Heartless

Heartless
3



Nenek terdiam terpaku ketika mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Ia tidak lagi bisa memendung isakan tangisnya ketika menerima telfon dari anaknya Mira. Tak disangka setelah sekian lama Mira tidak memberikan kabar, kabar yang anaknya beritahukan begitu mengejutkan.


"Ibu, Mas Anton udah meninggal 3 bulan lalu karena kecelakaan. Maaf aku baru bisa ngabarin nenek karena aku terlalu sedih dan aku sangat sibuk disini. Oh ya, aku mau menikah lagi nek bulan depan. Ada seseorang yang melamar aku"


"Mira.. apakah.."


"Udah ya bu nggak usah kawatir sama aku. Aku disini hidup senang tanpa kurang apapun. Ibu yang sehat disana. Oh ya aku akan ngirim uang buat sekolah Dira ya bu. Maaf baru ngirimin lagi. Kemarin aku juga lagi susah disini kebutuhan banyak. Sudah dulu ya bu.. kapan-kapan aku telfon lagi. Ibu nggak perlu telfon biar aku aja yang telfon ibu. Itu Mas Andrew udah manggil aku"


Klik. Tut tut tut.. bunyi telfon yang masih digenggam nenek di telinganya. Nenek bahkan belum mengucapkan satupun kalimat tapi anaknya dengan tega langsung menutup telfon. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Anaknya begitu entengnya memberikan kabar meninggalnya menantunya dan lebih mengejutkan lagi bahwa anknya mau meninggal lagi. Nenek menyeka air mata yang tiba-tiba turun dari matanya.


Aku tidak boleh sedih. Aku harus menguatkan Dira. Masa depan dia masih panjang. Siapa sangka cucuku menjadi seorang yatim secepat ini. Bahkan cucuku sampai tidak bisa melihat jasad ayahnya. Malang sekali nasib cucuku.


"Sayang.. Dira sini nak nenek mau memberitahu sebuah kabar", panggil nenek kepada Dira yang sedang bersiap-siap untuk tidur.


"Iya nek..", Dira menghampiri neneknya di atas tempat tidur. Ia ikut menaiki tempat tidur dan duduk bersandar pada neneknya.


"Dira, nenek mau ngasih tau ke kamu kalau ibu kamu baru telfon nenek. Ayah kamu sayang.. Ibu kamu memeberitahu kalau ayah kamu sudah meninggal beberapa bulan lalu"


"Iya nek.."


"Maafin nenek ya Dira.. baru bisa kasih tau kamu kabar ini sekarang. Nenek juga baru denger berita ini. Kamu boleh sedih, nangis tp jangan berlarut-larut ya.. Oh ya katanya kamu mau punya ayah baru sayang.. jadi pasti.."


"Nenek.. aku kangan ibu ayah nek..", Dira mulai menangis di pelukan neneknya.


"Cup cup cup iyaa nenek tau Dira pasti kangen ayah ibu. Yang tabah ya sayang..", nenek semakin memeluk Dira demi menenangkan cucunya.


Entah apa yang dipikirkan anaknya itu sampai tega dengan cucunya. Setelah lama tidak memberi kabar, tanpa penyesalan dan tanpa menanyakan kabar anak sendiri, dia memberi kabar duka sekaligus kabar pernikahannya kembali. Ia hanya bisa menghela nafas dan berdoa agar almarhum menantunya dapat tenang dan diterima disisi-Nya.


Dira, yang tabah sayang.. kamu masih punya nenek disini. Nenek akan berusaha hidup lebih lama sampai kamu berhasil meraih cita-citamu.


-----------------------------


Beberapa tahun sudah berlalu. Dira sekarang sudah SMP. Dira anak yang pintar. Ia berhasil mendapatkan beasiswa full di sekolah yang notabennya hanya menerima anak yang pintar dan kaya. Sama seperti dulu, Arjuna masih mengejar cinta Dira dan Meysia masih menjadi sahabat terbaik bagi Dira. Dira tumbuh menjadi seorang wanita cantik, ramah dan banyak anak laki-laki yang naksir padanya. Terbukti banyaknya anak laki-laki di sekolahnya yang sering diam-diam naruh cokelat atau makanan atau bunga disertai surat di meja Dira.


Namun Dira tidak berani untuk menerima rasa mereka karena ia merasa tau diri. Siapa aku dibanding mereka? Aku bukanlah apa-apa dibandingkan mereka. Aku disini hanya mendapatkan keberuntungan. Mendapatkan teman-teman yang berasal dari keluarga berada juga merupakan suatu keberuntungan bagiku.


"Dir, lo tau gak gue tadi liat Alex di lapangan basket. Ngapain di kesekolah ya dir? Dia kan udah lulus", Meysia masuk ke kelas menghampiri Dira yang sedang mengerjakan tugas di mejanya.


"Ga tau.."


"Ih Dir, Alex tambah ganteng tau sekarang. Udah jadi anak SMA. Gimana rasanya jadi pacar seorang Alex ya..", Meysia tersenyum-senyum membayangkan kemungkinan itu.


"Ga tau.. coba aja dulu", Dira pergi keluar kelas menuju toilet meninggalkan Meysia di mejanya.


Dira nggak peduli dengan hal seputar dunia pacar-memacar. Ia sekarang hanya fokus dengan bagaimana cara meningkatkan nilainya agar beasiswanya tidak pernah dicabut. Ia masih ingin sekolah disini sampai lulus lalu melanjutkan SMA lalu setelah itu Kuliah. Satu hal yang secara diam-diam ia inginkan dan ia tidak berani untuk mengutarakannya kepada neneknya. Kuliah. Karena rasanya itu terlalu jauh untuk digapai.