
π»Aku akan mengingat siapa saja yang bersamaku di saat aku susah dan saat aku mengalami kesulitanπ»
.
.
.
.
Albert yang sudah mendapat laporan dari anak buahnya segera berjalan menuju Xavier. Sampai di depan ruang UGD Albert ingin mengatakan hasil laporannya tapi Kevin sudah keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan istriku" ucap Xavier dengan nada khawatir.
"Nyonya baik-baik saja bos hanya kening nyonya yang terluka agak besar"
"Berengsek" teriak Xavier dengan suara tinggi.
Semua yang berada disana diam tidak berani berkata apapun, aura di sana sangat mencekam karena wajah Xavier saat ini sangat menakutkan. Tak lama suster keluar mendorong brankar Chloe menuju ruang VVIP.
Sampai di dalam Xavier mengelus wajah sang istri dengan sangat lembut lalu mencium keningnya.
Aku sangat menyesal karena tidak memberi pengawal tadi sayang, batin Xavier.
Tak lama Albert masuk ke dalam untuk melaporkan semua penyelidikannya.
"Apa kamu sudah dapat pelakunya?" tanya Xavier dengan suara dingin.
"Mobil yang menabrak nyonya tidak sengaja bos karena saat itu mobilnya sedang melaju, dan kaget melihat nyonya yang terdorong di depan mobilnya bos. Orang yang mencopet nona Sila dan mendorong nyonya adalah seorang preman pasar dan pencopet bos"
"Bawa keduanya ke tempat biasa" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
"Baik bos"
"Sisakan preman itu untukku" ucap Xavier dengan aura mengerikan.
"Bagaimana dengan sopir mobil itu bos?" tanya Albert.
"Berikan pelajaran biasa jangan sampai dia meninggal itu untuk luka istriku" jawab Xavier dengan raut sedih.
"Siap bos"
Albert segera keluar menuju ke mansion lebih tepatnya di ruang bawah tanah di paviliun belakang mansion. Xavier duduk di samping Chloe sambil mengelus tangan sang istri dengan lembut.
Di luar ruang rawat Chloe, Sila dan kakek Irwan masih menunggu Chloe hingga sadar. Keduanya sangat khawatir akan keadaan Chloe saat ini, mereka ingin menjenguk Chloe tapi tidak berani untuk bertemu langsung dengan Xavier.
"Maaf tuan Salim bos menyuruh anda untuk masuk bersama dengan nona Sila ke dalam" ucap sang pengawal yang mendapat perintah dari Xavier.
"Baik terima kasih atas informasinya" ucap kakek Irwan.
Kakek Irwan dan Sila lalu masuk ke dalam untuk melihat kondisi Chloe, tapi mereka juga sangat takut untuk bertemu dengan Xavier. Saat masuk ke dalam ruangan tersebut sangat mencekam karena tatapan tajam mata Xavier.
"Mr. Welsy maafkan saya karena saya Chloe sudah mengalami kecelakaan itu" ucap Sila sambil berlutut.
Xavier menatap keduanya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, saat ini dirinya sangat khawatir dan menyalahkan dirinya karena lalai menjaga sang istri.
"Sebenarnya saya ingin membunuh kalian karena berani mengajak istriku keluar" ucap Xavier dengan suara baritonenya.
Tubuh Sila dan kakek Irwan seketika bergetar ketakutan mendengar perkataan Xavier. Mereka sudah pasrah akan apa yang akan mereka dapatkan saat ini.
"Maafkan kami Mr. Wesly" ucap kakek Irwan sambil menunduk.
"Untuk kali ini saya maafkan tapi tidak untuk kedepannya" ucap Xavier dengan nada tinggi.
"Terima kasih Mr. Wesly" ucap keduanya dengan gugup dan perasaan lega.
"Keluar" ucap Xavier.
Keduanya langsung pamit keluar tidak ingin membuat seorang Xavier lebih marah lagi. Sampai di luar Sila langsung memeluk kakeknya dan menangis karena khawatir dengan keadaan Chloe.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tepat jam 16:00 Chloe mengerakkan tangannya. Xavier yang melihat hal itu segera menekan tombol darurat di ranjang bagian atas, tak lama mata indah hazel itu terbuka.
Chloe mengedipkan matanya menyesuaikan cahaya dalam ruangan tersebut dan bingung dimana dirinya berada. Chloe mengedarkan pandangannya dan melihat sang suami yang menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Sa...ya..ng" ucap Chloe dengan suara parau.
"Baby kamu sudah sadar" ucap Xavier dengan senyum tulus bercampur rasa khawatir.
Tak lama Kevin masuk ke dalam bersama 2 orang suster. Kevin segera memeriksa keadaan Chloe tidak menghiraukan pandangan Xavier yang seakan membunuhnya saat ini.
"Lain kali bawa dokter perempuan!" bentak Xavier dengan suara tinggi.
"Baik bos" ucap Kevin mengiyakan saja.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Xavier dengan cepat.
"Nyonya baik-baik saja bos tidak ada luka dalam yang serius dan benturan di kening nyonya tidak parah" ucap Kevin.
"Apa kamu bilang tidak parah lalu kenapa tubuh istriku ada luka dan da**h! Hah!" bentak Xavier.
"Bos itu hanya luka luar saja dalam beberapa hari akan sembuh" ucap Kevin dengan gugup.
"Pastikan tidak ada bekasnya jika tidak nyawamu hilang dari tubuhmu" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
"Siap bos" ucap Kevin dengan gugup.
Chloe hanya mendengar perkataan suaminya dengan pasrah tidak bisa melakukan apapun karena keadaannya masih lemah. Xavier lalu menyuruh Kevin untuk keluar meninggalkan mereka berdua saja.
"Sayang" ucap Xavier dengan lembut.
"Air" ucap Chloe dengan lemah.
Xavier segera mengambil air dan membantu Chloe minum lewat sedotan. Karena masih terlalu lemah Chloe pun segera tertidur kembali, Xavier menarik napasnya lega karena keadaan sang istri baik-baik saja.
Melihat Chloe yang sudah tertidur Xavier segera keluar. Di depan pintu ruangan Chloe ia memberi perintah untuk tidak mengijinkan siapa pun masuk ke sini meski itu dokter atau suster.
~ **Mansion Xavier** ~
Di dalam ruang bawah tanah suara pengemudi mobil yang menabrak Chloe bergema di dalam sana. Albert sendiri yang turun tangan langsung memberi pelajaran kepada sopir itu.
"Ampun tuan" ucap sopir tersebut dengan mulut penuh da**h.
"Itu pelajaran karena sudah membuat nyonya kami terluka" ucap Albert dengan dingin.
Bugh........bugh..........bugh.......
Tendangan 3 kali di kaki dan punggung sopir itu dengan kuat. Albert kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa sopir itu ke rumah sakit.
Tiba di depan mansion pak Max segera menyambut kedatangan Xavier yang wajahnya penuh amarah. Xavier berjalan dengan langkah cepat menuju ke paviliun belakang.
"Siapkan pakaianku dan istriku selama di rumah sakit" ucap Xavier dengan wajah dingin.
"Baik tuan" ucap pak Max.
Pak Max segera masuk ke dalam kamar Xavier untuk menyiapkan pakaian tuan dan nyonyanya selama mereka di rumah sakit. Tak lupa semua perkakas mandi milik Xavier dan Chloe beserta jam tangan mewah milik Xavier.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier masuk ke dalam ruangan bawah tanah dengan wajah penuh amarah dan aura membunuh. Albert dan para anak buahnya segera menunduk hormat saat bos mereka sampai.
"Bawa dia kesini" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
Anak buah Xavier segera membawa preman itu dan mengikat kedua tangan serta kakinya di tiang. Xavier bangun dan langsung memukul preman itu dengan pukulan kuat di perut dan rahangnya.
Da**h segar seketika keluar dari mulut preman tersebut. Pukulan demi pukulan Xavier pukulkan di seluruh tubuh preman itu dengan brutal, teriakan kesakitan dan erangan tidak dipedulikan oleh Xavier.
Tak lama Xavier mengambil pisau kecil mainannya lalu tersenyum iblis memandang preman tersebut. Teriakan kesakitan dan da**h sudah memenuhi ruangan tersebut.
Tubuh preman itu sudah tidak berbentuk lagi karena permainan lihai pisau Xavier seperti seorang psycopath. Anak buahnya bergidik ngeri melihat bos mereka seperti pembunuh berdarah dingin dan haus darah.
"Cih! Baru segini saja sudah mati" ucap Xavier dengan cemooh.
Xavier segera menyuruh anak buahnya untuk membakar mayat tersebut dan semua barang pribadi preman tersebut. Xavier berjalan keluar dengan jas penuh da**h dan juga tangannya yang penuh da**h.
Semua pelayan diam tidak berani berkata apapun saat Xavier keluar dengan tubuh penuh da**h. Pak Max segera menyuruh pelayan untuk keluar dari mansion.
Dia kemudian membersihkan tubuhnya untuk kembali ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Xavier melihat Chloe yang sudah bangun dan sedang duduk melihat keluar jendela dari atas brankar.
"Baby kenapa kamu lama sekali?" tanya Chloe dengan manja.
"Apa masih sakit baby?" tanya Xavier balik.
"Kening aku masih terasa pusing sayang"
"Mulai sekarang kemanapun kamu harus dikawal dan tidak ada penolakan" ucap Xavier dengan tegas.
Chloe hanya pasrah mengangguk kepalanya karena sudah tahu hal ini akan terjadi. Chloe lalu memeluk tubuh Xavier dengan erat dan dibalas juga oleh Xavier tak kalah erat.
~ Mansion Sean ~
"Kenapa semalam loe ngak bukain pintu untuk gue bisa elus perut loe?" tanya Sean dengan dingin.
"Aku udah ngak mood" jawab Queen dengan datar.
Mendengar perkataan Queen dirinya hanya diam tidak berkata apa-apa lagi. Setelah makan malam Sean menarik Queen menuju ke kamarnya dengan cepat.
Sampai di dalam Sean segera menyuruh Queen untuk berbaring di atas ranjang. Queen hanya pasrah saja melakukan perintah Sean tidak menolaknya sedikit pun.
"Anak papa baik-baik ya di dalam sana" ucap Sean di depan perut Queen.
Sean lalu mengelus perut Queen dengan lembut. Tak lama hpnya berbunyi tanda panggilan masuk dari sang papa.
^^^"Halo pa" ucap Sean dengan suara dingin.^^^
"Halo son kamu lagi ada dimana?" tanya Riko.
^^^"Di mansion"^^^
"Besok kamu berangkat ke Surabaya ada transaksi besar disana"
^^^"Heeemmm"^^^
"Ya sudah hanya itu yang papa mau sampaikan"
^^^"Iya pa"^^^
Sean langsung mematikan panggilannya sepihak tanpa mendengar perkataan papanya. Sean kembali mengelus perut Queen sampai keduanya tertidur di ranjang milik Queen.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Hari-hari berlalu dengan cepat tanpa terasa sudah seminggu Chloe berada di rumah sakit. Selama itu pula Chloe sangat stres karena semua perintah dan larangan dari suaminya.
Saat pulang ke mansion Chloe senang bukan main karena dirinya sangat bosan di rumah sakit. Semua pelayan menyambut kedatangan nyonya mereka dengan senyuman manis.
"Sayang apa kamu akan kembali ke perusahaan?" tanya Chloe.
"Tidak sayang aku ingin menemani istriku di mansion" ucap Xavier sambil mencium b***r Chloe.
Ciuman itu lama kelamaan berubah menjadi menuntut dan terjadilah olahraga siang untuk sepasang suami istri di dalam kamar mereka.
Seharian penuh Xavier tidak membiarkan istrinya keluar kamar dan hanya mengurung Chloe di dalam kamar saja. Chloe hanya bisa pasrah melayani suaminya karena itu adalah tugasnya sebagai istri.
Keesokan paginya Xavier bangun dan segera bersiap menuju perusahaan karena mereka akan meeting untuk membahas proyek resort di Lombok. Xavier tersenyum saat melihat sang istri yang masih tertidur di dalam selimut.
"Baby wake up" ucap Xavier dengan lembut.
"Aku masih ngantuk sayang" ucap Chloe dengan suara serak.
"Aku berangkat ke kantor ya baby ingat jangan keluar kemana pun tanpa ijinku" ucap Xavier sambil mencium bi**r Chloe.
"Iya hubby"
Xavier lalu mencium kening sang istri dan segera keluar untuk sarapan lalu berangkat ke kantor. Sampai kantor Xavier dan Albert segera masuk ke dalam ruangannya.
"Good morning bos" ucap Thomas.
"Heeemmmm"
"Bos nenek tua itu sudah memulai rencananya" ucap Albert yang mendapat laporan dari anak buah mereka disana.
"Heeemmm! Kita ikuti saja permainan mereka" ucap Xavier dengan senyum sinis.
"Baik bos dan besok ada rapat saham di perusahaan Rosemary" ucap Albert.
"Albert kamu suruh Mr. Liem untuk mewakili Chloe"
"Baik bos"
Ketiganya lalu mulai mengerjakan semua pekerjaan mereka dan melakukan meeting bersama direktur Rangga untuk rancangan resort yang sedang dibangun.
~ RM Group ~
Adam dan Laura sedang pusing menerima telepon dari para klien yang meminta pembatalan kontrak kerja. Keduanya sangat pusing ternyata setelah konferensi pers tersebut para klien tetap membatalkan kontrak kerja mereka.
"Sayang besok kita akan adakan rapat darurat dengan pemegang saham" ucap Adam.
"Iya sayang untuk saham kita sendiri ada 45%"
"Punya daddy sama mommy ada 10%" ucap Adam.
"Usahakan besok kita harus meyakinkan para pemegang saham untuk tetap menanamkan saham di perusahaan kita" ucap Laura.
"Itu pasti sayang"
Tak lama Steven masuk ke dalam ruangan sang daddy dengan muka kusut dan lelah. Laura lalu mengiring anaknya untuk duduk di sofa.
"Ada apa sayang?" tanya Laura dengan lembut.
"Klien kita di Kalimantan mengirim pembatalan kontrak mom" ucap Steven.
"Apa" ucap Adam dengan kaget.
"Kita adakan dulu rapat pemegang saham baru pikirkan bagaimana ke depannya" ucap Laura.
"Iya mommy"
Ketiganya lalu duduk dan memikirkan apa yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan kembali para klien. Steven melirik sang daddy dengan wajah mengeras karena semua ini adalah kesalahan sang daddy.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Xavier ~
Chloe bangun dan segera membersihkan dirinya lalu masuk ke walk in closet untuk mengambil baju apa yang akan dipakainya.
Selesai memakai baju dan merias diri seadanya dirinya kemudian keluar untuk menyantap sarapan yang sudah lewat jam sarapan sedari tadi.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya" ucap pak Max.
"Tolong siapkan makanan pak Max saya lapar" ucap Chloe.
Pak max lalu menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan bagi sang nyonya. Chloe lalu menyantap makanan dengan sangat lahap karena lapar.
Selesai makan Chloe lalu berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton drama kesukaannya. Sebelum itu hp berbunyi tanda panggilan masuk.
^^^"Halo"^^^
"Halo Chloe gue kangen banget sama loe" ucap Mira dengan suara cemprengnya.
^^^"Hahahahaha! Tapi gue ngak thu" ucap Chloe sambil cekikan.^^^
"Ah! Loe mah gitu orangnya" ucap Mira dengan kesal.
^^^"Btw gimana loe disana apa loe udah nikah"^^^
"Boro-boro nikah pacar aja ngak punya gue"
^^^"Hahahahaha! Gue rasa loe bakalan perawan tua deh" ucap Chloe sambil tertawa kencang.^^^
"Sialan loe" ucap Mira dengan kesal dari seberang.
^^^"Sorry gue cuma bercanda aja kok" ucap Chloe.^^^
"Iya gue tahu kok santai aja"
^^^"Gimana loe udah dapat kerjaan belum disana?" tanya Chloe.^^^
"Besok gue wawancara di perusahaan xxx doain gue ya biar berhasil" ucap Mira.
^^^"Pasti gue doain dan semoga loe ketemu jodoh loe disana" ucap Chloe sambil cekikan.^^^
"Amin semoga yaπππ" ucap Mira sambil tertawa kencang.
Keduanya lalu bercerita panjang lebar menghabiskan waktu itu dengan bergosip tiada habisnya. Tak lama Chloe pun mematikan panggilannya setelah merasa sudah terlalu lama mengobrol bersama sahabatnya.
"Si Mira ada-ada aja deh" ucap Chloe sambil cekikan.
Chloe lalu menonton drama korea yang disukainya sampai tertidur di atas sofa. Xavier yang menelpon sang istri tidak diangkat segera mengecek cctv lewat hpnya.
Ia tersenyum bahagia melihat sang istri yang terlelap di atas sofa ruang keluarga sambil menonton drama kesukaannya.
"Cih! Segitunya kamu suka laki-laki plastik itu" ucap Xavier dengan sinis.
...βββββ...
To be continue..................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€