
π»Tersenyum bukan karena kita sudah bahagia di dunia tapi karena kita mensyukuri hidup iniπ»
.
.
.
.
Hari ini adalah meeting bulanan yang biasa dilakukan oleh kantor pusat Wesly Group tiap 2 bulan sekali. Xavier yang dari pagi memimpin meeting tersebut tidak memberikan senyuman kepada semua jajaran direktur yang ada.
Saat berlangsung meeting yang sangat mencekam Xavier sangat ingin membunuh orang yang sudah menganggu meeting dengan membuka pintu dengan kuat.
Tapi seketika amarahnya hilang melihat siapa yang berdiri di depan pintu dengan muka merah padam.
"Baby" ucap Xavier dengan pelan dan kaget.
Semua peserta meeting diam tidak ada yang mengeluarkan suara atau berbicara. Xavier melihat semuanya dengan tatapan tajam.
"Buat rencana kerja untuk ke depan dan besok harus sudah ada di mejaku" titah Xavier dengan tegas.
Xavier kemudian bangkit berdiri dan keluar dari ruang meeting. Semua jajaran direktur dan sekretarisnya berdiri membungkuk hormat saat bos besar mereka pergi.
Suasana yang mencekam tadi serasa hilang begitu saja. Semua jajaran direktur kantor cabang menghela napas panjang karena harus menyerahkan laporan rencana kerja besok pagi.
"Dimana Chloe?" tanya Xavier dengan aura membunuh kepada para pengawal yang berjaga di depan.
"Nona Chloe berlari ke arah sana bos" tunjuk kepala pengawal ke arah samping ruangan meeting.
"Jangan ada yang melihat wajah Chloe disini" ucap Xavier dengan tegas.
"Baik bos" ucap Albert.
Albert kemudian menyuruh pengawal agar berjaga tidak ada yang berjalan di area tersebut dan mengarahkan semua peserta meeting untuk segera turun ke bawah. Xavier berjalan dengan cepat menuju arah samping dan melihat Chloe yang berdiri di sudut bangunan.
"Baby" panggil Xavier dengan lembut.
"Sayang aku malu banget" ucap Chloe membalikan tubuhnya saat mendengar suara Xavier.
Xavier memeluk Chloe dan menenangkan sang kekasih yang sangat malu saat ini. Meski sebenarnya Chloe tidak perlu merasa malu karena tidak ada yang berani berkata apapun tentangnya.
"Hey jangan pikirkan hal itu karena tidak akan ada yang berani mengatai apapun tentang kamu"
"Tapi sayang aku malu banget "ucap Chloe membenamkan wajahnya di dada Xavier.
Xavier tiba-tiba mengangkat Chloe dalam gendongannya dan berjalan menuju lift. Chloe yang kaget akan tindakan Xavier segera mengalungkan tangannya ke leher Xavier dan membenamkan wajahnya di dada bidang Xavier.
"Untung gue ngak teriak kalau ngak bisa malu banget gue mana banyak pengawal disini" gumam Chloe dengan sangat pelan.
"What's wrong baby" ucap Xavier yang mendengar gumam Chloe tidak jelas.
"Aku malu sayang kenapa sih kamu gendong aku segala" ucap Chloe sambil merajuk dalam gendongan Chloe.
"Because i want baby" ucap Xavier dengan santai.
Mendengar jawaban Xavier yang terlalu santai dan tidak memikirkan pendapat orang lain malah membuat Chloe serasa ingin menjitak kepala sang kekasih.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya. Ketiga sekretarisnya menatap Xavier dengan terkejut karena baru kali ini sang direktur mengendong seorang perempuan dengan sangat erat dan berhati-hati.
"Siapa perempuan itu" gumam ketiganya dengan serentak.
"Jangan ada yang menggangguku" ucap Xavier dengan tatapan dingin kepada Albert dan ketiga sekretarisnya.
"Baik bos" ucap Albert.
"Baik tuan" ucap ketiga sekertaris serentak.
Xavier membuka pintu ruangannya dan berjalan masuk ke dalam. Chloe yang sudah berada di dalam ruangan Xavier segera mengangkat kepalanya dan seketika matanya berdecak kagum.
"Wow indah banget disini" ucap Chloe dengan takjub.
Xavier menurunkan Chloe dan seketika Chloe berjalan kesana-kemari memperhatikan isi ruang kerja Xavier yang sangat indah. Chloe berdiri di depan jendela dan seketika ia terkejut melihat pemandangan di bawah sana yang sangat indah.
"Sayang ini benar-benar indah banget" ucap Chloe dengan senang.
Xavier hanya tersenyum melihat tingkah sang kekasih yang seperti anak kecil. Dirinya berjalan ke arah Chloe dan langsung memeluk tubuh Chloe dari belakang.
Chloe yang kaget mendapatkan pelukan dari Xavier seketika menormalkan detak jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat.
"Sayang" ucap Chloe dengan muka merah padam.
"Heeemmmm" deham Xavier yang mengendus leher Chloe sesekali mencium kecil.
"Jangan buat bekas sayang" ucap Chloe dengan suara serak.
Xavier langsung mencium bi**r Chloe dengan kasar dan cepat, Chloe yang mendapat ciuman dari Xavier hanya menutup mata dan membalas ciuman sang kekasih.
"Bibir kamu seperti nikotin untukku baby" ucap Xavier sambil mengelus bibir Chloe dengan lembut.
Chloe hanya diam dengan muka merah padam karena malu sekaligus tidak bisa menahan debaran jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat.
"Aarrrggghhh" ringis Chloe menahan sakit saat Xavier memeluknya dengan erat dan menyenggol bahu kirinya.
"Kenapa sayang?" tanya Xavier dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa sayang" jawab Chloe dengan senyum manis tapi menahan rasa sakit.
Xavier tidak mempercayai kata-kata Chloe dan seketika memegang bahu kiri Chloe dengan agak kuat. Chloe yang sudah tidak tahan akan rasa sakit langsung berteriak kesakitan dan tubuhnya seketika lemas.
Beruntung ruangan Xavier kedap suara jadi tidak ada yang mendengar teriakan Chloe, Xavier segera membawa Chloe ke sofa dan mendudukkannya disana. Dirinya langsung saja membuka kancing baju Chloe dengan cepat.
"Sayang apa yang kamu lakukan" teriak Chloe dengan kencang.
Tidak memperdulikan teriakan Chloe dirinya tetap membuka kancing Chloe dan menurunkan kemejanya sedikit kebawah. Mata Xavier melotot kaget melihat memar kebiruan di bahu kiri Chloe.
"Katakan bagaimana kamu bisa sampai begini sayang?" tanya Xavier dengan tatapan tajam.
"Uhmm! I....tu" ucap Chloe dengan gugup.
"Cepat katakan sebelum aku mencari tahunya sendiri" ucap Xavier dengan suara tinggi.
Chloe akhirnya menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya karena takut melihat tatapan tajam Xavier dan dirinya tidak ingin para pengawal disalahkan karena lalai menjaganya.
^^^γ γ γ π π π π γ γ γ^^^
"Berengsek apa yang para pengawal lakukan" ucap Xavier dengan marah.
"Sayang aku mohon jangan marahin mereka karena memang ini bukan salah mereka" ucap Chloe dengan lembut.
"Buat apa aku membayar mereka mahal untuk menjaga gadisku saja tidak becus" ucap Xavier dengan kesal.
"Baby tidak mungkin kan mereka bakal ikut aku masuk kesini setahu mereka pasti aku datang ke sini karena kamu sayang. Coba kamu pikir aku datang kesini otomatis aku itu aman karena ada kamu bukan seperti diluar sana"
Mendengar perkataan Chloe semuanya Xavier merasa benar tapi tetap saja apa yang menurutnya itu yang paling betul.
"Tetap mereka harus mendapatkan hukuman karena lalai menjaga kamu" ucap Xavier tetap kekuh.
Chloe kemudian berdiri dan langsung mencium Xavier agar emosinya reda, terbukti raut muka Xavier tidak seperti tadi dan dirinya merasa senang mendapat ciuman dari kekasihnya.
"Kamu menggoda aku agar tidak memberikan mereka hukuman kan?" tanya Xavier setelah melepaskan ciuman mereka.
"Hahahaha! Dan kamu berhasil baby" ucap Xavier sambil tertawa.
Chloe terpesona melihat Xavier yang tertawa lepas dan itu sangat jarang.
Ternyata kamu sangat tampan sayang jika tertawa seperti itu, batin Chloe.
"Jadi mereka tidak dihukum kan sayang?" tanya Chloe.
"Uhmmm! Tergantung mood aku sayang" jawab Xavier.
"Iiihhh! Kok gitu sih sayang" ucap Chloe dengan kesal.
"Ada syaratnya jika tidak ingin mereka dihukum" ucap Xavier sambil tersenyum devil.
Melihat hal itu Chloe sudah tahu jika semuanya itu tidaklah gratis. Ternyata dia tetap seorang Xavier yang arogan dan ingin menang sendiri, batin Chloe.
"Apa syaratnya sayang" ucap Chloe cemberut.
"Ikut denganku ke rumah nenek aku sayang" ucap Xavier dengan tegas.
"Kamu punya nenek sayang?" tanya Chloe dengan bingung.
"Yes and she is like a devil woman" (Ya dan dia itu wanita iblis) jawab Xavier sambil tersenyum sinis.
Chloe hanya mengangguk kepalanya saja karena melihat wajah Xavier yang tidak ingin membicarakan neneknya.
"Sayang" ucap Chloe dengan cepat.
"Kenapa"
"Bagaimana dengan proposal itu kalau aku tidak membawa koreksinya maka aku akan dapat nilai magang jelek sayang" ucap Chloe dengan raut muka mulai panik.
"Tenang sayang aku akan mengatur semuanya" ucap Xavier dengan lembut.
"Tapi bagaimana proposal itu sudah basah dan tidak tahu dimana" ucap Chloe sambil kepikiran.
"Lihat saja nanti" ucap Xavier berlalu ke meja kerjanya.
Xavier kemudian menelpon Albert lewat telpon di atas meja kerjanya.
^^^"Cari proposal kerja sama yang dibawakan Chloe"^^^
"Sudah saya dapatkan bos"
^^^"Koreksi proposalnya sedetail mungkin dan bawa kesini" ucap Xavier dengan tegas.^^^
"Baik bos"
^^^"Oh untuk kelima anak magang itu berikan nilai F kepada mereka, serta surat pemutusan magang ke kampus mereka dan mulai besok aku tidak mau melihat mereka di perusahaan aku"^^^
Xavier langsung mematikan panggilannya tanpa mendengar balasan Albert. Chloe tertegun mendengar perintah Xavier barusan dirinya ingin berbicara tapi langsung dipotong.
"Jangan mengasihani mereka karena beruntung aku hanya memberikan nilai F kepada mereka tidak sampai main kekerasan sayang" ucap Xavier dengan tatapan tajam dan tak ingin dibantah.
Chloe hanya mengangguk kepala saja karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dan semoga mereka berlima bisa secepatnya sadar akan perbuatan mereka.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Jakarta, Indonesia ~
Sean membanting semua benda yang berada di dalam apartemennya. Dirinya sangat marah mendengar kabar dari anak buah papanya tentang keberadaan Chloe yang menghilang lagi.
Chloe memang sempat berada di sana selama 1 tahun tapi ia kemudian pergi setelah mendengar hasil kelulusan SMA.
"Aarrgghhhh! Sial loe sembunyi dimana sih Chloe" teriak Sean dengan kencang.
Sean kembali menghancurkan semua barang yang ada di apartemennya, tiba-tiba hpnya berbunyi dan itu adalah panggilan dari papanya.
^^^"Halo" ucap Sean dengan suara geram menahan emosi.^^^
"Apa kamu sudah puas menghancurkan semua barang di apartemenmu?" tanya Riko dengan nada dingin dari seberang.
^^^"Jangan membuat aku tambah emosi pa" ucap Sean dengan suara geraman.^^^
"Cih! Apa hanya segitu saja perjuanganmu"
^^^"Apa maksud papa"^^^
"Dimana Sean yang akan menyelidiki suatu masalah hingga ke akar-akarnya"
^^^"Jangan bertele-tele lagi pa langsung ke intinya saja" teriak Sean yang sudah emosi.^^^
"Dasar anak kurang ajar" hardik Riko dari seberang.
^^^"Kalau tidak ada yang penting aku matikan pa"^^^
"Ada orang yang membantu Chloe pergi"
^^^"Apa"^^^
Tuut.........tuutt..........tuutt.........
Panggilan lalu dimatikan sepihak oleh Riko, Sean semakin kesal karena papanya mematikan panggilannya sepihak saat sedang berbicara serius.
"Papa" teriak Sean dengan kesal.
Di mansion Riko tertawa karena pasti anaknya saat ini sedang mengumpat dirinya karena kesal. Maya yang melihat suaminya tertawa sendiri menaikan alisnya sebelah.
"Mas kamu masih sehat kan?" tanya Maya dengan wajah bingung.
"Sebentar lagi anak kamu akan seperti cacing kepanasan dan datang kesini" ucap Riko sambil cekikan.
"Anakmu juga mas" ucap Maya dengan kesal.
Dirinya yakin suaminya itu pasti sudah membuat anaknya marah dan kesal. Maya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami dan anaknya yang sama-sama arogan dan jahil satu sama lain.
~ Smith Corp ~
Saat ini Lauren sedang berpikir apa anak magang yang disuruhnya berhasil mengantar proposal kerja sama itu, karena selama ini dirinya sudah berusaha mendekati pemilik perusahaan tersebut tapi tidak bisa.
"Semoga saja dia dapat agar aku bisa mencari cara untuk dekat dengan Xavier" ucap Lauren sambil tersenyum sinis.
Lauren sangat terobsesi dengan Xavier dan apapun akan ia lakukan untuk mendapat pria mapan seperti Xavier dan juga wajah serta tubuh yang menggoda.
Lauren sebenarnya bisa mengerjakan semuanya sendiri tapi dirinya sangat kesusahan beberapa minggu ini karena sang manajer yang tiba-tiba mengundurkan diri entah karena apa.
Bahkan posisi manajer saat ini sudah diisi oleh orang baru tapi tidak sesuai dengan keinginannya. Tanpa orang lain tahu sebenarnya Albertlah yang sudah mengirimkan surat pengunduran diri Ayub.
Karena Ayub sudah tidak ada lagi di dunia ini akibat perbuatannya menculik gadis milik Xavier Arthur Wesly.
Lauren duduk termenung sambil melihat pandangan di luar dan mengingat ketika dirinya bertemu pertama kali dengan Xavier waktu di acara ulang tahun perusahaannya.
Saat itu Lauren sudah jatuh hati kepada Xavier dan berusaha untuk menjadi yang terbaik agar bisa sederajat dengan Xavier.
"Aku akan mendapatkan kamu sayang" ucap Lauren tersenyum smirk sambil melihat wajah Xavier di majalah forbes.
...βββββ...
To be continue..............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€