Heartless

Heartless
Episode 197



🌻Seperti pelangi sehabis hujan begitu pula setelah penderitaan ada kebahagian yang menantimu🌻


.


.


.


.


Di mansion Chloe bangun dan melihat ke arah luar sudah senja dan saat melihat ke arah samping suaminya belum pulang. Chloe melihat hpnya dan seketika wajahnya menjadi sedih karena emosi tadi ia membanting handphonenya.


"Kenapa gue banting hp gue sih sekarang mau hubungi Xavier gimana dong" ucap Chloe sambil memijit keningnya.


Ia lalu bangun dan membersihkan tubuhnya, di dalam kamar mandi Chloe mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya tapi tetap saja tidak bisa.


Ia terus kepikiran akan Xavier dan entah kenapa perasaannya tidak tenang. Tak mau berlama-lama Chloe segera membasuh tubuhnya di bawah shower dan keluar dengan bathrobe.


Chloe memakai dress ibu hamil pendek agar bisa bergerak dengan bebas. Ia lalu keluar dan menuju ke arah lift untuk ke bawah mencari pak Max.


"Dimana pak Max?" tanya Chloe pada salah satu pelayan.


"Pak Max sedang berada di dapur nyonya" ucap sang pelayan sambil menunduk.


"Tolong panggilkan pak Max" ucap Chloe dengan suara tegas.


"Baik nyonya"


Chloe lalu berjalan ke arah ruang keluarga karena tak kuat harus berdiri terlalu lama. Tak lama pak Max muncul dengan membawa minuman kesukaan Chloe yaitu ice americano dengan tiramisu.


"Nyonya mencari saya?" tanya pak Max dengan sopan.


"Apa ada kabar dari suamiku pak Max" ucap Chloe.


"Tidak ada nyonya"


"Panggilkan Mike kesini" ucap Chloe dengan raut khawatir.


"Maaf nyonya tapi Mike dan para pengawal lain sedang tidak ada di mansion dari pagi nyonya"


Chloe bingung mendengar perkataan pak Max karena setahunya suaminya itu tidak akan membiarkan dia sendiri tanpa pengawal. Karena Mike sudah ditugaskan oleh Xavier untuk menjadi pengawal pribadi Chloe.


"Kemana mereka pak Max apa hari ini Albert dan lainnya juga tidak ada di mansion" ucap Chloe.


"Tidak ada nyonya"


Perasaan Chloe semakin dilanda kegelisahan ia merasa jika ada sesuatu yang saat ini terjadi entah itu apa. Chloe lalu menyuruh pak Max untuk menghubungi Xavier dan orang kepercayaannya.


Berkali-kali pak Max menghubungi mereka semua tapi tidak ada jawaban sama sekali. Chloe semakin menjadi gelisah karena belum juga mendapat kabar.


"Telpon Kevin pak Max" ucap Chloe dengan suara bergetar.


"Baik nyonya"


Pak Max segera menelpon Kevin tapi tidak juga membuahkan hasil. Chloe lalu pergi keluar mencari para pengawal siapa tahu mereka tahu dimana sang suami berada saat ini.


"Nyonya hati-hati" ucap pak Max yang mengikuti Chloe dari belakang.


"Kamu kesini" panggil Chloe sambil menunjuk seorang pengawal yang berjaga di pintu mansion.


"Iya nyonya ada yang bisa saya bantu" ucap sang pengawal sambil menunduk.


"Apa kamu tahu dimana suamiku dan yang lainnya dan kenapa hari ini Mike tidak berjaga di mansion" ucap Chloe membordir sang pengawal dengan banyak pertanyaan.


"Maaf nyonya saya tidak tahu" ucap sang pengawal dengan gugup.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Chloe semakin dibuat gelisah karena tak juga menemukan jawaban tentang keberadaan suaminya. Wajahnya sudah pucat karena terus mengkhawatirkan tentang Xavier.


"S..a...ya akan coba tanya pada teman sa..ya n...yonya" ucap sang pengawal dengan gugup.


"Heemmm"


Pengawal itu segera mengambil hpnya dan menghubungi temannya yang tadi pagi mengawal Xavier. Selang 15 menit wajahnya mulai panik membuat pak Max dan Chloe melihatnya dengan was-was.


"Bagaimana" ucap pak Max.


"Tuan dan lainnya berada di markas sedari pagi tadi nyonya" ucap sang pengawal.


"Markas! Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Chloe dengan suara tinggi.


"Saya tidak tahu nyonya tapi katanya disana ada kelompok yang dibawa tadi pagi dalam jumlah banyak" jawab sang pengawal.


"Siapkan mobil" ucap Chloe dengan tegas.


"Baik nyonya" ucap sang pengawal.


Chloe lalu masuk ke dalam mansion kembali berniat untuk mengambil tasnya. Sebelum itu pak Max mencegatnya agar sebelum pergi ia makan terlebih dahulu.


"Nanti saja pak Max"


"Tapi nyonya sedari siang nyonya belum makan kasihan bayi nyonya ia pasti kelaparan nyonya" ucap pak Max dengan khawatir.


Mendengar perkataan pak Max membuat ia berpikir jika apa yang dibilang pak Max benar.


Pasti kamu sudah lapar ya nak maafin mommy ya sayang, batin Chloe.


"Siapkan makanan" ucap Chloe.


"Baik nyonya" ucap pak Max dengan senang.


Chloe lalu naik ke kamar untuk mengambil tasnya agar selesai makan ia bisa langsung pergi. Setelah makan Chloe segera pergi ke markas sang suami bersama pak Max dan beberapa pengawal.


Di markas Xavier saat ini sedang terjadi perkelahian sengit antara Xavier dan anak buahnya. Sedari pagi Xavier melampiaskan semua amarah di dalam dirinya kepada anak buahnya.


Bahkan Albert, Thomas, Mike, dan lainnya juga sudah babak belur dihajar oleh Xavier. Semuanya berdiri dengan gemetar merasakan aura sang bos besar.


"Ckk!! Apa segini latihan kalian semua selama ini" bentak Xavier dengan suara tinggi.


"Maafkan kami bos" ucap semua anak buahnya dengan serentak.


"Mike, Sam apa pelatihan kalian sudah mulai melemah" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.


"Maafkan saya bos" ucap Sam dengan menunduk.


"Maaf bos" ucap Mike.


Bugh........bugh.........bugh.......bugh......


4 pukulan tepat di perut keduanya. Keduanya seketika ambruk dan batuk mengeluarkan darah, melihat hal tersebut Xavier semakin menjadi memberi mereka pelajaran.


"Jangan pernah kecewakan aku" ucap Xavier dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap keduanya serentak.


"Beri mereka semua hukuman level 5 hingga besok dan tidak boleh ada yang berhenti" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.


"Baik bos" ucap keduanya dengan serentak.


Xavier berjalan mendekati Albert dan Thomas dengan tatapan membunuh. Hari ini pikirannya hanya dipenuhi dengan kematian kedua orang tuanya, Albert dan Thomas menunduk dengan wajah sudah babak belur.


"Awasi mereka semua" ucap Xavier sambil meremas bahu keduanya.


"Ba...ik bos" ucap keduanya dengan serentak.


Keduanya meringis menahan rasa sakit yang sangat kuat di bahu mereka. Xavier lalu melepas kedua tangannya dan pergi dari sana, seketika Albert dan Thomas ambruk di lantai karena tak kuat menahan rasa sakit di bahu mereka.


Kevin yang baru saja tiba di markas kaget bukan main. Ia melihat semua anak buah Xavier mulai dari penjaga depan sampai di dalam, mereka semua di penuhi lebam di sekujur tubuh mereka.


"Dude what happened" (apa yang terjadi kawan) ucap Kevin dengan bingung.


"Hari ini adalah peringatan hari kematian kedua orang tua bos" ucap Thomas sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Mendengar hal tersebut tubuh Kevin menegang, ia tahu apa yang akan terjadi dengan bosnya saat tiba hari peringatan kematian kedua orang tuanya.


"Dimana bos sekarang?" tanya Kevin dengan cepat.


"Di dalam ruang pribadinya" ucap Albert.


"Apa kalian dipukul dari pagi" ucap Kevin.


"Ya tanpa jeda waktu sedikit pun" ucap Albert dengan menahan sakit.


Kevin lalu membantu keduanya berdiri dan segera memberi obat pada luka memar mereka. Selama memberi obat Kevin kaget karena teriakan dari anak buah Xavier di ruang latihan.


"Apa yang terjadi di sana" ucap Kevin dengan penasaran.


"Mereka sedang menjalani hukuman dari bos dan hukumannya itu level 5"ucap Thomas.


"Apa" teriak Kevin dengan suara tinggi.


Ia tahu hukuman level 5 itu adalah hukuman yang paling sadis. Dimana mereka akan menjalani hukuman itu dengan siksaan batin dan tubuh sekaligus tanpa mengenal lelah.


Untung tadi aku ke rumah sakit jika tidak sudah dipastikan aku bakal pingsan karena tak kuat menahan rasa sakit, batin Kevin dengan penuh rasa syukur.


Di dalam mobil Chloe terus saja kepikiran akan suaminya, entah kenapa hatinya sangat sakit dan sedih saat ini.


Apa yang terjadi sama kamu sayang, batin Chloe dengan penuh khawatir.


Ckittt.........


Mobil Chloe mendadak mengerem di tengah jalan. Beruntung tubuh Chloe tidak terpental ke depan karena memakai sabuk pengaman di belakang.


"Ada apa" ucap Chloe dengan kaget.


"Maaf nyonya tadi ada yang nyebrang mendadak" ucap sang sopir.


Para pengawal di belakang mobil Chloe dan pak Max segera turun dari mobil untuk mengecek. Mereka kaget melihat seorang gadis dengan tubuh berlumuran darah di depan mobil yang ditumpangi Chloe.


"Ada seorang gadis yang terluka nyonya" ucap pak Max.


"Apa dia tertabrak mobil kita" ucap Chloe dengan panik.


"Tidak nyonya karena tadi saya sempat mengerem mobil kita" ucap sang sopir.


Chloe melihat tubuh gadis yang tergeletak di depan mobil dengan kasian. Ia lalu menyuruh memasukan gadis itu ke mobilnya dan segera pergi ke rumah sakit.


"Kamu bertahan ya" ucap Chloe sambil mengelap wajah gadis itu yang penuh dengan darah.


"S...ia....pa k.....amu" ucap gadis itu dengan terbata.


"Aku Chloe kamu jangan bicara dulu kita dalam perjalanan ke rumah sakit" ucap Chloe dengan wajah panik.


Dress yang dipakai Chloe sudah di penuhi dengan darah. Entah kenapa ia sangat kasian melihat gadis di depannya ini karena tubuhnya dipenuhi darah seperti Chloe waktu itu.


Apa yang terjadi sama loe kenapa loe penuh darah kayak gini, batin Chloe dengan penasaran.


~ Wesly hospital ~


Mobil Chloe langsung masuk ke arah lobby rumah sakit, pak Max keluar dan menyuruh para suster membawa brankar. Pihak rumah sakit yang mengenal siapa Chloe segera memberinya pelayanan.


"Selamatkan nyawa gadis itu" ucap Chloe kepada dokter Lili yang menangani gadis barusan.


"Baik nyonya akan kami usahakan" ucap dokter Lili.


"Heeemmm"


Chloe berdiri di depan ruang UGD dengan perasaan gelisah. Tak lama pak Max datang dan memberi Chloe kain untuk mengelap tangannya yang dipenuhi darah tapi ia menolak.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Nyonya apa kita tidak jadi ke markas" ucap pak Max.


"Ah! Benar aku lupa tapi siapa yang akan menemani gadis itu" ucap Chloe dengan khawatir.


"Biar nanti para pengawal yang menjaga gadis itu sekaligus mengurus semua administrasinya nyonya" ucap pak Max.


"Heeemmm! Ya sudah ayo kita ke markas" ucap Chloe dengan tegas.


"Baik nyonya"


Mereka lalu pergi meninggalkan Wesly Hospital menuju ke markas sang suami. Sebelum itu Chloe menyuruh para pengawalnya untuk menemani gadis tadi yang ia tolong.


~ Mansion tua Wesly ~


Nenek Esma berteriak kesal karena kerugian yang ia dapatkan sangat besar. Bahkan untuk menutupi kerugiannya ia harus menguras tabungannya sampai ludes.


"Awasi semua pekerja dan perkebunan jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi" ucap nenek Esma dengan nada tinggi.


"Baik nyonya" ucap asistennya sekaligus tangan kanannya.


Nenek Esma lalu menyuruh sang asisten untuk pergi, saat melihat asistennya sudah pergi nenek Esma menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sambil memijit keningnya yang berdenyut sakit dari tadi.


"Mommy baik-baik saja kan?" tanya Reynald dengan suara pelan.


"Apa sudah ada kabar dari Zen?" tanya balik Nenek Esma dengan suara tegas.


"Belum mommy" ucap Reynald.


Nenek Esma lalu membuka matanya dan melihat anak-anaknya dan keluarga mereka sudah berada di depannya. Mereka menunduk karena takut dimarahi oleh nenek Esma.


"Kenapa kerja kalian tidak ada yang becus! Hah" ucap nenek Esma dengan emosi.


Semuanya diam tidak ada yang mengeluarkan satu kata pun. Selama ini mereka semua tinggal di mansion ini dengan uang dari nenek Esma, bahkan kebutuhan dalam rumah tangga anak-anaknya nenek Esma yang penuhi.


Tak lama Sintya turun dari lantai dua dan memandang semua keluarganya dengan tatapan acuh. Ia sudah tidak mau perduli lagi dengan keluarganya semenjak ia sudah hancur oleh Zen.


"Mau kemana kamu Sintya!" bentak nenek Esma dengan suara menggelegar di ruang keluarga.


"Kampus kuliah sore" ucap Sintya dengan suara dingin.


Semua keluarganya heran melihat sifat Sintya yang berbeda hari ini. Sintya yang mereka tahu adalah seorang kutu buku dan gadis pemalu, bahkan untuk menatap orang di sekelilingnya ia sangat takut.


"Wah si kutu buku udah berubah jadi gadis pemberani ya" ucap Arnol dengan sinis.


"Dari pada pengangguran kayak kamu yang hidup hanya dari orang tua saja bangga! Hehehe" ucap Sintya dengan kekehan mengejek Arnol.


"Kamu" ucap Arnold dengan wajah merah padam karena emosi.


"Cukup pergi sana kamu dan kuliah yang benar jangan kelayapan cari laki-laki" ucap nenek Esma dengan suara tinggi.


Sintya menatap neneknya dengan tatapan tajam dan memilih berlalu. Sudah dipastikan jika ia terus berada di sana maka ia akan meledak karena emosi.


Setelah kepergian Sintya tak lama seorang pelayan masuk dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang. Semuanya melihat kotak tersebut dengan penasaran.


"Maaf nyonya tadi ada kurir yang datang dan bilang ada paket untuk nyonya" ucap sang pelayan.


"Heeemm! Taruh disana" tunjuk nenek Esma ke arah meja.


"Baik nyonya" ucap sang pelayan.


"Mommy siapa yang kirim paket untuk mommy?" tanya Rita dengan penasaran.


"Mommy tidak tahu" ucap nenek Esma dengan kening berkerut.


Pasalnya ia tidak memesan barang apapun dan siapa yang mengirim paket untuknya. Bahkan nama pengirim saja tidak ada hanya ada nama penerima paket saja.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tak mau penasaran nenek Esma segera menyuruh Reynald untuk membuka kotak tersebut. Saat dibuka semuanya kaget bukan main melihat isi dari kotak tersebut.


"Arrghhhh! Apa itu mommy" teriak Cika dengan suara histeris.


"Ini" ucap nenek Esma dengan suara gagap.


"Sialan kamu Xavier" teriak Reynald dengan emosi.


Ia tahu jika yang mengirim paket ini adalah Xavier karena tadi pagi mereka berniat menculik istrinya. Nenek Esma seketika lemas karena lagi-lagi rencananya untuk membunuh Xavier dan istrinya gagal.


"Mommy kenapa kepala suamiku ada disana........hiks hiks hiks" ucap Cika sambil menangis.


"Kamu yang sabar ya sayang" ucap Mita sambil memeluk tubuh sang putri.


Suasana di dalam sana seketika berubah menjadi sunyi hanya ada tangisan dari Cika. Sintya yang mendapat kabar dari sang mommy barusan tertawa dengan puas.


Ia sangat berterima kasih kepada kakak tirinya yang sudah menghabisi laki-laki berengsek itu.


Itu balasan setimpal untuk laki-laki berengsek kayak kamu, batin Sintya dengan senang.


Hari itu nenek Esma tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena kondisi mereka sudah terpuruk. Ingin membayar orang untuk membunuh Xavier tapi ia tidak punya uang.


"Akan aku balas semua perbuatan kamu anak sialan" gumam nenek Esma dengan emosi.


~ Markas Xavier ~


Di waktu yang sama tapi berbeda tempat Chloe tiba di markas suaminya dengan kening berkerut. Pasalnya sedari masuk di pintu masuk tadi dan melewati pemeriksaan Chloe kaget melihat wajah semua anak buah sang suami memar.


"Apa yang terjadi disini pak Max" ucap Chloe dengan penasaran.


"Saya juga tidak tahu nyonya" ucap pak Max yang juga tak kalah kaget tadi.


Sampai di depan markas Chloe turun setelah pintu dibukakan oleh pak Max. Saat keluar lagi-lagi Chloe mendapati semua orang menunduk dengan wajah dan tubuh penuh lebam.


"Nyonya" ucap Kevin dengan suara tinggi.


Pasalnya ia kaget melihat penampilan Chloe yang penuh dengan darah di baju dan tangannya. Kevin lalu mendekat ke arah Chloe dengan perasaan cemas.


"Nyonya baik-baik saja kan apa anda terluka nyonya" ucap Kevin dengan panik.


Bukannya menjawab pertanyaan Kevin ia mencari keberadaan sang suami. Lagi-lagi Chloe dibuat kaget karena wajah Albert dan Thomas sudah babak belur seperti dipukul dengan brutal.


"Albert" ucap Chloe meninggalkan Kevin.


"Nyonya" ucap Albert yang tak kalah kaget melihat penampilan Chloe penuh darah.


"Dimana suamiku?" tanya Chloe dengan tatapan tajam.


"Bos ada di ruang pribadinya nyonya" jawab Albert dengan suara lemah.


Chloe segera pergi ke ruang suaminya karena ia pernah datang kesana. Setelah kepergian Chloe Albert segera membordir pak Max dengan bermacam-macam pertanyaan.


Pak Max menjawab semua pertanyaan Albert dengan tegas, Albert seketika menarik napasnya lega karena sang nyonya tidak kenapa-napa.


Untung saja, jika tidak pasti tubuhku sudah dipastikan tidak bisa bangun lagi, batin Albert.


Chloe masuk ke dalam ruang pribadi Xavier dengan langkah pelan. Seketika ia mencium bau alkohol yang sangat pekat di dalam ruangan tersebut.


Chloe mengadarkan pandangannya mencari saklar lampu karena di dalam sana sangat gelap. Saat lampu menyala Chloe kaget bukan main melihat begitu banyak botol wiski dan tequila yang berhamburan disana.


"Apa yang terjadi" gumam Chloe dengan bingung.


Ia melihat Xavier yang sedang memejamkan mata dan tiduran di sofa sambil menutup mata dengan sebelah tangan. Chloe berdiri di depan sofa dengan pikiran penuh tanda tanya.


"Hubby" ucap Chloe dengan suara pelan.


Mendengar suara wanita yang dicintainya seketika mata Xavier terbuka. Xavier melihat Chloe dengan tatapan sedih dan penuh dengan perasaan sakit.


"Sayang" ucap Xavier dengan lembut.


Deg..........


Tubuh Xavier seketika menegang melihat penampilan sang istri saat ini. Ia bangun dan menatap Chloe dengan tatapan tajam dan khawatir melihat tubuh sang istri penuh darah.


...❄❄❄❄❄...


To be continue..............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀