
π»Satu hal yang harus kamu selalu syukuri dalam hidupmu yaitu kamu masih bernapas hingga saat iniπ»
.
.
.
.
Setelah 1,5 jam menempuh jalan darat Chloe dan rombongannya akhirnya tiba di Bogor. Xavier yang masih dalam keadaan emosi segera menyuruh Albert untuk menyiapkan helikopter sekarang.
"Sayang" ucap Chloe sambil memegang lengan sang suami.
"Kita langsung ke Bandung sayang aku harus meeting karena ada masalah di perusahaan pusat baby" ucap Xavier dengan lembut.
"Apa masalahnya fatal sayang" ucap Chloe dengan wajah khawatir.
"Kamu jangan pikirkan itu sayang, itu semua tanggung jawabku"
"Tapi" ucap Chloe yang langsung dipotong oleh sang suami.
"Baby kamu pikirkan saja anak kita dan jika masalahnya sangat besar aku tetap bisa mengatasinya" ucap Xavier dengan tegas.
"Iya sayang" ucap Chloe mengiyakan saja.
Ia tahu sebesar apapun masalahnya, suaminya bisa mengatasinya. Keduanya lalu naik ke helikopter yang dibawa langsung oleh Xavier.
Chloe terkejut tak menyangka jika Xavier bisa menerbangkan helikopter. Melihat tatapan istrinya yang terkejut Xavier seakan bisa menebak isi kepala sang istri.
"Kamu tenang saja baby suamimu ini punya sertifikat penerbangan dengan nilai A+" ucap Xavier dengan sombong.
"Kamu benerankan bisa menerbangkan helikopter" ucap Chloe masih ragu.
"Pesawat aja aku bisa masa helikopter tidak bisa" ucap Xavier dengan arogan.
Melihat hal tersebut Chloe hanya memutar matanya dengan malas.
Semoga aja kita bertiga selamat sampai tujuan, batin Chloe.
Xavier lalu memakaikan haedphone di telinga sang istri, lalu mulai menerbangkan helikopter. Chloe yang masih gugup hanya duduk diam dan berdoa dalam hati semoga mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Saat sudah setengah jalan Chloe sangat kagum dengan keahlian sang suami. Ia tak menyangka jika seorang Xavier Arthur Wesly ternyata mempunyai bakat yang sangat banyak dan tidak diketahui banyak orang.
10 menit kemudian 4 buah helikopter sudah mendarat di bandara setelah meminta ijin. Xavier mengendong Chloe saat turun dari helikopter dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah siap.
"Bagaimana sayang" ucap Xavier saat mobil sudah melaju pergi.
"I'm so proud of you hubby aku sangat terpesona" (aku sangat bangga sama kamu sayang) ucap Chloe dengan wajah penuh senyuman.
"That is me baby" (inilah diriku sayang) ucap Xavier dengan sombong.
"Heeemmm"
Tak lama mobil keduanya berhenti di salah satu hotel bintang lima di Bandung. Albert yang sudah melakukan reservasi langsung berjalan mendampingi bosnya ke lantai 30 khusus kamar president suit.
"Sayang apa kamu lapar?" tanya Xavier saat tiba di dalam kamar.
"Aku mau bersihkan diri dulu sayang baru makan"
"Kita mandi bersama" ucap Xavier dengan senyum penuh arti.
Belum juga Chloe mengeluarkan pendapatnya tubuhnya sudah di bopong ke dalam kamar mandi. Setelah 1,5 jam barulah keduanya selesai dengan ritual mandi ala Xavier.
Xavier mengendong tubuh Chloe yang sudah lemas melayani hasratnya di dalam kamar mandi. Chloe hanya pasrah di bopong oleh sang sang suami karena tenaganya sudah habis.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah mengeringkan rambut dan memakaikan sang istri gaun tidur, keduanya lalu menikmati makanan yang sudah dipesankan oleh Xavier. Di luar kamar bosnya Albert sedang memberi perintah ke anak buahnya untuk berjaga di sekitar hotel.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke lantai ini" ucap Albert dengan tatapan tajam dan dingin.
"Baik bos" ucap anak buahnya dengan serentak.
"Pergilah" ucap Albert sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat.
Albert lalu mengambil hpnya dan menelpon sang kekasih untuk datang ke hotel tempatnya saat ini. Mira yang baru saja keluar dari perusahaan karena sudah jam pulang kaget melihat nama yang tertera di layar hpnya.
^^^"Halo"^^^
"Datang ke hotel xxxx lantai 29 sekarang"
^^^"Apa kamu sedang ada di Bandung"^^^
"Waktumu 10 menit honey"
Tuuutt.......tuuttt......tuuutt.......
Panggilan dimatikan sepihak oleh Albert, Mira yang masih ingin berbicara seketika menjadi kesal karena panggilannya sudah diakhiri.
"Albert awas loe" ucap Mira sambil berteriak kesal.
Kulkas Berjalan
"Tinggal 9 menit 47 detik honey"
Seketika Mira panik karena tak menyangka jika ucapan Albert tidak main-main. Mira lalu berlari mencari taksi untuk segera pergi ke tempat sang kekasih.
Albert yang berada di depan kamar sang bos terkekeh saat mendengar suara kaget sang kekasih. Dia tahu pasti saat ini Mira sedang memakinya karena kesal.
"Aku pengen lihat muka kesal itu" gumam Albert sambil terkekeh.
"Apa yang kamu tertawakan" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Bos" ucap Albert dengan kaget.
Xavier melihat Albert dengan tatapan dingin dan tajam, Albert hanya berdiri dengan gugup melihat tatapan tersebut. Xavier lalu memberikan isyarat untuk masuk ke dalam kamarnya.
Xavier dam Albert duduk di ruang depan dalam kamar tersebut, sebelumnya Xavier melihat dulu sang istri yang sudah tertidur setelah selesai makan.
"Bagaimana dengan keadaan kantor pusat" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Semuanya sudah seperti semula bos, nenek tua itu juga sudah menjadi blacklist di perusahaan Wesly dan seluruh anak cabangnya"
"Heeemmm" deham Xavier menganggukkan kepala.
Albert lalu memberikan iPad yang berisi video cctv saat ini di markas mereka. Xavier menerimanya dan melihat cctv itu dengan tatapan tajam.
"Berapa yang ia dapatkan" ucap Xavier dengan aura membunuh.
"4 triliun dolar bos" ucap Albert dengan suara dingin.
"Cih! Dasar muka uang" ucap Xavier dengan suara tinggi.
Xavier lalu tersenyum penuh arti saat mendapat ide yang sangat cemerlang di otaknya. Albert yang melihat senyum sang bos seketika bergidik ngeri.
Sepertinya akan ada rencana gila lagi dari bos, batin Albert.
"Albert"
"Iya bos"
"Beri ukiran tato spesial di sekujur tubuhnya"
"Baik bos"
"Buat dia menjadi umpan kita untuk nenek tua itu"
"Apa kita akan lepaskan bajingan itu bos"
"Kamu tahu maksud aku Albert" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Ya bos aku tahu" ucap Albert setelah mengetahui tujuan dari sang bos.
"Buat nenek tua itu masuk ke perangkap kita"
"Oke bos"
"Bagaimana data mengenai wanita tadi"
"Sebentar malam akan diberikan bos"
"Kirim ke email aku"
"Baik bos"
"Besok pagi kita pulang ke Jakarta dan persiapkan pesta pernikahan aku bulan depan"
"Jadi bulan depan kita sudah kembali bos"
"Heeemmm"
"Baik bos" ucap Albert dengan suara datar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Albert lalu pamit pergi setelah mendapat isyarat dari sang bos untuk keluar. Baru saja ingin membuka pintu seketika ia berhenti setelah mendengar perkataan sang bos.
"Albert cari data tentang ibu mertuaku apa ada hubungan dengan siberengsek Nidas itu" ucap Xavier dengan suara dingin dan datar.
Raut wajah Albert seketika berubah dingin mendengar nama keluarga tersebut. Tatapan matanya penuh dengan dendam dan emosi yang membara.
"Oke bos"
"Hemmmm"
Albert lalu pergi keluar dengan tatapan penuh emosi dan dendam. Dia sampai mati sangat dendam dengan keluarga itu yang sudah membantai seluruh keluarganya dengan sangat kejam dan tak berperasaan.
Sampai di lantai 29 Albert lalu masuk ke dalam kamar president suit miliknya. Saat masuk ia melihat sang kekasih yang sedang berdiri membelakangi dirinya sambil melihat pemandangan sore kota Bandung.
Albert memeluk Mira dengan erat dari belakang dan membuat Mira kaget. Mira menoleh melihat sang kekasih dengan pandangan bingung karena wajah Albert tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa?" tanya Mira dengan lembut.
"I need you honey" (aku butuh kamu sayang) ucap Albert dengan suara serak menahan emosinya saat ini.
"Jika aku bisa membantumu aku akan membantumu" ucap Mira sambil berbalik.
Albert lalu mencium b***r Mira dengan menuntut dan sangat kasar. Mira hanya bisa menerima ciuman kasar sang kekasih tanpa perlawan.
Melihat napas sang pacar yang sudah ngos-ngosan Albert segera melepaskan ciumannya. Albert memeluk tubuh Mira dengan erat sambil menyelipkan kepalanya di leher Mira.
"Temani aku malam ini disini" ucap Albert dengan suara berbisik.
"Tapi aku belum meminta ijin" ucap Mira.
"Akan ku lakukan sekarang" ucap Albert sambil melepaskan pelukannya.
Mendengar perkataan Albert seketika Mira kaget karena ia belum beritahu perihal hubungan mereka kepada kedua orang tuanya. Mira segera menahan Albert untuk tidak menghubungi kedua orang tuanya.
"Why" ucap Albert dengan bingung.
"Biar aku yang hubungi ibu sama ayah saja" ucap Mira.
"Tidak ada yang kamu sembunyikan kan sayang" ucap Albert dengan tatapan tajam.
"Tidak" ucap Mira dengan cepat.
"Hemmmm"
Mira lalu menghubungi sang ibu meminta ijin tidak kembali dengan alasan menemani Chloe di hotel. Ia tidak bisa berkata jika ia saat ini bersama dengan Albert.
"Bisa-bisa gue pulang di cincang sama ayah saat tahu kalau anak perempuannya menginap di hotel dengan laki-laki" gumam Mira dengan pelan.
~ Mansion Sean ~
Hari berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah hari berikutnya. Sepulang dari kantor ia segera menuju mansion untuk bertemu dengan sang anak. Saat tiba di mansion ia melihat mobil sang sepupu terparkir di depan mansion.
Sean lalu masuk ke dalam dan saat di ruang keluarga ia mendengar suara celoteh sang anak dan sepupunya. Sean masuk dan mendapati Denis yang sedang bercanda dengan Ares.
Saat masuk ke dalam Ares seketika tertawa gembira melihat kedatangan sang papa. Bayi itu merentangkan tangan untuk digendong sang papa, Sean yang ingin mengendong seketika berlalu pergi kearah dapur untuk mencuci tangan.
Melihat hal tersebut seketika Ares menangis dengan kencang. Denis yang sedang menggendongnya menjadi panik karena tak tahu bagaimana menghentikan tangisan keponakannya itu.
"Aduh Ares jangan nangis ya nanti om beliin pesawat deh" ucap Denis dengan panik.
Bukan menjadi diam tapi Ares malah tambah menangis dengan kencang sejadinya. Seluruh mansion dipenuhi dengan tangisan dari Ares, para pengasuh mencoba menenangkan sang tuan muda tapi tidak berhasil.
"Cup cup cup! Anak pintar jangan nangis ya" ucap Denis sambil menyodorkan mainan ke Ares.
Ares menepis mainan itu dan terus menangis. Tak lama Sean muncul dan langsung mengendong sang anak, seketika Ares terdiam dalam gendongan sang papa.
Denis menghela napasnya lega saat melihat keponakannya sudah diam dari tangisannya. Ia langsung terduduk di sofa karena capek.
"Cih Baru segitu aja loe udah capek" ucap Sean dengan sinis.
"Sumpah ka gue ngak pengalaman buat ngurusin anak" ucap Denis sambil mengelap keringat di dahinya.
"Emang loe pikir gue ada pengalaman gitu" ucap Sean dengan suara dingin.
"Hehehehe! Kan itu untuk gue ka bukan kakak" ucap Denis sambil cengesan.
"Hemmmm"
Sean menepuk bokong Ares dengan lembut dan mengelus punggung anaknya dengan sangat pelan. Denis yang melihat hal tersebut tersenyum dalam hatinya.
Loe emang kejam di luar tapi buat anak loe gue salut sama perjuangan loe ka, batin Denis dengan bangga.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sean memberikan Ares kepada pengasuhnya untuk di beri makan. Baru saja diterima sang pengasuh Ares seketika menangis.
Sean lalu mengendong kembali sang anak karena tak mau Ares menangis. Sean lalu berjalan menuju ke meja makan untuk memberi makan sang anak diikuti oleh Denis dari belakang.
"Sejak kapan loe datang?" tanya Sean sambil menyuapi Ares.
"2 jam yang lalu"
"Loe ngak kerja"
"Ngak ada kerjaan ka dari pada pulang ke mansion mending gue main kesini"
"Heemmmm"
"Brother i'm hungri" (ka aku lapar) ucap Denis dengan wajah memelas.
"Loe ada tangan kan"
"Ya adalah emang kenapa ka"
"Loe bisa buat makan untuk diri loe sendiri" ucap Sean dengan suara dingin.
"Cih! Gue pikir kakak mau pesanin gue apa kek" ucap Denis dengan kesal.
"Pesan aja sendiri"
"Trus bayarnya"
"Pake duit loelah" ucap Sean dengan santai.
"Dasar pelit" ucap Denis dengan kesal.
Mendengar hal tersebut Sean tidak menggubrisnya dan sibuk mengurusi sang anak. Denis lalu meminta bi Lastri membuatkan makanan untuk dirinya.
Selesai menyuapi sang anak dan memberikan kepada pengasuhnya, Sean lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri ia segera makan malam sendiri saja karena Denis sudah pamit pulang dari tadi. Selesai makan malam Sean lalu pergi ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Bi Lastri yang melihat kebiasaan tuannya sekarang menjadi sedih.
Semoga Tuhan memberikan kebahagian kepada tuan Sean dan tuan muda Ares, batin bi Lastri.
~ Mansion Alan Rosemary ~
Saat ini di ruang keluarga mansion Alan Rosemary sedang terjadi ketegangan. Adam duduk sambil mengepal tangannya mendengar ucapan sang daddy barusan.
"Jadi daddy ngusir aku sama keluargaku dari sini" ucap Adam dengan emosi.
"Daddy tidak sanggup harus mendengar pertengkaran kalian tiap hari" ucap Alan dengan suara tegas.
"Daddy ngak bisa gitu dong ini kan juga rumah aku!" bentak Alan dengan suara tinggi.
"Alan jaga ucapanmu dia daddy kamu bukan orang lain" ucap Lidia dengan suara tinggi.
"Cukup mommy ini urusan aku sama daddy" ucap Adam dengan suara tak kalah tinggi.
Lidia seketika kaget tak menyangka anak pertamanya akan berbicara kepadanya dengan suara tinggi. Tatapan sedih dari raut wajah Lidia seketika membuat emosi Alan naik.
"Diam!" bentak Alan dengan suara tinggi menggelegar di dalam mansion.
Aldo yang baru masuk bersama istri dan anaknya kaget mendengar suara bentakan dari sang daddy. Ketiganya masuk dan melihat suasana di dalam ruang keluarga sangat memanas.
Aldo memilih duduk di sofa panjang mendengar apa yang terjadi saat ini. Adam yang sudah sangat emosi melihat kedua orang tuanya dengan tatapan tajam.
"Mulai detik ini kamu keluar dari mansion daddy dan hidup sendiri" ucap Alan dengan suara tinggi.
"Aku ngak mau dad biar bagaimana pun ini juga rumah aku!" bentak Alan.
"Selagi aku masih hidup mansion ini milikku" ucap Alan dengan suara tegas.
"Tidak bisa aku tetap tinggal disini"
"Kamu sudah berkeluarga dan tidak bisa tinggal disini lagi mau tak mau kau keluar dari mansion ini dan tinggal dengan keluargamu sendiri!" bentak Alan dengan suara tinggi.
"Tapi daddy" ucap Adam yang langsung dipotong Alan.
"Keputusan daddy sudah bulat tidak bisa diganggu gugat" ucap Alan dengan suara tegas.
Adam seketika diam tidak berkata apa-apa lagi karena tahu sifat sang daddy. Laura dan lainnya hanya diam melihat perdebatan keduanya, Laura melihat suaminya dengan wajah emosi dan kesal.
"Dasar pria berengsek ini semua karena ulahmu aku ikut jadi miskin" gumam Laura dengan pelan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tanpa mereka semua sadari ternyata sedari kemarin Queen tidak berada di mansion. Di tempat terpencil di pinggiran kota suasana dalam ruangan tersebut sangat gelap dengan minim pencahayaan.
Queen yang sedari kemarin pingsan tak sadarkan diri akibat obat bius yang hirupnya sangat banyak, mulai tersadar dan menatap sekeliling dengan kening berkerut. Queen lalu mengingat kejadian kemarin setelah pulang dari mansion Bima.
Sial! Siapa yang nyulik gue sih, batin Queen dengan kesal.
Queen ingin bergerak tapi tidak bisa dan ia sadar ternyata tangannya diikat ke atas. Queen menarik rantai tersebut tapi tidak bisa, saat tengah mencoba tiba-tiba lampu menyala dengan terang dan pintu terbuka.
Queen menutup mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Bunyi langkah kaki terdengar mendekat kearahnya membuat Queen segera membuka matanya.
Seketika Queen melihat orang di depannya dengan terkejut. Ia tak menyangka jika yang menculiknya adalah Henki akar dari perceraian dia dengan Sean.
"Loe" ucap Queen dengan suara tinggi.
"Long time no see b***h" (lama tidak berjumpa j****g) ucap Henki dengan tatapan tajam.
"Apa mau loe. Hah! Kenapa loe culik gue" ucap Queen dengan suara tinggi.
Henki lalu menarik rambut Queen dengan kuat sampai Queen berteriak kesakitan. Ia sangat emosi saat mengingat kecelakaannya waktu itu.
"Beraninya loe buat gue kecelakaan!" bentak Henki dengan suara tinggi.
Seketika Queen kaget karena Henki sudah mengetahui dalang dibalik kecelakaannya. Queen gemetar ketakutan melihat senyuman Henki yang bagai seorang iblis saat ini.
Henki lalu mencium bi**r Queen dengan kasar sampai b***rnya berdarah. Ia merobek baju Queen dengan sekali tarikan, Henki lalu memperkosa Queen dengan kejam tak berperasaan sampai berkali-kali.
Setelah puas ia lalu mengenakan kembali pakaian dan duduk di kursi yang ada dalam ruangan tersebut. Selang 2 jam Queen mulai sadar dan merasa tubuhnya seperti di remuk terutama bagian intinya.
"Kalian nikmati dia sampai kalian puas" ucap Henki dengan senyuman sinis.
Queen kaget mendengar ucapan Henki barusan. Queen berteriak saat tubuhnya di jamah oleh orang yang menculiknya waktu itu, Henki merekam aksi mereka sambil tertawa puas.
Queen sendiri seolah pasrah dengan hidupnya saat ini. Ia sudah tak bertenaga lagi setelah di perkosa bergilir oleh 4 orang dengan kejam.
"Ini akibat karena udah berani mencelakai gue waktu itu" ucap Henki dengan senyuman iblis di wajahnya.
...βββββ...
To be continue............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€