
π»Saat kita melakukan kebaikan kadang-kadang keburukan turut menyertai tapi saat melakukan keburukan tidak ada kebaikan sedikit punπ»
.
.
.
.
Selesai menikmati sepiring bakso Chloe lalu mengambil minum dan tisu untuk mengelap mulutnya. Wajahnya sedari tadi tersenyum karena sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Melihat senyum manis sang istri membuat Xavier tidak tega untuk memberi tahu jati dirinya. Ia memandang Chloe dengan intens dan di penuhi dengan begitu banyak praduga.
"Baby" ucap Xavier dengan suara serak menahan perasaan bingung, sedih, dan begitu banyak perasaan dalam hatinya.
"Heeemmmm"
Chloe melihat suaminya dengan kening berkerut. Pasalnya sedari tadi saat di ruang kerja Xavier ia seperti sedang berpikir keras.
"Ayo kita ke kamar" ucap Xavier sambil berdiri menuntun Chloe.
Chloe yang ingin protes mengurungkan niatnya dan mengikuti sang suami. Sampai di depan pintu kamar Xavier menyuruh Chloe untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Jangan ada yang menggangguku" titah Xavier dengan suara dingin.
"Baik tuan" ucap pak Max dengan tubuh gemetar saat mendengar suara sang majikan.
"Heeemmm"
Xavier lalu menutup pintu dan menghela napasnya sebelum berbalik. Chloe sedari tadi sudah duduk menunggu kedatangan suaminya di sofa, Xavier lalu berjalan menuju sang istri dengan perasaan was-was.
Ia akui baru kali ini dia merasa ragu dan takut akan sikap yang nanti ditunjukan oleh sang istri.
Apa kamu akan menerima diriku ini sayang, batin Xavier menatap tajam Chloe tapi ada raut kesedihan di matanya.
"Ada apa sayang?" tanya Chloe dengan suara lembut.
Xavier duduk di samping Chloe agak menyamping untuk melihat wajah sang istri. Melihat hal tersebut Chloe pun merubah duduknya sehingga mereka saling berhadapan.
"Baby ada yang mau aku sampaikan ke kamu" ucap Xavier dengan suara parau.
"Apa ada sesuatu hal buruk yang terjadi sayang" ucap Chloe dengan wajah mulai panik.
Xavier menggelengkan kepalanya tanda tidak benar perkataan sang istri. Melihat reaksi sang suami ia merasa lega tapi masih penasaran dengan apa yang mau dibicarakan oleh Xavier.
Detik demi detik berlalu dan sampai 10 menit kemudian Xavier belum mengatakan sepatah kata pun. Chloe yang sedari tadi menunggu seketika menjadi kesal.
"Kamu kenapa sih sayang? Katanya mau ngomong sesuatu tapi sudah 10 menit dari tadi kamu hanya diam saja" ucap Chloe dengan nada ketus dan kesal.
Melihat reaksi sang istri yang sudah mulai kesal Xavier lalu menarik napasnya dalam dan membuangnya dengan kasar. Xavier memegang kedua tangan Chloe dengan erat.
"Sebenarnya aku adalah seorang mafia sayang" ucap Xavier dengan suara gugup.
Deg............
Tubuh Chloe menegang mendengar perkataan sang suami yang mengakui jati dirinya yang asli. Tatapan penuh keingintahuan dan senyuman manis Chloe sedari tadi seketika berubah menjadi tatapan datar dan dingin.
Xavier menelan salivanya dengan kasar melihat reaksi Chloe yang diam saja. Ia sudah mulai takut dengan apa yang ada dipikirannya saat ini, bahkan tangannya menjadi dingin dan tak sadar memegang tangan Chloe dengan kuat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Pikiran Chloe seperti blank tidak tahu harus berekspresi seperti apa atau mengatakan satu kata pun saja tidak bisa. Genggaman tangan Xavier semakin kuat membuat tangan Chloe menjadi sakit.
Karena terlalu sakit ia melepas tangan Xavier dengan kasar. Xavier kaget bukan main melihat reaksi istrinya barusan, pikiran Chloe yang meninggalkannya membuat ia menjadi tegang dan panik.
"Sayang" ucap Xavier dengan suara bergetar.
Chloe lalu bangun dan berlalu dengan cepat masuk ke dalam walk in closet. Melihat hal tersebut ia ingin masuk ke dalam juga tapi kakinya seperti di lem dan tidak bisa bergerak akibat panik dan gugup.
Chloe lalu mencari pistol yang pernah ia lihat di bagian deretan jam tangan mewah sang suami. Entah apa yang ingin diperbuatnya hanya dia saja yang tahu.
Xavier sendiri duduk di sofa sambil mendengar bunyi benda seperti di buang di dalam walk in closet. Chloe yang tidak menemukan pistol membongkar semua pakaiannya dan Xavier sampai berantakan.
Setelah mencari di semua bagian akhirnya ia menemukan pistol tersebut. Chloe lalu mengambil pistol yang ditemukannya dan membawanya keluar tidak tahu apa ada pelurunya atau tidak.
Saat keluar Xavier kaget bukan main melihat tangan Chloe yang memegang pistol kesayangannya. Dessert eagle adalah salah satu jenis pistol kesayangan Xavier karena memiliki kemampuan menembak yang mematikan.
Pistol buatan Israel ini sangat pamor di kalangan dunia karena mempunyai daya hancur yang sangat gila, meski hanya memuat 7 peluru saja dan mempunyai tampilan klasik tapi pistol jenis ini sangat mematikan.
"Apa yang kamu lakukan sayang" ucap Xavier dengan suara tinggi.
Bukan takut atau gentar Chloe lalu menodongkan pistol itu di dada Xavier. Xavier diam dan menatap sang istri dengan tatapan sulit diartikan.
"Apa kamu betul seorang mafia Xavier Arthur Wesly?" tanya Chloe dengan suara datar dan dingin.
Xavier terus melihat mata sang istri dengan perasaan campur aduk. Chloe menatap Xavier dengan tajam meminta jawaban atas pertanyaannya barusan.
"Ya aku seorang mafia kejam di dunia bawah baby" jawab Xavier sambil menutup matanya.
Chloe berdiri tepat di depan suaminya dan masih tetap menodongkan pistol itu tepat di jantung Xavier. Xavier berdiri dengan diam seakan tidak ada rasa takut dengan pistol tersebut tapi takut dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh istrinya.
"Sekali lagi aku tanya apa betul kamu seorang mafia Xavier"
"Ya aku seorang mafia" ucap Xavier dengan suara tegas.
Deg............
Tubuh Xavier seketika menegang karena tak menyangka reaksi istrinya saat ini. Chloe memeluk tubuh Xavier dengan erat sambil menatap mata suaminya dengan berbinar tak lupa senyum manisnya.
Xavier melihat Chloe dengan bingung akan reaksi istrinya barusan.
Kenapa dia tersenyum manis bukannya takut, batin Xavier.
"Sayang kenapa kamu baru cerita sih" ucap Chloe dengan kesal.
"Apa maksud kamu sayang?" tanya Xavier dengan bingung.
"Cih! Katanya kamu itu mafia kejam tapi kenapa reaksi mafia sama kayak kamu sih" ucap Chloe sambil mengerutu.
"Apa kamu tidak takut baby"
"Siapa bilang aku takut. Sedari dulu aku itu sangat menyukai yang namanya mafia dan selalu membaca komik bergenre mafia tapi romantis sayang" ucap Chloe dengan cekikan.
"Jangan bilang kamu sudah tahu jati diri aku sayang"
"Tidak aku baru tahu tadi tapi sudah lama aku menebak kamu itu mafia semenjak kamu cerita tentang Adam Rosemary. Saat kamu memberinya hukuman sayang" ucap Chloe panjang lebar.
"Lalu kenapa kamu bawa pistol segala sambil menodongkan padaku! Hem" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Hehehe! Sebenarnya aku ingin menyuruh kamu mengajar aku cara menembak sayang sama yang seperti di tv" ucap Chloe sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier memeluk tubuh Chloe dengan erat sambil menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan. Ia sudah sempat berpikir aneh-aneh tadi saat reaksi istrinya waktu diberitahu jati dirinya.
Chloe membalas pelukan Xavier sambil tersenyum bahagia. Entah kenapa ia tidak takut akan jati diri Xavier malahan merasa senang dan merasa seperti di lindungi.
"Terima kasih baby" ucap Xavier dengan suara lembut.
"Terima kasih untuk apa baby"
"Karena kamu sudah menerima jati diri aku dan tidak meninggalkanku"
"Ckk!! Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sayang? Apa kamu tidak lihat perut aku yang membuncit sekarang dan bentar lagi anak kamu akan lahir. Lalu aku harus pergi gitu? Ada-ada saja kamu Mr. Wesly" ucap Chloe dengan ketus.
Chloe melepaskan pelukannya dan naik ke tempat tidur karena kesal. Melihat hal tersebut Xavier bukannya marah tapi malah tersenyum bahagia.
Ia naik ke ranjang dan memeluk tubuh istrinya dengan erat. Meski sedang kesal Chloe berbalik menghadap Xavier dan memeluk tubuhnya dengan erat.
Chloe menaruh kepalanya di dada sang suami dan menghirup aroma tubuh Xavier. Xavier mengelus puncak kepala Chloe dengan lembut sampai tak lama ia mendengar suara sang istri yang teratur.
Xavier tersenyum sambil mencium bi**r Chloe dengan sangat lembut.
Terima kasih sudah menerima jati diri aku sayang, batin Xavier dengan penuh rasa syukur.
~ Mansion Alan Rosemary ~
Sore itu Queen datang dengan penampilan yang kacau dan mata seperti panda. Henki dan orang suruhannya setelah puas memuaskan hasrat mereka berhari-hari segera mengirim Queen pulang.
Lidia kaget melihat penampilan Queen saat keluar dari mobil sambil tertatih-tatih. Pandangannya kosong seperti mayat hidup yang tidak memiliki gairah untuk hidup lagi.
"Princess kamu dari mana dan kenapa kamu bisa jadi begini" ucap Lidia dengan khawatir.
Queen hanya diam tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia berjalan masuk ke dalam dengan langkah cepat dan segera berlalu menuju kamarnya.
Sampai disana Queen lalu mengunci pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia lalu menangis dan berteriak di dalam kamar mandi.
Lidia mengetuk pintu dan memanggil Queen tapi tak mendapat jawaban. Alan yang baru keluar dari kamarnya bingung melihat sang istri yang mengetuk pintu kamar cucunya dengan wajah khawatir.
"Mom ada pa?" tanya Alan.
"Daddy Queen pulang langsung ngunci diri dalam kamar" ucap Lidia dengan khawatir.
"Princess buka pintunya" panggil Alan sambil mengetok pintu kamar.
Alan terus mengetok pintu kamar Queen tapi tidak di respon. Alan lalu menyuruh istrinya untuk menghubungi Adam dan Laura agar segera kemari.
"Keduanya ngak angkat panggilanku daddy" ucap Lidia.
"Telpon Steven" ucap Alan dengan tegas.
Lidia lalu menghubungi Steven agar datang ke mansion. Pada dering ketiga barulah Steven menjawab panggilannya.
"Halo nek" ucap Steven dari seberang.
"Nek apa ada sesuatu yang terjadi di mansion kenapa nenek panik begitu" ucap Steven dengan nada khawatir.
^^^"Queen"^^^
"Queen kenapa nek, nenek ngomong yang jelas nek" ucap Steven dengan suara tinggi.
^^^"Kamu segera datang ke mansion dan lihat sendiri keadaan adikmu" ucap Alan dengan tegas.^^^
Alan segera mematikan panggilannya dengan sepihak. Lidia hanya diam saja melihat kelakuan suaminya yang merampas hp miliknya saat sedang menelpon.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di hotel sanjaya Steven panik luar biasa saat panggilannya dimatikan sepihak oleh sang kakek. Aurel yang baru saja masuk ke dalam ruangannya sehabis meeting mengernyitkan keningnya dengan bingung.
"Kamu kenapa mas?" tanya Aurel dengan bingung.
"Kita ke mansion kakek sekarang sayang" ucap Steven dengan suara bergetar.
"Emang kenapa mas"
"Aku ngak tahu nenek hanya suruh ke sana untuk lihat keadaan Queen sekarang" ucap Steven dengan wajah mulai khawatir.
"Bentar mas aku beritahu sekertarisku dulu" ucap Aurel.
Aurel lalu memberitahu sekertarisnya untuk menghendel semua sisa pekerjaannya. Keduanya lalu keluar dari hotel Sanjaya dengan langkah cepat, kedua orang tua Aurel yang baru saja tiba melihat keduanya dengan bingung.
Steven mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di mansion ia berlari keluar meninggalkan sang istri di belakang, merasa ada yang kurang ia kemudian berbalik kembali ke depan.
"Mas" ucap Aurel dengan kaget melihat suaminya yang kembali lagi.
"Maaf aku lupa sama kamu sayang" ucap Steven dengan raut bersalah.
"Ngak apa-apa kok mas aku ngerti kok"
"Heeemmm! Ya sudah ayok kita masuk ke dalam" ucap Steven sambil mengandeng tangan Aurel.
Sampai di dalam mansion keduanya langsung kaget melihat sikap sang kakek saat ini. Alan terus saja berteriak memanggil nama Queen berkali-kali.
Melihat hal tersebut keduanya lalu mendekati sang nenek dan kakek. Alan hanya menatap keduanya dengan senyum sekilas di bibirnya.
"Apa yang terjadi kek" ucap Steven dengan wajah panik dan penasaran.
"Kakek ngak tahu karena semenjak pulang Queen mengunci pintu kamarnya"
"Apa" ucap Steven dengan kaget.
Steven lalu mengetok pintu kamar Queen tapi tetap tidak digubris sama sekali. Semuanya mulai panik takut ada sesuatu terjadi sama Queen.
"Kek apa ada kunci duplikatnya" ucap Aurel.
"Ah! Benar kakek sampai lupa ada kunci duplikat" ucap Alan sambil menepuk keningnya.
Lidia lalu menyuruh pelayan mengambil kunci duplikat kamar Queen di box penyimpanan kunci. Setelah mendapat kunci Steven segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Queen" ucap Steven dengan bingung karena Queen tidak ada.
Mereka tidak mendapati Queen di dalam kamar, Lidia lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mengecek beruntung pintunya tidak dikunci dari dalam.
"Queen" teriak Lidia dengan histeris.
Steven segera masuk ke dalam kamar mandi dan terkejut mendapati Queen sudah tak sadarkan diri di lantai. Air mata Lidia mengalir dengan deras melihat keadaan cucunya.
Steven lalu mengangkat tubuh Queen dan membawanya ke atas ranjang. Aurel segera bersiap menukar baju Queen dengan baju yang lain setelah melihat baju Queen yang sobek.
"Steven kita bawa saja ke rumah sakit, kakek takut terjadi sesuatu sama Queen" ucap Alan dengan suara parau.
"Iya kek"
Mereka lalu membawa Queen ke rumah sakit terdekat. Lidia terus mencoba menghubungi Adam dan Laura tapi tidak diangkat panggilannya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ RH Hospital ~
Kedatangan Alan sekeluarga banyak di bicarakan orang saat tiba di RH Hospital. Mereka tidak perduli dengan omongan orang saat ini, karena sibuk memikirkan keadaan Queen.
Queen lalu dimasukan ke dalam ruang UGD untuk diperiksa. Selang 30 menit dokter keluar dari ruang UGD.
"Keluarga nyonya Queen" ucap dokter Hary.
"Saya kakaknya dok" ucap Steven dengan cepat.
"Keadaan pasien saat ini sangat depresi dan mengalami trauma, pasien seperti mengalami sesuatu hal yang membuatnya kehilangan mental saat ini"
"Maksudnya dok?" tanya Steven.
"Sebelum datang kesini pasien mengalami pelecehan dan pemerkosaan bergilir oleh 5 orang tuan dan menyebabkan alat ke****nnya rusak parah tuan" jawab dokter menjelaskan.
Duar.......
Bagai disambar petir semuanya kaget tak menyangka hal tersebut bisa terjadi kepada Queen. Lidia seketika pingsan mendengar penjelasan dari dokter beruntung Alan memegangnya sehingga tidak jatuh sampai di lantai.
Steven sendiri seketika terduduk lemas di kursi depan UGD. Pikirannya kacau dan perasaannya seperti dicampur aduk, Aurel yang melihat semuanya sudah tak berkutik segera bertanya kepada dokter.
"Jadi keadaan adik ipar saya sekarang bagaimana dok?" tanya Aurel.
"Kita tungga sampai pasien siuman dulu karena takutnya pasien trauma berat sehingga bisa membuat pasien gila"
"Apa ada cara untuk menyembuhkan trauma adik ipar saya dok"
"Untuk saat ini saya belum bisa beri jawaban karena kita harus lihat perkembangan pasien dulu"
"Baiklah dok terima kasih" ucap Aurel.
"Iya sama-sama nyonya kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter Hary.
"Iya dok"
Queen segera dipindahkan ke ruang nginap di kamar VIP lantai 5. Dokter Hary yang menangani Queen segera menelpon bi Rani teman SMAnya yang dulu bekerja di mansion Rosemary.
"Halo Har"
^^^"Halo Rani apa kabar"^^^
"Kabarku baik, tumben nelpon"
^^^"Ada yang mau aku ceritain ke kamu mengenai anak mantan majikanmu itu"^^^
"Maksud kamu den Steven atau nona Queen"
^^^"Maksud aku Queen Rosemary"^^^
"Emang kenapa sama nona Queen"
^^^"Saat ini dia sedang berada di rumah sakit tempat aku kerja karena mengalami pelecehan se****l dan dipe****a bergilir oleh 5 orang dengan kejam" ucap Hary.^^^
"Kamu ngak bercandakan Hary" ucap bi Rani dengan kaget dari seberang.
^^^"Buat apa aku bohong sama kamu sih Rani orang aku baru aja selesai memeriksanya"^^^
"Kasian sekali nasib nona Queen"
^^^"Itu mungkin karma untuk dia dan keluarganya untuk perbuatan mereka dulu ke nona Chloe" ucap Hary yang mengingat bekas luka cambukan Chloe waktu itu.^^^
"Ya kamu benar Har"
^^^"Ya sudah nanti lagi kita lanjut ngobrolnya ya Ran soalnya aku masih ada pasien"^^^
"Iya Hary bye"
Hary segera mematikan panggilannya sepihak, ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya yang masih ada saat ini.
~ Mansion tua Rahardian ~
Saat ini Riko dan Maya sedang berada di mansion sang papa. Keduanya datang untuk menjenguk keadaan Bima yang sempat drop dari kemarin.
Tak lama Rio membisikan sesuatu di telinga Riko. Maya dan Bima yang melihat hal tersebut memandang keduanya dengan bingung.
"Heemmmm"
Rio segera berlalu pergi setelah memberi informasi penting yang baru saja ia dapatkan. Riko lalu memandang kedua orang di depannya dengan tatapan datar.
"Queen saat ini sedang berada di rumah sakit kita" ucap Riko dengan tegas.
"Memangnya dia sakit apa sampai masuk rumah sakit mas" ucap Maya dengan penasaran.
"Setelah kepergiannya waktu di mansion papa beberapa hari yang lalu ternyata Queen di culik dan di per***a bergilir oleh 5 orang sampai membuat alat ke****nnya rusak parah"
Maya seketika menutup mulutnya tak menyangka hal tersebut bisa terjadi. Berbeda dengan Bima yang reaksinya seperti biasa saja karena sudah tak sudi lagi berurusan dengan keluarga Rosemary.
"Kasian banget nasib Queen mas" ucap Maya.
"Itu balasan untuk orang tukang selingkuh" ucap Riko dengan suara dingin.
Riko tak perduli lagi dengan kehidupan Queen karena menurutnya wanita pengkhianat harusnya menderita. Ia sangat membenci yang namanya pengkhianat dalam rumah tangga.
...βββββ...
To be continue...............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€