Heartless

Heartless
Episode 203



🌻Jika kamu melakukan sesuatu dengan emosi maka apa yang kamu kerjakan tidak akan menghasilkan yang baik dan semuanya hancur berantakan🌻


.


.


.


.


Tiba di markas anak buah Xavier yang tadi menculik mpok Risma segera membawanya masuk ke dalam ruangan interogasi. Ia lalu di ikat di tiang berbentuk huruf X.


"Bagus kerjaan kalian sangat rapi dan cepat" ucap Ken memuji anak buahnya.


"Terima kasih bos" ucap keempatnya dengan serentak.


"Ambil bagian kalian dan nikmati hari libur kalian dengan keluarga kalian" ucap Ken dengan suara tegas.


"Terima kasih bos" ucap keempatnya dengan serentak.


Ken posisinya setara dengan Mike sebagai orang kepercayaan Xavier. Dia lebih sering bertugas di markas dan menangani musuh-musuh bos yang menyerang, atau menyerang musuh mereka di markas mereka.


"Apa dia mainan baru bos" ucap Sam.


"Heemmm! Dia sudah salah memilih lawan kali ini" ucap Ken sambil tertawa.


"Sepertinya kali ini musuh bos mengirim wanita tua dan tidak bisa melawan kita jika bertarung" ucap Sam dengan cemooh.


"Ya dan mereka memilih target yang salah kali ini"


"Siapa target mereka" ucap Sam penasaran.


"Nyonya dan bayi dalam kandungannya"


"****! Mereka sudah membangunkan monster yang sedang tertidur" ucap Sam sambil menggelengkan kepala.


"You know 5 menit lagi bos akan tiba" ucap Ken dengan santai.


"Sepertinya ini hari terakhir wanita ini bernapas" ucap Sam kasihan dengan nasib mpok Risma.


"Itu sudah resiko dia saat ingin membunuh milik bos yang paling berharga" ucap Ken.


Keduanya melihat mpok Risma dengan tatapan kasihan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka sendiri yang memilih jalan akhir hidup mereka dengan menyerahkan nyawa kepada musuh mereka.


Sesuai ucapan Ken tadi tepat 5 menit kemudian mereka mendengar bunyi deru mobil sang bos. Xavier keluar dari mobil rolls roycenya dengan tatapan tajam dan siap membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya.


"Selamat datang bos" ucap anak buah Xavier serentak.


Xavier tidak membalas sambutan mereka karena di pikirannya saat ini hanya ingin menghancurkan mpok Risma. Tiba di ruang interogasi ia lalu duduk di kursi kebesarannya yang sudah di siapkan oleh Ken.


"Bangunkan dia" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Ken.


Byur............


Ken menyiram air dingin seember ke tubuh mpok Risma. Mpok Risma seketika bangun karena merasa kedingingan, ia mengerjap mata melihat sekeliling yang tidak dikenalinya.


Saat ingin mengerakkan tangan mata mpok Risma seakan ingin keluar dari tempatnya, ia melihat dirinya diikat di tiang menyerupai huruf X. Perasaan takut mulai menghantui dirinya karena setahu dia tadi ia sedang tidur sebelum empat orang tak dikenal membekap mulutnya.


"Siapa kalian" teriak mpok Risma dengan suara tinggi.


Prok.......prok.........prok........prok........


Bunyi tepuk tangan terdengar di depannya, mpok Risma memusatkan pandangannya dan seketika ia kaget melihat siapa yang duduk di depannya.


Xavier tersenyum seperti iblis melihat reaksi mpok Risma barusan. Ia tertawa dalam hati melihat musuhnya yang mulai ketakutan saat ini.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Akhirnya anda bangun juga Elisabeth Manov" ucap Xavier dengan senyuman sinis.


"Tu...an" ucap mpok Risma dengan tubuh gemetaran.


"Ah! Bukan Elisabeth Manov ya tapi Risma Leonardo" ucap Xavier dengan suara dingin.


Tubuh mpok Risma menegang mendengar nama lengkapnya disebut. Ia tak percaya jika Xavier sudah mengetahui identitas aslinya.


"Apa mau kalian" teriak mpok Risma dengan suara tinggi.


"Hahahahaha! Aku ingin kematianmu" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.


"Apa kamu yakin ingin membunuhku tuan Wesly yang terhormat? Apa yang akan dikatakan oleh istrimu nanti?" tanya mpok Risma dengan senyum sinis.


Hahahaha...........


Seketika Xavier tertawa membahana di dalam ruangan tersebut, ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari mpok Risma. Melihat hal tersebut mpok Risma sangat kesal dan emosi.


"Asal anda tahu saja istriku tidak menganggap anda sebagai tantenya karena ia sudah mengetahui keburukan anda" ucap Xavier dengan senyum mencemooh.


Xavier segera memberi isyarat kepada Albert, Albert lalu maju dan mulai memukul mpok Risma dengan cambuk dengan tidak berperasaan sedikit pun.


Crash........crash........crash.....crash......


Bunyi cambukan bercampur dengan teriakan kesakitan mpok Risma. Ia lalu menyuruh Ken untuk menyiram tubuh mpok Risma dengan air lemon.


"Arrrghhhh! Sakit aku mohon ampun ampun" teriak mpok Risma berteriak memohon ampun.


"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Xavier dengan suara dingin.


"Apa maksud anda tuan?" tanya balik mpok Risma mengelak dari pertanyaan Xavier.


"Cabut semua k**unya" titah Xavier dengan suara tegas.


"Baik bos" ucap Ken.


Ken lalu melakukan apa yang disuruh Xavier, d***h segar bercucuran di lantai sampai berbau amis. Mpok Risma seakan ingin mati saja tapi tidak bisa, ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Aku tanya lagi siapa dalang semua ini dan rencana kalian selanjutnya apa?" tanya Xavier dengan suara menggelegar.


"Juan N...i..das dia ingin keluar...ga...mu han...cur" ucap mpok Risma dengan napas satu-satu.


Seketika ia menghembuskan napasnya terakhir karena tak kuat menahan sakit di tubuhnya. Xavier berdecak melihat musuhnya yang mati sangat cepat, tapi ia akhirnya tahu apa rencana mereka selama ini.


"Kirim tubuhnya ke si berengsek itu" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Albert.


Xavier segera pergi ke ruangan pribadinya untuk membasuh tubuhnya. Meski tak turun tangan tapi badannya berbau amis d***h dan hal tersebut ia tak mau istrinya mencium d***h mpok Risma di tubuhnya.


Thomas yang berada di ruangan senjata segera melihat hpnya yang berbunyi. Ia kaget melihat informasi foto dua orang yang sangat dikenalinya itu baru saja keluar dari dalam pesawat.


"Aku harus segera memberitahu bos" ucap Thomas dengan serius.


Thomas lalu memberitahu Albert dan reaksi Albert tak kalah berbeda dengannya. Albert menatap Juan dengan tatapan benci dan penuh dendam.


"Akhirnya aku bisa membalaskan semua dendamku disini" ucap Albert dengan suara dingin.


Thomas yang mendengar ucapan Albert hanya diam saja. Ia tahu apa yang saat ini Albert rasakan karena dendamnya tidak akan pernah hilang sampai ia berhasil membalaskan dendam keluarganya.


Tak lama Xavier keluar dengan penampilan yang lebih fresh. Ketiganya lalu pergi ke mansion dan besok barulah Albert memberitahu informasi yang baru saja mereka dapat.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Kingdom Apartment ~


Valeria membaca informasi mengenai Chloe tapi ia hanya bisa membaca sebagian saja. Bryan dan Yorla menatap saudara angkat mereka dengan kening berkerut.


"Ternyata informasi detailnya disembunyikan" ucap Valeria dengan senyum misterius.


"Maksud sister apa?" tanya Yorla dengan gaya kemayu.


"Gadis yang udah nolong gue adalah istri Xavier Arthur Wesly" jawab Valeria dengan suara dingin.


"Wow itu hal yang sangat luar biasa" ucap Yorla dengan suara cemprengnya.


"Heeemmm"


"Apa dia musuh kita Val?" tanya Bryan.


"No dia adalah temanku dan kita akan membantunya" jawab Valeria dengan tulus.


"Dia cantik ya ka" ucap Yorla melihat foto Chloe.


"Heemmm! Sangat cantik dan natural" ucap Valeria.


"Pengen ketemu dia" ucap Yorla.


"Besok kita pergi ke mansionnya" ucap Valeria dengan tegas.


"Val sudah waktunya" ucap Brayn.


"Okay let's play with them" ucap Valeria dengan senyuman penuh arti.


Ketiganya lalu berangkat menuju ke tempat anak buah mereka saat ini. Tak lama mereka pergi tiba-tiba mobil yang membawa Juan dan Johan berhenti di lobby apartemen Kingdom.


Juan dan Johan keluar dengan begitu banyak pengawalan ketat, keduanya lalu naik ke lantai 50 apartemen milik Juan yang ada disana. Di dalam apartemen Juan mencoba menghubungi mpok Risma tapi nomornya tidak aktif.


"Bagaimana ka" ucap Johan.


"Mungkin ka kita tidak boleh sampai ketahuan oleh anak sialan itu" ucap Johan dengan emosi.


"Heemmm! Aku tahu" ucap Juan dengan suara dingin.


Keduanya lalu memilih untuk beristirahat karena besok mereka akan bertemu dengan seseorang. Sebelum tidur Juan menyuruh Emilio asisten sekaligus tangan kanannya membawa seorang gadis remaja ke kamarnya.


Johan yang sudah tertidur akibat obat tidur yang diberikan Juan tadi, tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh sang kakak. Suara jeritan tangis dan kesakitan bergema di dalam kamar Juan.


Emilio menutup matanya mendengar suara gadis remaja itu, ia tak sanggup harus mendengar lagi suara kesakitan dan jeritan anak yang masih dibawah umur.


Emilio segera memberi kabar kepada Robert mengenai kedatangan mereka kali ini. Ia sebenarnya engan berada di sisi Juan tapi mengingat kebaikan Robert padanya ia bertahan dengan semua ini.


~ Mansion Xavier ~


Pagi ini para pelayan tengah bergosip tentang hilangnya Elisabeth Manov atau mpok Risma. Chloe yang turun bersama dengan Xavier melihat para pelayan dengan penasaran.


"Jangan melihat ke arah lain sayang perhatikan jalanmu" ucap Xavier dengan lembut.


"Sayang apa yang terjadi kenapa dari tadi para pelayan berbisik-bisik" ucap Chloe dengan penasaran.


"Pak Max" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Iya tuan" ucap pak Max dengan sopan.


"Beri hukuman pada para pelayan yang bergosip" ucap Xavier dengan suara dingin.


Chloe, pak Max, dan para pelayan kaget mendengar ucapan Xavier barusan. Mereka tak menyangka jika mereka akan mendapat hukuman hanya karena bergosip.


"Sayang jangan seperti itu" ucap Chloe membela para pelayan.


"Aku membayar mereka untuk bekerja bukan untuk bergosip baby" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Sayang sudah jangan pikirkan hal itu mending kita sarapan aku sudah sangat lapar" ucap Chloe dengan cepat.


"Heemmmm"


"Pak Max batalkan perintah suamiku tadi" ucap Chloe dengan cepat.


Pak Max hanya diam dan melihat Xavier meminta jawaban. Xavier menganggukkan kepala sebagai jawaban mengikuti perkataan sang istri.


"Baik nyonya" ucap pak Max.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Keduanya lalu pergi ke meja makan untuk sarapan. Setelah Xavier dan Chloe sudah agak jauh pak Max menatap semua pelayan dengan tatapan tajam.


"Ini pertama dan terakhir kali kalian bergosip. Berterima kasihlah kepada nyonya karena dirinya kalian tidak dihukum" ucap pak Max dengan suara tegas.


"Baik tuan" ucap para pelayan serentak.


Mereka tahu jika apa yang dikatakan oleh pak Max benar. Jika bukan karena Chloe pasti saat ini mereka sudah dihukum oleh anak buah Xavier di paviliun belakang.


Setelah sarapan Chloe mengantar sang suami ke depan. Xavier mencium b***r Chloe dengan lembut tak lupa juga mencium perut sang istri yang membuncit.


"Hati-hati hubby" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Iya sayang ingat semua larangan aku ya baby"


Xavier lalu naik ke mobil Rolls Royce miliknya bersama sopir dan Albert. Melihat hal tersebut Chloe segera masuk ke dalam mansion tak lama Kevin muncul dengan cake blackforest yang baru dibelinya tadi.


"Good morning nyonya" ucap Kevin.


"Morning too Kevin" ucap Chloe dengan senyum manis.


"Nyonya apa sudah melihat sulamanku"


"Heemmm! Dan hasilnya sangat mengecewakan! Hahahaha" ucap Chloe sambil tertawa.


"Hah! Aku tahu hasilnya pasti jelek jadi nyonya bisa tertawa sepuasnya" ucap Kevin dengan wajah pasrah.


"Maaf Kevin tapi sulaman kamu memang benar-benar buruk dari hasil pak Max" ucap Chloe sambil tertawa.


"Ya nyonya benar" ucap Kevin.


Mereka lalu berbincang-bincang seputar kehamilan Chloe dan karena penasaran Chloe bertanya pada pak Max apa yang menjadi gosip pagi tadi.


Chloe mendengar ucapan pak Max dan Kevin dan merasa lega. Ia bisa bernapas dengan lega karena mpok Risma yang menyamar untuk mencelakainya sudah diurus oleh sang suami.


"Setidaknya tidak ada lagi manusia munafik" ucap Chloe dengan suara dingin.


Kevin berpikir jika Chloe akan merasa sedih karena kehilangan keluarganya, tapi kenyataannya tidak malah sekarang sifat Chloe sudah sama persis seperti Xavier.


"Apa karena bawaan bayi makanya sifat nyonya berubah drastis" gumam Kevin dengan pelan.


Chloe lalu menyuruh pak Max untuk menunjuk pelayan mengantikan posisi mpok Risma. Ia tak mau bunga kesukaannya tidak dirawat seperti waktu itu.


~ Queen resto ~


Di tengah kota California saat ini Juan dan Johan sedang bertemu dengan seseorang. Keduanya menatap kedua orang di depan mereka dengan senyum penuh arti.


"Sudah lama kita tidak bertemu nyonya besar Wesly" ucap Juan dengan suara tegas.


"Ya terakhir kali pertemuan kita bersama dengan tuan besar Nidas tapi sekarang aku bertemu dengan tuan muda Nidas, suatu kehormatan untukku" ucap nenek Esma dengan sombong.


Juan tertawa mendengar ucapan nenek Esma barusan. Memang terakhir kali mereka bertemu saat menjalankan rencana menghabisi keluarga anak nenek Esma sendiri hanya untuk harta.


Reynald yang menemani sang mommy hanya diam dan mendengar mereka berbicara. Ia penasaran kapan sang mommy bisa bertemu dengan orang terkaya nomor 2 di dunia.


"Jadi ada keperluan apa anda mengundangku kesini tuan muda Nidas" ucap nenek Esma to the point.


"Aku suka dengan orang yang tidak berbelit-belit seperti anda nyonya besar Wesly" ucap Juan sambil tersenyum penuh arti.


Johan dan Reynald hanya mendengar kedua orang di samping mereka berbicara. Emilio sendiri senantiasa berdiri di belakang Juan dengan tatapan datar dan dingin.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Aku ingin menawarkan kerja sama dengan anda nyonya besar Wesly" ucap Juan dengan serius.


"Apa keuntungan buatku?" tanya nenek Esma dengan tatapan tajam.


"Nyawa cucumu dan hartanya" jawab Juan dengan tegas.


Nenek Esma kaget mendengar perkataan Juan barusan, seketika ia tersenyum mengingat pertemuannya dengan Robert Nidas waktu itu.


"Anda sama persis seperti daddy anda tuan muda Nidas" ucap nenek Esma sambil tersenyum penuh arti.


"Yah aku akui aku sangat persis seperti dirinya karena aku darah dagingnya dan bagaimana nyonya Wesly apa anda terima tawaranku barusan" ucap Juan.


"Dengan senang hati aku terima tawaran anda" ucap nenek Esma.


"Keputusan bijaksana" ucap Juan.


"Tapi"


Juan bingung dengan ucapan nenek Esma yang menggantung. Ia lalu tersenyum penuh arti mengetahui maksud dari ucapan nenek Esma.


"Tenang saja aku tidak tertarik dengan harta cucu anda, malahan aku tertarik dengan istrinya" ucap Juan sambil tersenyum penuh arti.


"Wow itu sangat mengejutkan tuan muda Nidas"


"Aku akan menghabisi nyawa istrinya karena istrinya adalah keponakanku sendiri" ucap Juan dengan emosi.


Nenek Esma dan Reynald kaget bukan main mendengar ucapan Juan barusan. Mereka baru tahu jika Chloe adalah keponakan dari Juan Nidas sekaligus cucu dari Robert Nidas.


"Kebetulan yang sangat tidak bisa diprediksi" ucap nenek Esma dengan senyum misterius.


"Aku akan membantumu menghancurkan cucu anda tapi istrinya itu bagian ku" ucap Juan dengan suara tegas.


"Deal" ucap nenek Esma sambil mengulurkan tangannya.


"Deal" ucap Juan sambil menjabat uluran tangan nenek Esma.


Keduanya tersenyum bahagia karena bisa bekerja sama dengan tujuan yang sama, yaitu menghancurkan satu keluarga. Mereka lalu berdiskusi untuk membuat rencana dengan matang tidak boleh ada kesalahan apa pun.


~ Wesly Group ~


Xavier membaca informasi yang baru saja Albert berikan dengan rahang mengeras. Ia tersenyum sinis melihat kedua orang yang sangat dibenci olehnya.


"Albert sepertinya kita harus menunjukan sisi monster kita kali ini" ucap Xavier dengan senyum misterius.


"Dengan senang hati aku akan menghancurkan mereka semua bos" ucap Albert dengan suara dingin.


"Persiapkan semuanya kita harus selalu waspada"


"Baik bos"


"Selalu awasi istriku jangan sampai ada kesalahan" ucap Xavier dengan tatapan dingin.


"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin.


Sudah waktunya aku membalas semua perbuatan kalian kepada keluargaku, batin Xavier dengan penuh dendam.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀