Heartless

Heartless
Episode 190



🌻Terkadang jujur itu lebih menyakitkan tapi itu lebih baik dari pada kamu harus hidup terus dalam kebohongan🌻


.


.


.


.


Xavier tersenyum seperti seorang iblis yang memandang mangsanya. Ia seketika tertawa kencang di dalam ruangan kerja miliknya, Albert dan Thomas yang berada di sana bergidik ngeri.


Bukan merasa lucu karena bosnya tertawa tapi tawa Xavier seakan membuat tubuh mereka gemetaran.


Sepertinya bos mendapatkan ide gila lagi, batin Albert yang tahu kebiasaan bosnya.


Xavier akan tertawa remeh kepada musuhnya saat ia mendapat ide gila yang akan ia berikan kepada musuhnya. Albert tahu jika sebentar lagi mereka pasti akan sibuk menjalankan perintah sang bos.


"Albert" ucap Xavier dengan suara dingin dan nada angkuh.


"Iya bos" ucap Albert dengan gugup.


Ia akui saat ini aura yang dikeluarkan oleh Xavier seperti menusuk ke tulang-tulangnya. Entah hal gila apa lagi yang akan diberikan oleh sang bos saat ini.


"Awasi pergerakan Zen dan orang-orangnya"


"Apa tidak sebaiknya kita bertemu saja dengannya bos" ucap Thomas.


"Aku ingin lihat permainan mereka dulu sebelum menghabisi semuanya" ucap Xavier dengan senyum sinis.


"Tapi bos pasti nyonya akan dalam bahaya" ucap Albert.


"Ckk!! Apa kalian pikir buat apa aku menaruh Kevin dan Mike di sisi istriku" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


Keduanya seketika diam tidak protes lagi, keduanya tahu jika sang bos pasti sudah memikirkan apa yang akan terjadi sebelum bertindak.


"Awasi pergerakan mereka semua jangan sampai ada yang tahu"


"Baik bos" ucap Albert.


Xavier lalu menyuruh keduanya untuk segera keluar. Tapi baru saja mereka sampai di pintu Xavier kembali memanggil Albert.


"Albert bagaimana persiapan pesta pernikahanku"


"Sudah 80% bos tinggal menunggu bos dan nyonya memilih gaun dan texudo untuk acara pesta nanti"


"Usahakan jangan sampai muncul di publik mengenai berita ini"


"Baik bos"


Albert lalu segera pergi dari ruangan sang bos, Xavier duduk sambil menutup mata memikirkan musuh-musuhnya yang tak ada habisnya ingin mencelakai dirinya.


Tiba-tiba hpnya berbunyi tanda panggilan masuk. Xavier tersenyum bahagia melihat nama MyWife yang tertera di layar handphone miliknya.


"Hubby"


^^^"Iya baby"^^^


"Kamu lagi sibuk tidak"


^^^"Apa yang istriku mau! Heemmm"^^^


"Hehehehe! Kamu tahu saja sayang kalau aku lagi pengen sesuatu" ucap Chloe sambil terkekeh dari seberang.


^^^"I know everything about you baby" (aku tahu semuanya tentang kamu sayang)^^^


"Yeah aku tahu hubby"


^^^"So, what do you want baby" (jadi, apa yang kamu mau sayang)^^^


"Aku pengen donat sayang"


^^^"Kenapa tidak meminta chef untuk membuatkannya sayang"^^^


"Maunya begitu tapi aku pengen donat rasa cabai sayang dan harus 1000 donat" ucap Chloe dengan suara tegas.


Seketika Xavier kaget mendengar permintaan sang istri, apa lagi baru kali ini ia mendengar donat dengan rasa cabai.


Apa anak ku ini ngidam sampai segitunya ya, batin Xavier dengan bingung.


"Hubby" ucap Chloe dengan suara tinggi.


^^^"Iya sayang ada apa"^^^


"Kamu dengar tidak sih apa yang aku bilang" ucap Chloe dengan kesal.


^^^"Aku dengar sayang"^^^


"Kalau begitu bagaimana sayang aku pengennya sekarang"


^^^"Heemmm! Suruh pak Max untuk membuatkannya sesuai keinginanmu sayang"^^^


"Yang benar sayang"


^^^"Iya sayang"^^^


"Kalau begitu kamu cepat pulang ya sayang aku tunggu"


^^^"Heemmmm"^^^


"Bye daddy we love you"


^^^"Love you too my wife"^^^


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier segera menaruh kembali hpnya dan menarik napasnya dalam. Ia memikirkan permintaan istrinya yang tidak masuk akal barusan.


"1000 donat rasa cabai" gumam Xavier dengan pelan.


Ia memikirkan mau dikemanakan donat sebanyak itu, apa lagi pelayan dan pengawal di mansionnya tidak sampai berjumlah 1000. Tiba-tiba Xavier tersenyum penuh arti harus di kemanakan donat tersebut.


"Siapkan mobil" ucap Xavier lewat interkom.


Ia segera bangun dan memakai jas mahalnya lalu keluar. Di depan pintu ruangannya Albert dan Thomas bersama para pengawalnya sudah menunggu dirinya.


Xavier berjalan paling depan dengan tatapan tajam dan datar. Sepanjang jalan semua karyawannya menunduk memberi hormat tak berani mengangkat kepalanya, mereka tahu jika sang atasan tidak suka ada yang menginterupsinya saat berjalan.


Xavier lalu naik ke mobil royce rolls miliknya ditemani oleh Albert. Iring-iringan mobil Xavier segera melaju meninggalkan Wesly Group.


~ Jakarta, Indonesia ~


Sean saat ini sedang berada di markas sang papa, meski waktu sudah menunjukan pukul 23:00 malam ia engan untuk pulang. Setiap malam Sean akan pergi ke markas untuk memberi pelajaran kepada Queen.


Para anak buahnya sudah hafal betul kapan jam bos muda mereka akan datang. Saat Sean datang itu tandanya penderitaan Queen akan segera dimulai.


Suara teriakan kesakitan bergema di ruang tahanan, Sean seakan tidak perduli dengan teriakan kesakitan dari Queen. Tubuhnya yang dulu putih mulus dan berisi sekarang sudah penuh dengan luka seperti penyakit kusta.


Tubuhnya sudah seperti rangka mayat manusia yang tidak ada isinya hanya terbungkus oleh kulit saja. D***h segar bercucuran di lantai ruang tahanan Queen. Dimas yang mengawal Sean seakan sudah terbiasa dengan perbuatan tuannya.


Tuan muda sudah seperti monster berdarah dingin, batin Dimas.


"Bu...nuh s....aja gue" ucap Queen sambil terbata.


"Hahahahaha! Manusia kayak loe itu sebelum mati harus merasakan rasa sakit terlebih dulu" ucap Sean sambil tertawa sinis.


Queen menutup matanya pasrah dengan kehidupannya sekarang. Sean setelah puas memberi pelajaran kepada Queen segera berlalu pulang.


Saat di mobil tiba-tiba hpnya berbunyi tanda panggilan masuk dari sang papa. Sean segera menjawab panggilan dari sang papa.


^^^"Iya pa"^^^


"Son apa kamu sudah puas bermain-main dengan pengkhianat itu" ucap Riko dari seberang.


^^^"Sampai dia mati dengan sendirinya baru aku puas pa" ucap Sean dengan suara dingin.^^^


"Sean cukup sudah main-main kamu lepaskan dia sudah cukup kamu memberinya pelajaran"


^^^"Jangan pernah ikut campur urusanku pa" ucap Sean dengan suara tinggi.^^^


"Sean Rahardian" ucap Riko dengan suara tak kalah tinggi.


^^^"Cukup pa ini urusan aku dan ja**ng itu jangan sampai hari ini juga aku kirimkan mayatnya ke keluarganya" ucap Sean dengan emosi.^^^


Riko yang mendengar perkataan anaknya menarik napasnya dengan kasar. Ia tahu jika apa yang di ucapkan oleh Sean bukan main-main.


"Papa hanya mau kamu tahu kalau barusan Adam Rosemary meninggal"


^^^"Apa dia bunuh diri"^^^


"Papa ngak tahu"


^^^"Baguslah jika tukang selingkuh itu sudah mati" ucap Sean dengan sinis.^^^


"Besok kamu harus melayat ke sana Sean bersama papa dan ibu"


^^^"Malas pa"^^^


"Hargailah dia untuk terakhir kalinya son"


^^^"Heeemmm! Lihat aja nanti pa"^^^


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Sean segera mematikan panggilannya sepihak tanpa menunggu jawaban dari sang papa. Ia lalu menutup matanya dan bersandar di kursi mobil.


"Apa kurang gaji loe dari gue ampe loe harus lapor semua kegiatan gue ke papa" ucap Sean dengan suara dingin.


"Maaf tuan tapi saya tidak melapor apapun kepada tuan besar" ucap Dimas dengan suara tegas.


Sean melirik Dimas dengan tatapan tajam dan seketika ia tersenyum. Ternyata Dimas bukan orang yang melapor semua kegiatannya pada sang papa.


Sepertinya papa menaruh seseorang di markas sebagai mata-mata, batin Sean sambil tersenyum sinis.


~ Mansion Sean ~


Hari berlalu dengan cepat tak terasa sudah pagi. Sean bangun dan segera membersihkan tubuhnya lalu menuju ke ruang makan untuk sarapan.


Sampai di lantai satu ia langsung disambut celoteh anaknya yang sedang diberi makan. Sean tersenyum bahagia melihat Ares yang makan dengan lahap.


Ares melihat wajah Sean dan seketika tertawa senang. Ia merentangkan tangannya untuk menggapai leher sang papa, melihat hal tersebut Sean segera mengendong anaknya saat melihat piringnya sudah bersih.


"Apa enak makanannya son" ucap Sean dengan senyum manis.


Ares hanya tertawa mendengar perkataan sang papa. Ia lalu berceloteh dengan bahasa bayinya yang tidak di mengerti satu orang pun.


Tak lama bi Lastri memberitahu jika tuan dan nyonya besar datang. Sean berbalik melihat kedua orang tuanya yang datang pagi-pagi ke mansionnya.


"Ares nenek kangen nak" ucap Maya dengan riang.


Maya segera mengendong Ares dan membawa cucunya ke teras samping untuk berjemur. Riko sendiri mengambil tempat di samping Sean lalu menyuruh bi Lastri membawakannya sarapan.


"Sayang sarapan dulu" teriak Riko.


"Duluan aja mas aku masih mau sama Ares" ucap Maya.


"Heeemmmm"


"Tumben papa dan ibu datang pagi-pagi" ucap Sean sambil memasukan potongan roti ke mulutnya.


"Ibumu sudah kangen sama Ares sekalian kita pergi ke mansion tua Rosemary"


"Papa aja ya Sean malas ke sana"


"Son hargailah dia untuk terakhir kalinya, biar bagaimana pun kita pernah menjalin tali kekeluargaan dengan mereka" ucap Riko dengan bijak.


"Baiklah pa" ucap Sean dengan pasrah.


Keduanya lalu sarapan dan setelah menunggu sang ibu sarapan Sean memilih menghabiskan waktunya dengan Ares. Selesai ketiganya segera pergi ke mansion Alan Rosemary untuk melayat.


~ Mansion Alan Rosemary ~


Suasana duka sangat terasa di mansion Alan Rosemary. Banyak tamu dan kerabat yang datang untuk melayat akan kepergian Adam Rosemary yang sangat cepat.


Steven dan Lidia menangis histeris di samping mayat Adam. Mereka tak menyangka jika semalam adalah makan malam mereka terakhir bersama sang anak dan daddy.


"Daddy kenapa daddy pergi begitu cepat ninggalin Steven, Queen, dan mommy" ucap Steven dengan frustasi.


Berkali-kali ia menangis tak menyangka kepergian sang daddy yang sangat cepat. Lidia sendiri dari semalam pingsan dan saat sadar akan menangis dengan histeris.


Keluarga Rosemary lainnya menangis melihat Adam yang sudah terbujur kaku. Tak lama Sean dan kedua orang tuanya masuk dengan pakaian serba hitam, ketiganya segera menuju ke arah Alan Rosemary.


Alan melihat ketiganya dengan tatapan emosi, ia sangat membenci keluarga Rahardian apa lagi Sean yang masih menyekap cucunya.


"Kami sekeluarga turut berdukacita atas meninggalnya tuan Adam Rosemary tuan besar Rosemary" ucap Riko dengan penuh wibawa.


"Terima kasih sudah datang tuan Rahardian" ucap Alan dengan suara tegas dan tatapan tajam.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Suasana seketika menjadi mencekam karena aura permusuhan dari kedua belah pihak. Sean hanya berdiam diri tidak ingin mengeluarkan satu kata pun.


Melihat hal tersebut Maya segera menarik suaminya untuk memberi penghormatan terakhir kepada Adam. Ketiganya berlalu menuju ke mayat Adam yang sudah ditaruh dalam peti.


Maya sedih melihat suami dari teman SMAnya dulu serta kakek dari sang cucu. Setelah memberi penghormatan terakhir ketiganya segera berlalu menuju keluar untuk menyapa rekan kerja mereka yang juga hadir.


Hari itu juga Adam segera dikuburkan di TPU dekat mansion Alan Rosemary. Air mata keluarga Rosemary mengalir deras saat peti mati Adam di masukan ke liang kubur.


Steven dan Lidia meraung-raung berteriak histeris. Keduanya lalu ditenangkan oleh Aurel dan om dari Steven, Sean sendiri melihat mereka semua dengan tatapan datar.


Ia tak menyangka jika mantan papa mertuanya akan mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur hingga overdosis. Sean yang mendengar cerita kematian Adam juga kaget saat tahu Adam berusaha minum obat tidur karena tak kuat hidup lagi.


"Sepertinya ini waktunya gue lepasin ja***g itu" gumam Sean dengan pelan.


Sean dan kedua orang tuanya segera pergi setelah semua prosesi pemakaman berakhir. Di dalam mobil Sean segera menyuruh Dimas untuk mengirim Queen kembali ke keluarganya.


"Kirim j****g itu ke keluarganya" ucap Sean dengan dingin.


"Baik tuan" ucap Dimas.


Dimas segera menyuruh anak buah Sean untuk mengirim Queen kembali ke keluarganya. Sean lalu menyuruh Dimas untuk pergi ke perusahaan.


~ Mansion Xavier ~


Di mansion Xavier setelah mendapat persetujuan dari suaminya Chloe segera menyuruh pak Max memanggil semua chef. Para chef yang berjumlah 4 orang segera menghadap Chloe di ruang makan.


"Nyonya semuanya sudah disini" ucap pak Max.


"Aku ada tugas untuk kalian berempat" ucap Chloe.


"Iya nyonya" ucap ke empatnya dengan serentak.


"Aku mau kalian buat donat untukku tapi yang rasa cabai" ucap Chloe dengan tegas.


Ke empatnya kaget karena bingung dengan permintaan sang nyonya. Mana ada donat rasa cabai, batin pak Max yang juga ikut kaget.


"Oh ya satu lagi buat 1000 donat"


"Hah" ucap salah satu chef.


Mereka kaget tak menyangka jika permintaan sang nyonya akan seaneh ini. Chloe lalu menyuruh mereka semua untuk segera membuat donat yang di inginkannya.


Tak lama Kevin masuk setelah tadi pergi ke rumah sakit Wesly. Ia kaget melihat para pelayan dan semua chef sibuk membuat sesuatu di dapur.


"Apa yang terjadi pak Max?" tanya Kevin dengan penasaran.


"Nyonya minta dibuatkan donat rasa cabai 1000 buah tuan Kevin" ucap pak Max.


"Apa" teriak Kevin dengan suara tinggi.


Chloe lalu melihat Kevin dan tersenyum sambil memberi isyarat kepada Kevin untuk mendekat. Kevin seakan tahu jika pasti ia akan disuruh melakukan hal-hal aneh.


"Kamu duduk disini temani aku tunggu donatnya ya" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Iya nyonya" ucap Kevin dengan pasrah.


Tak lama Xavier muncul bersama dengan Albert dan Thomas. Tatapan matanya mengelilingi mansion mencari keberadaan sang istri.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier tersenyum bahagia melihat sang istri yang sedang memberi perintah kepada para pelayan. Ia lalu beranjak pergi ke arah sang istri dan langsung memeluknya dengan erat.


"Hubby kamu sudah pulang" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Heeemmmm"


"Apa kamu sudah makan siang"


"Aku pengen makan kamu sayang" bisik Xavier di telinga Chloe.


"Sayang" ucap Chloe dengan tatapan tajam.


Xavier terkekeh melihat mata sang istri yang menatapnya dengan tajam. Xavier kemudian mencium b***r Chloe tidak perduli semua yang berada disana.


Albert dan lainnya membuang muka ke samping tak ingin melihat kemesraan keduanya. Tak lama pak Max membawa beberapa donat yang sudah jadi kepada Chloe.


Melihat hal tersebut Chloe tersenyum bahagia berbeda dengan Xavier dan lainnya. Mereka menatap donat tersebut dengan wajah bingung pasalnya donat itu dipenuhi cabai merah yang sangat banyak.


Chloe lalu menerima donat tersebut dan segera menghirupnya. Sejak kehamilannya Chloe sering ngidam tapi hanya mencium baunya saja tidak ingin makan.


Kevin seketika tahu jika ia akan disuruh memakan donat itu. Entah akan jadi apa rasa donat tersebut, saat ia baru saja berdiri seketika suara Chloe menghentikannya.


"Kevin" ucap Chloe dengan tatapan berbinar.


"Iya nyonya" ucap Kevin.


"Kamu makan ini ya" ucap Chloe dengan santai.


Seketika Kevin melihat Xavier meminta agar jangan dirinya lagi, tapi ia kembali menjadi kesal saat melihat tatapan datar dan dingin Xavier yang tidak perduli dengannya.


"Silahkan mencoba donat rasa terbaru bocah" bisik Thomas sambil cekikan.


"Berengsek" ucap Kevin dengan suara pelan.


Thomas dan Albert terkekeh melihat wajah kecut Kevin saat memakan donat tersebut. Chloe yang melihat hal tersebut tersenyum bahagia seperti mendapat permen.


"Hubby bagaimana dengan donat yang masih ada" ucap Chloe sambil menunjuk ke arah donat.


"Apa kamu mau ikut ke markas sayang"


Mata Chloe langsung berbinar-binar bahagia sambil mengangguk kepala. Xavier lalu menyuruh Albert untuk menyiapkan mobil serta membawa semua donat tersebut.


"Pak max" ucap Chloe.


"Iya nyonya"


"Nih bagikan kepada pelayan dan pengawal serta satpam masing-masing satu" ucap Chloe sambil menyerahkan satu box donat tadi.


"Baik nyonya"


"Ingat semuanya harus makan jika tidak aku akan memberikan hukuman" ucap Chloe dengan tegas.


"Baik nyonya" ucap pak Max.


Chloe dan suaminya segera pergi ke markas milik Xavier. Sepanjang jalan Chloe terus bertanya apa saja yang ada di sana dan apa ia bisa berlatih menembak disana.


Xavier hanya mengangguk semua pertanyaan dari sang istri. Tiba disana Chloe seketika kaget melihat tembok markas Xavier yang sangat tinggi dan ia yakin jika bagian atas pagar dialiri listrik.


"Wah luas banget sayang" ucap Chloe dengan decak kagum.


"Ayo turun sayang" ucap Xavier dengan lembut.


Keduanya lalu turun dan langsung di sambut 7000 anak buah Xavier disana. Seperti air di laut yang bergemuruh saat mereka mengatakan selamat datang.


"Selamat datang bos dan nyonya" ucap anak buah Xavier dengan serentak.


"Wow that is amazing hubby" ucap Chloe dengan decak kagum.


Xavier hanya tersenyum hangat melihat wajah sang istri yang terkagum-kagum. Anak buah Xavier tak kalah kaget melihat nyonya mereka dari dekat dan mereka akui ia sangat cantik bagai seorang bidadari.


...❄❄❄❄❄...


To be continue....................


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀