Heartless

Heartless
Episode 186



🌻Kadang kita merasa kita terlalu sederhana untuk orang yang punya segalanya tapi asal kamu tahu kalau dirimu itu lebih berharga dari pada semuanya🌻


.


.


.


.


Seminggu di rumah sakit akhirnya Chloe bisa keluar dari rumah sakit. Saat tengah menunggu pak Max membereskan barang-barangnya Chloe melihat Xavier yang sedang berbicara dengan Albert dengan serius.


"Sepertinya ada yang ngak beres" gumam Chloe dengan pelan.


Chloe melihat tampang sang suami yang seketika menjadi menghitam. Xavier lalu menatap sang istri dengan tatapan sulit diartikan, melihat hal tersebut Chloe semakin menjadi bingung dan penasaran.


"Siapkan helikopter sekarang" ucap Xavier dengan suara geram menahan emosi.


"Baik bos" ucap Albert dengan wajah dingin.


Albert segera keluar dan menghubungi Mike untuk menyiapkan helikopter. Sedangkan Thomas disuruh Albert untuk terus memantau pergerakan musuh mereka di mansion.


Xavier lalu berjalan ke arah istrinya dengan rahang mengeras dan raut emosi. Chloe segera berdiri sambil mengelus perut buncitnya menyambut kedatangan suaminya.


"Kita pergi sekarang baby" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Apa ada sesuatu yang terjadi hubby"


"Heemm! Nanti aku jelaskan baby"


"Iya hubby"


Chloe lalu keluar dengan Xavier sambil diikuti oleh Albert dan para pengawal. Mereka lalu masuk ke lift dan menekan tombol paling bagian atas, sampai di atas bangunan rumah sakit Chloe kaget karena mereka pulang dengan helikopter.


Tak mau bertanya dia hanya mengikuti saja kemauan sang suami. Mereka lalu naik ke helikopter dan segera berlalu dari rumah sakit menuju apartemen puri orchid.


~ Puri Orchid apartment ~


Tiba di apartemen milik Xavier mereka lalu masuk ke dalam apartemen miliknya. Sampai di dalam Chloe segera bertanya kepada sang suami kenapa mereka pulang ke apartemen bukan ke mansion.


"Kenapa kita kesini sayang bukan ke mansion" ucap Chloe sambil duduk di sofa.


Xavier lalu ikut duduk di samping istrinya sambil mengelus kepala Chloe dengan lembut. Chloe menyandar di dada sang suami menikmati elusan lembut sang suami.


"Untuk sementara kita tinggal dulu di apartemen sayang"


"Memangnya kenapa sayang" ucap Chloe dengan kaget.


"Orang suruhan nenek tua itu selalu mengawasi mansion dan itu tidak aman untuk kamu dan anak kita baby" ucap Xavier dengan lembut.


"Kenapa nenek kamu seperti itu sayang bukannya kamu itu cucunya juga" ucap Chloe.


"Napsu akan harta membuat seseorang lupa akan dirinya sayang begitu juga dengan nenek tua itu" ucap Xavier dengan wajah emosi.


"Kenapa tidak di tangkap saja orang itu sayang"


"Negaraku dengan negara disini beda sayang, disini aku tidak leluasa mengontrol pemerintahan seperti di California baby"


Chloe lalu mengangguk kepalanya tanda mengerti akan maksud sang suami.


Mending gue sama suami gue kembali aja ke California karena disana pasti lebih aman, batin Chloe.


"Sayang kenapa kita tidak kembali saja ke California" ucap Chloe.


Xavier seketika kaget dengan ucapan sang istri, karena sebenarnya ia juga memikirkan hal yang sama dengan Chloe tapi Xavier merasa jika Chloe tidak ingin pergi dari tempat kelahirannya.


"Apa kamu tidak apa-apa sayang kita tidak tinggal disini" ucap Xavier dengan lembut.


"Dimanapun kita tinggal aku tidak masalah sayang asalkan bersama dengan kamu, karena biar bagaimana pun seorang istri harus mengikuti kemana suaminya pergi hubby" ucap Chloe dengan lembut.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Xavier tersenyum mendengar penuturan sang istri barusan. Ia lalu mencium kening Chloe dengan lembut karena ternyata Chloe tidak keberatan jika mereka harus segera kembali ke California.


"Thankyou baby" ucap Xavier dengan lembut.


"Your welcome hubby" ucap Chloe dengan senyum manis.


Xavier lalu mengajak Chloe untuk ke kamar agar sang istri bisa beristirahat, melihat sang istri yang sudah terlelap Xavier lalu bangun dan berjalan ke luar menemui Albert.


"Siapakan jet besok kita pulang ke California" ucap Xavier dengan tatapan dingin.


"Baik bos" ucap Albert.


"Kamu urus semua yang disini tentang perusahaan dan perusahaan istriku Albert baru kamu pulang"


"Apa direktur Shine yang akan bertugas mengawasi resort milik nyonya bos"


"Hemmm! Cari orang kita yang bisa dipercaya untuk diresort" ucap Xavier dengan tatapan tajam.


"Baik bos"


"Selesaikan semuanya secepat mungkin dan susul kami pulang Albert" ucap Xavier dengan nada tegas.


"Akan aku usahakan bos" ucap Albert.


"Heemmm"


Albert lalu pamit pergi untuk mengurus semua keperluan sang bos dan nyonya. Dia juga memberi perintah kepada pak Max dan Thomas untuk segera bersiap pulang besok.


Albert akan tinggal disini untuk mengawasi perusahaan dulu sebelum ia pulang, tak lupa ia juga harus mengurus urusan percintaannya dengan sang kekasih.


~ Mansion Alan Rosemary ~


Teriakan Adam bergema di dalam mansion, ia setiap kali berteriak meluapkan emosinya karena sangat frustasi melihat keadaan tubuhnya sekarang.


Lidia yang baru saja masuk ke dalam kamar sang anak seketika menangis di depan pintu. Ia tak kuat melihat pemandangan di depannya yang sangat mengiris hatinya.


Kenapa kamu bisa bernasib seperti ini Adam apa karena ini semua karma untuk keluargamu yang dulu telah berbuat buruk kepada Chloe, batin Lidia sambil menangis.


Lidia tak kuasa melihat Adam yang berteriak histeris saat melihat dirinya di depan kaca, berulang kali Adam harus di beri obat bius agar dirinya tenang.


"Adam sadarkan dirimu nak" ucap Lidia sambil memeluk sang anak.


"Aku udah cacat mommy aku benci dengan hidupku sendiri" ucap Adam dengan frustasi.


"Kamu yang kuat nak" ucap Lidia dengan sedih.


Lidia memeluk Adam dan menangis bersama dengan sang anak, Alan yang melihat hal tersebut lewat cela pintu hatinya terpukul dan merasa sangat sedih.


"Aku gagal sudah mendidik kamu nak" ucap Alan dengan pelan.


Tanpa Alan sadari ternyata Steven yang baru saja datang mendengar ucapan sang kakek. Steven sangat sedih melihat keluarganya yang sudah hancur berantakan saat ini.


Ya Tuhan ampunilah semua keluargaku atas perbuatan mereka dulu kepada Chloe dan pulihkan keadaan kami sekeluarga, batin Steven dengan sedih.


Ia memilih pergi untuk mengunjungi sang mommy yang berada di rumah sakit jiwa. Saat Steven pulang Alan yang mendengar bunyi deru mesin segera bertanya kepada salah satu pelayan.


"Siapa yang datang" ucap Alan dengan suara tegas.


"Tuan muda Steven tuan" ucap sang pelayan.


"Kamu boleh pergi"


"Iya tuan permisi" ucap sang pelayan.


Alan bingung kenapa Steven datang tapi tidak menyapa mereka, tak mau ambil pusing ia segera berlalu menuju ke halaman samping dan duduk disana.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ RSJ Harapan ~


Steven sampai di rumah sakit Harapan khusus pasien sakit jiwa, ia segera masuk ke dalam untuk mengunjungi sang mommy serta ingin menanyakan kabar sang mommy.


"Selamat siang dok" ucap Steven.


"Selamat siang tuan Rosemary ayok silahkan duduk" uap dokter Hana.


"Iya dokter"


"Jadi tuan Rosemary ada yang bisa saya bantu" ucap dokter Hana dengan lembut.


"Bagaimana keadaan mommy saya dok?" tanya Steven.


"Kondisi nyonya Laura semakin memburuk tuan, setiap hari nyonya Laura sering berteriak-teriak dan selalu mengucapkan kata anak pembunuh sialan tuan bahkan beberapa suster yang membantu menahannya ditendang nyonya Laura hingga terjatuh"


"Apa mommy saya bisa disembuhkan dok"


"Saya tidak bisa menjawabnya tuan Rosemary karena ini semua berhubungan dengan mental dari nyonya Laura sendiri" ucap dokter Hana.


Sampai disana Steven menutup mulutnya dengan kaget, ia tak percaya kondisi mommynya sekarang seperti ini. Laura sedang berteriak seperti kesetanan dan terus saja mengutuk nama Chloe.


Air mata Steven mengalir seketika tak kuat melihat keadaan mommynya yang seperti ini. Saat Laura berbalik dan melihat Steven ia seketika menendang barang apa saja yang berada disana ke arah Steven.


"Kamu anak kurang ajar kamu yang hancurin keluarga aku kan" teriak Laura dengan emosi.


"Ini Steven mommy anak mommy" ucap Steven dengan derai air mata.


"Hahahaha! Aku tidak punya anak seperti kamu berengsek pergi kamu pergi sialan" teriak Laura dengan kencang.


Para suster segera membawa Laura kembali ke ranjangnya dan mengikat dirinya diatas brankar agar tidak berulah. Steven hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena tak tahu harus bagaimana lagi.


"Dok apa mommy saya akan seperti ini terus"


"Kami akan berusaha yang terbaik buat nyonya Laura dan tuan sekeluarga jangan lupa mendoakan nyonya Laura untuk kesembuhannya sendiri"


"Pasti dok" ucap Steven sambil mengangguk kepala.


"Iya tuan"


Steven lalu melihat kembali sang mommy yang sudah tertidur akibat obat bius, ia lalu pergi meninggalkan rumah sakit jiwa Harapan karena tak kuasa melihat penderitaan sang mommy.


Steven lalu melajukan mobilnya pergi ke arah apartemen untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya.


Semoga mommy cepat sembuh, batin Steven penuh harap.


~ SR Company ~


Saat ini Sean tengah memeriksa berkas-berkas perusahaannya dengan teliti. Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan kasar dan masuklah 4 orang pria yang sangat dikenali oleh Sean.


"Ternyata seorang Rahardian sangat sibuk ya" ucap Resa menggoda Sean.


"Ada apa loe semua ke sini" ucap Sean dengan suara dingin.


"Kita tuh udah kangen sama teman kulkas kita makanya kita mutusin untuk kesini saat jam makan siang dude" ucap Angga.


"Cih! Menganggu saja" ucap Sean dengan kesal.


Bukannya marah mereka semua malah tertawa melihat ekspresi kesal sang sahabat. Resa dan Dito lalu segera menarik Sean untuk duduk di sofa agar lebih leluasa bercerita.


"Dimana keponakan gue yang lucu" ucap Dito.


"Apa otak loe itu udah ngak ada lagi" ucap Sean dengan sinis.


"Maksudnya?" ucap Dito dengan bingung.


"Ternyata loe udah nikah bukannya makin pintar malah tambah bego ya" ucap Resa sambil menggelengkan kepalanya.


"Sialan loe ngatain gue bego" ucap Dito sambil melempar majalah ke arah Resa.


Resa tertawa dan mengelak dari lemparan Dito barusan. Sean dan lainnya hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah absurd kedua sahabat mereka.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Loe berdua diam deh, enek gue dengar suara cempreng loe berdua" ucap Angga dengan suara tinggi.


"Diam loe berengsek" ucap Dito dan Resa serentak.


"Sialan loe pada" ucap Angga dengan kesal.


"Giman kabar loe?" tanya Rey.


"Seperti yang loe lihat" ucap Sean dengan datar.


"Gue udah dengar masalah rumah tangga loe sama Queen"


"Jangan sebut nama j****g itu disini" ucap Sean dengan suara tegas dan tatapan tajam.


"Oke" ucap Rey.


Semua yang berada di sana seketika hening tak mengeluarkan suara sepatah kata pun. Mereka tahu jika sang sahabat tidak suka mengungkit masalah rumah tangganya yang dulu.


"Gimana kalau kita ke club entar" ucap Resa dengan senang.


"Malas gue" ucap Sean malas.


"Ayolah dude udah lama kita ngak pada ngumpul bareng malam ini aja oke" ucap Resa dengan mata memohon.


"Terserah loe" ucap Sean.


"Fix kalau gitu kita berangkat sekarang" ucap Dito dengan semangat.


"Woy an***r ini masih siang t***l" ucap Angga.


"Oh iya gue lupa! Hehehe" ucap Dito sambil cengir ngak jelas.


Kelimanya tertawa terbahak-bahak melihat kebegoan Dito yang tidak pernah berubah sejak dulu. Akhirnya mereka memesan makan dan menghabiskan waktu di kantor Sean tidak mau pulang.


Sean hanya pasrah melihat ruangannya yang sudah seperti kapal pecah dan suara yang sangat menganggu untuk pendengarannya. Saat tiba jam 17:00 tepat mereka semua segera pergi ke club milik papa Sean.


Sampai di club kelimanya segera masuk ke rung VIP khusus Sean di lantai dua. Kelimanya hari itu menghabiskan begitu banyak alkohol dengan ditemani perempuan malam.


Sean yang sudah tidak percaya dengan perempuan melampiaskan hasratnya kepada wanita panggilan disana. Bahkan ia bermain dengan kasar hingga wanita itu pingsan melayani hasrat Sean.


Dimas selaku tangan kanan Sean sekaligus asistennya menyuruh anak buahnya untuk mengurus perempuan tersebut. Sean lalu pergi keluar tak peduli dengan keadaan teman-temannya yang sudah tak sadarkan diri lagi.


"Pulang ke mansion" ucap Sean dengan suara datar.


"Baik tuan" ucap Dimas.


Dimas segera melajukan mobil ke arah mansion Sean. Di dalam mobil Sean menatap keluar langit malam dan mengingat perkataan Chloe waktu itu.


Kenapa sakit banget saat tahu loe udah dimiliki orang lain bahkan loe dengan suara lantang bilang kalau loe itu nyesal dan benci udah kenal gue, batin Sean dengan hati sedih.


Dimas yang melihat tuannya sangat hancur mulai dari tuannya menemui mantannya, merasa sangat sedih dan khawatir akan keadaan sang tuan.


Hari berlalu dengan cepat tak terasa pagi ini Chloe dan suaminya beserta rombongan mereka akan pulang ke California. Di dalam jet pribadi suaminya Chloe melihat ke luar dengan perasaan sedih.


"Selamat tinggal tempat kelahiranku terima kasih untuk cerita selama ini" gumam Chloe dengan suara pelan.


Tak lama Xavier muncul dan duduk di samping sang istri setelah memberi perintah kepada Thomas. Xavier mengelus perut Chloe dengan lembut.


"Apa yang kamu pikirkan sayang" ucap Xavier dengan lembut.


"Kedua orang tuaku sayang aku belum sempat pergi ke makam mereka" ucap Chloe dengan sedih.


"Kamu tenang ya sayang suatu hari nanti kita akan datang lagi saat semuanya sudah aman" ucap Xavier.


"Iya hubby"


Xavier lalu mengecup bibir Chloe dengan lembut dan memeluk sang istri dengan erat. Xavier lalu menyuruh pak Max untuk menyiapkan makanan untuk mereka makan bertiga dengan Thomas.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Di mansion Xavier saat ini Albert membanting laptopnya dengan emosi saat mendengar informasi dari anak buahnya. Albert mencoba menelpon Xavier tapi nomornya tidak aktif lagi.


"Kalian terus awasi ibu-ibu itu laporkan jika ada pergerakan aneh atau informasi terbaru!" bentak Albert dengan suara tinggi.


"Baik bos" ucap anak buahnya dengan serentak.


Albert lalu menelpon anak buah kepercayaannya di Califonia untuk memberi perintah. Pada dering kedua Sam yang bertugas menjaga markas segera menjawab panggilannya.


"Halo bos"


^^^"Kamu perintahkan anak buah kita untuk mengawasi mansion, perusahaan, dan jangan lupa untuk memperketat penjagaan bos dan nyonya saat mereka tiba besok"^^^


"Baik bos"


^^^"Jangan biarkan satu penyusup masuk apa lagi dari musuh lama bos" ucap Albert dengan suara dingin.^^^


"Baik bos"


Albert segera mematikan panggilannya dan memikirkan informasi yang tadi dibawa oleh anak buah mereka. Ternyata Albert mendapat informasi mengenai mpok Risma yang berkomplot dengan bangsat itu.


"Akan ku bunuh kalian dengan tanganku sendiri meski kalian keluarga kandung nyonya" gumam Albert dengan emosi.


Albert segera menyiapkan semua pengawalan ketat untuk semuanya ia tak mau nasib keluarganya dirasakan oleh sang bos.


Aku akan melindungi keluarga bos dengan hidupku sendiri, batin Albert dengan tulus.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.........


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀