
"Katakan di mana Laurent!"
Erick sudah mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan oleh Mario. Satu tangan Erick sudah terkepal. Otot-otot wajah pria itu sudah menyembul keluar. Matanya merah dan bibirnya bergetar menahan emosi.
"Sudah aku bilang, aku tidak tahu!" balas Mario tak kalah garang.
Mata pria berkulit hitam itu membalas tatapan mata Erick dengan tajam pula.
"Kau suaminya, kenapa harus bertanya padaku. Bagaimana kau menjaga istrimu?" ejek Mario.
"Tutup mulutmu! Kau pasti tahu sesuatu. Katakan di mana istriku?"
"Istri?" Mario terkekeh mengejek.______" sejak kapan?"
"Diammm!" Bruk! Erick mengarahkan tinjunya ke dinding di sebelah Mario.
Mario sempat terkejut mendengar kerasnya suara pukulan tangan Erick.
Dia menoleh dan melihat dinding itu retak dan buku-buku jari Erick berdarah.
"Kau pria bodoh. Sendainya aku pria normal yang menyukai wanita, sudah aku kejar Laurent. Pria mana yang tidak suka dengan wanita cantik, kaya, tapi tidak menyebalkan. Jika Laurent meninggalkanmu, itu karena kau yang menyebalkan." Mario mendorong tubuh Erick sehingga pria itu duduk di sofa.
Mario kemudian mengambil kotak obat. Mengeluarkan cairan pembersih dan menorehkan obat di tangan Erick.
"Aku sudah mencarinya kemanapun. Sudah mengerakan detektif. Tapi ... tidak ada khabar dari dirinya."
Mario menghela napas. Dia duduk di hadapan Erick dengan menyilangkan kaki. Mario sebetulnya tahu di mana Laurent terakhir kalinya. Wanita itu sempat kembali ke Prancis untuk menandatangani surat cerai yang diurus oleh pengacara.
Laurent mengetahui jika Erick tinggal di Penthose dan menantinya di sana. Dia sesungguhnya sempat beradi di tempat yang sama dengan Erick. Tapi Laurent menyembunyikan diri di kamar Laura dan melarang semua pelayan memberitahu Erick
Laurent ingin sekali, menghampiri Erik kala itu. Tapi dia menahan diri. Dia tidak ingin Erick kembali padanya hanya karena merasa kasihan atau beban terhadap Jason.
Laurent kemudian mendatangi Mario sebelum memutuskan meninggalkan Prancis.
Hati Laurent sudah mantap untuk memberikan kebebasan pada Erick.
Saat ini di hadapan Mario adalah seorang pria yang terluka. Tampak sekali wajah Erick yang kalut. Pria itu menunjukan wajah yang menderita dan perasaan kehilangan.
"Apakah kau mencintai Laurentku atau hanya karena merasa bersalah?" tanya Mario perlahan.
"Aku mencintainya. Bahkan hatiku berkobar karena cemburu dan ingin menghajar dirimu saat pertama kali melihat dia tidur di pangkuanmu!"
"Bodoh! Dia belajar membuat makan malam untukmu. Dia menghububgi dirimu puluhan kali tanpa jawaban, karena itu dia kemudian memberikan semua makanan itu untukku."
Erikc memijat keningnya yang terasa sakit. Semua kesalahpahaman terjadi karena dia yang selalu mendiamkan Laurent.
"Kau yakin dirimu gay? Bukan sengaja mendekati istriku?" tanya Erick dengan sinis.
"Apa perlu aku buktikan?" tangan Mario sudah mendekati alat vital Erick.
"Berani-berani aku patahkan tanganmu!" bentak Erick dengan menyingkirkan tangan Mario secara kasar.
"Katanya minta bukti. Sekarang aku buktikan kau marah. Dasar pria menyebalkan!" Mario menggerutu.
"Lebih baik aku pergi dari sini. Ternyata kau assistent tak berguna tidak tahu di mana atasanmu."
Mario melotot geram mendengar kalimat Erick. Siapa yang lebih tak berguna, assitent atau suami?
"Hei kau suami bodoh!" teriak Mario menghentikan langkah Erick.
"Dia Madison, Bodoh! Kau pikir kemana dia akan pergi?!"
"Maksudmu?!"
"Pikir saja sendiri, Bodoh! Madison itu saling menjaga di antara mereka. Jika kau mau masuk ke keluarga itu, kau pun harus membuktikan diri. Apa tidak cukup melihat apa yang terjadi pada Jason dan Lia?"
"Maksudmu? Di mana aku harus mencari Laurent?" Erick dengan tampang tak mengerti memandang Mario.
"TIDAK TAHU! PIKIR SENDIRI BODOH!" Teriak Mario dengan kesal. Dia kemudian menyenggol tubuh Erick secara kasar dan keluar menuju butik .
...โ๐นโ๐นโค๐นโ๐นโ...
Masa tampang seperti ini dibilang Bodoh?