
Jason merangkul tubuh istrinya dan membawa wanita itu ke dalam kamar. Mereka membaringkan diri di tempat tidur. Berbaring miring sejajar dengan mata yang tak berhenti memandang.
Jason dengan lembut membelai rambut, wajah dan leher kelasih hatinya. Perasaan cinta dan kebahagiaan itu serasa lengkap. Air mata menguap berganti dengan senyuman.
Pria itu tak tahan lagi untuk menunggu. Dia menopang tubuhnya dengan satu tangan. Ia menyatukan bibirnya dengan bibir Lia. Usapan lembut di kedua bibir yang sudah lama saling merindu itu, berlangsung cukup lama.
Tangan Jason mulai menyibak jubah mandi yang dikenakan oleh Lia. Dia membelai bahu itu dengan lembut. Tangannya menyusuri leher hingga punggung Lia yang tanpa penghalang.
Ciuman pria itu mulai merambat ke leher dan bahu istrinya. Mengusap lembut penuh perasaan cinta. Desahan wanita dibawahnya membuat gejolak dalam hatinya semakin kuat.
Perlahan dia membaringkan Lia dan membuka tali kimono. Memandang dada yang semakin membesar. Matanya berkilau penuh kerinduan. Bukan saja pada pribadi tapi segala yang dimiliki wanita ini.
Kedua tangannya menangkup dada yang sudah tidak muat lagi dalam genggaman. Mengulumnya dengan lembut, meremas dan menelusuri lekukan di tubuh yang semakin besar dibagian perut.
"Honeyy ...," desahan Lia memanggil namanya membuat Jason semakin buas. Ia ******* habis-habisan dada yang sudah lama tak ia sentuh.
Ciuman itu turun hingga di perut Lia yang besar. Dan saat dia baru saja menempelkan bibir di perut itu, sebuah tendangan yang didapatkannya.
Mereka terkekeh.
"Boy ... jangan protes. Daddy juga mau menciumi mu, Sayang." ujar Jason lembut.
Dan lagi dia mendapatka tendangan berulang-ulang.
"Okey. Daddy tidak akan menggangguk Mommy." ujarnya perlahan.
Lia melirik menahan tawa pada Rajawali yang tak bisa bersarang.
"Kandunganku sudah besar. Aku terlalu lemah untuk melakukannya. Maafkan aku," bisik Lia. Wanita itu bahkan merasa lelah jika harus memiringkan tubuhnya terlalu lama.
"Aku yang seharusnya meminta maaf karena terlalu tergoda. Memelukmu sudah cukup. Abaikan yang bawah," ucap Jason dengan lembut.
Lia tersenyum mendengarkan kata-kata suaminya yang konyol. Ingin sekali dia memberikan lebih. Tapi tampaknya bukan siang ini. Saat ini dirinya hanya ingin bermanja.
"Bagaimana kau menjalani hari-harimu?" tanya Lia.
"Tentu saja dengan frustasi. Aku hampir satu bulan tidak makan, minum bahkan mandi dengan benar. Beruntung sekali ada butler Bernard yang menjagaku."
"Ah! Pria tua itu. Aku harus mengucapkan terimakasih padanya."
"Dia dan semua pelayan mansion merindukan dirimu."
Lia terkekeh. "Aku juga merindukan mereka."
"Bagainana kau menjalani harimu di sini?"
"Tentu saja dengan sangat merindukanmu. Beruntung sekali Adonia menemaniku. Dia selalu menjaga bahkan mengingatkan diriku, jika ada baby yang juga membutuhkan perhatianku. Aku belajar mengendalikan tangisan dan emosiku," tutur Lia dengan sendu.
"Semua karena orang tua ku. Mereka benar-benar keterlaluan. Aku harus membuat perhitungan dengan mereka."
"Jangan."
"Jangan?"
"Mereka bermaksud baik. Ini adalah proses agar kau dan aku semakin teguh untuk menghadapi dunia belantara. Dunia di mana mereka yang kuat dan berkuasa menang." Lia mengusap lembut, jambang halus yang tumbuh di sekitar wajah Jason.
"Hahhh ... tetap saja aku kesal dengan mereka."
"Mereka merawatku dengan baik di sini. Mencukupi segala keperluan bayi kita. Dan mereka bahagia mendapatkan tendangan dari baby."
"Apa?!"
"Kenapa, ada yang salah?" Lia terkejut mendengar Jason memekik tertahan.
"Bahkan mereka mencuri tendangan pertama putraku? Sungguh tidak dapat dimaafkan." Jason mendengus kesal.
"Sudah. Begitu saja marah." Lia terkekeh melihat bibir Jason melengkung.
"Mungkin aku harus menghukum mereka dengan tidak mengijinkan melihat anakku lahir." Jason masih terus berpikir cara menghukum orang tuanya. Dia tidak terima mereka bebas begitu saja.
"Mau sampai kapan berakhir kalau saling membalas. Sudah ah, ini juga salahku yang bersikap terlalu angkuh dan kekanakan."
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi, atau mau tidak dapat ini!"
Tangan Lia mengusap rajawali.
"Jangan berani - berani kau lepaskan!" Jason tak menghiraukan tendangan anakknya ketika tangannya mengusap perut Lia.
Desahan itu berlanjut beberapa saat lamanya.
Sementara di luar ruangan kamar. Tuan besar dan nyonya besar hanya bisa tersenyum mendengar suara yang keluar dari dalam kamar anaknya.
"Kau wanita hebat. Kau selalu membantuku untuk menjadi yang terdepan. Semua kekayaan dan kesuksesan ini adalah karena dirimu." ujar Darrel membesarkan hati Laura.
Wanita setengah baya itu menghela napas.
"Jika saja aku mengambil langkah yang berbeda. Tidak mengutamakan ambisiku. Menerimamu sebagai anak kedua klan Madison. Mungkin akan berbeda ...." Laura memandang ke arah langit biru.
"Mungkin, aku masih bisa melihat pertumbuhan anak-anakku. Mungkin aku tidak perlu melihat Jason harus menanggung hidup saudara-saudara yang tak pernah dia kenal. Mungkin, kau tidak akan mencari pelampiasan pada wanita lain. Jika saja aku puas dengan hanya berdiri di sampingmu."
Laura teringat bagaimana Camila rela melepaskan diri dari jabatannya untuk membesarkan Daniel. Dia lebih memilih anak daripada jabatan dan Darrel. Wanita itu tentu juga merasa terluka dengan setiap perselingkuhan Darrel, meskipun dia mencintai pria yang salah.
"Jangan salagkan dirimu. Aku yang terlalu tidak bisa menjaga diriku dari duniawi. Dari godaan wanita yang hanya mengiginkan harta kita." Darrel menepuk-nepuk pegangan kursi rodanya.
Laura tersenyum getir.
"Kita berdua memang salah. Tampaknya benar-benar harus berterimakasih pada Bernard."
Untuk hal ini kedua orang tersebut sepakat. Mereka terkekeh, tanpa paham hal lucu apa yang sedang di tertawakan.
Di lantai bawah di belakang Kastil, tampak wanita-wanita Caribean itu sedang mengerubungi Frans. Frans yang merupakan pengawal pribadi dan selalu berada di sisi Jason merupakan pria kulit hitam berasal dari Grand Cayman.
Frans yang selalu tenang dan kaku bagaikan robot itu, menjadi kebingungan menghadapi pelayan-pelayan itu yang agresif. Mereka menanyakan, nama, umur, berat badan bahkan ukuran ****** *****.
Bahkan ketika Frans melotot kesal, mereka semua terkekeh. Saat Frans membentak mereka semua malah kagum. Frans benar-benar dibuat pusing karenanya. Dia akhirnya kalah dengan lima pelayan yang tak memberinya ruang gerak untuk kabur. Pria itu duduk dengan para wanita yang bergelanyut di sekelilingnya.
Doreo dan Adonia yang melihatnya terkekeh. Dengan sengaja Doreo menjulurkan lidah ke arah Frans.
"Kemari kau Doreo! Hai Gadis-gadis cantik, kenapa kalian tidak menjadikan pria kulit putih itu sebagai ganti diriku?!"
"Kami tidak suka pria bertubuh kecil. Kami suka yang bertubuh besar dan gagah sepertimu." celoteh mereka mengabaikan Doreo.
"Dia raksasa!" teriak Doreo sambil merangkul Adonia. Sudah lama tidak bertemu, pria itu menyadari jika dia menyukai Adonia.
"Kami suka raksasa. Atas bawah besarrrr!!" Teriak kelima pelayan wanita bertubuh besar itu. Mereka terkekeh membuat Frans semakin tak berdaya.
"Awas lembur kau, Frans!"
"Si alan kau!"
Doreo terkekeh, dia mengajak Adonia meninggalkan mereka dan menyudut ke arah lain. Mereka asyik duduk berdua sambil menikamati pemandangan laut.
"Ya Tuhan. Akku belum menyediakan susu untuk nyonya kecil."
Adonia yang hendak beranjak pergi, ditahan oleh Doreo.
"Selama Nyonya tidak memannggil. Kau jangan ganggu mereka. Mereka pasti sedang sibuk."
"Sibuk apa?"
"Sibuk ini." Doreo mendekatkan bibirnya dan mencium Adonia.
Seketika wajah gadis itu memerah. Dadanya berdebar kencang. Belum juga dia sempat mengatur degupan di jantungnya. Kembali Doreo menyambar bibirnya. Adonia yang tidak berpengalaman jadi gelagapan.
Sementara itu di dalam kamar. Lia merengek.
"Sudah. Tanganku pegallll!!"
"Sedikit lagi!"
"Ini yang terakhir ya. Sudah tiga kali. Kau hendak mematahoan tanganku, bagaimana ka ...." Ocehan Lia disumbat oleh bibir Jason.
Pria itu kemudian mengerang melepaskan segala perasaan yang telah tertahan sekian lama.
"Terkmakasih, Sayang."
Lia mengecup kening suaminya. Dan mereka beranjak untu memberishkan diri.
"Jason Honey. Apa kau sudah memilih nama untuk putra kita?"
Jason menggeleng. Selama ini dia terlalu fokus mencari mereka dan tidak pernah memikirkan nama.
"Masih ada beberapa waktu. Kita akan mencari nama yang tepat. Sekarang aku lapar."
"Dan aku mengantuk."
Mereka terkekeh bahagia.
...❤❤❤❤❤❤❤❤...
Siapa yan nama yang tepat untuk anak Jason dan Lia???
Ada yang punya usul?