48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Kebocoran



Keesokan hari nya, Jason berangkat ke kantor seorang diri. Meskipun tidur hanya empat jam, pria itu tetap bugar. Sedangkan Lia masih bergulung dalam selimut. Mungkin kali ini, Lia akan merasa jera untuk asal mengucapkan janji pada Jason.


Beruntung sekali gadis itu masih mempunyai kekuatan fisik yang bagus, karena rajin berolah raga. Sehingga akibat gempuran semalam, Lia tidak pingsan. Hanya saja, gadis itu merasa sakit dan lecet di organ kewanitaanya.


Berbeda dengan Jason yang bertambah bugar. Dia berangkat dengan ceria dan wangi. Sarapan untuk Lia sudah dia pesankan. Dan sebuah pesan cinta sudah dia tinggalkan di samping makanan.


Di kantor, semua merasa heran ketika Jason hanya datang sendiri dengan wajah yang tersenyum. Karena selama beberapa bulan ini, dimana ada Jason disana selalu ada Lia. Rasa penasaran itu juga bergelanyut di pikiran Erick.


"Di mana adik ipar? Kenapa kau datang sendiri saja?" Tanya Erick ketika mereka hanya berdua di dalam ruangan kerja Jason.


"Sedang masa pemulihan." Jawab Jason santai sambil menyeruput kopi nya.


"Memang dia sakit apa, kemarin adik ipar kelihatan sehat." Erick mengernyitkan kening dengan heran.


Jason hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan Erick. Dan Erick menangkap siratan nakal dari senyuman dan sorot maya Jason. Pertama kali dia melihat hal itu.


"Gila! Jangan bilang kau menggempurnya semalaman. Hahahaha... hahahha... Gila! Gila! Gila! Sekali tau rasanya tidak mau berhenti kan?!" Erick tertawa terbahan sampai wajah nya memerah.


Jason hanya mendengus kesal melihat sikap Erick.


"Luar biasa. Hanya dengan satu kali pelatihan dari ku, kau sudah mahir. Selamat untuk mu. Apa mau coba dengan gadis lain juga?" Erick menyeringai, menebarkan racun.


"Berani-berani nya kau!Apa kau hendak membuatku menghianati istriku dan tidak memiliki rajawali?!" Bentak Jason dengan kesal.


Erick mengangkat kedua tangannya menyerah.


"Maaf... Maaf. Aku hanya mengetes mu. Hahahaha. Tentu saja aku ada di barisan depan yang akan menjaga property mu." Erick tersenyum jenaka.


Jason meletakan gelas kopi nya dan mulai bersandar santai.


"Katakan padaku, bagaimana perkembangan Hotel dan butik yang dipersiapkan untuk Lia?"


"Semua nya sudah lancar. Omset sudah masuk dengan lumayan. Hanya saja kalau perhitungan kembali modal tentu itu jangka panjang." Lapor Erick tentang oerkembangan usaha yang di buat Jason atas nama Lia.


"Semua keuntungan masukan dalam rekening Lia. Dia memiliki lima puluh persen saham bukan?" Tanya Jason.


"Ada di laporan ini. Kemarikan laptop mu."


Erick mengambill laptop Jason dan mengetik sesuatu. Di sana kemudia keluar semua laporan tentang grafik perkembangan usaha. Ada Lima puluh hotel di Eropa dan America yang berada di bawah naungan OKTAVIA coorperation, nama belakang Lia.


Disana tampak pemegang saham terbesar adalah Lia. Lima puluh satu persen. Erick juga meletakan nama Jason sebagai pemegang saham sebesar dua puluh lima persen, Erick menyumbanhkan dana sebesar lima persen saham. Dan sepuluh persen untuk pemilik hotel, sepuluh persen lainnya untuk jajaran direksi dan sisa nya di jual bebas.


Jason tersenyum puas. Setidak nya dua langkah sudah berhasil dia tangani. Menaklukan Lia dan mempersiapkan gadis itu. Jason tidak mau Lia akan menjadi olokan orang lain yang mengatakan jika gadis itu mendompleng dirinya. Mereka harus menghormati Lia.


"Jason, sekarang kau harus melihat laporan khusus yang di berikan dari beberapa konstruksi dan pimpinan kilang minyak." Erick mengetik sesuatu pada laptop dan mengarahkan pada Jason.


"Kau lihat, dari dana yang di keluarkan oleh pihak acounting, sesuai dengan dana yang diajukan dari bagian marketing. Tetapi kuakitas dan jumlah barang yang di terima oleh operational sangat berbeda. Kau ingat pimpinan kilang minyak di Spanyol? Dia kembali mengeluhkan tentang kurangnya jumlah suku cadang yang datang. Aku juga sudah mencoba memeriksa di beberapa cabang yang di mexico dan Eropa, mereka melaporkan hal yang sama."


Erick menatap Jason yang sedang mengamati laporan tersebut. Perbincangan ini hanya di lakukan oleh mereka berdua. Karena mereka tidak tahu, siapa dibalik penggelapan dana tersebut. Meskipun hanya kecil-kecilan, tapi merata pada semua cabang yang berakibat keluhan dari bagian operational.


"Kau tahu bukan, jika kita perlu bantuan profesional yang memiliki waktu khusus untuk memeriksa kebocoran ini?" Erick menatap lekat pada Jason.


"Kau tahu siapa yang aku maksud." Ujar Erick lagi.


Jason diam.


"Cari profesional lainnya. Aku tidak akan meminta bantuannya." Elak Jason.


"Profesional lainya justru lebih berbahaya, karena dengan sedikit uang suap, mereka akan menghianati kita dengan mudah, meskipun mereka tahu konsekuensi menghianati mu." Erick menegaskan resiko nya.


"Lalu menurutmu, apakah dia tidak akan menghianati ku?" Sahut Erick sinis.


"Hal itu bisa saja terjadi, tetapi lihat untung rugi nya. Jika dia menghianati mu, sudah sejak lama dia lakukan. Dia bisa saja tinggal di zurich dan merapat pada tuan besar. Tetapi, dia justru memilih merapat padamu. Lagipula jika dia menghancurkanmu, maka dia dan ibunya tidak akan memiliki apapun."


Jason merenungkan perkataan Erick. Dia masih belum bisa melupakan perbuatan Camila. Hatinya masih sakit karena wanita yang dia sayangi, justru menghianati. Semenjak kecil, Jason selalu iri dengan kebahagian keluarga lain yang selau berkumpul. Sedangkan ibunya selalu disibukan dengan urusan bisnis. Dan hanya mendampingi ayahnya pada urusan tingkat dunia yang memerlukan kehadirannya.


Tetapi kenapa Camila saat ini, justru melepaskan ayahnya dan tinggal di Prancis. Apakah dia sudah sadar, tidak ada satu pun wanita yang bisa mengendalikan Darell Madison? Pria itu selalu tidak pernah puas dengan satu wanita. Dan itu menjijikan bagi Jason.


"Aku akan mempertimbangkannya." ujar Jason akhirnya.


"Baiklah. Lakukan yang terbaik. Aku rasa kebocoran ini tidak hanya terjadi di bawah pimpinanmu. Mungkin di zurich pun ada masalah. Tetapi, ingat, kau harus mendapatkan sekutu untuk mengokohkan kedudukanmu melebihi tuan besar."


Erick meninggalkan Jason dan membiarkan pria itu merenung.


Bersamaan dengan Erick yang keluar, Pedro masuk.


"Tuan, nyonya Laura Collins mengatakan jika dia akan segera tiba di Paris. Dan dia akan menemui anda."


Jason terhenyak.


"Apa dia mengatakan, dimana dia akan menemuiku?" tanya Jason dengan heran.


"Tidak tuan. Hanya saja dia mengatakan akan memberikan anda hadiah." ujar Pedro lagi.


"Oke."


Pedro keluar dan melirik meja Lia yang kosong.


"Apakah Lia ada tugas di luar kantor tuan?" tanya nya heran.


"Iya." jawab Jason singkat.


"Ooo." Pedro hanya bergumam. Dia ingin bertanya lebih jauh lagi tapi diurungkan karena melihat Jason yang tampak sibuk membuka Handphone nya.


"Sh***!" desis Jason melihat foto yang dia terima baru saja.


Baru mau mandi. Ahhh... pangkal paha ku sakittt