat cari solusinya jangan hanya diam saja" teriak nenek Esma dengan suara tinggi.
Tak mau dimarahi lagi Richard segera keluar diikuti oleh sang istri dan anaknya. Di dalam kamar hanya tersisa Rita dan Bram suaminya saja yang menemani nenek Esma.
"Bagaimana dengan Zen" ucap nenek Esma.
"Tidak ada kabar dari Zen mommy" ucap Rita.
"Sial apa dia gagal" ucap nenek Esma dengan emosi.
Ia lalu mengambil hp dan menghubungi Zen. Berkali-kali nenek Esma mencoba menghubungi Zen tapi hanya ada nada operator saja.
"Kemana anak itu" gumam nenek Esma dengan bingung.
Ia lalu menghubungi asistennya untuk datang ke mansion membahas masalah perkebunan mereka. Saa ini ia sangat pusing memikirkan berapa banyak kerugian yang di alaminya.
~ Roma, Italia ~
Robert menatap informasi yang baru saja dikirimkan oleh Emilio sang asisten dari Juan. Ia menarik napasnya dalam karena tak menyangka anak-anaknya sangat haus akan harta.
"Sepertinya aku harus bertindak sendiri untuk melindungi cucuku" ucap Robert dengan pelan.
Meski ia memiliki cucu dari kedua anak laki-lakinya tapi ia tidak terlalu suka dengan anak-anak mereka. Ia berharap Chloe tidak seperti cucunya yang lain yang sombong dan gila harta.
Robert lalu memanggil tangan kanannya untuk mengirim pengawal kepercayaannya melindungi Chloe dari jauh. Sudah cukup ia kehilangan putri kesayangannya ia tidak ingin lagi kehilangan cucu dari putrinya.
"Kakek akan melindungi kamu dari paman-pamanmu yang sangat haus akan harta" gumam Robert sambil melihat foto Chloe.
...βββββ...
To be continue...............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€