
π»Seorang ibu akan rela mati untuk anaknya tapi berbeda dengan ibuku yang bahagia melihat aku matiπ»
.
.
.
.
Chloe sudah tiba di mansion dengan selamat, Chloe lalu memilih untuk makan siang sebelum melakukan hobbynya yaitu membaca novel.
"Non makanannya udah siap" ucap bi Rani kepada Chloe yang berada di dalam kamar.
"Makasih ya bi" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Iya sama-sama non"
Saat tengah makan Chloe bertanya kepada bi Rani apa ada kabar dari orang tuanya. Bi Rani hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Chloe.
Setelah makan Chloe pergi ke balkon lantai dua untuk bersantai sambil membaca novel. Tiba-tiba hpnya berbunyi, Chloe melihat ternyata ada panggilan video dari sang pacar.
^^^"Hay ka" ucap Chloe dengan senyum manis.^^^
"Sayang lagi dimana"
^^^"Nih lagi di balkon lantai dua ka" ucap Chloe sambil mengarahkan kameranya ke penjuru balkon.^^^
"Oh udah makan?"
^^^"Udah ka, ka Sean sendiri udah makan belum"^^^
"Belum sayang"
^^^"Kenapa ka"^^^
"Bentar lagi masih nunggu pesanan datang"
^^^"Emang ka Sean lagi dimana"^^^
"Di apartemen sayang sama mereka" tunjuk Sean sambil mengarahkan kamera ke sahabat-sahabatnya.
^^^"Oh"^^^
"Sayang entar gue ke sana ya"
^^^"Ngapain ka"^^^
"Ya pengen ketemu sama loe lah"
^^^"Jangan ka, kan ka Sean lagi ujian jadi jangan keluyuran ngak jelas deh"^^^
"Iya iya bawel"
^^^"Bukan bawel cuma ngingetin aja ka"^^^
"Heeeemmmm"
^^^"Ya udah ka gue mau lanjut baca novel dulu ka"^^^
"Iya sayang, bye"
^^^"Bye ka"^^^
Chloe pun mematikan panggilannya dan melanjutkan aktifitasnya yang sempat terhenti. Tak terasa beberapa jam sudah berlalu, Chloe yang masih asik dengan novelnya dikejutkan dengan teriakan Queen dari arah tangga.
"Mom lihat nih anak pembawa sial ini lagi ngapain" teriak Queen dengan suara kencang.
"Queen kalian udah pulang?" tanya Chloe dengan senyum manis.
"Ngapain loe disitu"
"Gue lagi baca novel aja"
"Bagus ya loe enak-enakan santai dan ngak kerja"
"Ngak kok gue cuman santai aja"
"Gue laporin ke mommy"
Queen lalu turun ke bawah mencari Laura untuk mengadukan Chloe. Melihat hal itu Chloe berlari menuruni tangga menyusul Queen. Tapi terlambat Queen sudah bergelayut manja di lengan sang mommy.
Melihat hal itu ia menjadi sedih tapi ia tahan, Laura memanggil Chloe untuk mendekat. Sampai di sana Laura melihat Chloe dengan tatapan tajam.
"Apa benar yang dikatakan Queen!" bentak Laura.
"Ngak mom Chloe hanya baca novel di lantai 2 aja mom" ucap Chloe dengan menunduk takut melihat tatapan mata Laura.
"Kamu itu bisanya apa sih hanya bisa malas-malas aja gitu"
"Ngak mom"
"Cepat kamu cuci semua pakaian kotor dan jangan meminta bantuan siapapun"
"Tapi mom"
"Ngak ada tapi-tapian kalau ngak mommy tambah hukuman kamu"
"Iya mom"
Chloe langsung berjalan menuju ke belakang tempat laundry pakaian di mansion mereka. Sampai disana ia kaget melihat 4 ember penuh pakaian disana, Chloe pun menghembuskan napas kasar dan memulai mencuci pakaian.
Beruntung ia biasanya melihat bi Rani dan para pelayan mencuci pakaian jadi tidak terlalu sulit baginya. Tepat pukul 17:00 sore baru Chloe selesai mencuci semua pakaian kotor milik semuanya.
Kedua lengan Chloe serasa mau patah karena terlalu banyak mencuci dan memeras pakaian. Chloe masuk ke dalam mansion dan langsung menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
2 gelas air habis dengan cepat di minum Chloe, Chloe duduk bersandar di kursi meja makan sambil melihat beberapa pelayan yang mondar-mandir untuk menyiapkan makan malam.
"Mommy dan daddy kemana?" tanya Chloe kepada salah satu pelayan disana.
"Tuan dan nyonya sudah berangkat ke kota S tadi jam 3 non"
"Loh ngapain?" tanya Chloe penasaran.
"Ngak tahu non"
"Terus ka Steven sama Queen dimana"
"Tuan dan nona muda sedang berada di kamar masing-masing non"
"Heeemmmm"
Chloe pun berjalan menuju kamar Steven karena ia ingin sekali pergi ke rumah Kenan.
Tok..........tok..........tok............
Chloe mengetuk pintu kamar Steven dengan pelan. Tiba-tiba pintu terbuka dan Steven keluar dari dalam dengan wajah tidak bersahabat.
"Kenapa ganggu aja loe!" bentak Steven.
"Maaf ka Chloe cuma mau ijin ke rumah ka Kenan" ucap Chloe dengan takut.
"Ya udah sana pergi jangan ganggu gue"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bukan menuju rumah Kenan tapi Chloe ternyata berjalan menuju sebuah danau di dekat sekolahnya. Tempat itu ditemukan Chloe saat pulang sekolah saat ia meminta pak Ujang untuk memilih jalan lain menuju mansion yang lebih cepat.
Di tempat itu terdapat danau di tengahnya dengan pohon di sekitar danau tersebut. Suasana tenang dan sejuk membuat Chloe ingin berlama-lama disana.
Tanpa terasa air mata Chloe mengalir dengan bebas tanpa ia bisa tahan. Tangisan Chloe terdengar pilu bagi siapa saja yang mendengarnya. Di dekat danau tersebut Xavier dan Albert serta pengawalnya sedang melihat ke arah Chloe.
"Pergi dari tempat ini tinggalkan kami berdua" ucap Xavier sambil keluar dari mobil.
"Baik bos" ucap Albert langsung meninggalkan Xavier sendiri disana tapi ia akan berdiri mengawasi sang bos dari jauh.
Melihat Albert dan pengawalnya sudah pergi Xavier berjalan dengan langkah pelan menghampiri Chloe yang sedang menunduk sambil menangis.
"Put it all out if it makes you better" ucap Xavier dengan suara baritone dan tegas.
Mendengar ada yang berbicara Chloe pun kaget dan mengangkat kepalanya. Chloe melihat dari samping seorang pemuda yang sangat tampan dengan rahang kokoh, rambut pirang khas orang blasteran.
"Loe siapa?" tanya Chloe dengan suara serak.
Xavier balik melihat Chloe dengan tatapan tajam sambil mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti ucapan Chloe. Karena memang ia tidak bisa berbicara bahasa Indonesia.
Seketika Chloe terpesona dengan mata biru tajam milik Xavier yang sangat indah. Jantungnya entah kenapa berdetak lebih cepat seperti sedang lari maraton.
Begitupun dengan Xavier yang melihat kedua mata Chloe yang sembab karena menangis hatinya seperti di ramas kuat. Tanpa sadar Xavier mengelap air mata Chloe di pipinya.
Chloe seperti terkena sengatan listrik saat Xavier menyentuh wajahnya. Entah kenapa ia merasa tenang dan nyaman berada di dekat Xavier. Air mata Chloe tiba-tiba mengalir lagi tanpa bisa ditahan.
Grep.............
Xavier menarik Chloe dengan kuat kedalam pelukannya. Chloe yang kaget ingin lepas tapi tubuhnya serasa aman dan nyaman di pelukan orang yang tidak dikenalinya.
Chloe menangis dalam pelukan Xavier seakan ingin mengadu dan menceritakan semua permasalahannya.
"Just cry if it makes you fell better" (menangislah jika itu membuatmu lebih baik)
"Sakit hati gue.........hiks hiks"
"I don't understand what do you said" (aku tidak mengerti apa yang kamu katakan)
"I can not longer endure this pain" (aku tidak bisa menahan lagi rasa sakit ini)
Xavier terus memeluk Chloe dengan erat seakan berbicara semuanya akan baik-baik saja. Xavier tahu apa yang membuat Chloe menangis seperti ini, anak buahnya sudah menyampaikan perihal Chloe kepadanya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah puas menangis Chloe pun sadar telah memeluk seseorang yang tidak dikenalinya. Chloe melepaskan pelukannya di tubuh Xavier, Chloe malu karena sudah membuat baju pria asing itu basah.
"Sorry" (maaf)
"Not problem" (tidak masalah) ucap Xavier dengan suara dingin dan tegas.
Karena terbiasa dekat dengan orang yang irit bicara dan dingin, Chloe pun biasa-biasanya saja.
(note: percakapan Chloe sama Xavier thu pakai bahasa Inggris ya tapi author buatnya itu dalam bahasa Indonesia)
"Sekali lagi saya minta maaf sudah mengotori baju tuan"
"Tidak apa-apa"
"Tapi saya merasa tidak enak sama tuan"
"Jika kamu merasa bersalah maka kamu.." ucap Xavier sambil menatap tajam Chloe.
"Saya kenapa tuan"
"Kamu harus jadi teman saya gimana"
"Apa" ucap Chloe dengan kaget.
"Kenapa?" tanya Xavier dengan heran.
"Tuan kan kelihatan sudah tua jadi tidak mungkin berteman dengan saya"
"Cih! Apa mukaku ini tua" tunjuk Xavier ke wajahnya.
"Uhmm! Tidak tuan" ucap Chloe gugup sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi jawabannya?" tanya Xavier sambil mendekatkan wajahnya ke Chloe.
Melihat hal itu jantung Chloe berdetak dengan sangat cepat dan tidak karuan.
Kenapa jantung gue berdetak dengan cepat ya, kayaknya gue harus periksa ke dokter, batin Chloe.
"Iya" ucap Chloe dengan spontan.
Xavier tersenyum bahagia melihat wajah Chloe yang merah padam karena gugup. Ia merasa jika lebih baik berteman dulu baru mendekati Chloe.
"Nama kamu siapa?" tanya Xavier dengan wajah datar.
"Nama saya Chloe tuan lengkapnya Chloe Elisabeth Rosemary"
"Nama yang indah seperti orangnya"
Muka Chloe merah padam mendengar perkataan Xavier, entah kenapa baru kali ini ia gugup berkenalan dengan seseorang.
"Panggil aku Xavier dan jangan bicara formal sama aku" bisik Xavier di telinga Chloe.
Badan Chloe bergetar mendapat bisikan Xavier di telinganya. Xavier yang melihat gadis kecilnya bergetar tertawa kecil. Setelah beberapa menit Chloe pun menetralkan kegugupannya barusan.
"Jadi aku manggilnya ka Xavier"
"Tidak" ucap Xavier dengan suara tinggi.
Chloe melihat Xavier dengan tatapan bingung, karena jika dirinya tidak mau apa Chloe harus memanggilnya dengan sebutan om.
"Just Xavier tanpa embel-embel" ucap Xavier dengan tegas.
"Baiklah Xavier" balas Chloe dengan senyum manis.
Chloe dan Xavier duduk bercakap-cakap menceritakan pribadi mereka masing-masing dan dari mana asal Xavier. Chloe pun kaget karena Xavier ternyata bisa berbicara 10 bahasa asing.
"That is awesome" (itu sangat menakjubkan)
"Heeemmmm"
Tanpa terasa mereka berdua bercerita sangat lama di danau tersebut hingga malam. Chloe pun pamit kepada Xavier tapi Xavier bersih keras ingin mengantarnya pulang.
"Memangnya kamu tahu daerah ini?" tanya Chloe penasaran karena aneh jika Xavier yang baru beberapa hari di Indonesia sudah hafal jalanan disini.
Xavier hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena pertanyaan Chloe memang benar. Xavier menghela nalasnya panjang membiarkan Chloe pulang sendiri.
Tanpa Chloe sadari ternyata Xavier mengutus 3 orang anak buahnya mengawal Chloe sampai ke mansion dari jauh.
"Aku akan membuatmu tersenyum kembali" ucap Xavier melihat foto Chloe yang sedang tertawa bahagia di hpnya.
...βββββ...
To be continue.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guysπβ€