
π»Di balik penderitaan yang kamu alami ada begitu banyak kebahagian yang sedang menantimuπ»
.
.
.
.
~ Mansion Rahardian ~
Semenjak pembahasan mengenai pernikahannya Sean lebih banyak mengurung diri dalam kamar. Hanya saat dirinya ke perusahaan atau markas papanya barulah ia keluar.
Maya yang melihat perubahan anaknya merasa sangat sedih. Dirinya bertekad untuk berbicara empat mata bersama sang anak.
Melihat Sean yang hanya berada dalam kamar dari pulang kantor membuat Maya naik ke atas dengan menyuruh pelayan membawa nampan makanan di belakangnya.
Tok.........tok.........tok.........
Pintu diketuk dari luar tapi tidak dihiraukan oleh Sean. Maya pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar anaknya.
"Sayang" panggil Maya dengan lembut.
Mendengar suara lembut ibunya Sean segera masuk ke dalam kamar. Dirinya menemukan sang ibu yang sedang membawa nampan berisi makanan untuk dirinya.
Maya tersenyum bahagia melihat anaknya, ia menaruh nampan di atas meja dan menarik Sean untuk duduk di ranjang.
"Bagaimana keadaan kamu nak?" tanya Maya sambil mengelus wajah anaknya.
"Seperti yang ibu lihat" jawab Sean dengan lemah.
"Mana jagoan ibu yang selalu riang! Hemmm" ucap Maya menahan air matanya yang hampir jatuh.
Sean memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca dirinya langsung memeluk sang ibu menumpahkan semua keresahan dihatinya.
"Sean ngak kuat harus nikahi orang yang Sean ngak cintai bu" ucap Sean dalam pelukan ibunya.
Maya mengelus punggung anaknya yang lebar dengan lembut, dirinya membiarkan sang anak untuk mengeluarkan semua isi hatinya. Hatinya sakit dan sedih melihat sang buah hati yang seperti ini.
"Ibu tahu ini pilihan yang sulit bahkan ibu tidak mau membuat anak ibu berada dalam ikatan yang tidak ada cinta......hiks hiks......tapi ibu juga seorang perempuan dan tahu bagaimana rasanya jika kita ditinggalkan oleh orang yang tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan nak......hik hiks hiks" ucap Maya sambil menangis.
"Ibu jangan menangis Sean ngak mau lihat ibu nangis" ucap Sean sambil mengelap air mata ibunya.
"Hiks hiks hiks........ibu tahu saat ini kamu pasti berat menerima semua ini tapi ibu mohon pikirkanlah darah dagingmu sayang dia tidak bersalah di sini" ucap Maya dengan terisak.
"Sean akan lakukan apapun agar ibu jangan sedih jadi tolong jangan menangis lagi bu" ucap Sean dengan memohon.
"Cintailah anakmu seperti kamu mencintai dirimu sendiri berikanlah dia kasih sayangmu meski kamu tidak mencintai ibunya. Jadilah Sean yang kuat tidak kenal takut dan jadi anak ibu yang selalu arogan seperti papamu" ucap Maya dengan lembut.
"Sean ngak arogan bu tapi papa" ucap Sean membantah.
"Siapa bilang son kamu memang sangat arogan" ucap Riko dengan tegas.
"Cih! Pengganggu" ucap Sean dengan kesal.
Riko yang mendengar hal tersebut menjadi kesal dan langsung menjewer kuping anaknya. Sean berteriak kesakitan tapi tidak di tanggapi oleh Riko malah makin menjewer telinga anaknya.
Maya tersenyum bahagia akhirnya anak semata wayangnya yang menyebalkan sama seperti papanya sudah kembali. Meski umpatan dan kata-kata kasar selalu ia dengar dari mulut keduanya tapi ia sangat menyayangi keduanya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ibu lihat kuping Sean luka" ucap Sean mengadu pada ibunya.
Maya hanya tersenyum dan mengelus kuping anaknya dengan lembut. Sean memeluk ibunya dengan erat berniat menggoda papanya, terbukti wajah papanya sudah seperti kepiting rebus.
"Sean lepaskan ibumu itu milik papa" ucap Riko dengan nada tinggi.
"Ngak ini milik Sean" ucap Sean dengan tajam.
"Itu wanitaku kamu peluklah wanitamu sana" ucap Riko melepaskan pelukan keduanya.
Maya hanya pasrah melihat suaminya yang berdebat bersama dengan anaknya memperebutkan dirinya. Maya langsung menarik keduanya dalam pelukannya.
Melihat hal itu Sean dan papanya membalas pelukan sang ibu dengan erat. Ketiganya tertawa melihat aksi mereka yang seperti anak kecil.
1 Minggu kemudian
Waktu berlalu dengan cepat dan tepat hari ini Sean dan Queen akan melaksanakan pernikahan di salah satu gereja di Jakarta Pusat. Queen tampil dengan gaun pengantin mewah di dampingi daddynya menuju Altar.
Sean melihat pengantinnya dengan wajah datar dan tidak ada senyum sama sekali di wajah tampannya. Semua tamu undangan melihat pengantin yang berjalan menuju altar dengan decak kagum.
Stasiun TV dan wartawan juga yang berada disana meliput acara tersebut dan menampilkan di salah satu stasiun televisi nasional. Surat kabar dan dunia maya hanya dipenuhi dengan berita pernikahan kedua orang paling terkaya di Indonesia.
Sean yang melihat sekarang statusnya sudah berubah hanya diam dengan bisu tidak ada kebahagian di wajahnya. Selesai pemberkatan mereka semua menuju hotel Hilton untuk melanjutkan dengan acara resepsi pernikahan mereka.
Ribuan tamu di undang dari keluarga, kerabat, dan kolega masing-masing pihak keluarga yang memadati ballroom hotel tersebut.
Sahabat Sean yang melihat sahabatnya hanya menampilkan tampang datar dan dingin merasa kasian. Mereka sangat tahu jika Sean tidak menginginkan pernikahan ini tapi harus dilakukannya karena kesalahannya.
"Bro selamat ya gue tahu apa yang loe rasa kali ini tapi jika loe butuh tempat cerita kita semua selalu ada buat loe" ucap Resa.
"Thanks dude" ucap Sean memeluk sahabatnya ala laki-laki.
"Kita selalu ada buat loe" ucap Dito.
"Heeemmmmm"
"Congratulation dude" ucap Angga dengan wajah sedih.
"Gue enek liat muka kasian loe" ucap Sean dengan sinis.
"Berengsek loe" ucap Angga dengan kesal.
"Selamat ya bro" ucap Rey sambil memeluk Sean.
"Thanks" ucap Sean.
Sean tidak memperdulikan Queen yang berdiri di pelaminan sendiri dan memilih bergabung bersama para sahabat dan rekan kerjanya.
Queen yang sudah capek hanya bisa menahan kesal melihat Sean yang tidak perduli sama sekali dengan dirinya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ California, Los Angeles ~
Chloe sedang membaca berita pernikahan tentang Sean dan Queen di laptopnya dengan judul :
...Pernikahan termewah kedua keluarga terkaya di Indonesia...
"Akhirnya raja pengkhianat dan ratu drama menikah juga" ucap Chloe tersenyum sinis.
"Kenapa loe" ucap Mira yang bingung melihat Chloe tersenyum sendiri.
"Ngak kenapa-napa" ucap Chloe dengan datar.
"Gue kira loe kesurupan hantunya jeng kunti makanya senyum sendiri-sendiri" ucap Mira dengan cengesan.
"Berengsek loe" ucap Chloe sambil melempar botol minum ke arah Mira.
Mira hanya tertawa saja pasalnya saat ini mereka sedang duduk di taman kampus sedang menunggu Jeni yang sedang konsultasi skripsinya. Mira sendiri dan Julian sudah menyelesaikan skripsi dan ujian mereka tinggal Jeni saja.
Tak lama Jeni muncul dengan senyum cerah di wajahnya.
"Kayaknya ada berita bagus nih" ucap Mira.
"Minggu depan aku ujian" ucap Jeni dengan senyum manis.
"Wah akhirnya kerja keras kamu terbayar" ucap Chloe dengan bahagia.
"Iya Chloe aku senang banget" ucap Jeni.
Ketiganya langsung menuju ke kantin kampus untuk makan siang karena sudah lapar. Sampai disana ketiganya mengambil makan dan bergurau dengan santai.
"Ehh! Kalian penasaran tidak sama Julian" ucap Jeni.
"Memangnya kenapa kamu mau nyatain perasaan kamu" ucap Mira sambil menaik turunkan alisnya.
"Ah! Ngaco kamu Mira tidak thu" ucap Jeni dengan malu.
"Tadi kamu mau ngomong apa" ucap Chloe.
"Aku thu berasa kalau Julian itu anak orang kaya deh soalnya dari mobil sampai pakaiannya thu bermerek tahu" ucap Jeni dengan menggebu-gebu.
"Iya ya benar juga ya, aku ingat waktu kita pertama kali ke mansion Chloe dia waktu itu bilang kalau di udah pernah liat banyak mansion mewah tapi tak pernah liat mansion mewah seperti punya Chloe" ucap Mira.
"Awalnya penampilannya culun tapi setelah magang beda banget ya" ucap Chloe mengingat waktu saat setelah masuk kembali dari magang.
Ketiganya mengingat semua tentang Julian dari pertama kali mereka bertemu sampai saat ini. Chloe melihat kedua temannya saat mendapat ide.
"Aku punya ide untuk menjawab semua pemikiran kita" ucap Chloe sambil tersenyum.
"Maksudnya?" tanya Jeni dengan bingung.
"Gimana kalau kita ikuti saja Julian selama seharian kita liat apa yang dia sembunyikan dari kita mengenai identitasnya" ucap Chloe.
"Uhmm! Tapi aku takut ketahuan" ucap Mira dengan polos.
"Ya elah makanya jangan sampai ketahuan kan kita ganti pakaian kita yang buat dia tidak curiga sama sekali" ucap Chloe.
"Maksud kamu kita jadi kayak detektif gitu ya" ucap Jeni.
"Ya benar sekali" ucap Chloe dengan senyum manis.
Chloe lalu membisikan rencana kepada kedua sahabatnya untuk persiapan pengintaian mereka besok. Jeni dan Mira mendengar dengan cermat apa yang dikatakan oleh Chloe.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Chloe mengantar Xavier di depan pintu mansion seperti biasa. Dirinya tidak memberitahu Xavier jika hari ini ia akan bersama sahabatnya pergi mengintai Julian.
Chloe segera bergegas masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu dirinya pergi ke ruang ganti memilih baju yang akan dipakainya.
Dirinya memilih dress pendek dengan lengan sebelah tidak ada yang menampilkan bahu kirinya. Sepatu high hills 7 cm berwarna hitam menjadi pilihannya tak lupa tas selempang untuk menaruh dompet dan hpnya.
"Perfect kayak gini Julian ngak tahu kalau ini gue" ucap Chloe yang melihat penampilannya di kaca.
Chloe berpikir jika suaminya melihat ia berpakaian seperti ini maka dirinya akan diberi hukuman.
Xavier bakal ngak tahu kalau gue make pakaian kayak gini lagian ini juga demi penyamaran, batin Chloe.
Chloe mengambil kunci mobil milik sang suami jenis lamborghini adventor, semua pelayan menatap Chloe dengan tatapan kagum dan terpesona.
"Nyonya cantik sekali" ucap para pelayan.
Chloe segera bergegas menuju garasi mobil mewah suaminya. Ia kemudian masuk dan melajukan mobilnya membelah jalanan California, para pengawal selalu mengawasi Chloe dari jauh sesuai perintah Xavier.
Chloe melajukan mobil sport milik sang suami ke apartemen Mira. Tiba disana Mira sudah menunggunya di depan apartemennya sambil meminum segelas americano panas.
"Wooww! Gue kira loe itu seorang bidadari Chloe" ucap Mira yang baru pertama kali melihat Chloe memakai pakaian seperti ini.
Chloe hanya menggelengkan kepalanya tanda tak mau merespon perkataan Mira. Chloe dan Mira bergegas ke kampus untuk menjemput Jeni sekaligus menunggu Julian.
Sampai di parkiran Chloe mengirim pesan ke Jeni untuk datang ke sana.
Jeni
"Datang ke parkiran masuk ke mobil lamborghini warna hitam plat xxx"
Tak lama Mira dan Chloe melihat Jeni yang datang dan mencari-cari mobil mereka. Jeni yang melihat hanya ada mobil hitam satu saja disana langsung bergegas ke sana.
Mira keluar dan membuka pintu untuk Jeni masuk karena hanya 2 kursi saja dan Jeni harus masuk ke dalam beruntung mobilnya muat untuk ketiganya.
"Gimana udah siap girls" ucap Chloe dengan senang.
"Udah dong"
"Uhmm! Kenapa hari ini kita semuanya memakai dress ya" ucap Mira dengan penasaran.
"Biar kita makin cantik dong" ucap Jeni dengan cekikan.
Ketiganya hanya tertawa saja dan menunggu Julian yang sudah datang dan sedang mengumpulkan berkas persyaratan wisudanya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah menunggu selama 1 jam akhirnya Julian muncul dan bergegas menuju mobilnya di parkiran. Ketiganya langsung menghidupkan mobil bersiap mengikuti Julian.
Julian melajukan mobilnya keluar dari area UCLA, Chloe membawa mobilnya pelan mengikuti Julian dari belakang.
"Chloe kamu pelan-pelan aja jangan sampai dia tahu" ucap Jeni.
"Chloe kamu punya SIM kan?" tanya Mira dengan polos.
"I don't have" ucap Chloe santai.
"Yak, Chloe kamu jangan bercanda deh" teriak Mira dengan kencang.
"Ihh! Udah palingan kalau ditilang ya udah kasi aja mobilnya" ucap Chloe dengan santai.
"Firasat aku kok tidak enak ya" ucap Jeni.
"Jangan bercanda deh Jeni lagi takut nih aku" ucap Mira dengan wajah takut.
"Udah deh fokus aja sama mobil Julian di depan jangan sampai kita kehilangan jejak" ucap Chloe sambil melajukan mobil agak kencang.
Tak lama mobil Julian masuk ke salah satu rumah sakit di sana. Chloe dan lainnya bingung buat apa Julian kesini.
"Julian tidak sakit kan" ucap Jeni dengan gugup.
"Kita keluar aja biar lebih jelas" ucap Chloe.
Saat hendak membuka pintu tiba-tiba Mira berteriak dengan kencang.
"Ehhh! Itu Julian sama cewek" teriak Mira dengan kencang.
Jeni yang melihat Julian keluar dari dalam rumah sakit dengan seorang wanita cantik seketika hatinya sangat sakit. Entah kenapa saat melihat Julian tertawa lepas bersama wanita lain dirinya tidak rela.
Chloe kembali melajukan mobilnya mengikuti Julian dari belakang. Lama mereka berkendara lalu tiba-tiba mobil Julian masuk ke satu mansion mewah di tengah kota.
"Jangan bilang ini rumah Julian" ucap Mira dengan kaget.
"Mana aku tahu orang Julian aja tidak pernah memberitahu alamatnya" ucap Jeni yang sama kaget dengan Chloe.
"Gimana nih mau nunggu Julian keluar atau apa?" tanya Chloe kepada teman-temannya.
"Gimana kalau kita coba telpon aja dia nanya dia lagi dimana kalau dia jawab di rumah berarti ini memang rumahnya" ususl Mira.
"Ide kamu bagus juga" ucap Chloe.
"Jeni kamu telpon si Julian tanya dia dimana" ucap Mira.
Jeni mengeluarkan hpnya dan menelpon Julian tak lama Julian pun mengangkatnya.
"Halo"
^^^"Halo Julian"^^^
"Iya kenapa Jen"
^^^"Julian kamu masih di kampus tidak" tanya Jeni yang mendapat suruhan dari Chloe.^^^
"Baru aja aku balik nih lagi di rumah emang kenapa"
^^^"Oh kamu ada dirumah ya" ucap Jeni sambil melihat kedua sahabatnya.^^^
"Iya emang kenapa"
^^^"Oh itu tadi aku mau lihat berkas pernyataan kamu jadi aku pikir kamu masih di kampus" ucap Jeni berbohong.^^^
"Nanti aku kirimin aja ke email kamu"
^^^"Iya makasih ya Julian"^^^
"Iya sama-sama"
Panggilan pun langsung dimatikan oleh Jeni. Chloe dan Mira melihat Jeni dengan tatapan bingung.
"Jadi menurut kalian gimana?" tanya Chloe.
"Fix dia anak orang kaya" ucap Mira dengan cepat.
"Dilihat dari mansionnya fix dia emang orang kaya" ucap Jeni dengan raut muka tidak jelas.
"Nama belakang Julian siapa sih?" tanya Chloe.
"Kenel" ucap Jeni.
Chloe mengambil hpnya dan browsing mencari marga kenel dan hal itu sukses membuat ketiganya tercengang.
"Ini" ucap Mira dengan kaget.
"Dia anak ketiga pemilik perusahaan berlian di Spanyol" ucap Chloe.
Seketika Jeni merasa sangat kecil karena dirinya tidak pantas jika ia bersanding degannya. Ketiganya menghela napas tak menyangka jika teman mereka adalah orang kaya di Spanyol.
Chloe melajukan mobil pergi dari sana. Saat di tengah jalan Chloe seketika menghentikan mobilnya di tengah jalan saat mendengar perkataan Jeni.
"Sepertinya aku harus membuang perasaan aku ke Julian deh" ucap Jeni dengan sedih.
Chloe dan Mira langsung menoleh melihat Jeni dengan bingung. Chloe tidak perduli dengan mobilnya yang berhenti di tengah jalan dan menghambat lalu lintas.
"Apa kamu lagi bercanda Jeni" ucap Chloe dengan tegas.
"Aku merasa tidak cocok jika mempunyai perasaan ke Julian dia sama aku itu beda banget" ucap Jeni sambil menunduk.
"Jika kamu pun...." ucap Chloe yang terpotong saat kaca mobilnya diketuk.
Chloe melihat ada 2 polisi di samping mobilnya, Chloe menurunkan kaca mobilnya dan menampilkan wajah datarnya.
"Maaf nona apa anda tidak lihat jika saat ini mobil anda menghambat arus lalu lintas karena berhenti di tengah jalan" ucap polisi A.
"Uhm! Maaf pak tadi saya kaget makanya tidak tahu sudah berhenti di tengah jalan"
"Apa bisa kami lihat surat-suratnya nona" ucap polisi B.
Chloe menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gugup karena tidak memiliki SIM mengemudi di kota ini. Tak lama Chloe, Mira, dan Jeni berdiri di jalan melihat mobilnya yang diderek oleh petugas tilang.
Mati gue bakal dimarahi nih sama suami gue nih mana itu koleksi mobilnya lagi, batin Chloe frustasi sambil memegang surat tilang.
...βββββ...
To be continue...........
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€