
π»Aku memang bukan orang yang baik dan aku akui aku manusia yang penuh dosa tapi aku tahu bagaimana cara memperlakukan orang yang tulus dengankuπ»
.
.
.
.
Pagi ini tepat pukul 06:00 pagi masyarakat lagi-lagi digemparkan oleh berita tentang Adam Rosemary. Belum juga kasus perselingkuhannya hilang sudah muncul kasus yang baru lagi.
Alan dan Steven kaget bukan main saat Dion menelpon mereka masih pagi sekali. Steven keluar dan berjalan menuju ke ruang keluarga mencari sang kakek untuk membahas masalah ini.
"Kakek" ucap Steven dengan wajah panik.
"Bagaimana bisa masalah ini bisa muncul di publik?" tanya Alan dengan penasaran.
"Aku tidak tahu kek dan aku ngak nyangka hal ini bisa sampai terjadi" jawab Steven dengan perasaan campur aduk.
Saat ini ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi dan bagaimana menangani masalah ini. Alan lalu menelpon sang anak Aldo untuk segera pergi ke perusahaan.
Laura keluar dari dalam kamar dan bingung melihat papa mertuanya dan putranya sedang duduk di ruang keluarga dengan raut wajah tegang. Laura lalu berjalan menuju keduanya dan duduk di sebelah sang anak.
"Selamat pagi daddy, Steven"
"Hemmmm" deham Alan.
"Pagi mommy" ucap Steven.
"Kamu kenapa sayang" ucap Laura dengan wajah bingung menatap Steven.
"Mommy udah baca berita pagi ini?" tanya Steven.
"Berita apa mommy belum sempat lihat berita pagi ini" jawab Laura.
Steven segera memberikan hp sang kakek ke mommy. Laura mengambil dan melihat berita yang dimaksud sang anak, seketika jantungnya berdetak dengan cepat membaca berita pagi ini.
"Ini pasti bohong kan daddy" ucap Laura dengan raut wajah tidak percaya.
"Semua yang kamu baca itu benar Laura" ucap Alan dengan tatapan tajam.
"Bagaimana bisa Adam selama ini kita memanipulasi data pajak perusahaan dan rumah sakit daddy" ucap Laura dengan bingung.
"Selama ini daddy memang tidak pernah membayar pajak mommy" ucap Steven sambil menjambak rambutnya.
"Apa" ucap Laura dengan kaget.
"Steven hubungi Dion untuk segera mengurus para wartawan di perusahaan" ucap Alan dengan tegas.
"Iya kek" ucap Steven.
Steven lalu naik kembali ke lantai dua untuk mengambil hpnya dan menghubungi Dion. Saat masuk ke dalam kamar ia melihat sang istri yang baru saja bangun.
"Mas" ucap Aurel.
"Kamu sudah bangun sayang" ucap Steven.
"Kamu dari mana mas?" tanya Aurel.
"Aku dari ruang keluarga bahas masalah pagi ini" jawab Steven dengan gusar.
"Memang ada masalah apa mas?" tanya Aurel penasaran.
Steven lalu memberikan hpnya kepada sang istri, saat membaca berita pagi ini Aurel menutup mulutnya tak menyangka perusahaan mertuanya akan melakukan kecurangan.
"Mas ini beneran" ucap Aurel.
"Hah! Semua itu benar sayang" ucap Steven sambil menarik napasnya dalam.
"Jadi bagaimana sekarang mas apa yang harus kita perbuat" ucap Aurel.
"Aku akan mengurusnya bersama kakek dan pasti kita harus membayar pajak selama ini dengan dendanya jika tidak semua omset kita akan di sita" ucap Steven dengan nada gusar.
"Apa mas" ucap Aurel dengan kaget.
Steven hanya menunduk tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pikirannya saat ini tidak bisa berpikir dengan jernih semua masalah datang secara bersamaan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di ruang keluarga semua keluarga Rosemary sudah hadir disana. Queen dan lainnya tak menyangka jika perusahaan Rosemary yang dijalankan oleh sang daddy akan memanipulasi data pajak.
"Apa semua aset kita akan di sita dad?" tanya Lidia.
"Kita tunggu dulu laporan dari Aldo dan Dion" jawab Alan dengan tatapan tegas.
"Apa kita minta bantuan sama mertua aku kek" ucap Queen memberi pendapat.
"Nanti kita pikirkan jika belum menemukan solusi" ucap Alan.
"Iya kek" ucap Queen.
Suasana di dalam sana hanya hening tidak ada yang berbicara sedikit pun. Mereka duduk dan menunggu laporan dari Dion dan Aldo yang saat ini berada di perusahaan.
~ Mansion Tua Rahardian ~
Pagi ini Bima dikejutkan dengan berita dari besannya yang mengguncang media saat ini. Bima segera mengambil hpnya dan menghubungi sang anak, pada dering kedua Riko segera menjawab panggilan papanya.
"Halo pa" ucap Riko dari seberang.
^^^"Apa kamu sudah membaca berita pagi ini"^^^
"Sudah pa"
^^^"Jadi bagaimana tanggapan kamu apa kamu akan membantu besanmu" ucap Bima.^^^
"Aku tidak tahu pa karena ini bukan masalah kecil dan bahkan kerugiannya dipastikan sampai dengan triliun pa" ucap Riko dengan tegas dari seberang.
^^^"Benar apa yang kamu bilang"^^^
"Lagian aku juga tidak ingin membantu keluarga pengkhianat pa" ucap Riko dengan emosi.
^^^"Ya papa tahu tapi mereka masih besanmu Riko"^^^
"Aku sudah tidak menganggap mereka besan lagi sejak perselingkuhan menantuku pa" ucap Riko dengan suara dingin.
^^^"Papa ikut saja apa yang kamu mau" ucap Bima dengan suara tegas.^^^
"Iya pa"
Tak lama Riko segera mematikan panggilan papanya sepihak. Melihat panggilannya sudah dimatikan Bima segera menaruh hpnya kembali di atas meja.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bima lalu menyuruh tangan kanannya untuk menyiapkan mobil menuju ke mansion sang cucu. Saat di perjalanan Bima tak sengaja bertemu dengan kedua cucunya yakni Denis dan Ria anak dari putranya yang kedua Riki.
"Kakek" ucap keduanya serentak saat melihat kaca mobil Bima terbuka.
"Kalian ngapain disini?" tanya Bima dengan tatapan menyelidiki.
"Mobil ka Denis mogok kek jadi kita nunggu orang bengkel sekalian taksi kek" ucap Ria.
"Masuk biar kakek yang anterin kalian" ucap Bima.
"Oke kek" ucap Denis dengan cepat.
Denis segera masuk ke bagian belakang bersama dengan sang kakek, sedangkan Ria duduk di depan di samping sang sopir.
Bima menyuruh sopir untuk mengantar Ria ke kampusnya lebih dulu, setelah itu Bima dan Denis pergi ke mansion Sean karena kebetulan hari ini Denis tidak pergi ke rumah sakit.
~ Mansion Sean ~
Setelah 5 menit mobil Bima sudah masuk ke dalam pelataran mansion mewah milik Sean. Keduanya melihat Dimas yang sudah berdiri di depan mobil Sean menunggu sang tuan yang belum keluar.
"Kak Dimas" ucap Denis dengan wajah bahagia.
"Selamat pagi tuan muda Denis dan tuan besar" ucap Dimas dengan membungkuk.
"Dimana Sean?" tanya Bima dengan wajah tegas.
"Tuan muda belum keluar tuan besar" ucap Dimas.
"Heeemmm"
Keduanya lalu masuk ke dalam mansion Sean untuk bertemu dengan Sean. Saat masuk ke dalam Denis langsung berlari meninggalkan sang kakek dengan cepat karena ia sudah kangen dengan Ares.
"Baby Ares your handsome uncle is coming" (Ares paman tampanmu datang) teriak Denis dengan suara tinggi.
Sean yang sedang mengendong Ares di meja makan seketika menatap tajam Denis karena sangat berisik. Yang ditatap hanya menampilkan gigi putihnya saja sambil berjalan menuju Sean dan Ares.
Saat ingin mencium Ares seketika Sean memukul kepala Denis dengan kuat. Bunyi pukulan keras menggema di meja makan.
"Arghhh! Kakak apa-apaan sih" ucap Denis dengan kesal sambil mengelus kepalanya yang sakit.
"Cuci tangan loe baru sentuh anak gue nanti virus ditubuh loe nempel lagi ke anak gue" ucap Sean dengan suara dingin.
"Ya ya ya! Bisakan ngomong aja ngak usah pakai kekerasaan segala" ketus Denis dengan kesal.
Denis segera menuju dapur dan mencuci tangannya lalu kembali ke meja makan. Bima yang baru datang juga melakukan hal yang sama seperti Denis karena menurutnya itu adalah hal yang benar.
"Kakek tumben datang sama dia" ucap Sean sambil menunjuk Denis.
"Tadi kakek ketemu dia di jalan lagi ngemis" ucap Bima sambil mengejek Denis.
Hahaha............
Denis lalu mangambil Ares dan mengendongnya. Ia mencium sang keponakan tidak memperdulikan kedua orang di depannya, Denis membawa Ares ke teras samping untuk berjemur sekalian berselfie ingin pamer kepada saudaranya yang lain.
Para pelayan lalu menyiapkan sarapan untuk Sean dan Bima di atas meja makan. Saat memakan sarapan Bima segera bertanya kepada Sean tentang permasalahan pagi ini.
"Apa kamu akan membantu perusahaan mertuamu Sean" ucap Bima.
"Ngak kek" ucap Sean dengan datar.
"Kenapa?" tanya Bima penasaran.
"Sean ngak suka dengan pengkhianat dan ngak akan membantu pengkhianat tersebut" jawab Sean dengan wajah dingin.
"Hemmmm"
Ternyata kamu sama kayak papa kamu tidak akan membantu orang yang sudah mengkhianati kalian, batin Bima.
"Tumben kakek datang pagi-pagi kesini" ucap Sean dengan tatapan tajam.
"Kakek hanya rindu dengan cicit dan cucu kakek saja" ucap Bima.
"Heemmm! Ya sudah kakek jagain aja Ares hari ini kebetulan Sean mau ke perusahaan" ucap Sean datar.
"Dasar cucu kurang ajar emang kakekmu ini pengasuh bayi apa!" bentak Bima.
"Yah dari pada kakek nganggur ngak jelas mending jagain Ares" ucap Sean sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang kakek.
"Terserah kamu saja" ucap Bima mengalah.
"Ya sudah Sean pergi dulu ya kek titip jagoan Sean ya kek"
"Heemmmm"
Sean lalu berjalan menuju ke teras samping dan mencium Ares sebelum pergi ke perusahaan. Denis yang melihat sepupunya sangat dewasa dan menyayangi anaknya tersenyum bahagia.
"Loe jagain Ares sama kakek hari ini" ucap Sean dengan tatapan tajam.
"Tapi kak gue itu kan bukan pengasuh"
"Loe ngak ada kerjaan kan hari ini?" tanya Sean.
"Engak ka" jawab Denis sambil menggelengkan kepalanya.
"Dari pada loe nganggur mending hari ini jagain keponakan loe aja kan hitung-hitung loe bantu gue karena udah bantu loe waktu itu" ucap Sean sambil tersenyum penuh arti.
Denis hanya bisa mengangguk kepalanya mendengar perintah sepupunya itu.
Cih! Ternyata loe bantuin gue waktu itu ngak tulus banget, batin Denis dengan kesal.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sean segera pergi ke perusahaan bersama Dimas yang sudah menunggunya di depan mansion. Sepeninggal Sean, sang kakek dan Denis saling berebut untuk mengendong baby Ares.
Para pelayan dan pengasuh yang melihat perdebatan keduanya hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Ares yang melihat keduanya berdebat tertawa dengan riang.
Tawa bayi itu seketika membuat Bima dan Denis berhenti berdebat dan ikut tertawa juga. Berbeda dengan keduanya yang sedang sibuk dengan baby Ares pagi ini Albert lagi-lagi pusing dengan kemauan sang bos.
~ Rumah sakit Wesly ~
Chloe yang pagi ini ngidam ingin makan seblak dan martabak telur membuat Xavier harus meminta para koki menyiapkan makanan tersebut.
Xavier pagi-pagi sudah menelpon Albert untuk pergi ke mansion mengambil pesanan Chloe. Albert hanya membersihkan tubuhnya secepat mungkin tidak ingin membuat sang bos menunggu lama.
"Ini tuan Albert pesanan nyonya" ucap pak Max memberikan kotak makan berisi pesanan Chloe.
"Heemmm"
Albert segera menyuruh sopir meluncur dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit ia segera naik ke lantai ruangan sang nyonya.
"Bos ini pesanan nyonya" ucap Albert.
Xavier menerimanya dan memberikan kepada sang istri. Chloe tersenyum bahagia melihat pesanannya sudah datang, ia segera mengambil kotak makan yang dibawakan oleh Albert.
Chloe membuka kotak makan tersebut dan langsung mencium bau kedua makanan itu. Xavier heran melihat tingkah sang istri yang hanya mencium kedua makanan itu tanpa mencicipinya.
"Kenapa kamu tidak makan sayang" ucap Xavier dengan bingung.
"Aku hanya mau menciumnya saja sayang" ucap Chloe dengan santai.
Rahang Albert seperti ingin terlepas dari tempatnya, ia sudah capek-capek ke mansion mengambil pesanan Chloe tapi hanya di cium saja dan tidak di makan.
"Tapi kamu belum sarapan sayang" ucap Xavier dengan raut khawatir.
"Aku belum lapar sayang" ucap Chloe dengan manja.
Phew................
Chloe lalu melihat Albert dan tersenyum manis, melihat senyuman Chloe seperti itu seketika Albert merasa jika sang nyonya menginginkan sesuatu.
"Albert kamu bisa makan semuanya itu" ucap Chloe dengan santai.
"Tapi nyonya saya tidak suka makanan yang berminyak" ucap Albert.
"Sayang" ucap Chloe dengan mata berkaca-kaca.
Xavier lalu menatap tajam Albert dengan tatapan tajam menyuruhnya untuk melakukan apa yang istrinya katakan. Albert hanya pasrah saja melakukan apa yang diinginkan oleh sang nyonya.
Albert memaksa menelan makanan itu masuk kedalam perutnya. Ia akui makanan itu sangat enak tapi ia tidak suka yang terlalu berminyak.
"Apa ini semua anak bos yang mau kalau iya berarti ke depannya aku akan sangat menderita" gumam Albert dengan suara pelan.
Melihat Albert yang makan seblak dan martabak telur membuat Chloe tertawa senang. Xavier lalu naik ke brankar sang istri dan memeluk tubuh Chloe dengan erat.
Keduanya seakan tidak perduli dengan Albert yang sedang mati-matian menahan rasa mual karena tidak cocok dengan makanan tersebut.
Waktu berlalu dengan cepat tak terasa Aldo dan Dion sudah menghitung berapa banyak yang harus dibayarkan perusahaan RM Group ke kantor pajak. Aldo yakin jika Alan daddynya akan sangat kaget mendengar nominal yang harus mereka bayarkan.
"Dion kamu urus semua wartawan disini dan perusahaan" ucap Aldo.
"Baik tuan"
"Jangan lupa kamu kabarkan ke pihak pajak jika kita akan segera melunasi semua tunggakan perusahaan dan tidak membawa masalah ini ke jalur hukum" ucap Aldo dengan tegas.
"Baik tuan akan saya kerjakan" ucap Dion.
Aldo lalu pergi kembali ke mansion untuk memberitahu semuanya kepada keluarganya. Kenzo yang mendengar percakapan keduanya hanya tersenyum sinis, ia hanya diam ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh keluarga Rosemary.
^^^"Halo brother" ucap Kenzo.^^^
"Ada apa" ucap Albert dari seberang.
^^^"Musuh sudah kalang kabut brother dan besok mereka akan membayar semua dendanya ke kantor pajak" ucap Kenzo.^^^
"Buat semua pemegang saham mencabut saham mereka sekarang" ucap Albert.
^^^"Oke brother"^^^
Albert lalu mematikan panggilannya dan segera memberitahu Xavier. Kenzo sendiri segera menelpon semua pemegang saham terkecuali Riko untuk mencabut saham mereka.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Bos mereka akan membayar denda kepada pihak pajak besok" ucap Albert.
"Suruh Mr. Liem untuk segera menyuruh istrinya melakukan tugasnya" ucap Xavier dengan sinis.
"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin.
Ia segera menghubungi Mr. Liem untuk menyuruh sang istri segera menuju ke mansion Rosemary. Rangga yang mendapat perintah dari tangan kanan bos besarnya segera menyuruh sang istri melakukan tugasnya.
Chloe yang melihat suami dan asistennya sedang membicarakan hal penting hanya diam saja. Ia saat ini tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke mansion.
Tak lama Mira masuk ke dalam setelah membeli pesanan Chloe yang ingin minum americano hangat. Chloe segera mengambil americano yang dibawa Mira dan meminumnya.
"Enak ya neng" ucap Mira.
"Enak banget btw makasih ya" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Cih! Dasar bumil" ucap Mira dengan kesal.
~ Mansion Rosemary ~
Suasana tegang dan mencekam sangat terasa saat ini di dalam ruang keluarga. Alan seketika membanting berkas yang dibawakan oleh Aldo.
"Kenapa jumlahnya sangat banyak bahkan nominalnya sampai triliun" ucap Alan dengan emosi.
"Semua itu dengan dendanya daddy sekalian rumah sakit RM" ucap Aldo dengan gugup.
"Arggghhh! Sial" teriak Alan dengan emosi.
Laura menutup mulutnya tak menyangka jika saat ini harta mereka sudah tidak ada lagi karena harus membayar denda pajak perusahaan. Saat semuanya sedang dalam keadaan bingung tiba-tiba pintu mansion dibuka dengan kasar.
"Laura keluar kamu" teriak Sarah Liem dengan wajah emosi.
Tubuh Laura seketika menegang mendengar suara yang sangat dikenalinya yaitu Mrs. Leim, ia tak menyangka jika teman sosialitanya dan teman arisannya akan datang mencarinya di mansion.
"Apa lagi ini kenapa Sarah Liem datang kesini" gumam Laura dengan raut panik.
...βββββ...
To be continue.............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€