
Perhatian ada adegan 21+⚠️ harap bijak dalam membaca
Suasana masih terasa mencekam di area lapangan tempat latihan Sean dan tim basket sekolahnya. Semua sahabat-sahabat Sean hanya diam bahkan coach mereka tidak berani mengeluarkan sekata pun.
"Ngak ada yang mau dibahas kan" ucap Sean kepada timnya.
"Hari ini cukup sampai disini" ucap pak Adam sebagai coach tim basket sekolah mereka.
"Gue balik duluan" ucap Sean ke sahabat-sahabatnya dan tim basketnya.
Sean melepaskan pelukannya dan mengambil barang milik Chloe kemudian menggenggam tangan Chloe untuk pulang. Sampainya di parkiran Sean membukakan pintu untuk Chloe.
Setelah Chloe sudah masuk Sean memutari mobil dan masuk duduk di bagian kemudi. Chloe masih terisak dengan kejadian tadi karena baru kali ini dia melihat orang berkelahi sampai babak belur.
Sean yang melihat Chloe masih terisak mengangkat Chloe dan mendukkannya di pangkuan Sean, Chloe hanya pasrah mengikuti perlakuan Sean.
"Udah dong nangisnya sayang"
"Ka Chloe takut liat kayak tadi" ucap Chloe sambil memeluk erat tubuh Sean.
"Emang loe ngak pernah liat kayak gitu"
"Ngak pernah ka"
Sean menarik napas dalam karena dirinya sudah membuat pacarnya ketakutan hari ini.
"Maaf"
"Maaf buat apa ka, emang ka Sean ada salah ya sama Chloe"
"Maaf karena buat loe udah ketakutan"
"Itu bukan salah ka Sean"
"Tadi berengsek itu ngomong apa aja"
"Kayaknya dia marah karena Chloe cuekin ka" ucap Chloe sambil berpikir kejadian sebelum perkelahian.
Sean yang bingung hanya menatap Chloe meminta jawaban darinya. Chloe yang sudah mulai paham akan tatapan Sean pun menceritakan awal mula kejadian.
Ternyata loe suka sama pacar gue ya, jangan harap loe bisa ambil milik gue, batin Sean.
"Lain kali ketemu ama dia menghindar aja dan langsung kontak gue" ucap Sean memperingati Chloe karena ia sangat paham betul kelakuan Justin.
"Emang kenapa ka"
"Gue takut dia nyakitin loe karena dia tahu loe milik gue"
"Chloe ngak ngerti ka"
"Dia musuh gue"
"Apa ka Sean ngak bercanda kan? Emang ka musuhan sama dia kenapa ka" ucap Chloe dengan nada tinggi karena terkejut mendengar kata musuh.
"Kita musuhan udah dari SMP kelas 1 ampe sekarang" ucap Sean sambil mengingat kejadian waktu SMP.
"Karena apa ka"
"Loe ngak perlu tahu"
"Ihhh! Kasi tahu dong ka, Chloe penasaran"
"Gue bilang ngak perlu ya ngak perlu!" bentak Sean ke Chloe.
Mendengar bentakan Sean membuat Chloe menjadi takut. Ia pun memilih diam sambil melihat ke luar tidak ingin melihat kemarahan Sean saat ini.
Sean melihat Chloe hanya diam dan tidak melihat kearahnya menjadi geram. Dengan geram Sean memegang dagu Chloe sehingga mereka bertatapan.
"Kenapa loe diam, ngak suka sama omongan gue"
"Ngak ka Chloe ngak mau ka Sean marah lagi" ucap Chloe sambil menahan sakit di dagunya yang di pegang kuat oleh Sean.
"Gue ngomong apa jangan pernah membantah ingat itu" ucap Sean sambil melepaskan dagu Chloe.
Chloe pun menahan air mata yang hampir tumpah, karena ia tidak ingin terlihat lemah.
"Pindah ke tempat loe"
"Iya ka"
Chloe pindah ke tempatnya di samping Sean dengan tubuh bergetar ketakutan. Sean pun menghidupkan mobil dan pergi mengantar Chloe pulang.
Sepanjang jalan hanya ada keheningan di dalam mobil sampai Chloe berpamitan dan mengucapkan terima kasih Sean tetap diam dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Chloe yang melihat kelakuan Sean hanya diam saja. Saat ini suasana hati Sean sangat panas, ia ingin melampiaskan amarahnya sekarang. Sean melajukan mobilnya ke arah hutan dan sangat terpencil dari kota.
Sampai di sana ternyata ada sebuah gedung tua dan sudah tidak layak dipakai, Sean melajukan mobilnya ke dalam bangunan tua itu.
Ternyata di dalam bangunan tua itu ada 4 orang pria dengan tubuh yang sangat besar dan wajah menyeramkan sedang berdiri di depan sebuah pintu yang sudah lapuk.
Ketika Sean muncul mereka menundukkan kepala tanda menghormati tuannya.
Ternyata itu adalah markas milik papanya Sean, tidak ada yang mengetahui hal itu bahkan ibu dan sahabatnya pun tak tahu, karena tempat itu adalah neraka bagi musuh-musuh papanya.
"Selamat datang tuan muda" ucap 4 orang pria tersebut.
Sean berjalan ke arah pintu yang sudah dibuka, di balik pintu itu ada sebuah tangga yang menurun ke dalam dengan penerangan yang minim dan bau anyir yang sangat kuat menusuk sampai ke indra penciuman Sean.
Sean sudah terbiasa dengan hal itu karena ia seringkali datang ke tempat tersebut untuk melepas amarahnya. Sampai di bawah Sean masuk kedalam lift yang turun ke bawah.
Di dalam lift dilengkapi dengan pemindai retina dan scan telapak tangan. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada penyusup yang bisa masuk ke dalam markas itu.
Ting.......
Lift berbunyi tanda sudah sampai tujuan. Sean keluar dan melihat banyak anak buah papanya sedang mengerjakan pekerjaan kotor mereka yaitu peredaran narkoba dan gudang senjata ilegal yang dikirim ke beberapa negara.
Ternyata papanya juga melakukan bisnis di dunia bawah. Sean berjalan menuju sebuah ruangan dan didalam ruangan itu ada tangan kanan papanya yang sedang melakukan penyiksaan kepada seorang pria.
Mendengar suara langkah Rio Mahesa seorang yang dikenal sangat kejam kepada musuhnya sedang duduk di kursi menghadap ke pria itu menoleh kebelakang.
"Selamat datang tuan muda" ucap Rio yang sudah berada di hadapan Sean.
"Siapa dia" ucap Sean datar.
"Dia adalah orang yang melakukan korupsi di kantor utama tuan muda"
"Cih! Manusia kotor" ucap Sean sambil berjalan menuju pria yang sedang di pukul orang seorang anak buahnya.
"Minggir"
Orang itu lalu menyingkir dan memberi tempat kepada Sean. Sean tidak berkata apa-apa lagi langsung meninju muka pria yang sedang di ikat kedua tangannya keatas.
Sean memukul pria itu tanpa ampun. D***h pria itu bercucuran dilantai dan terus mengalir tanpa henti. Pria itu berteriak kesakitan tapi itu seperti suara yang merdu untuk Sean.
Kreekk........aarghhh.............
Bunyi tulang patah terdengar sangat keras, seketika pria itu berteriak kencang karena tulang rusuknya ditendang sangat kuat sampai patah.
Semua pengawal yang berada dalam ruangan itu menjadi merinding melihat kekejaman tuan muda mereka. Rio yang sedang berdiri menerima video call dari tuannya menunjukkan kekejaman anaknya terhadap musuhnya.
Senyuman iblis dari Riko terpaut di bibirnya karena sangat bahagia melihat anaknya bisa menghabisi musuh dengan kejam.
Ini baru keturunan Rahardian, batin Riko sambil tersenyum.
"Bawa tang kesini" ucap Sean dengan suara dingin.
"Jari tangan ini perlu dipakaikan cat biar lebih bagus! Hehehehe" ucap Sean sambil terkekeh.
"Rio warna apa yang bagus untuk kuku-kuku ini"
"Warna merah adalah yang paling bagus tuan muda" ucap Rio dengan santai dan menikmati permainan tuannya.
"Pilihan bagus! Hehehehe"
2 orang anak buah membuka ikatan tangan pria itu dan menaruh di atas meja sambil memegang tangan pria tersebut agar tidak bergerak. Pria itu sangat takut dan terus berteriak ampun tapi Sean tidak memperdulikannya.
Sean memasang tang di k**u jempol pria itu dan langsung me******nya dengan kuat. D***h segar seketika mengalir deras dari k**u pria itu. Sean melanjutkan ke semua j**i pria itu dengan tidak berperasaan.
Bau anyir d***h tercium di dalam ruangan itu. D***h terus mengalir tanpa henti. Pria itu sangat menyesal sudah melakukan korupsi dan akhirnya mendapat hukuman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Menyesal sudah terlambat ia hanya pasrah saja dengan keadaannya. Semoga keluarganya tidak terkena dampak kejahatannya, kemudian pria itu menutup matanya untuk selama-lamanya.
"Cih! Baru juga mau senang-senang" ucap Sean merasa kesal karena mainannya sudah tidak bernyawa lagi.
Rio yang mendengar perkataan Sean hanya bisa menelan salivanya dengan susah.
Ternyata bapak dan anak sama-sama iblis, batin Rio mengingat cara penyiksaan Riko tuannya dan Sean.
Rio yang sudah mengakhiri panggilannya dengan sang atasan menuju kearah Sean sambil membawa handuk dan air untuk mencuci tangan Sean. Sean menerima handuk dan air tersebut dan mencuci tangannya hingga bersih.
"Tuan ingin menemui tuan muda di kantor setelah ini"
"Heeeemmm"
Sean berjalan meninggalkan Rio untuk menemui papanya saat ini. Iya yakin papanya sudah mengetahui apa yang barusan ia lakukan.
"Bakar mayat itu sampai menjadi abu bersama semua barang pribadinya dan bersihkan tempat ini dari d***h brengsek itu" ucap Rio ke anak buah mereka yang ada.
"Baik tuan" ucap mereka semua serentak.
Rio kemudian bergegas meninggalkan tempat tersebut mengikuti Sean menuju ke kantor.
~ Mansion Rosemary ~
Saat ini Chloe baru selesai membersihkan tubuhnya dan sedang berdiam diri di balkon kamarnya.
Kenapa ka Sean kayak gitu ya? £pa pacar itu harus juga dibentak kayak gitu ya, batin Chloe yang memikirkan semua kelakuan Sean selama ini.
"Kenapa jantung gue ngak berdebar jika di dekat ka Sean dan hanya merasa nyaman aja" ucap Chloe sambil memandang ke arah taman.
"Gue ngerasa ini bukan cinta namanya. Gue bingung dengan ini semua. Apa gue tanya aja sama Keysa" ucap Chloe menerawang jauh.
Chloe mengambil gitar dan memetiknya sambil bernyanyi lagu kesukaannya, dan tidak mau terlarut dalam pikirannya lagi.
~ RH Company ~
Sean tiba di depan kantor papanya sudah malam dan suasana kantor juga sangat sepi karena semua karyawan sudah pulang dari jam 5 sore.
Sean berjalan masuk ke dalam kantor dan menaiki lift khusus untuk direktur dan petinggi perusahaan. Ting lift terbuka dan setelah sampai di lantai 38, lantai khusus direktur.
Di depan pintu direktur ada meja sekertaris yang sudah kosong. Sean langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan papanya.
Riko yang sedang mempelajari berkas kerjasama perusahaannya melihat kearah pintu karena ada yang menerobos masuk tanpa mengetuk. Ia ingin marah tapi karena itu anaknya ia mengurungkan niatnya.
"Ketuk dulu baru masuk Sean, ingat hal itu kedepannya"
"Heemmm" deham Sean santai.
Mendengar jawaban anaknya yang terkesan dingin seperti dirinya sudah biasa baginya. Riko berjalan ke arah sofa dan duduk berhadapan dengan Sean sambil melipat tangan di dadanya.
"Kamu tahu papa panggil kesini ngapain"
"Biar ngak didengar obrolannya sama orang lain"
"You are smart son and i am so proud of you"
"What do you mean dad"
"Kamu itu keturunan Rahardian dan itu sudah pantas dengan apa yang kamu lakuin tadi sore"
Sean seketika terkejut karena tidak menyangka papanya akan bicara seperti itu.
"Papa ngak marah" ucap Sean dengan berhati-hati. Biar bagaimanapun Sean sangat mengidolakan papanya.
"Papa lebih kejam dari kamu nak dan hanya beberapa orang saja yang tahu termasuk kakek kamu"
"So ibu ngak tahu perihal ini"
"Tentu saja tidak. Papa mencintai ibumu dan tidak ingin menyakitinya jika ia tahu akan hal ini"
"Bagaimana kalau ibu tahu"
"Mau gimana lagi papa lakuin ini semua untuk melindungi ibumu, kamu, keluarga kita dan perusahaan kita yang sudah dibangun dari kakek buyutmu"
"Menurut Sean ibu bakal mengerti karena ibu sangat mencintai papa"
"Benar sekali ucapanmu nak" ucap Riko sambil tersenyum mengingat wajah istrinya.
"Jadi sekarang Sean udah bisa pergi kan pa"
"Dasar tengik! Kamu ngak lihat papa masih bicara" ucap Riko sambil melempar Sean dengan penanya.
"Sean malas bicara pa"
Phew..........
Riko menghembuskan napasnya kasar melihat kelakuan anaknya yang sama persis dengannya, mereka seperti duplikat berbeda versi.
"Sudah sana pulang ibumu pasti sudah menunggu di mansion"
"Papa ngak pulang"
"Papa masih harus selesaikan pekerjaan papa dulu"
"Oke" ucap Sean berlalu pergi tanpa pamit kepada papanya.
Baru sampai di depan itu Sean berhenti karena di panggil papanya.
"Bilang ke ibumu untuk tidak terlalu memaksa diri buat acara besok dan hati-hati sama bocah yang kamu pukul tadi"
"Emang ada acara apa dan sudah pasti Sean bakal hati-hati pa"
Riko melihat Sean dengan kesal karena ia tahu pasti anaknya melupakan ulang tahun kakeknya.
"Sean jangan bilang otak kamu juga ngak bisa berpikir lagi"
"Emang penting buat Sean pa"
"Kamu bakal nyesel kalau sampai lupa"
"Malas buat mikir pa" ucap Sean meninggalkan papanya yang sedang kesal.
Anak siapa sih dia, batin Riko sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sean yang acuh tak acuh.
...❄❄❄❄❄...
To be continue......