
π»Terkadang kita harus menjadi jahat agar orang lain tidak menghina harga diri kita karena manusia itu punya batas kesabaranπ»
.
.
.
.
Sean tiba di markas papanya tepat pukul 23:00 malam. Saat masuk ke dalam Sean menatap tajam semua anak buahnya yang berdiri menyambut kehadirannya.
"Dimana bajingan itu" ucap Sean dengan suara dingin.
"Ada di ruangan interogasi tuan" ucap Dimas.
"Hemmmm"
Sean segera berlalu menuju ke ruang interogasi dimana di dalamnya sudah ada sang papa bersama tangan kanannya Rio yang sedang menghajar anak buah mereka yang berkhianat.
"Papa kira kamu tidak datang" ucap Riko dengan suara dingin.
"Aku ingin melihat wajah pengkhianat itu pa makanya aku datang" ucap Sean sambil tersenyum sinis.
"Heeemmm"
Riko lalu memberi isyarat kepada Rio untuk segera berhenti. Rio segera menghentikan aksinya dan membersihkan kedua tangannya yang penuh dengan d***h.
"Well well well sepertinya malam ini aku akan sedikit bermain" ucap Sean sambil memilih pisau kecil kesukaannya.
Dimas dan anak buah lainnya yang berada di dalam ruang interogasi menelan saliva dengan susah melihat kekejaman tuan mereka. Riko sendiri tersenyum bangga melihat kekejaman dari anak semata wayangnya.
Teriakan kesakitan bergema di dalam ruangan saat Sean menusuk pisau tepat di pahanya. Sean mengo***k dan menusuk lebih dalam pisau tersebut, mendengar teriakan anak buahnya bukan berhenti malah ia tambah lebih bersemangat.
D***h sudah merembes di dalam ruangan bahkan bau anyir d***h sudah menyeruak di dalam sana. Melihat hal tersebut Sean menghentikan aksinya untuk bertanya lagi kepada pengkhianat itu.
"Gue tanya siapa orang yang bekerja sama dengan loe" ucap Sean dengan dingin.
"Jordan" ucap anak buahnya yang sudah pasrah dengan napas satu-satu.
Mendengar nama tersebut Riko segera menyuruh Rio untuk membakar markas milik Jordan Kusuma, serta buat perusahaan mereka bangkrut malam ini juga.
Jordan Kusuma adalah kakak dari orang yang pernah menganggu Denis dan keluarganya, Riko yakin Jordan ingin membalas kematian adiknya itu saat tahu Seanlah yang membunuh adiknya.
"Bakar tubuhnya hingga menjadi abu" ucap Sean dengan tatapan tajam.
"Baik tuan" ucap Dimas.
Dimas lalu menyuruh anak buah mereka untuk membakar tubuh pengkhianat itu seperti perintah Sean. Sean lalu keluar menuju ke ruangannya untuk membersihkan diri sebelum pulang ke mansion.
"Good job son" (kerja bagus anakku) ucap Riko sambil menepuk pundak sang anak.
"Heemmmm"
Riko memilih pulang di ikuti oleh Rio meninggalkan markas setelah semuanya sudah beres. Selesai dengan kegiatannya Sean pun ikut pulang ke mansion untuk beristirahat.
"Dimas apa kamu sudah hancurkan cctv tadi" ucap Sean saat di dalam mobil.
"Tuan besar tadi sudah mematikan cctv sebelum kita sampai tuan" ucap Dimas.
"Heeemmmm"
Sampai di mansion ia segera masuk dan menyuruh Dimas untuk kembali pulang. Bi Lastri yang menyambut kedatangan Sean hanya diam saja sampai tuannya itu masuk ke dalam kamar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Xavier ~
Chloe terbangun saat bermimpi tentang seorang gadis yang memiliki wajah sama sepertinya. Chloe bangun dan melihat ke samping ternyata suaminya tidur dengan lelap.
Merasa kerongkongannya kering ia memindahkan tangan Xavier dengan perlahan. Saat selesai minum Chloe mengingat mimpinya barusan dan seperti mengenal wajah tersebut.
Tak lama Chloe teringat dengan kalung berlian matahari pink miliknya yang sama persis dengan yang digunakan oleh gadis dalam mimpinya. Chloe membuka walk in closet dan mengambil kotak perhiasan miliknya.
Saat mengambil kalung tersebut ia seperti sangat merindukan pemilik dari kalung tersebut. Chloe keluar dari walk in closet dan berjalan keluar kamar dengan pelan karena takut membangunkan sang suami.
Saat duduk di ruang santai di lantai dua mata Chloe tertuju kepada bingkai foto milik kedua orang tuanya. Chloe kaget saat melihat wajah ibunya yang seperti gadis dalam mimpinya bahkan kalung yang dipegangnya sama persis dengan kalung sang mommy.
"Mommy" ucap Chloe dengan derai air mata.
Ia teringat senyuman manis perempuan dalam mimpinya barusan yang adalah sang mommy. Ia menangis dengan pelan saat mengingat senyuman manis sang mommy meski hanya dalam mimpi.
"Terima kasih sudah melahirkan Chloe mommy" ucap Chloe dengan sedih.
Puas mengeluarkan semua kesedihannya ia lalu pergi menuju lantai satu untuk bermain paino. Di dalam kamar Xavier meraba ranjang sebelah dan seketika membuka mata saat di sebelahnya kosong.
"Baby" ucap Xavier dengan suara serak.
Tak mendapat jawaban dari sang istri Xavier lalu bangun dan berjalan keluar kamar.
Saat di luar kamar ia kaget mendengar dentingan piano dari lantai satu, Xavier lalu turun ke bawah dan mendapati sang istri sedang memainkan piano di jam 02:00 malam.
Chloe tak sadar jika saat ini Xavier tengah menatapnya dari belakang sambil bersandar di pilar. Chloe mamainkan lagu bunda milik Melly Goeslaw sambil menyanyikannya dengan penuh penghayatan.
Ku buka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar ini
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Air mata Chloe terus mengalir saat menyanyikan lagu tersebut. Ia sangat sedih tidak bisa merasakan gendongan kedua tangan sang mommy.
Xavier yang tidak tahu arti dari lagu tersebut entah kenapa hatinya menjadi sakit, melihat air mata wanita yang dicintainya saat ini mengalir deras.
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Seketika tangisannya pecah, Xavier berjalan dengan cepat dan langsung memeluk tubuh Chloe dari belakang dengan erat. Chloe berbalik dan langsung memeluk Xavier sambil menangis kencang di dalam dada suaminya.
"Aku tidak tahu arti dari lagu yang kamu nyanyikan sayang tapi hati aku sakit saat melihat air matamu mengalir baby" ucap Xavier dengan lembut.
"Aku bermimpi bertemu dengan mommy aku sayang.........hiks hiks" ucap Chloe sambil berderai air mata.
Xavier terus memeluk sang istri memberikan kehangatan kepada sang istri. Setelah puas menangis Xavier mengendong sang istri kembali ke kamar.
"Sayang"
"Heemmmm"
"Aku ingin makan burger sayang tapi harus Albert yang masak" ucap Chloe dengan mata berbinar-binar.
"Besok akan aku suruh Albert buatkan sayang" ucap Xavier dengan lembut.
"Aku maunya sekarang sayang" ucap Chloe dengan tegas.
"Apa kamu yakin sayang" ucap Xavier sambil melihat jam menunjukan pukul 02:35 dini hari.
"Heemmmm" deham Chloe sambil menganggukkan kepala.
Xavier segera mengambil hpnya dan menelpon Albert. Tak lama Albert segera menjawab panggilannya.
"Halo bos" ucap Albert dengan suara serak khas bangun tidur.
^^^"Datang ke mansion sekarang"^^^
"Hahh"
^^^"Waktumu 5 menit"^^^
Xavier segera mematikan panggilannya sepihak tanpa menunggu Albert menjawab perintahnya. Di seberang Albert segera bangun dan bersiap pergi ke mansion sang bos.
"Kita ke bawah tunggu Albert sayang" ucap Xavier.
Chloe segera keluar lebih dulu meninggalkan Xavier di dalam kamar. Melihat istrinya yang sudah pergi ia lalu berjalan cepat menghampiri Chloe yang sudah di luar kamar.
Selang 5 menit bunyi deru mobil milik Albert berhenti di depan mansion. Pak Max dan para pelayan yang bangun saat di panggil oleh Xavier berdiri di dekat tuan mereka.
"Bos" ucap Albert dengan napas satu-satu.
"Heeemmmm"
Albert melihat bosnya yang sedang memeluk sang istri di sofa dengan tatapan bingung.
Firasat aku tidak enak sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi, batin Albert.
"Albert kamu sudah sampai" ucap Chloe dengan senyum bahagia.
"Iya nyonya" ucap Albert.
"Apa bos" ucap Albert dengan kaget.
"Kamu dengar apa yang aku katakan Albert" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Tapi aku tidak bisa masak bos" ucap Albert sambil tertawa memamerkan giginya.
"Aku tidak perduli ini keinginan anak ku" ucap Xavier dengan santai.
Melihat mata sang nyonya yang berbinar-binar ia segera mengangguk kepala tak mau membuat Chloe kecewa. Albert segera pergi ke dapur diikuti oleh pak Max untuk membantu tangan kanan tuannya.
"Suruh koki menyiapkan bahannya" ucap Albert dengan wajah datar.
"Baik tuan Albert" ucap pak Max.
Para koki segera menyiapkan bahan makanan yang diperlukan oleh Albert. Albert mendengar dengan saksama ucapan para koki yang memberitahunya tentang cara membuat burger.
Awal percobaan burger yang dibuatnya hangus. Sampai 5x percobaan barulah jadi, Albert segera membawakan untuk Chloe.
Chloe menerimanya dengan senang hati dan segera memakannya. Saat dimakan Chloe lalu memuntahkan burger tersebut, melihat hal tersebut Albert langsung gugup.
"Kenapa sayang?" tanya Xavier penasaran.
"Rasanya aneh sayang aku tidak mau lagi" ucap Chloe sambil menutup mulutnya.
Xavier lalu menyuruh pak Max untuk membawa pergi burger masakan Albert. Belum sempat diambil Chloe segera menyuruh pak Max untuk memakan burger tersebut.
Pak Max melihat ke arah Xavier meminta persetujuan dan Xavier segera mengangguk kepalanya. Saat makan burger buatan Albert seketika pak Max menyeritkan keningnya.
Beruntung nyonya tidak memakan burger ini sampai habis jika tidak pasti nyonya akan sakit perut mana rasanya aneh lagi, batin pak Max.
"Pak Max apa rasanya enak" ucap Albert yang penasaran.
"Tuan bisa mencobanya sendiri" ucap pak Max menyodorkan satu buah burger yang masih tersisa.
Albert mengambilnya dan segera mengigitnya. Satu gigitan masuk kemulutnya dan seketika ia berlari ke dapur memuntahkan burger buatannya itu.
"Rasanya aneh banget" ucap Albert.
"Bagaimana Albert rasanya" ucap Xavier sambil tersenyum sinis.
"Sangat tidak enak bos rasanya aneh" ucap Albert.
"Untung istriku tidak jadi makan" ucap Xavier dengan tatapan mengejek.
Melihat tatapan Xavier ia hanya mengangguk kepala membenarkan perkataan bosnya itu, karena memang kenyataannya masakan Albert sangat tidak enak.
Aku tidak mau lagi masak untuk kedepannya, batin Albert.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Hari berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah 1 minggu berlalu dari kejadian perusahaan RM Group yang bangkrut, pagi ini Chloe kembali menonton berita tentang perusahaan RM Group yang sudah berganti nama.
"Loh itu kan RM Group kenapa sudah ganti nama ya dengan Elisabeth Group" ucap Chloe dengan bingung.
Chloe lalu mengambil hpnya dan menghubungi Xavier yang berada di kantor. Pada dering kedua suaminya segera menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa sayang"
^^^"Sayang apa kamu sudah baca berita" ucap Chloe dengan lembut.^^^
"Berita tentang apa baby"
^^^"Tentang RM Group yang sudah berganti nama sayang"^^^
"Oh itu aku sudah tahu sayang"
^^^"Ini bukan kerjaan kamu kan sayang?" tanya Chloe dengan selidiki.^^^
"Perusahaan itu sudah atas nama kamu sayang dan sekarang sudah ada di bawah naungan perusahaan Shine"
^^^"Apa bagaimana bisa sayang" ucap Chloe dengan kaget.^^^
"Saham di perusahaan RM Group milik keluarga Rosemary tidak ada lagi dan hanya tersisa saham milik kamu sayang jadi aku menyuruh Albert untuk mengakuisisi perusahaan itu atas nama kamu, sekaligus menjadi anak perusahan Shine karena banyak pekerja yang akan kehilangan pekerjaan mereka jika perusahaan itu bangkrut baby"
^^^"Terima kasih sayang aku bangga sama kamu"^^^
"Makasihnya nanti di ranjang ya sayang" ucap Xavier menggoda sang istri.
^^^"Iya sayang" ucap Chloe dengan muka merah padam meski Xavier tidak melihatnya.^^^
"Hahahaha! Aku tunggu baby" ucap Xavier tertawa puas dari seberang.
^^^"Ya sudah sayang aku mau baca buku dulu"^^^
"Iya sayang love you wife"
^^^"Love you too hubby"^^^
Chloe segera mematikan panggilannya, ia lalu mengambil buku milik sang suami tentang bisnis. Sejak kehamilannya Chloe lebih suka membaca buku tentang bisnis dan saham, bahkan ia tidak mau lagi membaca novel romance kesukaannya.
Saat tahu istrinya suka membaca buku miliknya Xavier segera menyuruh Albert untuk menyiapkan buku tentang bisnis yang lainnya.
~ Mansion Alan Rosemary ~
Laura dan Steven seketika kaget melihat berita tentang perusahaan mereka yang saat ini sudah bangkit lagi. Keduanya kaget melihat nama perusahaan RM Group diganti dengan Elisabeth Group.
"Mommy ini ngak benar kan" ucap Steven dengan kaget.
"Mommy ngak tahu sayang" ucap Laura.
Laura segera mengambil hpnya dan menghubungi orang kepercayaan suaminya dulu yaitu Dion. Pada dering kedua Dion segera menjawab panggilannya.
^^^"Dion apa maksud berita itu" ucap Laura dengan cepat.^^^
"Halo nyonya, maaf berita tentang apa" balas Dion dengan sopan.
^^^"Kamu pasti tahu kan mengenai berita RM Group saat ini" ucap Laura dengan penasaran.^^^
"Oh itu nyonya, semua yang nyonya lihat di berita betul adanya nyonya"
^^^"Apa bagaimana bisa" ucap Laura dengan kaget.^^^
"Saat semua penanam saham menarik saham mereka hanya tersisa saham nyonya Chloe yang ada nyonya. Saat berita kebangkrutan RM Group disitu nyonya Chloelah yang langsung bertindak untuk membangkitkan dan menyelamatkan kembali perusahaan ini nyonya jadi otomatis nama perusahaannya diganti" ucap Dion memberi penjelasan.
^^^"Ini tidak mungkin" teriak Laura dengan suara tinggi.^^^
"Semua yang saya katakan benar adanya nyonya" ucap Dion dengan santai dari seberang.
^^^"Berengsek"^^^
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Laura segera mematikan panggilannya dan membanting hpnya hingga pecah berkeping-keping. Steven yang mendengar percakapan sang mommy dengan Dion hanya diam mematung.
"Berengsek kamu Chloe akan ku bunuh kamu" teriak Laura histeris.
"Laura kamu kenapa" ucap Lidia yang berlari datang saat mendengar teriakan menantunya itu.
Steven lalu menceritakan semuanya kepada sang nenek. Lidia yang mendengar hal tersebut seketika menjadi emosi tak menyangka jika Chloelah yang ada di balik kehancuran keluarganya.
"Dasar anak pembunuh" teriak Lidia dengan emosi.
"Mommy kita harus beri pelajaran kepada anak pembunuh itu" ucap Laura dengan emosi menggebu-gebu.
"Mommy nenek cukup sudah. Apa kalian tidak puas sudah menyakiti Chloe waktu itu, seharusnya sekarang kalian tahu jika ini balasan untuk kita karena sudah merampas uang Chloe dulu dan menyakitinya!" bentak Steven dengan suara tinggi.
"Apa-apaan kamu Steven apa kamu sudah tidak ingat dengan semua penderitaan keluarga kita! Hah!" ucap Laura dengan suara tinggi.
"Seharusnya mommy lihat sekarang keadaan kita, ini semua karena ambisi mommy dan daddy" teriak Steven dengan suara tinggi.
Plak...........
Bunyi tamparan menggema di dalam mansion milik Alan Rosemary. Steven menatap sang mommy dengan tidak percaya, Laura sendiri gemetaran tidak menyangka akan menampar sang anak untuk pertama kali.
"Stev.. e...n" ucap Laura dengan gugup karena gemetar.
"Aku benci sama mommy" ucap Steven dengan suara dingin.
Steven segera berlalu pergi dari mansion karena kecewa dengan sang mommy. Ia sebenarnya juga marah karena mengingat perbuatan Chloe kepada keluarganya tapi seketika ia tepis dengan rasa bersalahnya saat memukul Chloe dulu.
Ia akui selama ini ia selalu dihantui perasaan bersalah tapi ia tepis karena menurutnya tidak penting. Saat kehancuran keluarganya barulah ia sadar jika ini adalah balasan buat mereka.
"Maafin gue Chloe yang pernah berbuat kasar sama loe" ucap Steven dengan nada getir.
Steven melajukan mobilnya menuju ke hotel tempat sang istri bekerja karena satu-satunya yang mengerti dirinya hanya Aurel. Sampai disana ia lalu memeluk tubuh Aurel dengan erat.
"Kenapa mas?" tanya Aurel penasaran.
"Kita keluar dari mansion kakek ya" ucap Steven dengan nada lemah.
"Memangnya kenapa mas" ucap Aurel dengan bingung.
"Aku ngak suka sama pemikiran keluarga aku sayang" ucap Steven sambil mencium kening istrinya.
"Memangnya apa yang terjadi sih mas?" tanya Aurel lagi.
Steven lalu menceritakan perihal keluarganya dulu yang tidak pernah diceritakan pada sang istri. Aurel menutup mulutnya tidak menyangka jika mertua dan suaminya akan melakukan hal sekejam itu.
"Apa kamu menyesal mas" ucap Aurel dengan lembut.
"Sangat sayang" ucap Steven.
"Cobalah untuk meminta maaf pada Chloe mas aku yakin ia akan memaafkan kamu" ucap Aurel.
"Iya sayang"
Aurel lalu memeluk sang suami memberinya kekuatan untuk tetap tenang. Di waktu yang sama berbeda tempat Queen dikejutkan dengan pesan asing di hpnya.
+62xxxxxxxxxx
"Gue tahu loe dalang dibalik kecelakaan gue, tunggu pembalasan gue bi*ch"
Tubuh Queen gemetaran membaca pesan tersebut. Ia mencoba menelpon nomor itu tapi tidak aktif lagi, Queen bingung siapa yang menerornya dengan pesan seperti itu.
"Henki" gumam Queen dengan mata melotot kaget.
...βββββ...
To be continue..................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€