
π»Sebelum menghakimi orang lain lihatlah dirimu terlebih dahulu apa dirimu lebih baik dari padanya atau tidakπ»
.
.
.
.
Setelah menghabiskan sepiring pasta dan 2 sandwich Chloe merasa sudah sangat kenyang. Ia lalu bangun dan berjalan menuju ke ruang keluarga untuk menonton drama kesukaannya.
Selang 10 menit entah kenapa ia sangat bosan dan tidak suka dengan drama yang ditontonnya. Chloe lalu menganti chanel acara ke berita terkini, saat menonton berita terbaru seketika Chloe kaget.
Ia tak menyangka jika saat ini perusahaan RM Group sudah bangkrut karena semua penanam saham menarik saham mereka.
Kenapa bisa begini apa ada sesuatu yang gue lewatkan, batin Chloe.
Tak lama Chloe tahu siapa dalang dibalik semuanya ini. Chloe ingin pergi bertanya kepada sang suami tapi ia urungkan lebih baik sebentar saja baru ia tanyakan.
Saat sedang menonton tiba-tiba seorang pelayan berlalu menunduk lewat samping Chloe, saat pelayan tersebut lewat perut Chloe serasa diaduk mencium bau parfum miliknya. Chloe berlari menuju kamar tamu karena sudah tidak kuat lagi.
Hoeekkk.....hoeekkk......hoekkk......hoeekkk......
Chloe memuntahkan semua isi dalam perutnya, Chloe mencuci mulutnya dan seketika dirinya jatuh terduduk lemas di lantai kamar mandi.
Xavier yang berada dalam ruang kerjanya entah kenapa merasa sangat khawatir dengan istrinya, ia segera bangun dan berjalan ke kamar dengan langkah tegap. Albert dan lainnya hanya menatap sang bos dengan acuh.
Sampai di kamar Xavier membuka pintu dengan sidik jarinya dan masuk ke dalam, di dalam kamar ia mengernyitkan kening melihat ranjang yang sudah rapi.
"Baby" panggil Xavier dengan suara lembut.
Xavier menuju ke kamar mandi dan walk in closet tapi tak menemukan keberadaan istrinya. Xavier keluar dengan raut wajah khawatir dan menghitam tanda ia saat ini sedang emosi.
"Dimana istriku!" bentak Xavier dengan suara tinggi.
Pelayan yang sedang membersihkan ruang santai di lantai 2 seketika kaget mendapat bentakan dari tuannya. Karena gugup ia gemetar ketakutan sehingga tidak bisa berbicara.
"Apa kamu tidak ada mulut lagi! Hah" ucap Xavier dengan suara tinggi.
Albert, Thomas, dan Kevin yang mendengar teriakan sang bos segera berlari keluar. Saat sampai di luar ketiganya kaget melihat sang pelayan yang berdiri dengan gemetaran di depan sang bos.
"Bos tenangkan dirimu" ucap Albert dengan suara datar.
"Aku tanya di mana istriku!" bentak Xavier yang sudah sangat emosi.
Tak mendapat jawaban ia memberi isyarat kepada para pengawal untuk membawa pelayan tersebut ke halaman belakang untuk diberi hukuman. Pelayan tersebut hanya diam saja saat di tarik oleh para pengawal tuannya.
"Pak max" ucap Xavier dengan suara tinggi.
"Ia tuan" ucap pak Max yang berlari dengan cepat menuju Xavier.
"Dimana istriku?" tanya Xavier dengan suara tinggi menggelegar di dalam mansion.
"Nyonya berada" ucap pak Max yang langsung di potong oleh Chloe.
"Sayang" ucap Chloe dengan nada lemah di depan pintu kamar tamu.
Ia keluar dari kamar mandi saat mendengar teriakan sang suami. Chloe memaksakan diri untuk bangun karena tidak mau ada pelayan yang mendapat hukuman dari sang suami.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier lalu melihat ke arah suara istrinya di lantai satu. Seketika ia kaget melihat wajah sang istri yang sangat pucat, tak berkata apa-apa lagi Xavier segera berlari menuju ke lantai satu.
Beruntung ia cepat datang sehingga bisa menangkap tubuh Chloe yang hampir jatuh karena lemah. Chloe memeluk tubuh Xavier menghirup aroma tubuh sang suami yang menenangkan.
"Baby kamu kenapa?" tanya Xavier dengan khawatir.
"Aku pengen peluk sayang" jawab Chloe dengan manja.
Ia mengangkat Chloe ala bridal style menuju ke lantai dua kamar mereka. Saat berpapasan dengan Albert di lantai dua Chloe seketika memuntahkan isi perutnya di dada Xavier.
Xavier berdiri mematung sambil menutup mata menahan rasa emosinya saat ini. Semua yang melihat hal tersebut kaget karena tahu sang bos tidak menyukai hal kotor.
Beruntung muntahan Chloe hanya cairan putih saja, Chloe yang meminta turun tidak di gubris oleh sang suami. Xavier terus berjalan menuju ke kamar mereka dengan wajah merah padam.
Sampai di dalam kamar keduanya segera masuk ke dalam kamar mandi, Chloe yang melihat wajah sang suami emosi hanya diam menunduk dengan takut.
"Maaf sayang" ucap Chloe sambil menunduk.
Xavier membuka semua pakaiannya dan segera berdiri di bawah shower membiarkan tubuhnya basah oleh air dingin. Melihat hal tersebut Chloe membuka pakaiannya juga dan bergabung dengan sang suami.
Xavier tersentak saat merasakan kedua lengan kecil sang istri yang memeluk tubuhnya dari belakang. Ia diam menahan hasratnya yang seketika terbangun.
"Maaf sayang" ucap Chloe dengan suara gugup.
Xavier berbalik dan menyentuh pipi sang istri dengan lembut, tatapan tajam biru itu seakan memberi kehangatan bagi Chloe, air mata Chloe seketika mengalir di kedua pipinya.
"Kenapa menangis! Hemmm" ucap Xavier dengan lembut.
"Maaf sayang" ucap Chloe sambil memeluk tubuh polos Xavier.
Xavier mengerang saat kedua kulit mereka saling bersentuhan, ia segera mencium b***r Chloe karena tidak bisa di tahan lagi.
"I want you right now baby" (aku menginginkanmu sekarang sayang) ucap Xavier dengan suara serak penuh napsu.
"I'm yours hubby" (aku milikmu sayang) ucap Chloe di tengah ciuman mereka.
Xavier lalu mencium dan me****t b***r Chloe dengan penuh napsu dan lembut. Keduanya kembali memadu kasih di dalam kamar mandi sampai mendapat pelepasan.
1,5 jam setengah barulah Xavier melepaskan sang istri, Chloe di gendong menuju keluar karena tidak ada lagi tenaga setelah melaksanakan kewajibannya sebagai istri.
"Apa kamu mau makan sayang" ucap Xavier yang sedang mengeringkan rambut sang istri.
"Aku mau tidur sayang" ucap Chloe.
"Heemmm"
"Sayang kamu tolong suruh Albert dan lainnya jangan pakai parfum yang sama dengan punyaku ya" ucap Chloe dengan manja.
"Kenapa" ucap Xavier dengan bingung.
"Aku tidak mau ada bau yang sama dengan punyaku sayang, rasanya aku pengen muntah saat mencium bau parfumku dari tubuh orang lain"
"Jangan bilang tadi kamu muntah karena hal itu baby" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
Chloe mengangguk kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sang suami. Xavier segera mengambil hpnya dan mengirim pesan ke Albert untuk menyuruh semuanya mengganti parfum mereka hari ini juga.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di ruang kerja milik Xavier Albert yang mendapat pesan tersebut tersenyum bahagia. Karena selama ini ia tidak PD saat memakai parfum wanita dan itu seperti menurunkan citranya.
"Kenapa kamu senyum sendiri kayak gitu" ucap Thomas dengan tatapan tajam.
"Urus thu pekerjaan sana" ucap Albert dengan suara dingin.
Albert lalu berjalan keluar dan menghampiri pak Max untuk memberitahu kepada semua pelayan agar mengganti parfum mereka. Albert lalu menelpon anak buahnya untuk membawa baju baru dan parfum miliknya.
Tok.....tok......tok......tok.........
Pintu ruang kerja di ketuk dari luar, Albert berdiri dan membuka pintu serta mengambil pesanannya dari tangan sang anak buah.
"Kenapa kamu ganti baju sih" ucap Thomas dengan bingung.
"Itu perintah bos" ucap Albert dengan datar.
"Maksudnya" ucap Kevin dengan penasaran.
"Bos menyuruh semuanya untuk mengganti parfum tidak boleh ada yang sama dengan milik nyonya" ucap Albert.
"Oh" ucap keduanya serentak.
Selang 3 detik keduanya menatap tajam Albert karena tidak memberi tahu perihal penting ini dari tadi. Albert sendiri terkekeh melihat tampang keduanya yang sedang kesal.
~ Mansion Alan Rosemary ~
Semuanya diam di ruang tengah tidak berkata apa-apa. Keadaan Alan yang semakin kritis di rumah sakit membuat semua keluarga Rosemary menjadi sangat kepikiran.
"Mommy" ucap Queen dengan tatapan sedih.
"Iya princess" ucap Laura dengan lemah.
"Sekarang kita harus bagaimana semua harta kita sudah tidak ada lagi" ucap Queen dengan perasaan sedih.
"Mommy ngak tahu" ucap Laura.
"Ini semua karena daddy" ucap Steven emosi.
"Mas tenangkan diri kamu" ucap Aurel mengelus pundak sang suami agar lebih tenang.
"Tapi nek semua harta kita sudah tidak ada lagi" ucap Steven dengan emosi.
"Apa kita masih ada uang simpanan?" tanya Laura.
"Semuanya sudah habis tidak tersisa lagi mommy bahkan uang di tabungan kita masing-masing sudah ludes" jawab Steven sambil menutup mukanya.
"Apa jadi sekarang kita sudah miskin" ucap Laura dengan kaget.
Steven mengangguk kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sang mommy. Laura dan lainnya kaget bukan main mendengar perkataan Steven tentang kondisi mereka saat ini.
"Ini semua pasti perbuatan anak pembunuh itu" ucap Laura dengan suara emosi.
"Mommy udah deh jangan buat kita tambah pusing lagi!" bentak Steven dengan suara tinggi.
Laura dan Lidia seketika kaget mendengar bentakan dari Steven. Baru kali ini Steven membentak Laura mommy yang sangat di cintainya, Steven kemudian berdiri dan pergi dari sana.
"Mommy" ucap Queen yang kaget melihat Laura yang sudah menangis.
"Kenapa ini semua terjadi sama keluarga kita" ucap Laura.
"Mommy tenang ya" ucap Queen.
Tak lama semuanya dikagetkan dengan suara teriakan Adam dari dalam kamar, Laura yang mendengar teriakan sang suami hanya diam tidak berbuat apa-apa. Lidia segera masuk ke kamar Adam untuk melihat kondisi sang anak.
Sampai di dalam kamar Lidia kembali menangis melihat keadaan Adam yang sangat memprihatinkan. Ia tak menyangka jika Adam akan mengalami hal seperti ini, tubuhnya akan mengeluarkan darah saat ia tertidur dan berteriak kesakitan.
"Kamu yang kuat ya nak" ucap Lidia di samping tubuh Adam.
"Arghhhh! Sakit. Arrrgghhhh! Sakit" teriak Adam kesakitan.
Di luar Laura menyuruh Queen untuk pulang ke mansion sang suami karena sudah beberapa hari meninggalkan sang anak. Queen yang mendengar hal tersebut hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
~ Mansion Sean ~
Saat ini semua keluarga besar Rahardian sedang berkumpul di mansion Sean. Beruntung hari ini weekend jadi semuanya memutuskan untuk mengunjungi keponakan dan cucu mereka.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Hahahaha! Baby Ares ngak mau thu dekat sama mama" ucap Denis tertawa kencang karena Ares akan menangis jika digendong oleh sang mama.
Berbeda dengan tantenya atau omnya Ares akan diam-diam saja saat di gendong oleh Maya atau Riko. Ares tertawa senang mengeluarkan celotehannya dan membuat semua keluarga Rahardian tertawa bahagia.
"Tante aku pengen foto sama baby Ares" ucap Ria adik Denis.
"Sini foto sama tante juga ya" ucap Maya dengan senang.
"Stop Ria kamu jangan foto sama tante kamu, om ngak mau nanti banyak yang lihat wajah tante kamu" ucap Riko dengan posesif.
"Cih! Dasar bucin" ucap Sean mengejek sang papa.
Bima dan lainnya hanya menggelengkan kepala mereka melihat sifat posesif dari Riko Rahardian kepada sang istri. Sean lalu mengambil baby Ares dan berselfie bersama dengan Ria dan lainnya.
Saat sedang asyik berselfie seketika suasana menjadi hening saat melihat Queen masuk ke dalam mansion. Queen yang baru saja sampai menatap semuanya dengan tatapan emosi.
"Kamu sudah pulang sayang gimana kabar orang tuamu" ucap Maya dengan lembut sambil menyambut kedatangan menantunya.
Melihat hal tersebut Queen seketika tersenyum sinis kepada Maya dan lainnya.
Apa loe pada bahagia diatas penderitaan keluarga gue, batin Queen dengan emosi.
"Baik-baik aja bu" ucap Queen datar menutup keadaan keluarganya sekarang.
"Kak ayok duduk disini" ucap Denis sambil menepuk kursi di sebelah Sean dan Ares.
Queen berjalan menuju ke arah yang ditunjukan oleh Denis. Sampai disana baby Ares melihat sang mama sambil menjulurkan tangannya untuk digendong.
Queen melihat hal tersebut dan entah kenapa ia sangat tidak suka melihat wajah anaknya yang seperti wajah dari Sean. Sean memberikan Ares kepada Queen untuk digendong tapi malah ditepis kuat oleh Queen.
Huaaawwaa..........
Ares seketika menangis kencang merasa sakit di lengannya, Sean yang melihat hal tersebut seketika menjadi emosi begitu pun dengan keluarga besarnya.
Maya segera mengendong Ares menuju samping untuk menenangkan sang cucu.
Plak.........plak........
Bunyi 2 tamparan seketika menggema di ruang keluarga milik Sean. Semua yang disana menatap Queen dengan tatapan tajam dan marah.
"Berengsek loe! Apa loe tega buat kayak gitu sama anak loe sendiri!" bentak Sean sambil menjambak rambut Queen.
"Itu karena kalian semua tertawa diatas penderitaan keluarga gue" teriak Queen.
Sean kembali memukul Queen dengan emosi, Denis segera memeluk sang sepupu untuk meredakan emosinya saat ini. Bima lalu menyuruh mama Denis untuk mengangkat Queen menjauhkan dari Sean.
"Sean tenangkan diri kamu!" bentak Riko.
"Biarin pa. Biarin Sean ngasih pelajaran kepada perempuan sialan itu" ucap Sean dengan suara tinggi.
"Cukup semua!" bentak Bima dengan tegas.
Sean seketika menghentikan langkahnya yang ingin memukul kembali istrinya. Ia segera berlalu menuju ke teras samping untuk menetralkan emosinya.
"Nak Queen apa kamu baik-baik saja" ucap Bima dengan suara lembut dan tegas.
"Iya kek" ucap Queen dengan perasaan marah di hatinya.
"Kami tidak membantu keluargamu karena memang ini semua kesalahan keluargamu yang tidak membayar pajak perusahan dan rumah sakit" ucap Bima.
"Aku tidak membantu keluargamu karena aku paling membenci yang namanya pengkhianat dan dalam keluarga kami sangat tidak suka dengan hal tersebut" ucap Riko dengan suara tegas.
Deg........
Tubuh Queen seketika menegang mendengar perkataan sang papa mertua.
Apa yang akan terjadi sama gue jika mereka tahu gue pernah berselingkuh di belakang Sean, batin Queen.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Sayangilah Ares biar bagaimanapun dia itu darah dagingmu sendiri" ucap Bima dengan tegas.
"Iya k...ek" ucap Queen dengan gugup.
Queen lalu dibawa Ria dan mamanya untuk mengobati luka di wajahnya yang sudah mulai membengkak. Sean sendiri berdiri di samping Maya sambil mengelus puncak kepala sang anak yang sudah tertidur karena lelah menangis.
"Ibu mohon sama kamu tahan emosimu nak" ucap Maya.
"Sean tahu bu tapi Sean ngak bisa tahan lagi jika seperti tadi bu" ucap Sean dengan suara lembut.
"Ibu tahu cobalah untuk terbuka dan dekat dengan istrimu Sean"
"Iya bu" ucap Sean mengiyakan saja ucapan sang ibu.
Sean tidak mau sampai Maya mengetahui kelakuan asli menantunya itu. Sean tidak akan menyebarkan kelakuan istrinya diluar biarlah itu jadi rahasia rumah tangga mereka.
Hari berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah berganti malam. Sean menidurkan baby Ares sepulang keluarga besarnya, saat keluar dari kamar sang anak tiba-tiba hpnya berbunyi panggilan dari Dimas.
^^^"Katakan" ucap Sean dengan datar.^^^
"Tuan ada masalah di markas"
^^^"Kenapa"^^^
"Ada yang menyelundupkan 5 boks senjata pesanan dari Singapura tuan" ucap Denis.
^^^"Berengsek siapa yang berani bermain denganku" ucap Sean dengan suara tinggi.^^^
"Menurut cctv ada orang dalam yang membantu tuan" ucap Dion.
^^^"Tangkap orang itu dan bawa dia ke tempat biasa"^^^
"Baik tuan"
Sean segera mematikan panggilannya dan segera pergi ke markasnya, tanpa ia sedari ternyata Queen mendengar pembicaraannya tapi tidak mengetahui apa maksud perkataan suaminya itu.
Queen lalu berlalu menuju kembali ke kamarnya saat melihat sang anak sudah tertidur. Meski ia membenci wajah sang anak tapi dalam hatinya masih ada perasaan sayang kepada sang anak.
Bi Lastri yang sempat melihat nyonya mereka keluar dari kamar Ares hanya tersenyum getir. Dia tahu pasti sejahat apapun seorang ibu ia pasti menyayangi anaknya sendiri.
"Semoga nyonya bisa bertobat dan terbuka hatinya" gumam bi Lastri.
...βββββ...
To be continue.............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€