Heartless

Heartless
Episode 52



🌻Sepintar apapun dirimu jika tidak memiliki sopan santun maka kamu adalah orang yang paling bodoh 🌻


.


.


.


.


Tidak ada seorang pun yang menahan Laura untuk berhenti memukul Chloe, air mata Chloe entah sudah keluar berapa banyak tidak bisa dihentikan.


Para pelayan hanya bisa menunduk menahan sedih melihat orang yang sudah baik kepada mereka selama ini dipukul. Berbeda dengan Queen dan Tasya yang tersenyum bahagia melihat Chloe menahan sakit di tubuhnya.


"Kenapa kamu harus permalukan namaku di depan umum!" bentak Laura.


"Ampun mommy Chloe ngak tahu apa maksud mommy" ucap Chloe dengan suara lemah dan parau.


"Kamu itu memang anak ngak tahu di untung" ucap Laura sambil menampar pipi Chloe lagi.


"Apa salah Chloe mom......hiks hiks"


"Gara-gara kamu mommy di telpon sama guru kamu bilang tidak bisa merawat kamu dengan baik" ucap Laura dengan suara tinggi.


"Tapi Chloe ngak bilang apa-apa di guru mom" bantah Chloe membela diri.


"Jadi menurut kamu mommy mengada-ada" teriak Laura di depan Chloe.


"Ngak mom bukan itu maksud Chloe"


"Sini kamu ikut mommy biar kamu diberi pelajaran"


Laura menarik Chloe keluar ke taman samping dan meminta pelayan membawa cambuk. Pelayan datang dan memberikan cambuk kepada Laura.


Arrrghhhhh.......


Teriak Chloe karena merasa kesakitan di punggungnya.


Crash..........crash..........crash............


Laura terus mencambuk tubuh bagian belakang Chloe dengan tidak berbelas kasih.


Suara teriakan dan tangis Chloe menjadi satu. Bi Rani meneteskan air mata melihat nona muda mereka yang di siksa oleh nyonyanya.


"Ya Tuhan kuatkanlah non Chloe" ucap bi Rani sambil menyeka air matanya yang jatuh.


Baju Chloe sudah robek dan penuh dengan da**h akibat cambukan tersebut. Chloe sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini, dirinya pasrah apa yang akan terjadi setelah ini.


Laura tersenyum puas melihat Chloe yang sudah jatuh pingsan tak sadarkan diri. Laura membuang cambuk tersebut dan berjalan masuk meninggalkan Chloe sendiri disana bersama para pelayan.


"Jangan ada yang berani ngomong hal ini diluar sana jika tidak kalian tanggung sendiri akibatnya" ucap Laura dengan tatapan tajam kepada semua pelayan, tukang kebun dan satpam yang tadi menonton aksinya.


"Baik nyonya" ucap mereka semua serentak.


Selepas kepergian Laura semua pelayan bersama bi Rani berlari menghampiri Chloe. Air mata mereka semua jatuh melihat kondisi tubuh Chloe yang mengenaskan.


Bi Rani meminta pak satpam mengangkat Chloe ke kamarnya. Sampai disana bi Rani dan pelayan perempuan merobek baju Chloe untuk membersihkan luka di punggungnya.


Mereka semua menutup mulut karena kaget melihat punggung Chloe yang sangat banyak luka, bahkan kulitnya terkelupas dan banyak luka memanjang di punggungnya.


"Madam kita harus bawa non Chloe ke rumah sakit" ucap Maya.


"Pasti nyonya tidak mengijinkan hal itu apalagi akan ada banyak pertanyaan dari dokter dan para suster di sana" ucap bi Rani menjelaskan.


"Terus bagaimana dengan non Chloe madam"


Bi Rani berpikir apa yang harus ia perbuat. Melihat kondisi Chloe yang membutuhkan bantuan dokter, senyum bi Rani terpancar di bibirnya setelah mengingat kenalannya yang seorang dokter.


Bi Rani lalu mengambil hpnya dan menghubungi kenalannya tersebut.


"Halo"


^^^"Halo apa betul ini dengan dokter Hery Bastian" tanya bi Rani.^^^


"Iya betul ini dengan saya sendiri"


^^^"Thanks God, Hery ini saya Rani Angraini"^^^


"Oh apa kabar Rani udah lama ya ngak ada kabarnya" ucap Hery senang dari seberang.


^^^"Ya begitulah Her"^^^


"Boleh tahu tumben kamu nelpon aku"


^^^"Hery boleh ngak kamu datang ke alamat saya sekarang untuk mengecek seorang pasien" pinta bi Rani dengan penuh harap.^^^


"Memangnya siapa yang sakit dan apa kondisinya parah"


^^^"Kondisinya sangat parah dan maaf aku ngak bisa beritahu lebih jelas siapa dirinya"^^^


"No problem kalau begitu kirim alamatnya sekarang"


^^^"Baik Hery terima kasih ya"^^^


"Sama-sama Rani itu sudah tugas ku menjadi seorang dokter"


^^^"Baik Hery"^^^


Bi Rani lalu mematikan panggilannya dan mengirim lokasi mansion Rosemary kepada teman SMAnya dulu. Beruntung ia masih simpan no Hery jika tidak ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat.


"Kalian bersihkan luka non Chloe dengan air hangat dan nanti tolong jemput seorang dokter di depan dan bawa kesini lewat pintu belakang"


"Baik madam"


Non tahan ya sebentar lagi dokter udah sampai non, batin bi Rani melihat kondisi Chloe dengan mata berkaca-kaca.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Mansion tua Rahardian ~


Sean memarkirkan mobilnya di depan pintu mansion sang kakek. Ia berjalan masuk ke dalam dengan langkah cepat tanpa perduli dengan sapaan para pelayan.


"Dimana kakek?" tanya Sean kepada kepala pelayan mansion kakeknya.


"Tuan besar sedang berada di balkon lantai 2 tuan muda"


"Heeemmm" deham Sean dengan datar.


Sean berjalan menuju lantai 2 ingin cepat-cepat bertemu kakeknya. Sampai di balkon lantai 2 ternyata kakeknya sedang melihat pemandangan belakang mansion.


"Kakek" ucap Sean sambil mencium tangan kakeknya.


Bima kaget melihat kehadiran cucu kesayangannya saat ini. Bima tersenyum mengajak Sean untuk duduk berhadapan di sofa.


"Apa yang membuat kamu datang kesini?" tanya Bima dengan penasaran.


"Cuma mau lihat apa kakek masih tetap tua atau sudah kembali muda" ucap Sean sambil tersenyum penuh arti.


"Dasar cucu kurang ajar" hardik Bima sambil memukul Sean dengan tongkatnya.


Sean hanya tertawa karena berhasil menggoda sang kakek. Bima melirik Sean dengan tatapan kesal.


"Jangan marah-marah kek nanti cepat berpulang loh"


"Jadi kamu sumpahi kakek kamu buat mati ya" ucap Bima dengan mata melotot tajam ke Sean.


"Loh yang bilang kakek mati siapa?" tanya Sean dengan santai.


"Bukannya tadi kamu bilang berpulang"


"Memangnya berpulang sama dengan mati ya kek, kayaknya kakek mulai pikun deh! Hhahahaha" ucap Sean sambil tertawa senang karena muka kakeknya merah padam menahan emosi.


Bima melempar bantal sofa berulang kali ke arah Sean tapi Sean berhasil mengelak terus. Bima masih ingin melempar Sean tapi nafasnya sudah ngos-ngosan tidak kayak dulu lagi.


"Makanya kek jangan marah-marah terus ingat umur kek"


"Air"


Sean memberikan segelas air kepada kakeknya. Bima menerimanya dan meminumnya dengan cepat, setelah itu ia menormalkan nafasnya untuk lebih teratur.


"Jadi kamu kesini pasti ada tujuannya kan"


"Tepat sekali kek"


"Aku udah ngerti pernyataan kakek beberapa waktu lalu"


"Coba kamu katakan ke kakek apa maksudnya"


"Dunia ia penuh dengan berbagai macam tipe sifat manusia kek. Untuk mencapai suatu tujuan dan kesuksesan maka Sean harus pintar memiliki strategi untuk menjatuhkan musuh. Terlebih jadikan kelemahan Sean sebagai senjata ampuh untuk menjatuhkan musuh Sean dan jadikan kelemahan lawan sebagai pion kemampuan Sean. Sean memang baru mengerti maksud kakek tapi kelemahan Sean biar diketahui oleh orang lain meski sebenarnya itu adalah kemampuan Sean yang sebenarnya kek" ucap Sean panjang lebar menjelaskan maksud perkataan kakeknya.


Prok........prok..........prok.......


Bima bertepuk tangan sambil tersenyum karena cucu kebanggaannya bisa menjawab maksud perkataannya.


"I'm so proud of you Sean" (kakek bangga sama kamu Sean)


"Thankyou granpa"


"Ternyata pilihan kakek tidak salah lagi Sean, give me a hug" (beri kakek pelukan) ucap Bima sambil membuka tangannya.


"Makasih ya kek udah jadi kakek terbaik buat Sean" ucap Sean dalam pelukan sang kakek.


"Kamu harus selalu ingat semua nasihat dan amanat kakek"


"Pasti kek"


Sean melepaskan pelukannya dan kembali duduk diseberang. Bima melihat Sean dengan intens karena pilihannya kali ini sudah tepat.


"Bagaimana dengan gadis simpananmu"


"Lepas dari sini aku akan mengurusnya kek"


"Heemm! Tentukan pilihan kamu dengan bijak karena kamu bisa jatuh hanya karena masalah perempuan Sean"


"Baik kek"


"Hubungan kamu dengan anak si Adam Rosemary bagaimana"


"Baik-baik saja kek"


"Kakek kaget karena bukan pacar kamu yang di perkenalkan di media sebagai putri Rosemary melainkan orang lain"


"Kata kakaknya Chloe memang Chloe sendiri yang ngak mau dipublikasikan identitasnya, ia risih jika ada yang mengenalnya dan ia tidak bebas melakukan apapun"


"Kakek setuju dengan pendapat pacarmu lebih baik menjadi orang biasa agar tidak terlalu tersorot di media"


"Aku sangat bangga bisa memiliki dia sebagai pacar aku kek" ucap Sean sambil tersenyum hangat.


Bima melihat senyuman bahagia dan tulus dari wajah sang cucu ikut tersenyum juga.


Semoga dia menjadi cinta terakhir kamu Sean, batin Bima.


Sean menghabiskan hari ini bersama dengan kakeknya. Tepat jam 19:09 malam ia pulang kembali ke mansion, di perjalanan ia tidak sadar kalau dirinya sedang diikuti.


Para pengawal yang ditugaskan oleh Riko dan Bima berhasil mengetahui kalau ada yang membuntuti tuan muda mereka.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Riko dan Maya yang sedang berada di pesta salah satu rekan kerjanya terkejut mendapat laporan dari Rio sang tangan kanan.


"Sayang kita pulang sekarang" ucap Riko berbisik di telinga Maya.


Maya melihat wajah sang suami yang sedang menahan emosi hanya mengangguk kepalanya. Mereka pun pamit kepada tuan pesta untuk pulang ke mansion.


Di dalam mobil Riko menelpon anak buahnya untuk mengecek siapa yang sudah membuntuti anaknya.


"Ada apa mas?" tanya Maya sambil memegang lengan sang suami.


"Ada yang membuntuti Sean sayang"


"Apa" ucap Maya dengan kaget.


Maya mengambil hpnya untuk menelpon sang anak, tapi karena ia gemetaran ia berulang kali salah memencet tombol panggil.


"Sayang tenangkan diri kamu ya" ucap Riko sambil memeluk Maya menenangkan sang istri.


"Mas aku takut sesuatu terjadi sama anak kita mas........hiks hiks" ucap Maya sambil menangis di dada suaminya.


"Tenang ya anak kita baik-baik saja"


~ Mansion Rahardian ~


Sampai di mansion Maya berlari keluar mencari anaknya, Sean yang baru selesai mandi tiba-tiba dipeluk sang ibu sambil menangis di dalam kamar.


"Ibu kenapa?" tanya Sean dengan bingung.


"Kamu ngak kenapa-napa kan nak" ucap Maya sambil melihat tubuh Sean dari atas ke bawah.


"Sean baik-baik aja bu memangnya Sean kenapa"


"Ibumu cuma khawatir aja Sean" ucap Riko yang baru masuk.


Sean melihat papanya sambil mengangkat sebelah alisnya meminta penjelasan.


"Pakai bajumu dan temui papa di ruang kerja papa"


"Heeemmm"


Riko membawa sang istri ke kamarnya, sampai disana ia menyuruh sang istri untuk beristirahat jangan memikirkan perihal barusan. Dirinya yang akan mengurus semuanya.


~ Mansion Rosemary ~


Bi Rani melihat temannya dengan tatapan marah karena di jam 19:00 malam baru ia datang.


"Maaf ya Ran tadi aku harus urus pasien di rumah sakit dulu"


"Kan kamu bisa ngabarin aku Her kasian nak Chloe" ucap bi Rani dengan kesal.


"Ya maaf atuh neng" canda dokter Hery.


"Yo wes ayok masuk lihat keadaan nak Chloe dulu" ucap bi Rani menarik tangan dokter Hery menuju kamar Chloe.


Sampai di dalam kamar Hery kaget bukan main melihat luka di punggung Chloe.


"Ini" ucap Hery dengan terbata tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Tolong Hery obati punggungnya" pinta bi Rani dengan suara sedih.


Hery mengambil peralatan medisnya dan membersihkan luka Chloe lagi sebelum memberi obat dan perban. Tidak lupa dokter Hery memasang infus di tangan Chloe karena tubuh Chloe sangat lemas akibat terlalu lama menangis.


Selesai memperban luka Chloe dokter Hery menulis resep obat untuk dibeli di apotek. Dokter Hery lalu memberikan resep obat itu kepada bi Rani.


Bi Rani kemudian menyuruh pak Ujang untuk membeli obat buat Chloe sesuai resep dokter Hery.


"Bagaimana bisa terjadi seperti ini" ucap Hery sambil melihat ke arah bi Rani.


"Ceritanya panjang Her aku mohon jangan beritahu siapa pun"


"Oke aku janji tidak akan mengatakan pada siapapun"


Bi Rani kemudian menceritakan semuanya kepada Hery dari awal sampai akhir. Hery kaget tidak menyangka ada ibu kandung yang tega memukul anaknya sendiri sampai begini tanpa alasan yang jelas.


"Apa salah anak itu sampai di pukul seperti ini"


"Aku ngak tahu Her tapi tadi nyonya sempat singgung guru dan sekolahnya non Chloe"


"Memangnya Chloe ada masalah di sekolah"


"Ngak ada Hery tapi tadi siang non Chloe pulang lebih awal katanya ia sedang ngak enak badan makanya ijin pulang lebih awal"


"Mungkin ada perkataan gurunya yang mengabari kondisi Chloe kepada ibunya"


"Mungkin juga Hery"


"Kasian sekali Chloe ia pasti bakal punya bekas luka di punggungnya"


Non kenapa nasib non kayak gini, bibi ngak tega harus lihat non menderita seperti ini, batin bi Rani.


...❄❄❄❄❄...


To be continue....


Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya guys😘❀